Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Kami Tanpamu (BonChapt)


__ADS_3

Tiiiiiiiiiiiiiiiittttt........


Radit menyusupkan wajah dikedua lutut, seluruh badan bergetar hebat, dunia seakan runtuh menghujami tubuh yang sudah tak berdaya.Tangisan tak bersuara diiringi air mata yang tumpah ruah saat mendengar monitor itu mengeluarkan bunyi panjang, tanda semuanya sudah selesai, tidak ada harapan lagi, pupus seketika.


Kenapa kamu ambil dia dariku Ya Allah... jerit hatinya.


Dokter dan dua Suster itu saling berpandangan, menyesali ketidakberdayaan mereka untuk bisa mengembalikan irama jantung Arini yang sudah tidak berdetak lagi. Wajah yang pucat pasi, tangan yang dingin dan denyut nadi yang sudah tidak ada. Tidak bisa kembali seperti apa yang mereka harapkan.


Dokter itu berjalan mendekati Radit yang duduk bersandar di tembok. Ia bisa merasakan bagaimana atasannya itu begitu terpuruk ditinggalkan perempuan yang baru satu tahun ini dia nikahi, karena dia pun pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan.


Dokter itu berjongkok," Dokter Radit... maaf saya sudah gagal membantu Ibu Arini...," Dokter itu menjeda kata-katanya,".... semuanya sudah kehendak Allah, ikhlaskan semuanya... Mungkin Allah lebih sayang kepada beliau... semoga Dokter Radit bisa sabar dan menerima semuanya dengan hati yang lapang." Seraya mengusap pundak Radit, menguatkannya.


Radit mengangkat wajahnya, melihat wanita yang dicintainya terbujur kaku tak bernyawa Ribuan mata pisau telak menghunus di ulu hatinya, ribuan peluru bersarang tepat di jantungnya, hancur, sakit, perih....berdarah.


Seorang perawat membawa kain putih untuk menutupi tubuh Arini, dan perawat lain mulai melepaskan infusan yang menempel ditangan Arini.


"Jangan...." Teriak Radit dengan tatapan tajam kepada kedua perawat itu.


Kedua perawat itu terkejut, mengurungkan niatnya yang baru saja akan mereka lakukan.


"Jangan pernah kalian berani menyentuh istriku, jangan lepaskan alat-alat itu dari ditubuhnya... apalagi kain itu, dia tidak boleh memakainya... dia hanya tidur." Bentak Radit.


"Dokter Radit sadarlah... istighfar... Ibu Arini sudah tidak ada." Kata Dokter itu menenangkan Radit yang ternyata tidak bisa menerima kenyataan kalau Arini sudah meninggal."


Radit menoleh, memandang dengan sorot mata merah menyala, mencengkram bahu Dokter itu," Arini ku masih hidup... dia hanya tidur Dokter... dia tidak akan meninggalkan aku." Seru Radit, lalu berdiri dan berjalan terseok mendekati blangkar Arini.


Radit melihat wajah Arini dengan nanar, menakup pipi yang selalu merah merona, yang kini pucat pasi tak berdarah.


"Sayang apa kamu lupa... kamu janji tidak akan pernah meninggalkan aku, kita akan besarkan anak-anak kita sampai dewasa, kita akan melihat mereka menikah, memberikan kita cucu dan kita akan jadi Nenek dan kakek, menua bersama... kamu tidak lupa kan... ayo sayang bangun... penuhi semua janjimu kepadaku." Ucap Radit dengan tersenyum getir.

__ADS_1


Dokter dan perawat ikut menitikan air mata. Kesedihan yang teramat dalam membuat air mata Radit mengering, berganti dengan mata penuh duka.


Senyum kesedihan itu hilang mendapati Arini hanya diam," Kamu janji tidak akan membuatku sedih... tapi mana buktinya Rin... mana.... Arini bangun.... bangun sayang... banguunn..." Radit mengenggam tangan Arini dan tubuhnya kembali merosot dengan membenturkan kening diblankar besi, terduduk tak bertenaga.


"..... bagaimana aku bisa menjaga anak-anak tanpamu... aku tidak bisa Rin... aku tidak akan bisa."


Suasana ruangan begitu mencekam dan sepi. Hingga akhirnya Dito, Anggun dan semua orang yang menunggu diluar diperbolehkan masuk setelah perawat memberi kabar duka kalau Arini sudah tiada.


Aditya dan David pun datang setelah menerima kabar dari Anggun kalau kondisi Arini semakin memburuk. Aditya merasa kalau ini hanya sebuah mimpi buruk, yang akan kembali seperti semula setelah dia bangun dari tidur dan mendapati Arini baik-baik saja. Tapi kenyataannya tidak, ini bagaikan petir yang menggelegar, Aditya merasakan tubuhnya melayang bagaikan kapas, terasa berjalan diatas awan, hampa.


"Radit bangun.... kamu tidak boleh seperti ini." Ucap Dito yang langsung mendekati Radit yang bersideku dilantai dengan memegang tangan Arini.


Radit menoleh," Arini masih hidup kan, To.... Arini tidak akan meninggalkan aku kan,To?" Tanya Radit yang terdengar sangat lirih.


Dito tidak menjawab, membuang muka untuk menghindari tatapan Radit yang memohon jawaban kalau Arini tidak akan pergi meninggalkannya.


"Jawab To... kenapa kamu diam... Arini akan selalu sama aku kan.... jawab, To?"


"Tapi sekarang dia sudah buat aku sedih.... kamu lihat tangan ini...," Radit memperlihatkan tangan Arini yang ada dalam gengamannya,".... dengan tangan ini dia mengelus pipiku, dia bilang dia tidak akan meninggalkan aku, dia akan selalu disampingku... tapi kenapa sekarang ...." Radit menekan keningnya dibesi blangkar tidak sanggup meneruskan kata-katanya.


Tangisan Anggun dan Bude Wati semakin menjadi, melihat Radit yang tak sanggup memikul beban berat dengan kehilangan Arini dengan cara seperti ini.


"Arini Bu... dia meninggalkan kita." Ucap Anggun menyayat hati.


"Kita harus kuat Ndo, kasian Arini... kita harus ikhlas." Ujar Bude Wati pelan dan terbata.


Bude Wati dan Anggun saling berpelukan, saling memberikan kekuatan satu sama lain, mengikhlaskan kepergian Arini walau itu sangatlah berat.


Nuno yang ada dalam pangkuan Aditya tidak bergeming sedikitpun, mata tanpa berkedip terus tertuju kepada Arini.

__ADS_1


Nuno melihat semua orang yang ada disana satu persatu, semuanya menangis. Termasuk Papahnya, Aditya. Air matanya ikut mengalir deras tak kunjung surut. Dan David, Om berwajah datar yang selalu berekspresi dingin pun, kali ini menunduk, berganti dengan wajah sedih penuh belasungkawa.


"Bunda meninggal Pah?" Tanya Nuno.


Aditya mengangguk sambil mengusap kepala Nuno," Iya sayang." Jawabnya dengan berat hati.


Nuno termanggu mendengar jawaban Aditya, kemudian melihat kembali sang Bunda yang memang tak bergerak sedari tadi. Monitor yang tadi terpasang pun kini sudah mati berubah dengan layar gelap.


Nuno menggerakan badan hingga Aditya menurunkannya. Perlahan Nuno melangkah mendekati Arini.


Nuno naik keatas blankar Arini, menyentuh sebelah pipi Arini dengan telapak tangannya yang kecil," Bunda lihat kan, Nuno nggak nangis... Nuno udah tepatin janji Nuno sama Bunda... anak cowok nggak boleh nangis, harus kuat...."


Nuno menatap Arini yang masih tetap diam,"... Tapi Nuno bakal nangis kalau Bunda nggak bangun juga..." Ancamnya.


Nuno diam sejenak, berharap Bundanya akan memberikan respon. Tapi sia-sia Arini tetap membisu.


"Ayo bangun Bun..." Nuno menggoyang-goyangkan bahu Arini,".... Bunda sayang Nuno kan... ayo lihat Nuno Bun...." Air mata Nuno mengembang.


Aditya berjalan menghampiri," Udah sayang, kasian Bundanya kalau Nuno kayak gini "


"Kenapa Bunda nggak bangun-bangun Pah, padahal Nuno nggak nangis kan?" Mengusap air matanya yang akan mengucur.


Laras ikut mendekat," Nuno sama Tante ya sayang..."


"Nuno mau sama Bunda.... Nuno mau Bunda." Seraya memeluk wajah Arini, hingga air matanya menitik, mengalir dan jatuh di pipi Arini.


.............................................................


.............................................................

__ADS_1


...................................Bersambung.........


__ADS_2