Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Baju Operasi (BonChapt)


__ADS_3

Maaf ya author telat update, riweuh pontang panting ana, ini, unu, ene, ono😂😂... mudah-mudahan kalian tetap sabar menunggu😆😆


Yuk langsung aja... Capcuuss💃


❤❤❤


Lembayung senja menyemburatkan warna orange kemerahan. Awan putih berarak beriringan, saling menggeser lawan dan kawannya satu persatu. Siulan burung kecil pun tak kalah riang, saling bercuit, mengepakan sayap dari satu pohon ke pohon lainnya.


Lengkungan senyum indah selalu terukir di bibir tipis Arini yang sedang menikmati semilirnya angin sore yang bertiup sepoi-sepoi menerpa rambut yang ia biarkan tergerai memanjang.


Tangan yang berayun, mengambil setangkup air ke udara dan dibiarkan bergemiricik turun menyentuh rerumputan hijau yang tertawa riang mendapat kucuran air segar dari tangannya.


Danau buatan penuh kenangan indah penuh makna saat Radit memintanya untuk menjadi wanita halalnya saat itu. Lagi-lagi ia tersenyum, danau ini juga bisa menghilangkan dahaganya untuk bisa merasakan indahnya dunia luar yang hampir tiga bulan ini tidak ia sambangi.


Kecupan dipuncuk kepala membuatnya menoleh," Kita pulang sekarang?"


"Sebentar lagi?" Tawaran sekaligus pertanyaan agar belahan hatinya mau memenuhi permintaanya.


Radit duduk dibelakang, melingkarkan tangan kekar didada Arini," Lima menit?"


"Sepuluh menit?" Menengadah untuk menjangkau wajah Radit.


Radit semakin mengeratkan pelukannya dengan kecupan sekilas dipipi Arini," Baiklah, sepuluh menit."


Tak hentinya Radit menciumi rambut Arini dan menyesapnya dalam-dalam. Bau harum yang selama ini selalu memanjakan indera penciuman bila berdekatan dengannya.


Tiba-tiba Arini menoleh,"Mas...."


"Ya?"


"Kita ke Rumah Sakit yuk?" Arini menggeser duduknya hingga menyampir untuk bisa melihat Radit.


"Mau apa ke Rumah Sakit, ini kan hari minggu, aku libur."


"Ayo lah Mas..."


"Iya tapi ada apa dulu ke Rumah Sakit."


"Ya pengen aja, udah lama aku nggak kesana."


"Tapi jangan lama-lama ya, ini udah terlalu sore."


Arini menakup pipi Radit dengan sedikit tekanan hingga bibirnya maju," Makasih sayang."


"Sun dulu dong." Menunjuk bibirnya.


"Ih nggak.... tar ada yang liat."


"Mau pergi nggak nih." Radit memajukan bibirnya.


Arini memundurkan bibir Radit dengan telapak tangannya," Nggak."


"Beneran nggak?"


"Nggak." Seraya menutup bibirnya.


"Ya udah." Radit menjatuhkan tubuhnya diatas rumput, memandang kembali langit sore.


"Mas... kok malah tiduran, ayooo...." Arini menguncang tangan Radit.


"Sun dulu."


"Ih manja."


Arini menahan siku dirumput, menjangkau wajah Radit dengan melihat kesekeliling dan langsung mencium sekilas bibir yang sekarang tengah tersenyum karena mendapat ciuman.


"Udah...," Mengembalikan posisinya seperti awal,"... Ayo."


"Kurang lama."


"Maaas..."


"Sekali lagi." Tawarnya.


"Tau ah... biarin aku pergi sendiri aja." Mengangkat tubuh yang semakin berat dengan berpegangan di paha Radit.


"Uluh-uluh.... bumil marah." Radit bangun dan duduk dengan menarik tangan Arini dalam gengamannya.


Dengan wajah yang ditekuk Arini memalingkan wajah," Biarin anaknya ngeces."


"Jangan dong... ya udah ayo, tapi senyum dulu." Menarik dagu Arini untuk melihat kearahnya.


Arini masih memasang wajah cemberut.


"Mana senyumnya?" Radit mengangkat sebelah alis.


Perlahan Arini tersenyum dengan wajah yang merona karena malu dengan tatapan Radit yang begitu dalam melihatnya.


"Cantik."


"Ih gombal."


Arini mencubit pinggang Radit yang langsung terlonjak kegelian.

__ADS_1


******


Sampai di Rumah Sakit, mereka berjalan bergandengan dengan obrolan yang tidak pernah ada habisnya. Canda penuh tawa, gurauan penuh manja, dan diselingi sentuhan penuh cinta.


"Kita kemana, kok malah belok kesini. Ruangan ku kan kesana sayang?"


"Mau ke ruang operasi."


Alis Radit saling bertaut," Ngapain?"


"Pengen aja."


"Jadi ke Rumah Sakit itu karena pengen ke Ruang operasi?"


"Iya..." Tersenyum penuh maksud, mengandung unsur yang mencurigakan didalamnya.


Dengan hati penuh tanya, Radit menuruti kemauan Arini yang menarik tangannya agar berjalan lebih cepat. Setelah Radit meminta penjaga untuk membuka ruang operasi yang terkunci, Arini langsung masuk dan mencari sesuatu yang tidak juga ia temukan.


"Cari apa sih sayang?" Radit memperhatikan Arinu yang berjalan kesana kemari dengan memegangi perut besarnya.


"Kalau baju operasi yang biasa Mas pakai disimpan dimana?"


Radit semakin tidak mengerti," Buat apa?"


"Dimana dulu?"


Radit berderap menuju sebuah ruangan yang tertutup pintu, masuk kedalam dan kembali dengan baju berwarna hijau ditangannya.


"Ini..."


Arini tersenyum sangat lebar, ia seperti mendapatkan harta karun yang sudah lama tersembunyi," Dipake Mas."


"Dipake?"


"Iya..." Arini mengangguk cepat dengan tetap melengkungkan bibirnya.


"Tapi untuk apa?"


"Ayo lah Mas.. aku pengen lihat kamu pake baju operasi." Sambil menggeret kursi untuk dia duduki.


Untuk pertama kalinya ia harus memenuhi permintaan aneh istrinya ini. Dengan malas Radit memakai baju operasi itu tanpa membuka bajunya terlebih dahulu.


"Buku dulu bajunya... masa mau didouble, kan jelek kelihatannya."


"Nggak papa dong, kan nanti juga dibuka lagi."


"Tapi aku pengennya gitu."


"Sayang ini kan cuma..."


"Iya...iya..."


Radit membuka baju yang sekarang ini dia pakai, kaos panjang hitam yang dipadukan dengan celana jeans panjang warna abu.


"Topinya mana?" Bertanya kembali setelah Radit selesai memakai baju hijau itu.


"Di lemari."


"Ambil dong sayang."


Radit bertolak pinggang," Harus dipake juga?"


"Iya dong... kalau Mas lagi operasi juga kan suka dipake topinya."


"Tapi ini kan bukan mau operasi?"


"Maaaas..." Arini merengek lagi.


Radit berdecak sambil membalikan badan menuju ruangan dimana baju ini tersimpan. Tak lama kemudian kembali dengan topi warna senada yang sudah bertengger dikepalanya.


"Aaahh... gantengnya." Arini langsung berdiri, memutari badan Radit hingga dua kali.


Arini menyimpan tangan didagu, memikirkan sesuatu," Kayaknya lebih bagus kalau didouble deh bajunya...," Arini mengambil kaos dan celana jeans yang Radit simpan diatas blangkar kosong,"... Nih sayang."


Radit menggaruk kepalanya yang sangat gatal, pastinya bukan gatal akibat kutu atau ketombe, tapi gatal karena menahan kesal.


"Kenapa.... nggak mau?"


Radit memaksakan bibirnya untuk tersenyum," Mau dong... sini bajunya."


Radit membuka kembali baju operasi itu. Memakai kaos dan celana jeans, kemudian merangkapnya dengan baju operasi.


"Yang ikhlas..." Sergah Arini.


"Ini juga ikhlas sayang..."


"Kalau nggak ikhlas anaknya ngeces loh." Arini mengingatkan.


"Iya sayang... ini udah ikhlas banget." Jawab Radit dengan nada sehalus mungkin padahal hatinya terus menggerutu.


Setelah memakai topinya, Radit kembali menghadap Arini.


"Nah ini baru cocok, Mas tambah keren... makin cinta deh."

__ADS_1


Radit bergumam dalam hati, bukannya tadi bilang nggak bakalan enak dilihat kalau pake baju double kayak gini, keren darimananya.


Arini merogoh ponselnya," Cheeerrrss...."


"Di foto?"


"Iya.... bergaya dong Mas jangan kaku gitu."


Radit meringis dalam hati, mungkin ini yang namanya permintaan aneh Ibu hamil. Tapi ia masih bersyukur Arini memintanya di ruang tertutup, bukan tempat ramai seperti jalan raya.


Cekrek...


"Senyumnya kurang lebar Mas.."


Radit memperlebar senyumnya hingga deretan gigi putihnya terlihat sangat jelas. Dengan berbagai pose Radit menuruti semua kemauan Arini, demi bayinya.


"Sekali lagi ya Mas..." Memberikan masker dan dua gunting dengan bentuk berbeda.


Arini menarik Radit menuju meja operasi,"Nah Mas berdiri disini... nunduk... kurang nunduk.... udah-udah.... mukanya harus serius ya.... satu, dua, tiga." Perintah Arini bagaikan seorang photografer lihai yang sedang mengarahkan modelnya untuk bergaya.


Cekrek...


Arini melihat satu persatu hasil jepretannya, tersenyum bahagia.


"Udah sayang?"


"Udah... yuk pulang?" Menarik tangan Radit untuk keluar.


"Sebentar aku buka dulu."


Arini kembali menoleh," Kata siapa boleh dibuka?"


Radit membulatkan matanya,"Maksudnya?"


"Mas pulang pake ini."


Radit menurunkan wajahnya, melihat penampilannya sendiri yang seperti orang-orangan sawah.


"Tapi ini baju buat operasi... aku jelek banget pake baju double kayak gini, malu."


"Malu sama siapa... takut nggak ada yang naksir?"


"Bukannya gitu...."


"Pokonya pake... kalau ini jangan." Sambil membuka masker dan menyimpannya dikursi.


"Sayang..." Ucap Radit lirih.


"Kenapa.... nggak mau?" Tanya Arini dengan mendelikan matanya.


"Mau kok mau... tapi pake masker ya?"


"Nggak."


"Sayang..."


"Gantengnya nggak keliatan kalau pake masker."


"Nanti udah di mobil aku buka deh, ya...ya...?"


"Maaass..." Arini mengeluarkan jurus andalannya.


Sudah mendengar rengekan begini, Radit tidak bisa untuk mengatakan tidak.


"Ya udah." Jawabnya pasrah.


Sampai didalam mobil, Radit langsung melajukan mobilnya setelah sebelumnya selalu mendapatkan tatapan aneh dari semua orang yang berpapasan dengannya.


Sekali-kali ia melirik Arini yang sedang mesam mesem memperhatikannya.


"Kenapa... seneng banget ya liat aku kayak gini?"


"Iya..." Jawab Arini tersenyum sambil melempar pandangannya kedepan kaca mobil.


Namun salah satu kedai nasi goreng yang ramai dengan pengunjung membuat matanya enggan untuk kembali berpaling hingga kepalanya bergerak memutar.


"Stooop..." Tiba-tiba Arini meminta Radit untuk menghentikan mobilnya.


"Ada apa?"


"Aku pengen makan nasi goreng buatan Mas."


"Oke nanti aku bikinin dirumah."


"Tapi aku pengen Mas bikinnya disana."Menujuk kedai yang tadi dia lihat.


"Apa?"


Radit menutup wajah dengan kedua tangannya. Komplit sudah penderitaannya menjadi suami siaga hari ini.


"Maaaas...."


..........................................................

__ADS_1


..........................................................


.....................................Bersambung....


__ADS_2