Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Duo Galau (BonChapt)


__ADS_3

Tuuut.... Tuuut... Tuuut....


Dering ketiga akhirnya sambungan teleponnya tersambung.


"Halo Rin..."


"Ya Dit..."


"Hari ini biar aku yang jemput Nuno ya, boleh kan?"


"Boleh kalau memang kamu mau "


"Makasih ya Rin..."


"Iya sama-sama."


Aditya kembali memasukan ponsel kedalam saku yang ada dibalik jas hitamnya. Menutup beberapa lembar dokumen yang baru selesai dia tandatangani dan membawanya ke ruangan David.


"David... ini dokumen yang sudah saya periksa dan tandatangani, kamu tinggal mengirimnya ke kantor pusat."


"Baik Pak." Menerima dokumen yang Aditya berikan kepadanya.


"Agenda hari ini kosong kan.... saya mau pulang duluan, saya ingin menjemput Nuno."


"Silahkan Pak."


"Baiklah kalau begitu, saya duluan."


"Iya Pak."


Sampai diambang pintu, Aditya kembali berbalik, merasakan sesuatu yang ganjal pada sikapnya David.


"Kamu sedang ada masalah?" Tanya Aditya yang sekarang sudah semakin yakin kalau wajah David memang terlihat kusut.


David yang sedang melihat ponselnya seketika bangun dari duduk, hampir menjatuhkan ponsel saking terkejutnya tak menyangka Aditya akan kembali menoleh.


"Tidak... maksud saya semua urusan kantor baik-baik saja, tidak ada masalah apapun."


Aditya tertawa dalam hati melihat David yang seperti orang linglung menjawab pertanyaanya.


"Yang aku tanya itu kamu, bukan kantor." Tegas Aditya.


"Saya.... saya baik-baik saja Pak."


"Kamu yakin?"


"Yakin Pak."


"Aku kira kamu sedang galau memilih yang mana."


"Pilih apa maksudnya Pak?"


Aditya bertolak pinggang, ternyata David tak sepintar yang dia kira, terutama masalah wanita.


"Erika atau Gea?"


Pertanyaan Aditya menohok hati terdalamnya," Saya tidak memilih keduanya Pak."


"Oh ya?"


David tidak menjawab lagi, dia hanya menundukan wajah tak kuasa menatap balik Aditya yang seperti ingin mengorek-ngorek isi hatinya.


"Ya sudah saya pergi dulu. Kalau kamu bertemu dengan salah satu dari mereka, sampaikan salam saya kepada mereka... bilang, selamat berjuang." Seloroh Aditya yang hanya mendapatkan tatapan dingin dari David.


Setelah itu Aditya berjalan menuju parkiran bawah tanah, parkir yang khusus disediakan untuk para pegawai perusahaan yang memiliki kedudukan tinggi.


Tit...Tit...


Aditya memijit tombol kunci otomatis, kemudian masuk dan duduk di kursi kemudi, lalu melajukan mobilnya menuju jalan raya, berbaur dengan pengendara mobil lainnya.


Empat puluh lima menit, ia sudah sampai disekolahnya Nuno. Sepi, hanya ada beberapa mobil dan motor yang terparkir disana.


Tak lama lonceng berbunyi, tanda semua murid bisa pulang dengan jemputan yang sudah menanti mereka masing-masing. Aditya keluar dari dalam mobilnya, berdiri dengan melongokan badan, mencari-cari Nuno.

__ADS_1


Sampai murid terakhir Aditya belum menemukan Nuno juga, ia mulai bergerak gelisah, tapi untungnya itu tidak berlangsung lama. Ia bisa melihat Nuno berjalan dengan teman perempuannya, bergandengan tangan.


Aditya memperhatikan keduanya, gadis kecil yang cantik. Kulit putih kuning langsat, warna kulit perempuan jawa asli Indonesia, memiliki lesung pipit disebelah kiri saat ia tersenyum ke arah Nuno, rambut panjang berponi berkepang dua, memakai pita merah dibagian ujungnya, sangat manis.


Nuno dan gadis itu berhenti di tengah lapangan.


"Dah Nuno... alum pelgi ya... semoga kita bisa beltemu lagi." Ucap Gadis kecil itu yang sepertinya tidak bisa mengucapkan huruf R.


"Iya...Hati-hati ya... daaah."


Gadis kecil itu berlari menuju sebuah pintu besi yang berada disamping sekolah. Ia kembali melambaikan tangan kepada Nuno sebelum ia pergi dan hilang dibalik pintu.


Nuno menurunkan tangan setelah membalas lambaian tangan gadis kecil itu. Kemudian berbalik, berjalan menunduk menuju parkiran dengan wajah yang sendu.


"Nunooo..." Panggil Aditya.


Nuno mengangkat wajahnya," Papah..."


Nuno berjalan setengah berlari, menghampiri Aditya yang sudah sedari tadi memperhatikannya.


"Kok Papah yang jemput, Bunda kemana Pah?"


"Bunda ada dirumah, sekali-kali nggak papa dong Papah yang jemput, kasian kan Bunda keberatan bawa dede bayi kemana-mana."


"Iya juga sih."


Aditya jongkok didepan Nuno," Sebelum pulang Nuno mau kemana dulu, mau pergi main, jalan-jalan atau mau pergi makan?"


Nuno menurunkan wajahnya melihat tanah,"Nuno mau pulang aja Pah, Nuno nggak mau kemana-mana."Ucapnya pelan.


Aditya mengeryit, tidak biasanya Nuno seperti ini. Dia akan sangat bersemangat kalau Aditya memberikan pilihan seperti ini. Mungkin ada hubungannya dengan gadis kecil tadi, pikir Aditya.


"Nuno kenapa... Nuno sakit?"


"Nggak... Nuno nggak sakit."


"Terus kenapa dong kayak nggak semangat gitu... nggak suka ya kalau Papah yang jemput?"


"Terus kenapa dong mukanya ditekuk gitu?"


Air mata Nuno mengembang, namun sebelum cairan bening itu turun Nuno langsung menghapusnya.


Aditya menuntun Nuno untuk duduk ditembok.


"Apa ini ada hubungannya sama temen perempuan Nuno tadi?"


Nuno melihat Aditya yang sedang tersenyum kepadanya.


"Kok Papah bisa tahu?"


Aditya mengulas senyum," Papah gitu loh." Sambil melipat tangan di dada membuat Nuno sedikit tersenyum.


"Itu pacar Nuno ya... siapa namanya, kok nggak dikenalin sama Papah?"


"Kok pacar, Nuno kan masih kecil Pah... Arun itu sahabatnya Nuno."


Aditya terkekeh," Jadi namanya Arun... nama yang cantik, secantik orangnya." Ujar Aditya seraya mengedipkan sebelah matanya, menggoda Nuno.


Nuno tersenyum simpul," Arun memang cantik, dia juga baik. Arun suka belain Nuno kalau Nuno dikata-katain sama temen."


"Dikata-katain apa?"


"Itu dulu Pah, sekarang udah nggak. Nuno suka dikata-katain nggak punya Ayah. Tapi setelah Ayah Radit suka antar jemput Nuno kesekolah, mereka nggak pernah ngata-ngatain Nuno lagi." Tuturnya panjang lebar.


Aditya membisu, ada sesuatu yang menganjal dihati, sangat perih dan menyesakan. Kesalahan yang dulu ia lakukan, ikut berimbas kedalam pergaulan sosialnya Nuno.


"Pah... Nuno bisa ketemu lagi nggak ya sama Arun."


Aditya yang larut dalam kesalahannya seketika tersentak saat mendengar pertanyaan yang diajukan Nuno.


"Kan tiap hari Nuno bisa ketemu Arun di Sekolah."


"Arun pindah sekolah Pah..." Jawab Nuno lirih.

__ADS_1


"Walau pindah kan Nuno masih bisa main kerumahnya." Usul Aditya.


Nuno semakin cemberut," Arun pindah ke luar kota Pah, ikut sama Budenya yang kerja di Jakarta."


Aditya manggut-manggut mulai mengerti kenapa Nuno sesedih ini.


"Kenapa ikut Budenya, emang Ibunya Arun kemana?" Tanya Aditya yang semakin penasaran dengan kehidupan gadis kecil bernama Arun itu.


"Mamahnya Arun kerja di luar negeri... apa ya namanya, Nuno lupa." Nuno terlihat berpikir keras mengingat kata yang sudah ia lupakan.


Aditya memperhatikan ekspresi Nuno, sangat lucu. Ia begitu bersemangat dan antusias menceritakan temen perempuan yang sangat berarti untuknya itu.


"TKW...?" Tebak Aditya.


"Nah itu Pah...TKW."


"Terus Papahnya kemana?"


"Papahnya sudah meninggal."


Aditya menghela nafasnya, mulai memahami perasaan Nuno yang begitu sangat kehilangan.


"Nuno jangan sedih, suatu hari nanti kalau Tuhan mengizinkan, Nuno pasti bertemu lagi dengan Arun."


Nuno tersenyum lebar, wajahnya kembali terlihat bersinar, seperti mendapatkan secercah harapan," Iya Pah, tiap hari Nuno akan berdoa sama Tuhan biar bisa ketemu lagi sama Arun."


Aditya mengacak bagian atas rambut Nuno,"Anak pinter."


"Ih Papah, kusut dong.... nanti gantengnya Nuno ilang lagi." Seraya mengusap-ngusap rambutnya yang kusut.


"Takut nggak ditaksir sama Arun ya?"


"Papah... Arun kan cuma temen."


"Temen atau demen?"


"Papaaaah...."


Nuno memukul-mukul tangannya Aditya.


"Aduh ampun...ampun...iya maaf Papah cuma becanda."


Nuno tergelak, merasa Papahnya kalah kuat dibanding dirinya.


"Ya udah yuk kita pulang, Bunda pasti udah nungguin."


"Yuk..."


Aditya kembali mengemudikan mobilnya menuju ke kediaman Arini. Selama dalam perjalanan tak hentinya mereka bercanda dan tertawa.


"Kok macet ya Pah..."


"Iya ya, nggak biasanya macet kayak gini."


Beberapa deret mobil berjajar, tidak mau bergerak sedikitpun. Padahal tinggal satu belokan lagi mereka sudah sampai dirumah Arini.


Seseorang berlari, melintasi mobil yang dibawa Aditya.


"Pak ada apa ya...kok macet?"


"Itu Mas ada korban tabrak lari..."


"Kapan kejadiannya Pak?"


"Baru saja Pak, katanya sekarang lagi menunggu ambulance."


Belum sempat Aditya bertanya lagi, Bapak itu sudah berlari menjauh ingin melihat langsung kejadian yang membuat geger warga sekitar sana.


...........................................................


...........................................................


....................................Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2