Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 70 First Night at The Penthouse


__ADS_3

Malam itu, Jovan memutuskan untuk menginap di apartemen Mario, tetapi kedua orang tuanya memilih untuk kembali ke rumah Jovan.


Bukannya tanpa alasan, Jovan memutuskan untuk menginap karena melihat ekspresi Marissa yang ingin menikmati malam itu memandangi kerlip lampu ibukota.


Jovan memandangi keramaian jalanan ibukota dari jendela kamar Marissa. Dari lantai 50, semua tampak kecil, kendaraan yang lalu lalang di jalanan bagaikan kumpulan mobil mainan miliknya sewaktu kecil.


Ia hanya berdiri tanpa suara, menatap keramaian di luar sana.


Ia lalu beralih ke walk-in closet miliknya, yang telah dipenuhi dengan pakaian-pakaian dari brand ternama dunia, bukan hanya pakaian untuk Marissa, tetapi pakaian untuknya pun telah tersusun rapi dengan berbagai jenis model pakaian.


Setelan jas eksklusif, kemeja kerja dan santai, dasi, sapu tangan, hingga kaus kaki telah tersusun bagaikan sebuah butik ekslusif.


Ia kemudian melihat ke sebuah rak yang berisi aneka alas kaki, sepatu fantofel, kets, sandal dengan berbagai model, yang berukuran sesuai dengan kakinya.


Ia pun mencoba salah satu sepatu fantofel, bermerk desainer kenamaan Italia, yang ia tahu pasti harganya diatas 5 juta rupiah, karena ia sempat mengincar sepatu tersebut.


Ia sungguh tak habis pikir dengan Mario, mertua yang sangat perhatian tetapi dalam diam. Semua ukuran pakaian dan sepatu sesuai dengannya. Semua model pun sesuai dengan seleranya.


Lalu ia beralih pada sebuah rak buku, dilihatnya buku-buku agama tersusun rapi. Lalu ada beberapa buku mengenai arsitektur, seni dan album foto. Jovan pun mengambil album foto tersebut dan membukanya.


Ternyata berisi foto-foto masa kecil Marissa bersama Chen bersaudara. Ada beberapa foto yang bahkan Jovan tidak ingat kapan waktu foto tersebut diambil.


Ia pun berhenti pada sebuah foto yang memperlihatkan Marissa kecil sedang disuapi oleh Josie.


Entah mengapa, hatinya sakit melihat kedekatan Marissa dan Josie.


"Jovan aneh!! Icha disini masih kecil, paling juga belum sekolah, kenapa kamu cemburu?! Sadar Van!" batinnya pun bergolak.


Ia pun menengadahkan wajahnya sambil menutup mata dan menghembuskan nafasnya dengan berat.


Sementara itu, Marissa dengan menggunakan masker wajahnya berjalan keluar dari kamar mandi, ia mengendap-endap ke arah Jovan. Lalu ia pun duduk, tepat di depan Jovan.

__ADS_1


Tak lama, Jovan pun mengembalikan kepalanya ke posisi normal sambil membuka matanya.


"Astaghfirullah! Yaaaaang!" pekik Jovan yang terkejut dengan kemunculan Marissa di depannya.


"Pakai apa sih itu?" tanya Jovan lagi.


"Masker peel-off, untuk menjaga kecantikanku agar tetap terparipurna," jawab Marissa santai.


"Abang mau? Masih ada, banyak lagi," lanjut Marissa.


"Nggak lah, nanti Abang semakin kinclong," jawab Jovan tak kalah santai.


"Ooiya yaa, nanti kalau semakin kinclong beneran jadi glass skin, kesenggol dikit pecah deh. Trus aku harus mungutin pecahannya di lantai dan aku mulai susun lagi wajah Abang satu persatu. Nah, pas sudah jadi, wajah Abang jadi kotak-kotak mozaik, amazing," balas Marissa lengkap dengan wajah sinis ke arah Jovan.


Kali ini, Jovan pun harus kembali mengakui kekalahannya, tetapi ia punya cara lain yang membuat Marissa terdiam.


Jovan pun menarik tangan Marissa sehingga terjatuh tepat di pangkuannya sehingga wajah mereka pun beradu.


"Bang, kalau aku bawa gergaji mesin, kira-kira aku mirip siapa?" balas Marissa dengan sesuatu yang random seperti biasa.


"Gergaji mesin?" tanya Jovan yang tidak mengerti akan maksud pertanyaan Marissa.


"Bertopeng dan membawa gergaji mesin," jawab Marissa.


Jovan pun menyipitkan matanya, lalu, "Don't say, it Jason on Friday the 13th."


Marissa pun tertawa sambil menganggukkan kepalanya.


"Your brain is amazing!! Minggir ah, ngeri Abang jadi ngebayangin!!" ucap Jovan sambil mendorong perlahan Marissa agar menjauh.


Marissa pun tertawa semakin kencang melihat reaksi Jovan yang kembali tidak berkutik melawan dirinya.

__ADS_1


Marissa lalu bersegera membersihkan wajahnya lalu kembali menghampiri Jovan.


"Anyways, lagi ngapain sih, Bang?" tanya Marissa.


"Lagi lihat-lihat isi lemari, trus nemu album foto ini. Coba lihat deh, Yang. Abang nggak ingat kapan foto-foto ini diambil," jawab Jovan sambil menunjukkan album foto yang sedang dilihatnya


Marissa kemudian membuka lembaran-lembaran album tersebut, wajahnya pun dihiasi senyuman.


"Aku juga nggak ingat, semua foto-foto ini, aku nggak ingat kapan diambilnya. But, one thing I remember, do you see this?" tanya Marissa pada sebuah foto dimana ia berdiri sendiri di sebuah pinggir pantai, dengan mata yang menatap jauh. Dari raut wajahnya, ia tampak sangat teduh dan bahagia.


"Ada apa dengan foto ini?" tanya Jovan.


"Di foto ini, aku sedang happy banget. Sewaktu kita semua berlibur ke pantai, main pasir, main air, main layangan, aku ingat itu semua. Tapi, ada satu yang bikin aku lebih bahagia saat itu," jawab Marissa tanpa meneruskan kalimatnya.


"Apa atau siapa?" tanya Jovan.


"Well, you'd better found out your self, PR untuk Abang tersayang," jawab Marissa yang diakhir dengan kecupan lembut di bibir Jovan sebelum ia kembali ke kamar mandi.


"Ah!! Iseng, pakai PR segala, PR apa sih?" protes Jovan sambil menahan tangan Marissa.


"Jawab dulu, Abang nggak mau PR!" lanjut Jovan lagi.


Marissa pun memandang lekat wajah pria yang selalu membuatnya merasa bagaikan seorang putri, dengan cara khasnya.


"Abang sayang, baik hati dan tidak sombong, akan menjadi keseruan tersendiri jika Abang menemukan jawabannya sendiri. Jadi aku nggak akan bilang siapa atau apa," jawab Marissa.


"Sudah ya, I'll be back," lanjut Marissa yang segera kembali ke kamar mandi.


Jovan pun mencari jawaban atas pertanyaan Marissa dengan membuka lembar demi lembar album foto tersebut. Sementara itu, tak lama kemudian Marissa telah menyelesaikan rutinitas sebelum tidurnya. Ia lalu berganti pakaian dengan night dress yang tersedia di lemarinya, tak lupa dengan sedikit semprotan parfum beraroma buah yang segar dan menggoda, sehingga membuat Jovan mencari asal aroma tersebut.


Setelah melihat penampilan Marissa dengan night dress-nya, Jovan pun segera bersiap, dengan kecepatan kilat ia menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2