Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Mail dan Memey (BonChapt)


__ADS_3

Hai...hai....hai....🙌🙌🙌


Makasih masih setia menunggu Bonchapt ❤Cinta Yang Hilang❤


Author hanya mau minta maaf karena tidak bisa membalas coment kalian satu persatu😳 bukan sombong atau apa ya, author baek hati kok, suuuerrr✌✌✌


Yang jelas, semua saran&kritikan dari kalian author sudah tampung.... dan jika itu masuk diakal, pasti author realisasikan, oke👍👍


Yuk lanjuutt.... selamat membaca😗😗


❤❤❤


Erika mengobrak-abrik seluruh pakaian yang ada didalam lemarinya. Sepulang dari Rumah Sakit, dia mencoba satu persatu gaun yang dia punya, tapi tak satu pun dari semua gaun itu yang langsung membuatnya sreg.


Tiba-tiba Erika menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, meniduri semua gaun yang berserakan disana.


Kenapa jadi heboh seperti ini.... toh ini hanya undangan makan malam biasa, dengan pria datar dan dingin seperti dia.... kalau bukan karena pria ramah satunya lagi, aku tidak akan mau datang.


Erika menjambak rambutnya, merasa sudah menjadi gila karena undangan makan malam ini...Aarrrggh...


Dentingan jarum jam di angka enam, membuat dia terperanjat. Langsung turun blingsatan karena waktu yang dirasanya tidak akan cukup untuk dia merias diri terlebih dahulu.


Dasar gaun sialan.... umpatnya lagi saat sebuah gaun menempel pada bagian belakang bajunya saat masuk kedalam kamar mandi.


*****


Didepan cermin David mematut dirinya, dengan memakai jas dan kemeja tanpa dasi, ia tersenyum memuji penampilan yang menurutnya tampak keren, tidak terlalu formal, tidak berlebihan namun tetap santai.


Ia menepuk jidatnya, memaki dirinya yang begitu bersiap dengan acara makan malam sekarang.


Huuuh.... cewek plastik, kalau bukan karena Pak Aditya, aku tidak akan pernah datang.


David keluar dari kamarnya, namun seketika ia mendengus kesal, melihat Aditya yang masih berpakaian santai, sedang asyik bercengkrama dengan Pak Wiria.


David mengepalkan tangannya geram, dia yakini kalau makan malam ini memang sengaja Aditya buat hanya untuknya dan wanita plastik itu.


David mengelus dadanya, hanya ada kata sabar dan ikhlas dengan sikap Bosnya yang semena-mena seperti ini.


David pun berjalan menghampiri mereka.


"Pak Aditya.... anda belum bersiap?"


Aditya dan Pak Wiria sama-sama menoleh.


"David kamu mau kemana sudah rapih seperti ini?" Tanya Pak Wiria.


Aditya langsung tersenyum," David ada kencan Dinner Pah.... sama Dokter cantik."


"Oh ya.... benarkah itu.... kamu harus kenalkan Dokter itu kepada saya nanti."


David tergagap," Bukan seperti itu Pak, ini makan malam bersama Pak Aditya juga, bukan hanya saya."

__ADS_1


Pak Wiria berbalik melihat Aditya, seolah menanyakan apa maksud dari jawaban David itu.


Aditya pun berusaha untuk tidak tersenyum melihat tatapan penuh tanya dari Pak Wiria.


"Maaf David, saya tidak bisa ikut.... kasian kalau Papah harus ditinggal sendiri, jadi kamu saja yang pergi. Aku titip salam saja kepada Dokter Erika."


Seratus persen tepat, gumam David dalam hati. Alasan klise yang pasti akan Bosnya itu katakan.


"Baiklah Pak, nanti saya akan sampaikan kepada wanita itu."


"David.... dia punya nama."


"Ah maksud saya seperti itu Pak..."


"Seperti itu apa?"


"Nanti saya sampaikan kepada Dokter Erika." Tutur David dengan setengah hati saat mengucapkan nama Dokter Erika.


Aditya melipat bibirnya kedalam, menahan kembali senyumannya. Sedangkan Pak Wiria semakin berpikir keras, ada apa dengan dua pria lajang didepannya sekarang ini, obrolan mereka membuatnya semakin tidak mengerti.


"Kalau begitu saya permisi sekarang Pak."


"Iya.... semoga lancar David, ingat pesan saya tadi, perlakukan Dokter Erika dengan baik."


"Iya Pak."


David pun berlalu meninggalkan mereka dengan sumpah serapah yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.


"Dit.... sebenarnya Dokter Erika itu siapa?" Tanya Pak Wiria penasaran.


"Panjang ceritanya Pah, mending kita doankan saja, mudah-mudahan David bisa cocok dengan Dokter Erika."


"Tapi sepertinya David tampak kesal saat menyebut namanya?"


Aditya menyandarkan punggungnya sambil kembali tertawa," Dokter Erika memang teman duelnya David, Pah."


"Temen duel bagaimana maksudnya?"


"Mereka itu kayak Mail dan Memey, bukan lagi Tom and Jerry yang suka main lari-larian."


"Mail dan Memey di Upin Ipin?"


"Papah tahu dari mana film anak seperti itu?"


"Ya tahu.... Nuno kan pernah cerita tentang film kesukaanya itu."


"Oh... jadi gini loh Pah.... setiap bertemu, mereka pasti awali dengan perdebatan, tidak pernah ada ujungnya. David seperti Mail, menutup mata kalau lawannya Dokter Erika itu memang cantik dan juga pintar, sama seperti Memey."


Pak Wiria tersenyum dan menggelengkan kepalanya,"Semoga saja David bisa menemukan pasangan yang cocok untuknya, tidak terus sibuk dengan urusan kantor."


"Itu juga yang aku mau Pah, sudah waktunya David membuka hati untuk seseorang."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kamu?"


"Maksud Papah?"


"Papah juga ingin kamu segera membuka hati kamu untuk wanita lain, menemukan pasangan yang bisa menemani kamu...," Pak Wiria menghela nafasnya yang tercekat ditenggorokan,".... dosa Papah akan selalu ada kalau kamu terus sendiri seperti ini."


"Pah... aku tidak mau Papah bicara seperti itu lagi, ini bukan sepenuhnya salah Papah Aku yang sudah tentukan pilihan untuk tinggalkan Arini waktu itu."


Pak Wiria menghapus air matanya," Arini sudah bahagia dengan suaminya, dan Papah juga ingin melihat kamu bahagia dengan pasangan baru kamu. Papah janji tidak akan menghalangi siapapun yang akan jadi pilihan mu nanti, selama itu buat kamu bahagia, Papah pun akan ikut bahagia."


Aditya menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Pak Wiria," Terima kasih Pah, aku akan coba, mungkin aku hanya membutuhkan sedikit lagi waktu untuk memulainya kembali." Tutur Aditya sambil tersenyum dan menyentuh tangan Pak Wiria.


"Ya Papah tahu, itu pasti tidak akan mudah untuk kamu."


"Dia wanita yang sudah banyak memberikan pelajaran berharga buat aku. Bahwa sesungguhnya, cinta yang tulus itu adalah merelakan segala keputusan orang yang kita cinta. Dan Arini sudah merelakan aku untuk memilih Papah saat itu, dan sekarang giliran aku yang harus merelakan keputusan Arini untuk menikah dengan Radit." Seraya menghela nafasnya dengan berat.


"..... dan ternyata perbuatan tidak semudah dengan perkataan yang kita ucapkan. Tapi aku akan berusaha untuk itu, menjadi orang yang lebih baik lagi seperti apa yang Arini mau"


Pak Wiria menepuk bahu Aditya," Papah bangga sama kamu, sekarang kamu menjadi lebih dewasa dari yang Papah kira. Papah akan terus berdoa, semoga kamu bisa menemukan wanita sebaik Arini."


"Terima kasih Pah.... tapi yang terpenting sekarang adalah kesehatan Papah...," Aditya berdiri dengan menarik kursi roda Pak Wiria,".... kita ke kamar, Papah harus ingat pesan Dokter tadi, Papah harus banyak istirahat."


Aditya mendorong kursi roda Pak Wiria menuju kamarnya. Sampai dikamar, Aditya memindahkan Pak Wiria ke atas tempat tidur.


"Dit...."


"Ya Pah?" Seraya menyelimuti Pak Wiria.


"Kapan cucu papah kamu ajak lagi kesini?"


Mendengar pertanyaan Pak Wiria, Aditya pun duduk disisi tempat tidur," Nanti kalau libur sekolah, aku ajak Nuno main kesini. Papah tenang aja, mulai sekarang kita akan menetap di Surabaya, karena aku pun ingin lebih dekat dengan anakku, mengenal lebih dekat dia. Aku ingin menbayar waktuku yang hilang untuknya."


"Kamu tahu.... Nuno itu mirip sekali denganmu. Wajahnya, gayanya, dan cara dia bicara, semuanya mirip dengan kamu."


Aditya tertawa pelan," Semua orang mengatakan itu.... secepatnya aku akan membawa dia menemui Papah."


"Iya..."


"Ya sudah sekarang Papah istirahat, aku tinggal dulu. Aku harus menyiapkan berkas untuk meeting besok. Sebenarnya ini tugas David, tapi untuk kali ini aku beri dia kelonggaran agar menikmati dinnernya malam ini tanpa terbebani urusan pekerjaan." Tutur Aditya dengan tertawa bila kembali mengingat David.


"Tapi apa kamu yakin dinner mereka akan baik-baik saja?"


"Yakin Pah.... mereka tidak akan sampai baku hantam disana, Papah tenang saja."


Pak Wiria langsung tertawa, seorang Mail yang akan bertemu dengan Memey, yang sama-sama keras kepala dan tidak pernah mau mengalah.


..........................................................


..........................................................


....................................Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2