
Cairan gel bening dioles merata di bagian bawah perut Arini, sangat dingin. Dengan setia Radit menautkan jemarinya di jari Arini dengan sangat erat dan sesekali menciumnya hingga beberapa kali.
"Kalian sudah siap?" Tanya Ibu Rania yang sekarang sudah mengarahkan sebuah alat untuk dia tempelkan diperut Arini.
Arini dan Radit saling bertukar pertanyaan dalam sorotan mata mereka. Pertanyaan Ibu Rania seolah akan memberi tahu sebuah kenyataan yang tidak akan mereka bayangkan sebelumnya.
"Kok malah pada diem?"
"Ibu kenapa bertanya seperti itu, sepertinya ada sesuatu yang belum kami ketahui." Ujar Radit.
Ibu Rania yang ditemani Dokter Reva saat itu saling menoleh, bertukar senyuman. Sepertinya benar, mereka menyembunyikan sesuatu yang sampai detik ini mereka sembunyikan dari Arini dan juga Radit.
"Ada apa sih Bu?" Tanya Radit yang semakin penasaran dengan tingkah Ibunya dan Dokter Reva.
"Mas bisa lihat sekarang."
Ibu Rania mengarahkan alat diperut Arini, mengerakan ke kanan dan ke kiri. Dengan USG empat dimensi, mereka bisa jelas melihat pergerakan bayi di dalam perut Arini.
"Bu..." Radit memegang tangan Ibu Rania,"...kenapa tangannya bisa tiga?"
Arini terhenyak mendengar perkataan Radit, apa yang dimaksud Radit dengan tangannya ada tiga? Badan Arini seketika kaku, membayangkan hal negatif dengan bayi yang dikandungnya sekarang. Ingin rasanya ia berbalik dan melihat layar monitor yang ada disamping kanannya saat ini.
"Bu benar apa yang dikatakan Mas Radit.... ada apa dengan bayi kita, apa monitor yang ada didepan sana tidak bisa dinyalakan, Arini ingin melihatnya."
Ibu Rania dan Dokter Reva terkekeh.
"Monitor itu sedang rusak Bu Arini, belum sempat diperbaiki." Jawab Dokter Reva.
"Tangannya ada empat Rin, itu yang sebelahnya terhalangi." Tambah Ibu Rania.
"Oh iya sayang bener ada empat... kepalanya juga ada dua... eh dua..." Ucap Radit ragu-ragu.
"Bu.... jadi maksud Ibu kemarin itu, ini... jadi....apa... emm....bayi kita kembar?" Tanya Radit yang seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa saking terkejut, senang, tidak percaya, hingga lidahnya terasa terbelit sulit untuk berucap.
Ini adalah pertama kalinya lagi Arini melakukan USG setelah pendarahan waktu itu. Karena selama ini Ibu Rania yang mengurus Arini dirumah, dan tak pernah pergi kemana-mana.
"Iya Mas, bayi kalian kembar... dan ternyata keduanya perempuan." Ucap Ibu Rania sambil tersenyum lebar mendapati kalau dia akan mendapatkan cucu perempuan seperti yang selama ini dia harapkan.
"Awalnya saya juga sudah memprediksi saat pertama Ibu Arini melakukan USG saat itu, tapi saya tidak mau sesumbar dulu karena kandungan Ibu Arini saat itu masih trisemester awal, jadi segala kemungkinan masih bisa terjadi." Tutur Dokter Reva.
Ari mata Arini berseluncur, tak terasa keluar begitu saja.
"Bayinya menguap, lucu sekali...sepertinya dia mirip sekali denganmu, iya kan Bu?" Tanya Radit dengan air mata yang mengembang dipelupuk mata saking bahagianya.
Ibu Rania tak menjawab pertanyaan Radit, bibirnya terasa bergetar dan ia hanya mampu mengangguk mengiyakan.
Sama halnya dengan Radit dan Arini, ia pun sangat terharu melihat bayi didalam kandungan Arini, anugerah terindah yang sebentar lagi akan lahir ke dunia dan segera ia timang dengan penuh kasih dan sayang.
Setelah selesai dengan pemeriksaan yang dilakukan bertahap, Radit membantu Arini untuk turun dari atas blankar. Senyuman mereka tetap bermekaran bak bunga di pagi hari.
Radit mengecup punggung tangan Arini,"Kamu akan memberikan ku dua malaikat kecil yang sangat cantik, terima kasih sayang."
__ADS_1
Arini menumpuk tangannya diatas genggaman Radit," Terima kasih juga atas semua perhatian dan kasih sayang yang sudah Mas berikan buat kita."
Radit mencium kening Arini sangat dalam, kemudian mengelus pipi dan bibirnya dengan lembut. Baru saja Radit ingin menyatukan bibirnya dengan bibir Arini, seruan Ibu Rania membuat perhatian mereka teralihkan.
"Mas...inget ini bukan ruanganmu tapi ruangan Dokter Reva."
Arini dan Radit saling bertatapan, kemudian terkikik bersama. Ibu Rania seperti mempunyai indera ke enam seakan tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Iya Bu...." Radit balas berseru.
******
Radit dan Arini keluar dengan mata berbinar, tak sedikitpun Radit melepaskan tangannya dibahu Arini dengan tangan satu memegang perut besarnya.
"Kita duduk di bangku taman yuk." Ajak Radit.
"Emang Mas nggak ke poli lagi?"
"Nggak... khusus hari ini poli bedah diganti sama Dokter lain, aku ingin menemanimu seharian."
Arini tersenyum," Makasih sayang."
Mereka berjalan menuju kolam air mancur yang baru selesai direhab beberapa minggu yang lalu. Siapapun yang diam disana, pasti akan melupakan kalau mereka sedang berada di Rumah Sakit. Penataan yang apik dan desain cantik yang sedemikian rupa, bagaikan taman mini ditengah-tengah kota.
Arini memilih duduk didekat kolam air mancur, selain udaranya yang segar, iapun bisa menikmati gemericik air yang naik turun tiada hentinya.
"Sayang.... sebentar lagi Nuno akan kemari bersama Aditya." Radit menyimpan ponselnya kembali ke saku setelah menerima pesan dari Aditya.
Radit menyilangkan kakinya menghadap Arini," Nuno pengen cepet-cepet ketemu kamu katanya, mungkin insting seorang Kakak yang mau dapet bayi kembar." Seraya mengelus tengkuk Arini ya g terlihat jelas karena ia mengikat rambutnya keatas. Seperti kesukaan Radit.
"Bundaaa...."
Nuno memanggil Arini dari kejauhan, berlari kencang menghampiri mereka disusul dengan Aditya yang berjalan dibelakangnya.
"Sayang...."
Nuno memeluk Arini dan Radit bergantian.
"Gimana sama ade bayinya Bun?"
"Baik dan sehat seperti Kakaknya." Jawab Arini sambil menjawil hidung Nuno.
"Maaf menganggu waktu kalian... saat main tiba-tiba Nuno ingin bertemu dengan kalian." Ucap Aditya setelah sampai didepan mereka.
"Iya nggak papa Dit, makasih sudah menjaga Nuno."
"Duduk Dit...." Sapa Radit dengan mempersilahkan bangku yang masih kosong didepan mereka.
"Iya terima kasih." Jawab Aditya sembari duduk bersebelahan dengan Nuno.
"Bunda...bayinya perempuan atau laki-laki?" Tanya Nuno.
__ADS_1
"Perempuan." Jawab Arini.
"Dan dua...." Tambah Radit.
Nuno dan Aditya yang seperti anak kembar beda usia itu saling menoleh, kemudian kembali melihat Radit dan Arini," Kembar...?" Tanya mereka bersamaan.
"Iya..." Jawab Arini dan Radit bersamaan juga.
Nuno langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan," Asyik... Nuno mau dapet dua ade bayi."
"Selamat ya Rin... Radit."
"Iya terima kasih Dit."
Tak lama telepon Radit berbunyi, ia mendapatkan telepon dari Ibu Rania yang menyuruhnya untuk segera menemuinya di ruangan Dokter Reva.
"Sayang aku tinggal dulu sebentar ya, Ibu memintaku untuk menemuinya."
"Memangnya ada apa Mas?"
"Aku juga tidak tahu...," Kemudian Radit melihat Aditya,"..... Aditya, aku permisi sebentar. aku titip istriku, jangan sampai dia kenapa- napa." Gurau Radit.
"Kamu percaya kepadaku?"
"Mungkin."
"Kamu tidak takut aku mengambilnya?"
"Aku percaya kamu tidak akan mengambilnya dariku." Seloroh Radit.
"Kalaupun aku mengambilnya darimu, itu akan sangat sulit. Kenapa...karena dia tidak mau aku ambil dan aku ajak pergi." Aditya balas berseloroh.
"Hei kalian bicara apa...orang yang kalian bicarakan ada disini."
Aditya dan Radit tertawa, hingga akhirnya Radit meninggalkan mereka berdua dengan memangku Nuno yang ingin ikut dengannya menemui Ibu Rania.
"Seneng ya mau dapet bayi kembar, perempuan lagi...itu artinya kamu akan mempunyai dua princess sekaligus, seperti yang kamu impi-impikan selama ini." Aditya membuka percakapan untuk kembali mencairkan suasana yang terasa canggung setelah Radit meninggalkan mereka berdua.
Arini tersenyum lebar," Dan itu berarti, kado pernikahan yang kamu berikan kepadaku akan langsung aku pakaikan kepadanya nanti."
"Dan aku pun akan berikan kado kedua yang sama lagi, karena bayi yang satunya lagi akan menangis karena merasa iri tidak mendapatkan apa yang kembarannya dapatkan dariku."
Arini tergelak," Aku tunggu janjimu Om..." Arini menirukan suara anak kecil sambil mengelus perutnya.
Mereka tertawa bersama, hingga perhatian satu pasang mata yang melihat mereka dari kejauhan membuat amarah yang selama ini sudah meredam kembali bergejolak penuh dengki.
"Aku tidak akan biarkan kalian hidup bahagia." Camnya dalam hati.
..........................................................
..........................................................
__ADS_1
...................................Bersambung.......