
Resepsi pun dilanjutkan, dengan wajah-wajah penuh senyum dan tawa dari para tamu. Tetapi, keinginan mereka untuk menyebarkannya segera di media sosial harus tertunda hingga esok hari menunggu hasil penangkapan Winda.
Sementara itu, pakaian Jovan dan Marissa yang terkena noda darah buatan, menjadi ide untuk berfoto kembali dengan pose penembakan tadi, yang tentu saja diikuti dengan ekspresi panik para tamu undangan yang bangga telah menjadi bagian dari acara pernikahan yang tidak biasa itu.
Rakesh pun menghampiri Jovan untuk memberikan ucapan selamat.
"Nice concept!! waah adegan tadi bisa menjadi ide untuk film. Saya tunggu cerita terbaru kamu," ucap Rakesh.
"Waduh Pak, baru selesai nulis novel kedua, langsung ditagih yang ketiga, nih ?" protes Jovan.
"It's gonna be another best seller ! tunggu apalagi, kamu kan sudah memiliki penggemar setia, saya yakin karya-karya kamu akan selalu mereka nantikan. But, takes your time. Honeymoon aja dulu," jawab Rakesh yang sangat bersemangat dengan adegan penembakan tadi.
Jovan dan Marissa pun saling berpandangan sambil menaikkan kedua bahu mereka.
Rakesh pun tertawa, lalu sambil menepuk-nepuk bahu Jovan, ia berpesan, "menunggu datangnya versi kecil kalian," yang tentu saja dijawab dengan semangat oleh Jovan.
"Siap, Pak!"
Setelah itu mereka pun mengganti busana pengantin dengan jas dan gaun berwarna putih.
Sementara itu, di polisi pun mulai bergerak menangkap Winda yang telah berada di bandara untuk kembali terbang ke Australia bersama kedua anaknya.
Para pengawal pribadi Winda pun tak berkutik, ketika para petugas kepolisian mengarahkan senjatanya.
Di saat itu, Raka yang telah diperintahkan oleh Mario untuk berjaga di belakang polisi pun dengan sigap, menarik Marendra dan Mariska untuk ikut dengannya.
Teriakan protes dan amukan Winda menggema di pelataran terminal keberangkatan internasional. Penangkapan Winda di bandara pun menjadi tontonan para calon penumpang, bahkan beberapa reporter televisi yang bertugas pun tak melepaskan kesempatan untuk meliputnya.
Dengan persetujuan pihak kepolisian, Raka segera membawa Marendra dan Mariska menuju kamar hotel tempat Mario menginap dengan pengawalan dari polisi.
Di dalam mobil, Marendra dan Mariska saling berpelukan diam ketakutan, imajinasi mereka pun melayang membawa ke dalam skenario terburuk yang mereka ciptakan.
"Om, kita mau dibawa kemana?" tanya Marendra.
"Bertemu ayah kalian. Pak Mario sudah menunggu kedatangan kalian berdua," jawab Raka.
Marendra dan Mariska pun saling berpandangan, mencoba mencerna jawaban dari Raka.
Raka yang memahami bahasa tubuh si kembar pun memberikan penjelasan singkat akan keberadaan Mario.
"Ayah kalian masih hidup dan ibu kalian adalah tersangka pembunuhan berencana terhadap ayah kalian, untuk itu pihak kepolisian menangkapnya malam ini setelah semua bukti terkumpul. Bisa dipastikan, ibu kalian akan mendekam lama di dalam tahanan."
Penjelasan Raka tentu saja tidak mudah diterima oleh Marendra dan Mariska, terlebih lagi adanya pernyataan bahwa Winda adalah tersangka pembunuhan.
"Om ngeprank kita berdua, kan?" tanya Marendra.
"I wish, but no, it's true. Tunggu sampai kalian bertemu dengan ayah kalian," jawab Raka.
Keheningan pun terjadi selama dalam perjalanan menuju hotel tempat diselenggarakannya pernikahan Jovan dan Marissa.
Sementara itu, Mario yang telah mendapat informasi atas penangkapan Winda pun melakukan sujud syukur di tengah-tengah acara resepsi Jovan dan Marissa.
Resepsi pernikahan berlangsung sangat meriah, tawa dan canda mengisi hingga akhir acara.
Sebelum tamu undangan kembali ke kediamannya masing-masing, pihak panitia kembali mengingatkan untuk tidak mem-posting tentang 'adegan drama pembunuhan', hingga pihak kepolisian mengeluarkan pernyataan mereka.
Setelah para tamu undangan tidak terlihat lagi, keluarga Sofyan dan Chen kembali ke kamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Ketika menaiki lift menuju lantai paling atas hotel, Mario memberikan informasi kepada keluarganya mengenai penangkapan Winda dan kedatangan putra-putri kembarnya.
"Winda sudah ditangkap dan tadi Raka sudah membawa adik kembarmu ke kamar ayah. Raka mengenal mereka cukup baik, sehingga ayah memintanya untuk membawa adikmu, paling tidak ketakutan mereka sedikit berkurang dengan kehadiran orang yang mereka kenal. Saat ini mereka berdua telah menunggu di kamar ayah. Kalian mau langsung bertemu atau besok pagi?"
Marissa tidak langsung menjawabnya, ia memikirkan terlebih dahulu efek yang akan ditimbulkan.
"Yah, aku rasa mereka berdua pasti shock berat, sebaiknya aku temui mereka sekarang, semoga kehadiran kakak perempuan dapat mengurangi ketakutan mereka berdua," jawab Marissa.
"Kamu yakin?" tanya Mario memastikan kembali jawaban putrinya.
"In syaa Allah, Yah," jawab Marissa.
"Baiklah, satu hal yang harus kamu ketahui, mereka berdua tidak dididik secara islam, mereka berdua jauh dari itu, karena keluarga Winda adalah islam KTP," jelas Mario.
"Sehingga penampilan mereka pun jauh dari kesan agamis, sebaliknya mereka pasti akan menganggap kita fanatik, terlalu berlebihan dalam beragama. Ayah harap gesekan ini tidak terjadi," tambah Mario.
Sesaat kemudian, keluarga Sofyan dan Chen, telah berada di kamar mereka masing-masing.
Mario berjalan menemui Marendra dan Mariska, yang sedang menikmati makan malam mereka ditemani oleh Raka.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, Marendra dan Mariska pun melihat ke arah suara tersebut.
Keduanya pun segera menjatuhkan sendok dan garpunya, kemudian berlari untuk memeluk Mario.
Keduanya pun menangis tersedu, sambil terus memanggil 'ayah' kepada Mario.
Suasana haru pun menyelimuti Marissa dan Jovan.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Mario sambil memeriksa kondisi badan Marendra dan Mariska.
"Oiya, ayah ingin kalian menemui kakak kalian," ucap Mario sambil memberi kode agar Marissa mendekat.
Marendra dan Mariska pun melihat ke arah Marissa dengan tatapan penuh tanya.
"Hai, assalamu'alaikum. Aku Marissa, biasa dipanggil Icha dan ini Bang Jovan, suamiku," ucap Marissa sambil mengulurkan tangannya.
Marendra dan Mariska pun menyambut uluran tangan Marissa.
Kemudian Jovan pun turut mengulurkan tangannya ke arah Marendra, tetapi tidak ke arah Mariska.
"Eh, kok aku ga disalamin? " protes Mariska.
"Bukan mahram," jawab Jovan santai.
"Apa tuh mahram?" tanya Mariska tidak mengerti.
"Mahram itu saudara," jawab singkat Marissa, untuk menghindari pertanyaan susulan.
"Oh," ucap Mariska.
"Kalian lanjutkan makan malamnya ditemani Mbak Icha dan Bang Jovan, ayah mau bicara dulu dengan Om Raka," ucap Mario sambil berjalan ke ruang tamu.
"Jadi bagaimana tadi?" tanya Mario.
"Alhamdulillah, kami bisa cepat menuju bandara. Winda ditangkap saat memasuki terminal keberangkatan internasional," jawab Raka.
"Saya rasa, penangkapan ini akan disiarkan esok pagi," lanjut Raka.
__ADS_1
"Berapa media yang kamu lihat?" tanya Mario lagi.
"Setidaknya saya melihat sedikitnya 3," jawab Raka.
"Raka, walaupun Winda sudah ditangkap bukan berarti pengamanan terhadap keluarga saya dapat dikurangi. Tidak ada pengurangan keamanan, sampai Winda benar-benar telah dijebloskan ke dalam penjara," ucap Mario yang masih menyimpan kekhawatiran akan keselamatan keluarganya.
Sementara itu, kekakuan terjadi pada perkenalan Marissa dengan kedua adik kembarnya.
"Hmmm umur kalian berapa?" tanya Marissa.
"16 tahun," jawab Mariska.
"Apa kalian siap tinggal di Jakarta lagi ?" lanjut Marissa.
"Yaa mau dimana lagi, kembali ke Perth buat apa?" jawab Marendra yang tampak kehilangan selera makannya.
Jovan yang sedari tadi duduk bersandar memperhatikan kedua adik Marissa, akhirnya mulai bicara.
"Marendra, right?"
"Just Endra, Bang," jawab Marendra sambil berusaha menghabiskan makan malamnya.
"Listen, kalian sebaiknya segera menghabiskan makan malamnya, agar bisa segera beristirahat. Esok pagi, kemungkinan besar berita penangkapan ibu kalian akan tersebar di media, jadi kalian harus menyiapkan mental kalian," ucap Jovan.
"Iya, Bang," jawab keduanya dengan menundukkan kepalanya.
"Maaf, kalau Abang berbicara to the point, tetapi ini untuk kebaikan kalian berdua. Ada hal penting yang harus kalian ingat juga, bahwa saat ini kalian memiliki kakak dan ayah. Jadi kalian tidak sendiri, katakan saja jika membutuhkan apa-apa," ucap Jovan lagi.
"Terima kasih, Bang," jawab Marendra.
"Oiya, kalian sudah shalat isya?" tanya Marissa.
Keduanya pun menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, setelah makan, kalian shalat dulu, setelah itu baru istirahat," ucap Marissa.
"Mbak, aku lupa caranya, karena semenjak ayah tiada, kami tidak pernah diajak shalat," jawab Marendra sambil menundukkan kepalanya.
Mendengar jawaban itu, Marissa dan Jovan pun membuang nafas mereka dengan kasar.
"I knew it," ucap Jovan yang telah menduga jawabannya.
"Well, Mariska, kamu tahu cara mandi wajib?" tanya Marissa.
"Call me, Ika aja, Mbak. Kami berdua ga tahu cara mandi wajib. Hmm mandi wajib itu apa?"
Pertanyaan Mariska yang telah Marissa duga pun membuatnya gemas.
"Jadi setelah kamu bersih dari haid, kamu harus membersihkan diri dengan yang dinamakan mandi wajib, setelah itu baru boleh kembali shalat. Kalau untuk laki-laki, yaa biasanya setiap sebelum shalat Jum'at dan hmmm...," Marissa pun tidak melanjutkan kalimatnya karena ia bingung untuk menjelaskannya, tetapi dengan sigap, Jovan mengambil alih pertanyaannya.
"Kalau keluar mani. Tahu ga mani itu apa?"
Marendra pun kembali menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, seperti kita harus mulai dari dasar. Abang minta nomor WA kamu, nanti Abang kirimkan tata cara mandi wajib dan apa saja penyebab mandi wajib. Kalian berdua harus pelajari itu," lanjut Jovan.
"Oiya, satu hal lagi, sekarang kalian kembali tinggal di Indonesia dan saat ini ayah yang akan bertanggungjawab penuh atas kalian berdua, jadi Abang harap kalian dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan kami disini, terutama dalam menjalankan ibadah. Nanti kita diskusikan lagi bersama Ayah," ucap Jovan dengan wajah serius, yang membuat Marendra dan Mariska sedikit gugup.
__ADS_1