Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Bora-bora Surganya Bulan Madu 3


__ADS_3

Warning...🚨🚨


Sekali lagi di part ini😆 buat ade gemes mohon ditutup matanya....kalau bisa duduk dipojokan juga boleh.... Demi menjaga kebersihan hati dan pikiran kalian yang belum terjamah😅😅


❤❤❤


Seharian Arini dan Radit memilih menghabiskan hari mereka didalam Resort. Malam panas percintaan tadi malam yang diteruskan di kamar mandi tadi siang membuat mereka enggan untuk melangkahkan kaki keluar menikmati udara sore yang sebenarnya sangat indah untuk dinikmati.


Bagaikan kancing dan baju, keduanya tidak bisa dipisahkan, melakukan segala sesuatu bersama-sama.


Anggun dan Dito pun seakan mengerti, tidak mau menganggu sepasang sejoli yang sedang tengah dimabuk asmara.


Tangan Radit terus melingkar dipinggang Arini yang kini duduk didepannya. Tanpa bosan, dia terus menciumi pundak Arini, menghirup dalam-dalam bau harum tubuh yang sudah seperti candu untuknya.


"Mas...."


"Heemm...."


"Kita mau berapa hari disini?"


"Empat hari sayang.... jadi, besok lusa kita pulang. Kenapa?"


Arini menyandarkan kepalanya dibahu Radit," Nggak papa, cuma tanya aja."


"Kamu betah disini?"


"Iya."


"Nanti kalau aku libur panjang, kita bisa kesini lagi, ajak Nuno sekalian."


"Beneran?"


"Beneran dong, masa bohong."


"Makasih sayang."


Radit menyusupkan tangannya masuk kedalam perut Arini, mengelusnya dengan perlahan.


"Aku nggak sabar buat nunggu dia ada disini."


Padahal Radit sendiri sadar, menikah saja baru mereka lalui beberapa hari yang lalu. Tapi seolah dia sudah menantikannya beberapa tahun lamanya.


Arini tersenyum kecil, mengangkat tangannya kebelakang, mengelus pipi Radit.


"Kita kan baru nikah kemarin Mas, jadi nggak mungkin bisa secepat itu."


"Tapi kan berharap tidak ada salahnya sayang." Seraya mencium kening Arini.


"Mudah-mudahan anak kita perempuan."


"Memang kenapa?"


"Biar cantik kayak Bundanya."


Arini kembali tersenyum," Biasanya kalau laki-laki suka pengen anak cowok, kok Mas malah pengen anak cewek?"


Radit mencubit dagu Arini," Kita kan udah punya anak cowok, jadi sekarang aku pengen anak cewek, biar jadi sepasang."


Arini membisu, menyelami bola mata Radit, ingin menemukan sedikit celah kebohongan yang mungkin saja dia tutupi. Tapi.... dia tidak menemukannya.


"Kok diem.... atau kamu malah pengen anak cowok lagi, biar Nuno punya temen buat main bola?" Tanya Radit dengan menggesek-gesekan hidungnya dengan hidung Arini.


Arini langsung mengalungkan tangannya di leher Radit, menangis terisak.


Isakan Arini membuat Radit terkejut," Sayang kenapa kamu nangis, apa aku salah bicara?"

__ADS_1


Arini menggelengkan kepalanya, semakin menyerukan wajahnya didada Radit.


"Aku mencintaimu Mas."


Radit mengeratkan pelukannya, mengelus kepala Arini dengan penuh rasa sayang," Aku tahu kamu mencintaiku." Mencium puncuk kepala Arini.



Setelah sedikit reda, Arini kembali menarik wajahnya, lalu menghapus noda air mata yang membasahi pipinya.


"Mas...," Arini mengusap wajah Radit,".... makasih sudah menyayangi Nuno seperti anak kandungmu sendiri."


Radit mencium telapak tangan Arini yang menempel dipipinya," Jadi kamu nangis karena itu?"


Arini menganggukan kepalanya lalu menyentuh bibir Radit dengan satu kecupan.


"Kok cuma bentar sih ciumnya?"


Arini menutup mulut," Takut minta tambah."


Jawaban Arini membuat Radit tergelak," Emang kamu nggak suka?" Seraya menyibakan rambut Arini kesebelah kiri, memperlihatkan tengkuk mulusnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Radit mencium tengkuk itu.


Ciuman Radit kembali membuat bulu kuduk Arini meremang, kulitnya seperti terkena setruman yang maha dahsyatnya.


"Aku pengen terus-terusan lakuin itu sama kamu.... semua yang ada di tubuh kamu buat aku jadi gila." Ucap Radit pelan dengan memberikan gigitan-gigitan kecil disepanjang leher Arini.


Arini tersenyum dibuatnya, karena ia pun merasakan sesuatu yang berbeda saat melakukan itu bersama Radit.


"Kita berenang yuk?" Bisik Radit.


"Aku nggak bisa renang Mas."


"Kan ada aku."


"Tapi aku juga nggak bawa baju renang." Jawab Arini lagi.


"Yang merah belum dipake kan?"


Arini terperangah," Tapi itu kan bukan...."


"Aku pengen liat kamu pake itu." Potong Radit.


Arini tertunduk malu, terbayang lingirie merah yang dia simpan dibalik tumpukan bajunya.


"Aku tunggu kamu disini." Bisik Radit lagi sambil tersenyum penuh penantian.


Arini menarik pantatnya, beranjak menuju kamar meninggalkan Radit yang terus tersenyum melihat kepergiannya.


Perlahan dia menanggalkan pakaiannya satu persatu, tidak menyisakan satupun yang tersisa ditubuhnya. Sekejap ia memandangi lingirie, tersipu malu... ini akan jadi malam panjang kedua untuknya.


Arini keluar dari kamar, menghampiri Radit yang sudah menunggunya ditepi kolam air hangat.


Radit berdiri memunggunginya, bertelanjang dada dengan hanya menggunakan celana hitam boxer miliknya.


"Mas...."


Radit menoleh, dan seketika itu juga ia memutar badannya. Arini yang sangat sexy dan menggoda dengan lingirie merah itu. Bahan kain yang tipis dan jatuh, begitu pas membentuk lekukan tubuhnya. Ditambah lagi tidak ada penghalang apapun yang menghalanginya disana.


Arini berdiri dengan kikuk, menautkan jari-jari tangan untuk meredakan gemuruh jantung yang terus berderum dan bertalu.


Entah kenapa, saat Radit melihatnya seperti ini, rasa malu selalu menggerayanginya. padahal tadi siang dia sudah berani menggoda Radit di kamar mandi. Memang sangat memalukan kalau ia mengingat itu kembali.


Radit melangkahkan kakinya, badannya yang tegap dan putih bersih ditambah perutnya yang datar, begitu sedap dan pas dipandang mata.


Tatapan mereka bertemu, helaian rambut Arini yang melambai-lambai tertiup angin laut membuat kejantanannya kembali terpanggil.

__ADS_1


Radit menyampirkan rambut Arini," Aku suka, cantik."


Kata-kata Radit membuat Arini tersenyum malu. Radit meraih dagu Arini, mendaratkan ciumannya dibibir tipis itu, dan Arinipun mengikuti ritme yang Radit mainkan dibibirnya. Pelan dan berirama.


Sejenak mereka terbuai, menikmati ciuman dengan berpayungkan awan yang mulai merangkak gelap.


Mereka melepaskan ciuman, sama-sama meraup udara yang terasa sulit untuk didapatkan karena saking lamanya berciuman hingga nafas mereka terasa sesak.


"Siap bermain didalam kolam?" Tanya Radit pelan.


"Berenang?"


"Bermain sambil berenang?" Seraya mengedipkan matanya.


Arini memukul dada Radit, mengerti kemana arah pembicaraan Radit dengan kata bermain dalam tanda kutif, dan hanya orang dewasa yang bisa mengerti itu.


Radit membawa Arini melayang kedalam pangkuannya. Ia pun mengalungkan tangan untuk berpegangan dileher Radit.


Ala Bridal Style, Radit membawa tubuh Arini menuruni tangga masuk kedalam kolam. Dengan tidak menghilangkan senyuman dari keduanya.


Rambut Arini yang dibiarkan tergerai mulai basah menyentuh air yang ada dibawahnya. Bagian tubuhnya pun mulai terendam, hingga bagian sensitive tubuhnya pun terbentuk sempurna dibalik lingirie merah itu.


Radit menurunkan Arini saat mereka sudah berada ditengah-tengah kolam. Ketinggian air yang hanya sebatas dada Arini, membuat Radit masih bisa melihat jelas dua gundukan itu.


Sekilas Radit mencium dua gundukan itu,"Sexy."


"Ih Mas nakal." Ucapnya.


Padahal Arini tidak menampik, dia pun suka diperlakukan seperti itu oleh Radit.


Radit terkekeh," Sepertinya lebih romantis ya kalau di alam terbuka kayak gini."


"Maksudnya?"


"Bermain sayang."


"Bermain kodok atau kupu-kupu?"


"Itu gaya berenang dong."


Arini tertawa,"Trus bermain apa, bola air?" Goda Arini dengan membalikan badannya seperti tidak mengerti.


"Bermain cinta." Bisik Radit dengan menarik pinggang Arini untuk mendekat ketubuhnya.


Arini memekik, saat tubuhnya berada diatas Radit dibawanya berenang dengan gaya punggung menuju pinggiran kolam.


Radit menyandarkan tubuh Arini dan mengukungnya disana. Kemudian ia menciumi tubuh Arini, menyusurnya perlahan hingga akhirnya ia menenggelamkan diri dibawah sana. Memberikan sentuhan dan ciuman-ciuman panas yang membuat Arini mendesah seraya menutup kedua matanya menikmati permainan yang Radit mainkan.


Radit kembali muncul kepermukaan, meninggalkan jari- jemari yang belum puas bermain dibawah sana, dan dengan rakus ia langsung menghantam bibir Arini. Kembali saling membelit dan menyecap satu sama lain.


Lagi.... mereka bercinta dalam kolam air hangat dengan disaksikan awan, deburan ombak dan desiran angin yang menjadi saksi penyatuan cinta mereka.


Untukmu bidadari surgaku....


Kutanamkan benih cinta dalam tubuhmu


Ku semai dan ku tabur api asmaraku


Menyatu dalam raga di tubuhmu


Mendamba.....


Hingga Malaikat kecil kan menyapa


.........................................................

__ADS_1


.............................Bersambung...........


__ADS_2