
Hari itu, Marissa menikmati semua kegiatan yang memanjakan dirinya dengan perawatan komplit seluruh tubuh.
Tetapi, sebelum itu ia mampir ke salah satu cafe favoritnya, untuk menikmati hidangan favoritnya.
"Saya pesan frappuccino, beef and cheese croissant, green salad dan paella," ucap Marissa.
"Mbak Silla sama Bang Faisal, ayo, pesan sekalian, pastinya laper kan? temenin aku makan," pinta Marissa.
Tanpa menunggu lagi, keduanya pun segera memesan makan siang yang mereka inginkan.
Menikmati makanan dan minuman dengan suasana rumah makan yang tenang dan asri, sedikit banyak membuat beban yang dirasakan Marissa, mulai terangkat.
Setiap suapan menorehkan senyuman kepuasan tersendiri bagi Marissa. Harapan akan kesembuhan suami sekaligus sahabat tercintanya, ia bisikkan di setiap suapannya.
Tanpa terasa, matanya mulai basah dengan bulir-bulir air mata yang kapan saja akan jatuh membasahi pipi.
Silla yang menyadari perubahan mood Marissa, dengan lembut ia memberikan belaian pada punggung dan bahu klien yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"It's okay, Mbak. It's okay. Just let it out, you'll be fine. Don't you worry, we'll be always stay right by your side," hibur Silla.
Mendengar ucapan Silla, pertahanan Marissa pun runtuh, ia menangis sejadi-jadinya, dipelukan pengawal yang sudah ia anggap sebagai kakak yang tidak pernah ia miliki.
Sementara itu, Faisal hanya memandangi keduanya tanpa bersuara. Kesedihan dan rasa frustasi Marissa, dapat ia rasakan dari tangisan tanpa suara, dengan badan yang berguncang akibat luapan emosi yang tertahan.
Di saat menunggu waktu dzuhur yang tersisa hanya beberapa menit, Marissa tampak tertidur lelap di dalam mobil.
"Mbak Risa jangan langsung dibangunin, tunggu sampai adzan berkumandang," bisik Faisal kepada Silla.
"Iya, mbak Risa membutuhkannya, dia butuh mengistirahatkan pikiran dan jasmaninya," ucap Silla juga dengan berbisik.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai melaksanakan ibadah shalat dzuhur, Faisal mengarahkan kendaraannya ke sebuah Salon & spa khusus muslimah.
Kelelahan batin yang Marissa rasakan mengakibatkan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Memanjakan diri dengan perawatan menyeluruh di spa dan salon adalah cara terampuh untuk mengembalikan kesegaran dan kebugaran badannya.
__ADS_1
Marissa mendapatkan pijatan lembut dari ujung kepala hingga kakinya, membuat dirinya rileks dan tertidur nyenyak selama proses pemijatan.
"Mbak Risa, silahkan menuju ke ruang steam," ucap beauty therapist yang menangani Marissa, setelah selesai melakukan pemijatan yang berlangsung hampir 1 jam.
Marissa lalu memasuki ruangan steam dengan suhu 48°C. Uap panas dalam ruangan merileksasikan otot-otot yang kaku akibat stress. Keringat bercampur uap panas yang dihantarkan di dalam ruangan, membuat Marissa merasakan seperti melepaskan beban di dalam hatinya. Beban dan rasa sakit yang dirasakan semenjak Jovan diculik seakan menguap bersama dengan bulir-bulir keringat yang mengalir dari sekujur tubuh Marissa.
Setelah itu, Marissa berendam di air hangat yang telah diberi minyak esensial yang bermanfaat sebagai pereda stres.
Tahapan demi tahapan untuk merelaksasikan tubuh dan pikiran Marissa pun berhasil membuat senyumnya bersemi kembali.
Setelah serangkaian perawatan wajah dan tubuh, kini giliran make-over sesungguhnya, yang akan dipersembahkan ketika Jovan terbangun.
"Mbak, potong rambut saya seperti ini," tunjuk Marissa pada sebuah foto Song Hye-Kyo dalam drama Encounters.
"Mbak yakin mau potong pendek? Nggak sayang sama rambutnya, ini akan banyak yang dipotong. Hmm sekitar 10 cm, gimana?" tanya hair stylish.
"Nggak masalah, 10 cm atau bahkan lebih tidak masalah. Saya ingin terlihat segar dan berbeda. Model rambut yang sekarang, sudah bertahan hampir 2 tahun. Saya butuh nuansa baru," jawab Marissa dengan penuh keyakinan.
Marissa melihat pantulannya di cermin ketika rambutnya mulai dipotong sedikit demi sedikit. Ia pun merasakan bebannya terangkat sedikit demi sedikit.
Beberapa saat kemudian, Marissa telah tampil dengan gaya rambut baru yang terlihat lebih segar.
"Waaah, mbak Risa kelihatan segar banget, look younger," puji Silla.
"Hmm do I look like 17 years old?" canda Marissa.
"Hmm 15 lah, for sure," jawab Silla yang membuat keduanya tertawa.
" Eh, gimana meni-pedinya, Mbak?" tanya Marissa kepada Silla.
Selama menunggui Marissa, Silla mendapatkan perawatan menicure, pedicure dan juga creambath, tentunya atas permintaan Marissa, dengan alasan agar Silla tidak bosan menunggu.
Sedangkan Faisal lebih memilih untuk menunggu di coffeeshop and book strore, yang bersebelahan dengan bangunan spa.
__ADS_1
Lalu Silla menunjukkan kuku-kuku jari tangannya yang terlihat sangat apik.
"Waaah tangannya bisa buat iklan nih, cakep!" puji Marissa.
"Mbak Risa juga, sama cantiknya, bahkan jauh lebih cantik," balas Silla.
"Siapa dulu dong kakaknya?" ucap Marissa yang membuat Silla bertanya-tanya.
"Siapa, Mbak?" tanya Silla.
"Mbak Silla dan Bang Faisal," jawab Marissa sambil memeluk erat Silla.
"Mbak Silla sudah nemenin aku selama hampir 5 tahun, walaupun kita baru resmi berkenalan beberapa pekan ini, but you're just like a sister to me. Mbak Silla adalah kakakku yang tidak pernah kumiliki, karena Mbak Silla adalah seseorang yang Allah kirimkan untuk selalu ada untukku, menghiburku di saat aku sedih, mendengarkan aku disaat aku butuh seseorang untuk mendengarkan keluh-kesahku,' ucap Marissa.
Keduanya berpelukan erat sambil menangis penuh keharuan yang disaksikan Faisal.
"Bang, maaf ya, aku nggak-ngajak," canda Marissa, yang kemudian ditanggapi oleh Faisal dengan cara berpura-pura menangis.
"Eee kok nangis, nanti minta ke mbak Silla aja, yaa?" hibur Marissa yang membuat Silla tertawa.
"Tenang Mbak, tanpa dimintai juga tiap hari sebelum tidur, pasti dipeluk sama dicium," ucap Silla.
"Sekarang, kita pulang ke rumah, saya rasa Pak Mario sudah menunggu mbak Risa di rumah," lanjut Silla.
Sore itu, mereka kembali pulang menuju apartemen Mario, yang harus melalui kepadatan lalu lintas Jakarta. Selama menembus padatnya jalanan ibukota, Marissa kembali tertidur.
"Biarkan Risa tertidur, she needs it," bisik Faisal ke Silla.
Silla memandangi wajah Risa yang tertidur pulas hingga tanpa terasa air matanya menetes membasahi pipinya.
"Ya Allah, kuatkan Risa, kuatkan hatinya, kuatkan badannya dalam menerima cobaan yang Kau berikan kepadanya," lirih Silla.
"Aku nggak bisa membayangkan bagaimana hidup sebagai Risa. Ditinggalkan ayahnya, ditinggalkan keluarga Chen, kemudian ditinggalkan oleh ibunda tercinta untuk selamanya. Berjuang seorang diri untuk meraih cita-cita, tanpa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Di saat ia telah menemukan cinta-cinta yang ia miliki sebelumnya, tiba-tiba ia harus kembali menderita dengan peristiwa ini. Aku nggak bisa, aku nggak bisa, Bang," isak Silla.
__ADS_1