Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 68 It's Shopping Time and Make Over


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Mario bergegas menuju kantor polisi, guna memenuhi panggilan untuk kelengkapan berita acara atas penangkapan Winda.


Sementara itu, Jovan dan Marissa kembali ke kamar mereka sebelum pergi berbelanja.


"Bang, baju sudah masuk tas semua, tolong cek kamar mandi, ya. Aku mau ke kamar ayah, ngecek 2 bocah itu," ucap Marissa sambil merapikan meja.


"Iya, Abang nanti nyusul. Kita langsung check-out, jadi pastikan jangan ada yang ketinggalan," jawab Jovan sekaligus mengingatkan.


"Iya, yowes aku langsung ke kamar ayah, yaa," ucap Marissa sambil mengecup pipi Jovan.


Sesampainya di kamar Mario, ia mendapati kedua adiknya asyik menonton siaran televisi, sementara kamarnya terlihat berantakan dan kotor dengan plastik makanan ringan yang berserakan.


Marissa pun segera mengambil remot dan mematikannya.


"Mbaaaaak!!! Kok dimatiin? Kan lagi nonton, eh lucu lho Mbak filmnya," protes Marendra.


"Mau pergi ga? Kalau mau, beresin semuanya, ga ada sampah berserakan seperti ini!!" ucap Marissa kesal dengan berkacak pinggang.


"Aku beri kalian waktu 5 menit untuk merapikan dan membersihkannya, lewat dari itu, nikmati hari kalian di rumah, tanpa gadget dan TV !!" lanjut Marissa yang membuat kedua adiknya bergerak cepat bagaikan kilat untuk membereskan kekacauan yang mereka buat.


"Ingat, tidak ada sampah kecuali di tempat sampah! Baju langsung masuk koper, kita sekalian check-out!" lanjut Marissa sambil merapikan barang-barang milik ayahnya.


Dengan hati kesal dan ingin memukul, Marendra dan Mariska terpaksa melakukan perintah kakak perempuan mereka. Sesekali terdengar gerutuan keduanya, yang membuat Marissa menghampiri keduanya sambil berkacak pinggang.


"Beresin tuh yaa beresin aja, ga usah pakai ngomel-ngomel. Lagian salah sendiri, nyampah begini. Eh kalian harus ngerti kerja, walaupun nanti ada pembantu, bukan berarti kalian seenaknya sendiri, malas-malasan, nyampah dan ngeberantakin, itu semua ga ada! Kalau kalian nyampah, kalian sendiri yang harus membersihkannya. Kalian ngeberantakin, kalian sendiri yang harus merapikannya. Ingat itu!"


Marendra dan Mariska pun menunduk dan menjawab dengan terpaksa, "iya, Mbak."


"Ayo cepat!! Kita sudah ditunggu Bang Jovan," lanjut Marissa.


Mendengar perintah Marissa, keduanya pun mempercepat gerakan mereka.


Tak lama kemudian, setelah kedua adiknya menyelesaikan tugasnya, Marissa pun mengecek semua sisi, memastikan tidak ada yang tertinggal dan tercecer.


"Good, kita check-out sekarang," ajak Marissa keluar kamar.

__ADS_1


Nampak Jovan juga baru saja keluar dari kamarnya dengan membawa tas, tiba-tiba ia berteriak kepada Marissa.


"Drop that bag!!"


Marissa yang terkejut pun menjatuhkan tas yang berisi pakaian Mario, sedangkan kedua adiknya pun ikut terkejut membuat jantung mereka berdetak dengan cepat.


Jovan segera berjalan ke arah Marissa.


"Ngapain bawa tas, tunggu Abang, biar Abang yang bawa. Sini tasnya," ucap Jovan lembut.


"Waaaaa, waaaaa, Abang memang cari masalah! Bang, mau aku jambak?! Bikin kaget, kayak ada apa! Kirain aku bikin salah, sampai Abang marah!! Ternyata Abang minta di tabok!!!" sahut Marissa kesal.


"What is tabok?" jawab Jovan pura-pura tidak mengerti sambil mengambil tas yang dijatuhkan Marissa.


"Tabokki, enak Yang," lanjut Jovan dengan plesetan katanya.


"Nah, nanti beliin yaa, 2 porsi ekstra chilli, eh rabokki aja biar lebih kenyang," sahut Marissa.


"Anything my dear," jawab Jovan sambil mengedipkan satu matanya


Kedua orang tua Jovan dan pengawal pribadinya pun hanya menggelengkan kepala mereka.


"Dan, sekarang Sayang yang ikutan kambuh. Sudahlah kita check-out dulu," sahut Jorrian.


Mereka semua pun beranjak menuju lobby yang terletak di lantai dasar.


Kemudian Jovan, ditemani Adam menyelesaikan pembayaran hotel.


Segera setelah semua urusan selesai, mereka pun bergerak menuju salah satu pusat perbelanjaan termegah di Jakarta.


Sesampainya di sana, Marissa dan Jovan mengajak Marendra dan Mariska membeli pakaian di departemen store ternama di dalam Mall tersebut.


Marendra dan Mariska pun hanya pasrah menunggu Jovan dan Marissa selesai memilih pakaian untuk mereka. Sementara itu, Jordan dan istrinya juga asyik berbelanja kebutuhan fashion mereka.


"That's why I love Indonesia, everything is cheaper than in Singapore, I think I can buy more," ucap Jordan yang sudah memenuhi tas belanjanya dengan berbagai jenis pakaian.

__ADS_1


Ia pun masih ingin menambahkannya lagi dengan tas dan alas kaki. Tak kalah dengan sang suami, Jesse juga berbelanja aneka pakaian untuknya dan putrinya. Momen itu pun dipergunakan dengan sebaik-baiknya untuk mengisi lemari pakaian dan rak sepatu mereka di rumah.


Setelah hampir 2 jam memilih dan mencoba, akhirnya selesai sudah misi Jovan dan Marissa, untuk me-make over Marendra dan Mariska.


Aneka rok dan blus panjang kekinian, serta jilbab instan telah Marissa pilihkan untuk Mariska. Walaupun merasa keberatan, Mariska tidak mempunyai pilihan lain selain menurutinya.


"Kamu coba dulu, Mbak tunggu. Eh, Mbak lihat dulu, jangan langsung di lepas lagi," pinta Marissa.


"Iya, Mbak," jawab Mariska malas.


Ia pun mencoba beberapa pakaian pilihan Marissa. Setelah mencobanya, ia bercermin, ada sedikit rasa hangat di hati melihat tampilan dirinya yang berbeda. Walaupun ada sedikit rasa gengsi untuk mengakuinya, tetapi ia menyadari jika penampilannya terlihat lebih anggun dan ia pun menyukai tampilan barunya.


Sementara itu, di bagian pakaian pria, Jovan memilih beberapa kemeja dan t-shirt untuk Marendra. Ia juga mengambil beberapa celana jeans dan cargo, tak lupa juga celana berbahan katun lainnya untuk dipakai di rumah.


"Nih, di coba dulu!" ujar Jovan sambil memberikan tas belanjanya kepada Marendra.


Marendra pun segera mencoba pakaiannya, walaupun berbeda dari gaya pakaian yang biasa ia gunakan, tetapi ia tidak menyangkal jika pilihan Jovan memang sesuai dengan dirinya.


Setelah selesai dengan pakaian, Jovan mengajak Marendra menuju salon.


"Bang, ngapain kesini?" tanya Marendra.


"Kamu nurut aja, dengan model rambut kamu seperti ini, dijamin ga ada sekolah yang mau menerima kamu," jawab Jovan.


"Sekolah?" tanya Marendra lagi.


"Iya, besok kita cari sekolah untuk kamu, makanya kamu harus potong rambut dan itu warnanya harus dikembalikan ke warna yang aslinya. Itu anting juga harus di lepas! Memangnya kamu perempuan pakai anting?!" tegur Jovan.


"Yaaah, Abang ga up to date nih. Gaya kekinian, Bang! Kan keren," jawab Marendra.


"Ga keren! Abang yang keren, kamu itu jauuh di bawah Abang, termasuk tingginya," canda Jovan sambil memperlihatkan perbedaan tinggi badan mereka yang tentu saja membuat Marendra kesal.


"Mainnya fisik, nih! Curang!" protes Marendra yang membuat Jovan tertawa.


"Bang, kalau ketawa matanya hilang. Hati-hati aja Bang, begitu buka mata orangnya sudah pergi semua, tinggal Abang sendirian," balas Marendra begitu melihat mata Jovan yang menyipit jika tersenyum atau pun tertawa.

__ADS_1


Jovan pun kembali memberikan lirikan tajamnya, lalu ia mengaitkan lengannya ke leher Marendra dan segera membawanya masuk ke dalam salon.


Jovan pun meminta agar rambut Marendra di potong dengan gaya yang sesuai dengan potongan rambut anak sekolah dan juga meminta untuk menghilangkan cat warna pada rambut Marendra.


__ADS_2