Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 93 Pembebasan Jovan


__ADS_3

Setelah hampir 2 jam mencoba mencari lokasi para penculik, akhirnya Clifford menemukan titik koordinasi tempat Jovan disekap.


"Pak, Clifford sudah mengirimkan koordinat lokasi penculik," lapor Raka kepada Mario.


"Kamu urus tuntas semuanya, segera!" perintah Mario.


"Baik Pak!"


Raka segera mengumpulkan tim pengawal utama yang berkeahlian khusus, layak pasukan khusus di kepolisian. Tim pengawal ini telah mendapatkan pelatihan khusus di Amerika, yang dilatih khusus oleh Clifford, yang merupakan pensiunan Angkatan Darat Amerika Serikat.


Tak lupa, Raka juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk penyergapan ini.


"Masih ada waktu 2 jam, sebelum waktu pertukaran. Kita sergap mereka langsung di tempat persembunyiannya. Saya bagi menjadi 3 tim penyergap, tim 1 menyisir sekitar bangunan, amankan semua yang berada di luar tanpa terlihat dan terdengar. Tim 2, sebagai tim penyergap utama, utamakan keselamatan korban. Tim 3 sebagai tim penjemputan, kalian harus mengantarkan korban dengan selamat sampai di sini."


"Tim 1 & 2, lanjutkan dengan penyelesaian akhir!"


"Siap, laksanakan!"


Ketiga tim itu pun segera menuju lokasi penyekapan Jovan, yaitu di salah satu pulau kecil tak berpenghuni di perairan Kepulauan Riau.


Dengan menggunakan speed boat khusus dan helikopter pengintai yang khusus dibawa oleh tim dari Clifford, mereka segera bergerak menuju lokasi.


Raka pun segera bergerak bersama tim penyergap, karena sebelum Raka diangkat menjadi asisten atau tangan kanan Mario, Raka merupakan seorang mantan anggota pengawal pribadi yang memiliki keahlian layaknya pasukan khusus. Keahlian beladiri dan menembaknya tidak perlu diragukan, untuk itulah ia diangkat sebagai asisten Mario.


Dengan menggunakan pakaian serba hitam, serta tak ketinggalan penutup wajah dan kacamata khusus, Raka memimpin pasukan khusus yang ia bawa.


"Ingat, tugas utama kita menyelamatkan Jovan, tidak ada kata tapi dan kerjakan hingga tuntas!" seru Raka sesaat sebelum ia menaiki helikopter bersama pasukannya.


Raka bersama tim khususnya telah mendapatkan lisensi penggunaan senjata api, tetapi walaupun begitu, mereka selalu menggunakan peluru kosong.


Gerakan Raka beserta tim khususnya, dilengkapi dengan kamera yang terhubung ke monitor Jafar di Jakarta, sehingga baik Alex maupun Jafar dapat memonitor pergerakan Raka secara langsung.


Sementara itu di rumah sakit, Mario mendapatkan pesan singkat dari Alex.


"Mereka sudah mulai bergerak."


Lalu, Alex juga mengirimkan tangkapan langsung dari kamera Raka kepada Mario.


"Cha, ayah keluar sebentar yaa. Ayah ada urusan penting, tapi nanti ayah kembali lagi," ucap Mario sambil mengecup kening Marissa.


"Kak, saya titip Icha sebentar, yaa," pesan Mario kepada Jovanka.


"Santai aja, Icha aman sama aku, lagipula Silla sama Faisal selalu ada disini," ucap Jovanka.


"Makasih, Kak."

__ADS_1


"Bang, tolong ikut saya," ajak Mario kepada Jorrian.


"Ada apa?" tanya Jorrian.


"Ikut dulu, Bang. Nanti Abang juga tahu. Ayo Bang!" jawab Mario.


Tanpa bertanya lagi, Jorrian mengikuti langkah Mario menuju parkiran rumah sakit. Mario lalu masuk ke dalam sebuah mobil van berwarna hitam, yang didalamnya terdapat monitor alat-alat pengintai.


Hal itu pun membuat Jorrian terkejut, tetapi ia tidak bertanya apapun kepada Mario. Ia memilih untuk mengamati terlebih dahulu.


"Mereka di mana?" tanya Mario kepada Adam.


"Mereka sedang menuju pulau X," jawab Adam sambil menunjukkan lokasi helikopter pada radar.


"Jovan, sebentar lagi kami akan membawamu kembali," lirih Mario.


Sementara itu Jorrian lebih fokus kepada sambungan kamera Raka pada layar monitor dan berharap Raka dapat membebaskan Jovan dari para penculik, walaupun di dalam hatinya terdapat pertanyaan-pertanyaan tentang apakah ini semua.


"Raka, hati-hati!" ucap Mario pada microphone yang terhubung ke Raka.


Tanpa berkata apapun, Raka memberikan tanda dengan menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, helikopter yang ditumpangi Raka telah sampai di pulau yang dimaksud. Mereka pun segera turun menggunakan tali.


Sementara itu tim 1 dan 2 dari kepolisian juga telah sampai dan mulai mengendap-endap mendekati rumah kayu yang diduga sebagai tempat persembunyian para penculik.


"Eh suara apa itu?"


"Coba kau cekkan di luar," ucap Borris.


"Baik, Bang," jawab salah satu anak buahnya.


Ia pun berjalan menuju pintu, lalu membukanya perlahan-lahan.


"Eh nggak ada apa-apa? Suara apa tadi itu?" ucapnya dalam hati.


Lalu ia pun berjalan keluar untuk mengitari teras. Tiba-tiba, tanpa suara salah satu tim dari kepolisian berhasil melumpuhkannya dengan cara membekap dengan cairan bius.


Setelah berhasil dilumpuhkan, badannya ditarik menjauhi rumah.


"Eh lama kali si Tigor! Apa pulak yang dia kerjakan di luar!" geram Boris.


"Kau apakanlah dulu!" lanjut Boris kepada anak buahnya yang lain.


2 anak buah Boris, Togar dan Binsar pun keluar untuk memeriksanya.

__ADS_1


Polisi pun melakukan hal yang sama pada keduanya, hanya saja kali ini menimbulkan suara sehingga membuat Boris dan Bonar gusar.


Sambil menodongkan pistol ke kepala Jovan, Boris pun berteriak, "Togar! Binsar!"


Ketiga tim pun segera masuk bersamaan melalui pintu utama dan pintu belakang dengan menodongkan senjatanya ke arah Boris dan Bonar.


"Jatuhkan senjata kalian !!"


"Angkat tangan!!"


Tanpa perlawanan, Boris dan Bonar secara perlahan meletakkan pistolnya ke lantai kemudian mengangkat tangannya.


Polisi pun segera menangkap Boris dan Bonar dengan mengikat kedua tangannya di belakang. Tetapi, Bonar tiba-tiba melakukan perlawanan dengan memukul dan menendang, lalu ia pun berusaha melarikan diri melalui pintu belakang, sesaat itu pun


Raka dan tim-nya yang masuk melalui pintu belakang, segera melayangkan tembakan ke arah kaki untuk melumpuhkan Bonar. Timah panas itu pun melukai kaki Bonar sehingga ia kesulitan untuk berjalan. Tanpa menunggu lagi polisi kembali membekuk Bonar.


"Pak Raka, area clear, Anda bisa segera membawa Saudara Jovan ke helikopter," ucap ketua tim 1 dari kepolisian setelah memastikan semua telah aman.


"Terima kasih, Pak," jawab Raka.


Raka dan anggotanya pun segera memapah Jovan yang terlihat lemah menuju ke helikopter. Sesampainya di helikopter, badan Jovan pun ditutupi selimut untuk menghangatkan badannya.


Helikopter pun segera membawa mereka kembali ke Batam.


"Jovan aman, Pak," lapor Raka kepada Mario dan Alex.


"Good job ! Bawa ia segera ke rumah sakit!" jawab Mario.


Pilot helikopter pun mengarahkan ke salah satu rumah sakit swasta terbesar di Batam yang memiliki helipad.


Para dokter dan perawat emergency pun bersiap dengan brangkar untuk menjemput Jovan di helipad, setelah mendapatkan pemberitahuan dari pilot helikopter.


Mario pun segera menuju rumah sakit yang dituju bersama dengan Marissa, setelah Marissa mendapatkan izin untuk keluar dari klinik hotel.


Di dalam perjalanan menuju rumah sakit, Raka kembali menghubungi Mario.


"Mas Jovan dalam perjalanan menuju rumah sakit Awaludin Saud," lapor Raka.


"Kita bertemu disana," jawab Mario.


Di dalam helikopter, Raka mencoba berkomunikasi dengan Jovan yang tampak lemas dan shock.


"Mas, are you okay?"


Tetapi Jovan tidak menjawab, lalu Raka memeriksa kondisi badan Jovan.

__ADS_1


"MasyaAllah, tangannya dingin banget!" ucap Raka.



__ADS_2