Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Hilang dan kembali (BonChapt)


__ADS_3

.............................................................


.............................................................


Padang pasir yang luas, semilir angin bertiup menerpa butiran pasir hingga bergulung dan terbang terbawa arusnya. Kosong, tak ada siapapun yang menemani... aku dimana???


"Arini...."


Tiba-tiba Arini mendengar suara yang selama ini sangat dirindukannya.


Arini berjalan kesana kemari mencari asal suara itu.


"Arini kami disini...."


Suara yang berbeda dan sangat ia kenal, yang juga amat sangat dia rindukan.


Dua suara itu... ya suara itu... Arini semakin gencar mencari.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, Arini melihat dua bayangan orang yang berbaju putih, senyuman Arini merekah, ia berlari dengan kencang, ingin segera melihat dua bayangan yang semakin dekat, semakin terlihat jelas.


"Ayah... Ibu...." Serunya setelah yakin kalau yang dilihatnya adalah kedua orang tua yang sudah lama tiada.


Arini berlari semakin cepat lagi, namun ia tak kunjung bisa menjangkaunya, seperti ada tembok penyekat yang menghalangi.


"Arini pulanglah... ini bukan tempatmu sayang."


"Tapi Arini merindukan Ayah dan Ibu."


"Pulanglah Nak... masih banyak tanggung jawab yang belum kamu selesaikan. Mereka menunggumu." Ucap Ayahnya.


Arini diam tak menjawab.


"Jadilah Ibu yang baik untuk anak-anakmu. Dan jadilah istri yang berbakti untuk suamimu. Kami menyanyangimu." Ucap Ibunya.


Dua sosok itu tiba-tiba hilang dari pandangannya. Arini memutar badannya kekiri dan kekanan, mencari-cari dimana mereka berada.


"Ayah... Ibu... kalian dimana?"


Arini tidak dapat menemukannya, namun ia merasakan tetesan air menitik diwajahnya, tangannya pun basah... air apa ini???


Arini menengadahkan wajah mencari sumber ari itu berasal. Ia merasakan wajahnya terasa berat seperti ada seseorang yang menakupnya, pandangannya buram berubah gelap dan pekat.


Nuno mau sama Bunda.... Nuno mau Bunda....


Arini mendengar suara Nuno. Ingin rasanya ia membuka mata ini dan menenangkannya, tapi kenapa sulit. Ia mencoba menggerakan tangan yang terasa dalam genggaman seseorang, namun tak bisa, badannya terasa lemah tak berdaya.


Suara tangisan Nuno, Bude Wati, Anggun dan semuanya terdengar sangat jelas. Dan itu... Mas Radit... suara itu tak henti-henti menyuruhnya untuk bangun.


ia tidak bisa melihat mereka tapi ia bisa melihat seseorang berjubah putih, berbadan tinggi, tegap, besar dan berkulit putih bersih menyilaukan mata.


Arini merasakan sakit dikepalanya, kenapa kepalaku...??? Perlahan orang berjubah itu berjalan menghampiri, mengusap kepalanya hingga tiga kali. Sejuk, nyaman, tenang dan damai.


Sayup-sayup Arini mendengar suara lembut dan indah orang itu berucap.


"Tidurlah... dan setelah ini kau harus bangun."

__ADS_1


Setelah orang itu selesai berkata, matanya terasa mengantuk luar biasa, hingga ia tertidur dengan pulas.


******


Tit.... tit.... tit.... tit.... tit.....


Dua orang perawat yang berada didekat monitor hemodinamik dan saturasi tersentak, saat tiba-tiba monitor yang belum mereka lepas kembali menyala, dan menunjukan gelombang jantung yang berdenyut.


Semua orang yang berada diruangan itu pun ikut melihat kearah monitor itu. Mereka semua tertegun. Tangisan mereka pun seketika terhenti.


"Dokter monitornya." Seru salah satu perawat.


Dengan cekatan Dokter menghampiri dan memeriksa monitor itu, meyakinkannya sendiri kalau itu memang berasal dari jantung Arini yang kembali berdetak.


Dan Radit, seketika mengangkat wajah, mata yang bengkak dan merah menatap tangan Arini yang berada dalam genggamannya, terasa menghangat.


Segera ia bangun dan mengecek urat nadi Arini, dan ternyata berdenyut.


"Sayang...," Radit menangis haru,".... sayang kamu kembali." Radit tak hentinya menciumi tangan Arini.


Anggun membawa Nuno yang masih menangis untuk melepas wajah Arini dalam dekapannya.


"Nuno sama Tante dulu ya, biar Dokter bisa periksa Bunda."


"Tapi Bunda tidak akan pergi kan Tante?"


"Tidak sayang." Jawab Anggun yang ikut terharu dengan keajaiban yang Tuhan berikan kepada orang yang sangat mereka sayangi.


Dengan stetoskop, Dokter memeriksa Arini dengan seksama.


Semua orang bersujud syukur bersama-sama, mengucapkan hamdalah berkali-kali. Dan Aditya mengusap wajah, dadanya yang terhimpit batu besar, kini bisa kembali lega, bernafas dengan bebas.


******


Diruang perawatan VVIV, sekarang ini Arini berada. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan yang akurat, Arini sudah bisa dipindahkan keruangan ini. Pendarahan di otaknya pun dengan signifikan mengalami kemajuan yang luar biasa, tidak bisa dijabarkan dengan nalar manusia.


Dengan mata yang masih terpejam, Arini masih belum bisa terbangun dari tidur panjangnya. Hanya sesekali memberikan respon dengan tangannya yang tiba-tiba bergerak kemudian diam lagi.


"Kondisi Arini semakin membaik, semoga Ibu Arini akan segera sadar." Ucap Dokter yang memeriksanya.


"Terima kasih Dokter."


Setelah Dokter itu pergi, Radit kembali melihat wajah Arini. Mengelus pipinya beberapa kali.


"Kapan kamu bangun sayang... aku merindukanmu." Mengecup kening Arini penuh cinta.


"Radit..."


Anggun masuk dengan membawa paperbag,"Nih... kamu harus mandi, ganti pakaian... dandan yang rapi. Kamu tidak ingin kan saat Arini sadar nanti, lihat muka kamu yang kucel kayak gini, bisa-bisa dia kabur cari suami baru."


Radit tertawa, setelah sekian lama,akhirnya ia bisa kembali tertawa mendengar gurauan Anggun.


"Tolong jaga Arini sebentar ya?"


"Sip..." Anggun memberikan jempolnya.

__ADS_1


Anggun duduk disamping Arini, kemudian melihat wajah itu dan mengajaknya tersenyum.


"Kamu dengar Rin... Radit begitu mencintaimu... kami semua menyanyangimu, hanya sepuluh menit kamu menghilang, tapi itu bagaikan seribu tahun kamu menghilang dari kehidupan kami.... cepatlah bangun, Si kembar menanti Bundanya, dia membutuhkan ASI mu." Mengelus tangan Arini perlahan.


Beberapa menit kemudian, Radit keluar dari kamar mandi dengan berdandan rapih. Rambut yang klimis, wajah yang segar dan berbinar, badan yang tercium harum, seperti akan berkunjung menemui sang pujaan hati.


"Nah itu baru Dokter Radit..." Seru Anggun yang tersenyum senang melihat Radit yang mulai bersemangat lagi.


Anggun beranjak dari duduknya," Aku mau keluar dulu cari makanan buat kamu, oke?"


"Makasih ya?"


"Masama Pak Dokter."


Pagi berganti siang, siang berganti sore dan sore berganti malam. Lelah hati, lelah raga tak menyurutkan Radit yang selalu setia menjaga Arini untuk segera sembuh dari sakitnya.


Malam semakin larut. Rasa kantuk mulai menggerogoti kelopak mata Radit. Sudah hampir empat hari ini ia tidak bisa memejamkan mata dengan benar. Hingga tak terasa kepalanya pun bersandar di blangkar, tertidur.


Jari Arini bergerak-gerak, matanya mengerjap perlahan dan sedikit terbuka, dan akhirnya terbuka seluruhnya.


Arini menelisik keseluruh sudut ruangan, dan mendapati Radit sedang tertidur seraya memegang sebelah tangannya.


Mas Radit, bisiknya dalam hati.


Perlahan ia mengangkat sebelah tangannya, mengusap rambut Radit yang seketika terjaga.


Radit langsung berdiri dari duduknya," Sayang kamu sudah sadar." Radit menciumi seluruh bagian wajah Arini. Air matanya kembali menetes saking bahagianya.


"Mas...." Ucap Arini pelan.


Radit menumpukan tangannya dibantal Arini, mengukung wajah yang sudah lama dia rindukan.


"Kenapa tidurmu lama sekali... aku merindukanmu." Bisik Radit didepan wajah Arini dengan rintikan air mata.


"Kamu membuatku takut... takut tidak bisa melihat mata ini, bibir ini, dan suara ini."


"Maaf..."


Radit menyusur bibir Arini yang kering untuk diam tidak berbicara. Lalu menyelami mata lentik nan indah, mata yang amat sangat dia rindukan karena terlalu lama terpejam.


"Jangan pernah pergi lagi, walau itu hanya sekejap, karena aku tak akan sanggup."


Arini masih lemah untuk berkata-kata dan ia hanya bisa tersenyum menggantikan jawaban kalau dia tidak akan pernah pergi.


Sekilas Radit mengecup bibir Arini," Aku mencintaimu sayang... sangat mencintaimu."


.............................................................


.............................................................


.......................................Bersambung.....


Hah Lega kan....???


Author sayang kalian tentunya...Author nggak sekejam itu kali😆... alurnya emang sengaja dibikin seperti ini, biar sedikit berbekas dong nanti di endingnya😙😙

__ADS_1


Love U All...❤❤💋💋


__ADS_2