Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Lembah Surga (BonChapt)


__ADS_3

Semenjak kepulangan Arini dari Rumah Sakit, Radit memutuskan untuk menempati kamar kosong yang ada dilantai bawah. Memindahkan sebagian barang miliknya dan juga Arini. Mendekorasi ulang ruangan dibuat senyaman mungkin seperti kamarnya yang ada dilantai atas.


"Rin boleh Ibu masuk?" Terdengar seruan Ibu Rania dari luar.


"Masuk aja Bu." Arini menutup buku tentang kehamilan yang sedang ia baca.


Pintu terbuka lebar, Ibu Rania masuk dengan segelas susu ditangannya. Arini menggarahkan kursi roda mendekati Ibu Rania yang berjalan kearahnya.


"Lagi apa?"


"Ini lagi baca buku yang Ibu berikan tempo hari."


Ibu Rania melihat buku yang Arini pegang,"Sepertinya Ibu masih ada satu lagi buku tentang kehamilan... kalau tidak salah Ibu simpan diperpustakaannya Mas, nanti Ibu cari dulu."


"Iya Bu." Arini mengangguk senang, karena ia banyak mendapatkan ilmu tentang dunia kehamilan dibuku yang sekarang ia baca ini.


"Diminum susunya...," Menyerahkan susu yang ia bawa,"... mumpung masih anget."


"Iya Bu." Arini mengambil susu itu dan meminum setengahnya.


"Mas masih lama pulangnya?"


"Mungkin sebentar lagi." Seraya menghapus air susu yang tertinggal dibibirnya.


Ibu Rania mengangguk," Gimana dengan Mas?"


Arini tidak menjawab, ia malah bingung dengan pertanyaan yang Ibu Rania ajukan.


Ibu Rania memperjelas kembali pertanyaannya," Maksud Ibu, Mas nggak minta..." Mengangkat kedua tangan dengan menggerakan kedua jari tengan dan telunjuknya bersamaan.


Pipi Arini merona, paham dengan pertanyaan yang dilontarkan Ibu mertuanya itu.


"Nggak kok Bu."


"Beneran... ?" Arini langsung mengangguk meyakinkan.


"Baguslah kalau Mas bisa tahan."


Ibu Rania pun tahu kalau kaum adam memiliki hasrat yang lebih kuat dibandingkan kaum hawa. Sebenarnya dia pun tidak tega membiarkan anak semata wayangnya itu harus susah payah menahan keinginan untuk tidak menyentuh istrinya hingga berbulan-bulan.


Tapi ini semua ia lakukan semata-mata ingin memberikan sedikit pelajaran kepada Radit, setelah mendengar penjelasan dari Simbok dengan apa yang terjadi dengan Arini tempo lalu. Menyia-nyiakan Arini hingga ia hampir saja kehilangan cucu yang sudah sangat ia nantikan.


"Habiskan susunya... Ibu tinggal dulu, mau bantuin Simbok siapin makan malam."


"Iya Bu..."


Belum Ibu Rania sampai diambang pintu, Arini kembali memanggilnya.


"Bu..."


Ibu Rania kembali menoleh," Ada apa?"


"Kapan Arini bisa keluar tanpa kursi roda lagi?"


Ibu Rania tersenyum, kembali berjalan menghampiri Arini," Sekarang juga boleh, tapi jangan terlalu lama." Seraya membelai rambut Arini.


Semburat senyuman manis terukir dari bibirnya," Makasih Bu."


"Iya Sayang."


Sepeninggal Ibu Rania, perlahan Arini berdiri dari kursi roda yang selalu setia membawanya kemana-mana. Memandang pantulan dirinya di cermin, bertolak pinggang, memutar tubuh ke kiri dan ke kanan.


Dress selutut yang ia pakai beringsut naik hingga sebatas paha. Perut yang bulat, pipi yang cabi, buah dada yang semakin padat berisi, membuat ia tersenyum melihat semua perubahan dalam tubuhnya, membengkak disemua bagian.


Ia meraih ponsel diatas nakas, menekan nomor pin, menggeser dan mencari nama Love U.


Sembari menunggu panggilan tersambung ia berjalan mendekati jendela yang terbuka lebar, melihat taman yang ditumbuhi berbagai jenis bunga yang bermekaran berwarna warni.


"Halo sayang...."


"Mas dimana... kok belum pulang juga?"


"Ini lagi dijalan, sebentar lagi nyampe."

__ADS_1


"Berapa menit lagi?"


Tidak ada jawaban disana, hening tak bersuara.


"Mas...Mas... kok malah diem?"


Arini terlonjak kaget saat tangan melingkar dan mengelus perutnya yang sudah semakin membuncit.


" Sampai...." Seraya mencium pipi Arini dari arah samping.


"Mas..." Arini berbalik memposisikan dirinya didepan Radit.


"Kangen ya?" Menjawil hidung Arini dan menuntunnya untuk duduk.


"Jangan terlalu lama berdiri, inget pesan Ibu... aku nggak mau sampai terjadi sesuatu denganmu dan bayi kita."


"Ih barusan Ibu bilang aku udah bisa jalan tanpa kursi roda." Gerutu Arini.


Radit memajukan wajahnya, ingin sekali meraup bibir mungil yang tampak menggemaskan kalau sudah menggerutu seperti ini.


Arini menempelkan dua jarinya di bibir Radit,"Nggak boleh."


"Kenapa?"


"Inget pesan Ibu... jaga jarak aman." Balas Arini tersenyum sarkas.


"Ck..." Radit berdecak.


Radit melingkarkan kedua tangannya dipundak Arini," Ini udah mau tiga bulan sayang... masa iya harus nahan terus." Memelas dengan wajah yang sangat mengkhawatirkan.


"Tapi Ibu belum ngebolehin."


"Tapi kata Dokter....." Radit tidak meneruskan kata-katanya, kembali membungkam.


Arini menelengkan kepala," Kata Dokter...?" Menjentikan dagu menunggu kata-kata Radit selanjutnya.


Radit membuang muka, mencari alasan yang pas untuk meneruskan kata-katanya kembali.


"Kata Dokter Reva....apa?" Arini meneruskan sendiri ucapan Radit.


Arini memanyunkan bibirnya," Bohong." beranjak pergi hendak meninggalkan Radit.


Radit menarik tangan Arini," Mau kemana.... jangan marah dong.... iya maaf, aku cuma penasaran aja, kebetulan Dokter Reva tanya kondisi kamu, ya sekalian aja aku nanya."


Arini tidak mengubris penjelasan Radit, kesal dengan janji yang sudah Radit langgar.


"Senyumnya mana.... kok cemberut terus, aku kan udah minta maaf...," Sambil menciumi perut Arini,".... sayang lihat tuh, Bunda marah sama Ayah, padahal kan Ayah cuma pengen tengokin kamu didalam sana.... Aduh." Radit mengusap tangan yang mendapat cubitan dari Arini.


"Ih jangan ngomong begituan."


Radit mengulas senyum, menarik Arini untuk duduk dipangkuannya, meraih sebelah tangan Arini untuk dia kalungkan di leher. Dan ia sendiri melingkarkan kedua tangannya dipinggang Arini.


Radit menyerukan kepalanya dibelahan dada Arini, mencium dua gundukan kembar yang semakin menonjol besar. Hasratnya semakin menjadi.


Menyusurnya perlahan, kemudian naik ke leher dengan memberikan gigitan-gigitan kecil disana.


"Aku merindukannya sayang." Bisik Radit saat bibirnya mendarat di daun telinga Arini.


Radit menyatukan keningnya dengan Arini, memejamkan mata, mendorong air liur yang susah payah dia telan, menahan nafsu yang bergerombol, menahan hasrat yang semakin bergelombang, memuncak dan memanas disetiap urat pengendali jiwanya.


"Sayang...."


"Heemm..." Arini mengelus pipi Radit, hingga ia membuka kedua matanya.


"Sebentar aja yuk!" Tatapnya sayu.


Arini mengangkat kedua alisnya.


"Pelan-pelan aja." Bisiknya lagi.


Arini menggeleng," Nanti ketahuan Ibu."


"Ibu nggak akan tahu.... Yaa.... sebentaaar aja." Dengan wajah memelas penuh harap.

__ADS_1


Arini merasakan sesuatu yang mengeras dibawah sana. Ada rasa tidak tega melihat suaminya harus terus menerus menahan keinginan untuk tidak menyentuhnya.


"Tapi kalau nanti Ibu tahu?"


"Itu urusan nanti."


Arini berpikir sejenak," Tapi...."


Tanpa menunggu jawaban Arini, Radit berdiri dengan memangku Arini untuk dia tidurkan diatas kasur.


"Sebentar saja...." Ucapnya lirih dengan mengukung tubuh Arini dengan kedua siku yang sudah bertumpu diatas kasur.


"Yakin nggak apa-apa?" Tanya Arini ragu.


"Yakin... Dokter Reva udah jelasin semuanya."


"Tapi kan Ibu...."


Radit langsung membungkam mulut Arini dengan bringas, menyusupkan tangan dan meremas gundukan sintal dengan nafas yang mengebu-gebu, menyalurkan segenap rasa yang sudah membakarnya menjadi abu.


"Ummm..." Arini mendorong dada Radit,"...ibu."


"Ibu nggak bakalan tahu." Radit kembali mencium bibir Arini dengan menyibak bagian bawah dress Arini.


"Ummm...," Arini kembali mendorong dada Radit lebih keras,"... Ibu."


Radit tak mempedulikan seruan Arini, ia semakin mengulum bibir Arini dengan sangat bernafsu.


"Mas... Ih Ibu...." Mendorong dada Radit lagi sekuat tenaganya.


Tok...tok...tok...


"Rin kamu lagi apa... Ibu masuk ya?" Seru Ibu Rania dari luar.


Radit langsung menghentikan aksinya saat ketukan pintu itu keras terdengar," Ibu?"


"Iya Ibu."


".... Sebentar Bu." Seru Arini kembali.


Radit menarik tubuhnya, segera turun dari atas tempat tidur sebelum Ibu Rania memergokinya terlebih dahulu. Dan Arini kembali merapikan dress yang sudah naik hingga sebatas pusarnya.


Radit berjalan menjauh dengan memijit kedua pelipisnya yang terasa pusing karena kembali harus menahannya.


"Mas mau kemana?"


"Mandi."


"Kok kesana?"


Radit baru sadar kalau ia salah melangkah, kemudian berbalik, melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


"Sengaja muter-muter dulu." Jawabnya asal.


Arini terkikik melihat tingkah konyol Radit yang sangat kelihatan frustasi.


Sebelum Radit membuka pintu kamar mandi, ia kembali menoleh.


"Sayang..."


Arini yang sedang mengancingkan dress, menarik wajahnya melihat Radit.


"Tanyain sama Ibu, kapan aku bisa wisata."


"Wisata.... kemana?"


" Ke lembah surgamu."


"Maaaaas..."


Arini melemparkan bantal kearah Radit, namun ia bisa menghindar dengan segera masuk dan menutup kamar mandi secepat kilat.


..........................................................

__ADS_1


..........................................................


..................................Bersambung........


__ADS_2