
Kurang dari sepuluh jam, pelaku penabrak bisa segera terlacak. Sepertinya orang ini bukanlah seorang penjahat kelas kakap karena terlalu gegabah melakukan tindak kejahatan tanpa bisa memperhitungkannya terlebih dahulu.
Berkat rekaman CCTV, polisi bisa melihat plat nomor mobil dengan ciri-ciri kendaraan berupa sedan mewah dengan sangat jelas. Sehingga polisi dengan sangat mudah meringkus pelaku tabrak lari itu.
"Baik saya segera kesana."
Aditya menutup sambungan teleponnya.
"David kita ke kantor polisi sekarang, pelakunya sudah ditangkap."
"Baik Pak."
"Kita kedalam dulu, memberi tahu Radit berita bagus ini."
Perlahan Aditya membuka pintu ruang ICU, namun ia tertegun, urung menganggu Radit yang terus memegangi tangan Arini dengan sebelah tangan lagi menarik satu persatu butiran-butiran batu kristal yang dia biarkan menganggantung, menjuntai diatas blankar, melafalkan tasbih.
Ia kembali menutup pintu," David sebaiknya kita tidak menganggu Radit dulu, setelah kita tahu siapa pelakunya, dan kondisi Arini mulai membaik, baru kita memberitahu ini kepada Radit."
"Betul Pak, sebaiknya kita saja yang mengurus semuanya, biar Dokter Radit bisa fokus untuk kesembuhan Nona Arini."
"Kita berangkat sekarang."
"Mari."
Dengan langkah lebar mereka berjalan beriringan, namun Aditya menyuruh David lebih dulu mengambil mobilnya diparkiran dan ia menunggu di depan lobby Rumah Sakit seraya menerima telepon dari seseorang.
Saat berjalan menuju koridor parkir, David berpapasan dengan Erika, yang berjalan tergesa.
"David bagaimana keadaan Arini, aku baru dengar tadi dari Dokter Reva."
"Nona Arini masih kritis."
"Ya Tuhan Arini.... terus sekarang kamu mau kemana?"
"Ke kantor polisi."
"Ngapain?"
"Penabrak Nona Arini sudah ditangkap."
"Terus?"
"Saya ingin tahu siapa orangnya."
"Terus-terus?"
David mengehla nafas panjangnya," Sejak kapan kamu jadi tukang parkir?"
"Kok bawa-bawa tukang parkir?"
David memijit pelipisnya," Aku sudah terlambat, minggir."
David menghalau tangannya didepan Erika.
"Terus kelanjutannya gimana, kamu belum selesai cerita..."
"Aku nggak punya uang receh dua ribuan."
"Apaan sih, nggak nyambung banget."
David bertolak pinggang, memajukan langkahnya hingga Erika mundur dan mentok di tembok.
"Terus... terus... aku nggak lagi parkir mobil." Ujarnya ketus seraya pergi meninggalkan Erika.
Hembusan nafas David, bau harum yang menguar dari balik jas yang ia kenakan, menusuk kedalam hati sanubarinya. Erika memegang dada, meredakan jantung yang berdetak lima kali lebih cepat, bertalu dengan kencang, dan berayun kesana kemari dari gantungannya.
Ia sedikit mengulas senyum, menatap punggung David yang semakin pergi menjauh, kemudian hilang digelapnya malam.
Apa aku jatuh cinta???.... astaga
*****
Jalanan yang lenggang karena malam sudah semakin larut, memudahkan David menancapkan gas, melebihi kecepatan rata-rata saat harus melewati jalanan kota yang sudah ditetapkan pemerintahan setempat.
__ADS_1
Suara ban yang berdecit, menandakan kalau sang penumpang boleh turun dari kursi dudukannya.
Aditya turun, disusul David yang membuntutinya dari belakang setelah yakin mengunci mobil hingga berbunyi biip...biip....
"Selamat malam Pak"
Polisi yang bertugas piket malam itu langsung berdiri dan menjabat uluran tangan Aditya.
"Selamat malam Pak Aditya... Pak David... mari silahkan duduk."
Aditya dan David duduk didepan polisi dengan pembatas meja didepan mereka.
"Kebetulan saya yang tadi menelepon Bapak. Sekarang penabrak itu masih kami mintai keterangan. Dugaan sementara, ia mendapat suruhan dari seseorang untuk menabrak Nona Arini. Kami masih menyelidiki motif apa yang melatar belakangi mereka melakukan itu."
Aditya dan David saling melempar pandangan.
"Mungkin Bapak mengenali laki-laki ini...," Polisi itu mengulurkan sebuah pasphoto yang dia ambil setelah pelaku itu tertangkap.
Aditya mengambil foto itu,"James..." Kemudian mengulurkannya ke David.
David menerima foto itu,"James."
"Betul namanya James, dia berkewarganegaraan Jerman, anda mengenalnya?"
Aditya tidak bisa menjawab, pikirannya melanglang buana, mencari sosok yang menjadi dalang utama terjadinya penabrakan itu, dan dia yakini itu adalah Valery.
"Kami mengenalnya dan mungkin ini ada kaitannya dengan seseorang." Jawab David.
"Seseorang.... siapa itu Pak David?"
"Seseorang itu Valery, mantan istri saya." Jawab Aditya.
Polisi itu memanggutkan kepala, satu tabir mulai terbuka.
"Bagus kalau begitu, mudah-mudahan dengan kedatangan Bapak berdua bisa membantu kami, agar pelaku ini bisa memberitahu kami siapa dalang dari semua ini. Karena pelaku ini sangat sulit untuk dimintai keterangan."
Polisi itu berdiri," Silahkan saya antarkan keruangan introgasi."
Aditya dan David mengikuti langkah polisi itu menuju sebuah ruangan tertutup.
Aditya dan David masuk, mereka bisa melihat James yang sedang tertunduk didepan dua orang polisi yang sedang mengintrogasinya.
Dengan tangan terkepal, Aditya meredam emosi yang sudah naik ke ubun-ubun kepala, sangat panas. Kalau saja ini bukan kantor polisi, ia pastikan James akan terkapar tak berdaya, memohon-mohon untuk segera mati.
"James..." Seru Aditya dengan suara bergetar.
Jamen menoleh, menelan ludah yang tiba-tiba kelu sulit untuk bergerak turun ke tenggorokannya.
"Aditya..."
Aditya maju dan mengebrak meja dengan keras, abai dengan kedua polisi yang memperhatikannya.
"Siapa yang menyuruhmu?" Sorot mata tajam Aditya telak menusuk kedalam bola mata James.
James menunduk, merangsek, menciut menyembunyikan badan dari ketakutan yang menderanya.
Tak patah arang, Aditya merenggut kerah baju James agar ia melihat kearahnya,"Valery yang menyuruhmu.... sekarang dimana dia.... katakan?" Teriak Aditya dengan bringas.
David melerai Aditya untuk melepaskan James, bagaimanapun semua tindakan yang bertentangan dengan norma kemanusiaan pasti akan mendapat sanksi hukuman.
"Sabar Pak Aditya.... mari duduk, kita tanya dia baik-baik."
Dengan nafas tersenggal Aditya melepaskan tangannya dibaju James.
James semakin bergetar ketakutan, menundukan wajahnya semakin dalam.
"Saudara James, apa benar yang dikatakan Pak Aditya bahwa orang yang bernama Valery yang sudah menyuruh anda?"
"Tidak Pak, itu murni karena kecelakaan." Jawabnya dengan pelan.
Aditya dan David yang mendengarnya semakin tersulut emosi. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran James yang menutupi kejahatan Valery yang justru mengkambing hitamkan dirinya.
"Jawab dengan jujur James, atau kamu memilih membusuk dan mati dipenjara dan itu berarti selamanya kamu tidak akan pernah bertemu dengan anakmu lagi?" Ucap David.
__ADS_1
Perkataan David mampu mengusik benteng pertahanan James yang dia bangun setinggi mungkin.
"Apa maksud kamu?" Tanya James.
David mengulas senyum," Aku tahu dimana Valery menyembunyikan anak kalian, demi itu kan kamu mau melakukan semua ini?"
Aditya yang tidak tahu menau soal itu, memandang David dengan segerombol pertanyaan.
"Jadi kamu tahu dimana anak saya berada?"
"Tentu saja."
"Dimana?" Tanya James dengan tidak sabar.
Tepat mengenai sasaran, bisik David dalam hati," Aku akan memberi tahumu jika kamu memberikan keterangan yang sejujurnya kepada polisi kalau memang Valery yang menjadi dalang semua ini."
James terdiam, dia nampak ragu, tapi tidak ada pilihan lain, ini adalah salah satu jalan agar ia bisa kembali menemui anaknya yang baru berumur satu tahun, yang entah Valery sembunyikan dimana hingga ia harus menyusulnya ke sini setelah satu bulan yang lalu dia membawanya kembali ke Indonesia.
"Apa benar Nona Valery yang menyuruh anda saudara James?"
"Betul Pak." Jawab James dengan terbata.
"Sekarang dimana kami bisa menemukan orang yang bernama Valery?"
James menyebutkan alamat apartemen mewah yang menjadi tempat tinggal Valery selama tinggal di Surabaya satu minggu terakhir ini.
Tim polisi mengarahkan kesatuannya untuk meringkus Valery dikediamannya. Tanpa butuh waktu lama, dalam kurun waktu kurang dari satu jam, Valery berhasil ditangkap dan digelandang ke kantor Polisi.
Tanpa perlawanan, Valery datang dengan kedua tangan terborgol besi. Duduk dengan tenang, memandang Aditya dan David yang melihatnya penuh dengan kebencian.
"Jadi kamu dalang semua ini Valery?" Tanya Aditya dengan tatapan tajam.
Valery berdecih, sedikit mengangkat bagian sudut bibirnya.
"Iya aku... karena aku tidak mau melihat kamu bahagia dengan dia, wanita yang sudah merebut kamu dariku. Sekarang aku puas... bagaimana keadaanya... atau mungkin sekarang dia sudah mati bersama dengan anak yang dikandungnya?" Valery tertawa seperti psikopat yang tidak memiliki rasa penyesalan sedikitpun.
"Oh jadi kamu mengira Arini adalah istriku, makanya kamu berniat untuk membunuhnya?"
Valery yang semula tertawa seketika terdiam," Apa maksudmu?"
"Arini bukan istriku... kamu terlalu gegabah Valery."
"Jadi kalian...?" Tanya Valery seperti orang linglung.
"Nona Arini istri dari Dokter Radit, sahabat kamu sendiri James." Jawab David.
James yang mendengarnya terkejut, mengetahui fakta bahwa Arini adalah istri dari sahabatnya sendiri. Sahabat yang selalu ada untuk membantunya waktu dulu. Air mata James mengembang, menyesali perbuatan dosa yang tidak akan pernah bisa terhapuskan.
"Dendam sudan membutakan mata hati kamu Valery.... terimalah hasil dari kejahatanmu sendiri."
Aditya beranjak dari duduknya, dia sudah terlalu muak melihat wajah Valery lebih lama lagi.
Valery langsung bersimpuh dikedua kaki Aditya," Tolong maafkan aku Dit, aku tidak tahu kalau kamu tidak menikah dengannya. Aku ingin bersama denganmu lagi, aku masih sangat mencintaimu. Kembalilah bersama ku kalau ternyata Arini sudah meninggalkanmu."
"Wanita tidak tahu malu." Aditya menarik kakinya yang begitu kuat dipegang Valery.
"Jangan tinggalkan aku lagi Dit... please, aku menyesal..."
"Lepaskan aku." Aditya mendorong Valery hingga terjungkal. Kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
"Aditya.... Dit.... Adityaaa...." Teruak Valery histeris.
David berdiri," Pak polisi selebihnya kami serahkan kedua orang ini. Beri hukuman yang sepadan untuk mereka berdua. Besok saya akan kirim pengacara untuk mengurus semuanya... saya permisi."
"Silahkan Pak David."
"David...." Seru James yang seketika menghentikan langkah David.
"Tolong sampaikan maaf saya untuk Radit."
David tidak menjawab apa yang dikatakan James, namun ia malah berkata," Oh iya James, satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak tahu dimana anakmu, tadi aku hanya berpura-pura saja." Ujar David seraya mencibir.
..........................................................
__ADS_1
..........................................................
.................................Bersambung........