Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 32 Mencari Ayah


__ADS_3

Adzan subuh bersaut-sautan, para pria dari keluarga Chen pun bersiap menuju masjid.


Marissa masih terlelap sambil memeluk erat Jovanka.


" Cha, bangun sudah subuh," ucap Jovanka lembut sambil membelai rambut Marissa.


" Icha sayang, bangun sayang," panggilnya sekali lagi setelah sebelumnya Marissa tidak bereaksi sama sekali.


Marissa pun mencoba membuka matanya yang terasa berat.


" Ngantuk banget yaa. Kita tidur kemalaman, yuk sekarang bangun dulu, kita shalat subuh berjamaah yaa," ajak Jovanka.


" Iya, Bun," jawab Marissa yang berusaha membuka kedua matanya.


Sementara itu, para pria keluarga Chen, telah selesai melaksanakan shalat subuh di masjid, Jorrian pun mengajak berbicara empat mata dengan Jovan.


" Yah, pagi ini aku harus ketemu Pak Rakesh, nanti aku minta Bian standby di rumah "


" Cerita novelnya sudah selesai??" tanya Jorrian.


" Aku pikir sudah, tapi setelah semalam, akan aku tambahkan ceritanya," jawab Jovan.


" Jadi misteri keberadaan Icha pun terkuak ya, Van," ucap Jorrian.


" How stupid I was??!!! kenapa aku lupa dengan fotonya yang sama Bang Josie??!!" ucap Jovan penuh kekesalan.


" Yaaa mungkin itu cara Allah agar kamu mengeluarkan bakat menulis kamu dan menghasilkan dari sana. Sekarang, kita fokus untuk mencari ayahnya. Semoga dapat segera ditemukan agar kalian bisa segera menikah," ucap Jorrian.


Pagi itu Jovan pun kembali melanjutkan menulis novelnya. Sementara itu, keluarga Chen dan Marissa sedang berbincang santai di ruang keluarga.


" Cha, pagi ini Abang mau minta bantuan teman Abang yang polisi. Abang minta nama lengkap ayah kamu, trus terakhir tinggal dimana atau pekerjaannya apa??" tanya Jordan.


Marissa kemudian menunjukkan foto akte kelahirannya.


" Ini nama ayah, Mario Sofyan. Usianya sekitar 50 tahun. Ayah dulu bekerja di percetakan, tapi aku lupa nama kantornya. Kalau alamat terakhir....., aku juga ga tahu, cuma dulu pernah bilang tinggal di Depok, tapi tepatnya dimana, aku juga ga tahu," jawab Marissa.


" Ga papa, informasi sedikit apa pun, berguna juga kok, daripada tidak ada sama sekali," ucap Jordan.


" Eh, sebentar coba aku tanya Pakde Aryo, mungkin Pakde Aryo bisa membantu."


Marissa pun menghubungi pakdenya di Surabaya.


" Pakde, ada informasi tentang ayah sekarang dimana ga?? "


" Ga Ris, kalau ada pakde pasti langsung beritahu kamu," jawab Aryo.


" Kalau nama kantor tempat ayah kerja, Pakde tahu ga ??" tanya Marissa.


" Hmmm sebentar, tunggu sebentar ya Ris, seperti dulu ada fotonya," jawab Aryo.


Aryo pun mencari foto lama Riska dan Mario. Tak lama kemudian, akhirnya ia menemukan apa yang ia cari.


" Ayahmu dulu kerja di PT. Indoseni Persada, kantornya ada di TB Simatupang," jawab Aryo.

__ADS_1


" Makasih, Pakde."


Setelah menutup sambungan teleponnya, Marissa pun memberikan informasi yang baru ia dapatkan.


Jordan pun segera memeriksa informasi yang baru Marissa dapatkan.


" Cha, barusan Abang cek kantornya, hari ini buka setengah hari. Nanti Abang coba telpon ke sana, apa ayah kamu masih kerja disana atau ga," ucap Jordan.


" Makasih, Bang," jawab Marissa.


" Bagaimana kalau kita coba langsung ke sana hari ini ??" usul Jorrian.


" Iya Bang, lebih cepat lebih baik,"jawab Jovanka.


" Oiya, Jovan kemana kok ga kelihatan?? " tanya Jovanka.


" Lanjut nulis lagi, episode terbaru dalam pencarian Icha " jawab Jorrian.


" Hmmm versi salah mengenali Risa aka Icha, he is stupid!! " ucap Jordan sambil tertawa.


" Tapi dia mengumpulkan rupiah dari kebodohannya, then he is smart," sanggah Jorrian yang diakui oleh Jordan.


" Oiya Cha, kita sekalian kecilin cincinnya hari ini. Kita pergi sekalian jalan-jalan yaa, oiya ke kostan kamu juga. Ambil baju-baju kamu yaa," ajak Jovanka.


" Hmmm kan cuma sampai besok aja Bun?? Senin pagi, aku sudah masuk kerja."


" Oiya kamu kerja, berangkat dari sini aja, gimana?? "


" Ya sudah gimana nyamannya kamu aja."


Pukul 9 pagi, keluarga Jorrian dan Marissa menikmati sarapan pagi bersama di teras belakang rumah Jovan.


" Pintar juga kamu, Cha, desain area makannya ada yang di belakang, adem,"puji Jorrian kepada Marissa.


" Aku mikirnya kalau ada acara-acara keluarga atau kumpul-kumpul lebih nyaman di luar, ga sumpek di dalam, trus biar aman dari hujan dan panas yaa di terasnya aja. Kalaupun hujan deras, airnya ga kan masuk, karena aku pakai roller blind, pokoknya in syaa Allah aman," Marisa menjelaskan.


Jovan pun mengambil foto teras belakang ke arah taman lalu mengajak seluruh anggota keluarganya berfoto bersama.


" Setelah sarapan aku mau keluar, mau ketemu Pak Rakesh. Nanti kalau mau pergi, sama Bian aja, sebentar lagi dia datang," ucap Jovan.


" Berarti nanti kita keluar sama Bian aja nih?? " tanya Jovanka.


" Iya, in syaa Allah nanti kalau urusan sama Pak Rakesh sudah selesai, aku nyusul tapi kalau aku ga diperlukan yaa, aku langsung pulang ke rumah aja, ngelanjutin ngetik," jawab Jovan.


" Yaa nanti cukup berkabar aja," ucap Jorrian.


Tak lama, Jovan pun segera menaiki Toyota Rush miliknya menembus kepadatan Jakarta untuk menemui Rakesh Punjabi di salah satu apartemen mewah di Pusat Jakarta.


"'Jadi bagaimana novelnya, sudah selesai dong??" tanya Rakesh.


"Maaf Pak, ada sesuatu hal yang perlu saya tambahkan, jadi mungkin saya butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya," jawab Jovan.


" Oke, take your time. Hari ini kita ke studio, syuting akan selesai dalam 2 hari. Kita nanti rapat untuk pasca-produksi "

__ADS_1


" Jam berapa, Pak??" tanya Jovan.


" Jam 1 siang nanti."


" In syaa Allah nanti saya usahakan," jawab Jovan.


Setelah Bian datang, Jorrian dan Jovanka beserta Marissa pun pergi menuju kantor Mario di Selatan Jakarta. Sesampainya di sana, Marissa menuju lobby dan menanyakan tentang keberadaan ayahnya.


"Pagi Mbak, maaf saya mencari Bapak Mario Sofyan."


" Pak Mario?? maaf, anda siapa?? "


" Saya Marissa, putrinya. Bisa saya bertemu dengan beliau sekarang?? "


" Sebentar, Mbak."


Setelah itu, bagian resepsionis pun menghubungi seseorang di dalam.


Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berlari menemui Marissa di lobby.


" Cha!!! "


Marissa pun menengok ke arah pria yang memanggilnya.


" Ayah?? "


" Kamu Icha?? Marissa Shafeeya?? anaknya Riska?? " tanya pria itu.


" Iya," jawab Marissa yang sedikit bingung karena pria yang menghampirinya tidak seperti ayah dalam ingatannya.


"Ya Allah, alhamdulillah. Cha, ayo masuk dulu, oiya kamu sama siapa??" tanya pria itu.


" Sama Bunda Jovanka dan Ayah Jorrian," jawab Marissa.


Pria itu pun menjabat tangan Jorrian dan memperkenalkan namanya.


" Alex Sofyan, saya adiknya Mario, omnya Icha. Sebaiknya kita bicara di ruangan saya, mari silahkan," ucap Alex.


Alex pun membawa Marissa dan kedua orang tua Jovan menuju ruang tamu


" Maaf, selama ini Om sudah berusaha mencari kamu tapi tidak ketemu juga, selama ini kamu dimana?? " tanya Alex.


" Di rumah Pakde Aryo di Surabaya, aku sekarang kerja di sini, di Kuningan. Om, ayah mana?? "


Alex menarik nafasnya.


" Maaf Cha, tapi ayah kamu sudah meninggal 5 tahun yang lalu, makanya sekarang Om yang pegang perusahaan ayah kamu."


Marissa pun membeku, kerinduan terhadap ayahnya pupus sudah.


" Meninggal?? kenapa?? " tanya Jorrian.


" Mas Mario meninggal karena komplikasi diabetes dan penyakit jantung yang sudah lama dideritanya dan sebenarnya Mas Mario tidak pernah berniat meninggalkan Marissa dan ibunya. Tetapi karena keterpaksaan, jadi dulu kami berdua membangun bisnis percetakan ini bersama, jatuh bangun kami lewati, hingga suatu ketika kami ditipu oleh salah satu klien kami, yang membuat kami menderita kerugian sebesar 4 milyar. Disaat itu kami juga harus tetap membayar karyawan dan operasional perusahaan, untuk itu kami membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mas Mario tidak ingin meminjam dari bank, karena yaa bunga yang cukup tinggi. Disaat sudah terdesak, salah satu pemegang saham menawarkan solusi, yang pada awalnya tidak disetujui mas Mario, tetapi akhirnya ia menyetujui karena untuk kelangsungan hidup keluarganya dan perusahaan," jelas Alex panjang lebar.

__ADS_1


__ADS_2