
3 hari menjelang pernikahan Marissa dan Jovan, di kediaman Alex telah disibukkan dengan persiapan pernikahannya. Walaupun semua acara dilangsungkan di hotel, tetapi kiriman bunga dan hadiah telah membanjiri ruang keluarga di kediaman Alex.
Perasaan hati Marissa mulai tidak karuan, rasa gugup dan tegang sudah ia rasakan. Ia pun mencoba menenangkan dirinya dengan berjalan-jalan di halaman belakang.
Halaman belakang rumah pamannya itu dipenuhi dengan aneka pohon buah yang rimbun dan tertata rapi.
Sedangkan di ujungnya, terdapat kolam ikan yang cukup besar. Alex tidak memelihara ikan hias, ia lebih memilih memelihara ikan yang dapat dikonsumsi. Jadilah kolamnya berisi ikan gurami, patin dan nila.
Marissa pun memilih untuk bersantai di pinggir kolam. Menikmati suara gemericik air dan ikan yang berenang dengan irama yang sama.
Dari kejauhan, Mario telah memperhatikan putrinya. Ia pun menunggu saat yang tepat untuk mendekatinya.
Setelah dilihatnya tidak ada siapapun selain putrinya, Mario pun berjalan mendekati Marissa.
Rasa gemuruh di dalam dadanya, hampir membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui Marissa.
Tetapi, ia tetap memberanikan dirinya, menanggung resiko akan apa yang terjadi selanjutnya, itu tidak menjadi masalah untuknya.
Marissa tiba-tiba menengok ke arahnya, yang hanya 2 langkah sebelum ia berdiri sejajar dengan posisi putrinya.
Marissa pun berdiri, wajahnya bertanya-tanya, siapakah gerangan pria yang mendekatinya.
"Cha, apa kabar??" sapa Mario dengan suara bergetar, ingin rasa hati untuk memeluk putri tersayangnya itu, tetapi ia harus perlahan, agar tidak membuat Marissa ketakutan.
"Alhamdulillah, baik. Maaf, Bapak siapa, yaa??" tanya Marissa.
Suara Mario pun tercekat, ia tahu pertanyaan itu pasti akan dilontarkan putrinya, ia pun telah mempersiapkan jawabannya, tetapi setelah bertemu dan mendengarkan langsung pertanyaan itu, semua jawabannya yang telah ia siapkan, hilang sudah.
Mario pun membersihkan tenggorokannya, sebelum menjawab pertanyaan Marissa.
"Menurut kamu, saya siapa?? apakah wajah ini tidak mengingatkanmu pada seseorang yang dulunya dekat denganmu??" tanya balik Mario.
Marissa pun terdiam, ia pun memperhatikan penampilan Mario dari ujung kepala hingga kaki.
Jantungnya tiba-tiba bergemuruh, ia tidak berani mengucapkan nama orang yang ia pikirkan saat ini.
Air matanya mulai mengalir dalam diam, Marissa pun menutup mulutnya yang tak sanggup mengucapkan sepatah kata apapun.
Mario pun merasakan hal yang sama, ia pun memberanikan diri mendekat lagi untuk memeluk putrinya yang telah lama ia rindukan.
Mario pun berusaha memeluk Marissa, tetapi Marissa menolaknya, ia mendorong tubuh ayahnya, rasa marahnya tidak dapat mengalahkan rasa rindu akan sosok ayahnya.
"Cha, maafkan Ayah, maafkan Ayah, kamu boleh membenci Ayah, kamu berhak melakukannya, Ayah tidak marah, Ayah tahu Ayah telah berbuat kesalahan yang tidak dapat dimaafkan," ucap Mario dan keduanya pun menangis.
Mario akhirnya berhasil memeluk tubuh Marissa yang bergetar, marah dan rindu menjadi satu.
__ADS_1
Marissa tidak membalas pelukan ayahnya, sebaliknya ia malah memukuli dada ayahnya untuk melepaskan kemarahannya.
"Lepaskan semua, Cha, lepaskan saja semua kemarahanmu pada Ayah. Ayah berhak mendapatkan kemarahanmu, Ayah terima semuanya, pukul Ayah lebih keras, Ayah tidak apa-apa," ucap Mario disela-sela tangis harunya.
Marissa masih memukuli dada ayahnya dengan kekuatan yang tersisa, hingga akhirnya ia pun kelelahan, kakinya pun mendadak lemas.
Mario pun memapah Marissa menuju bangku taman.
Alex memandang pertemuan yang telah lama ia nantikan itu pun dengan berderai air mata.
Marissa akhirnya memeluk erat tubuh ayahnya yang sangat ia rindukan, dengan sejuta pertanyaan yang tersimpan di hatinya.
Mario pun memeluk erat sambil mengelus-elus punggung Marissa.
"Maafkan, maafkan Ayah ya, Cha. Maafkan Ayah yang telah meninggalkanmu dan ibumu. Maafkan Ayah yang telah menjadi penyebab kematian ibumu. Maafkan Ayah yang hanya dapat melihatmu dan menjagamu dari jauh, maafkan Ayah, yaa Cha," ucap Mario dalam isak tangisnya.
Marissa tidak dapat menjawab, suaranya tercekat. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
Marissa pun memeluk lebih erat lagi, kepada sosok yang sangat ia rindukan selama ini. Sosok yang membuat dirinya memiliki orang tua kembali.
Setelah beberapa saat, akhirnya keduanya pun melepaskan pelukan mereka.
"Coba lihat Ayah, Ayah ingin melihat wajahmu, Cha," ucap Mario sambil memegang wajah Marissa.
Marissa pun mengarahkan wajahnya ke Mario.
"Genetik itu memang indah, Yah," jawab Marissa yang membuat keduanya tertawa.
"Cha, selamat yaa. Ayah bahagia mendengar kamu akan menikah," ucap Mario yang masih tetap memeluk putrinya dari samping.
"Berarti, Ayah yang akan menyerahkan aku pada saat akad nanti??" tanya Marissa.
"In syaaAllah," jawab Mario.
"Ayah ingat akan Jovan dan keluarganya, Ayah rela menjadi sasaran kemarahan mereka nanti," tambah Mario.
Marissa pun melepaskan pelukannya.
"Yah, kenapa Ayah tidak menemui mereka sekarang, agar tidak membuat kegaduhan dan pertanyaan nantinya??" tanya Marissa.
"Menurut kamu, sebaiknya kapan??" Mario pun balik bertanya.
"Bagaimana kalau malam ini, aku undang keluarga Bang Jovan untuk makan malam disini?? gimana, Yah??" usul Marissa.
"Kita tanyakan om Alex dulu, bagaimana pun juga dia pemilik rumah ini," jawab Mario.
__ADS_1
Alex pun menghampiri,
"Tanya apa, Mas??"
"Icha mau mengundang keluarga Jovan untuk makan malam," jawab Mario.
"Tonight??"
"Yaa kalau bisa, Om. Gimana, Om??" tanya Marissa.
"Sure, no problem. Nanti Om siapkan semuanya, kamu hubungi Jovan sekarang, agar ia bersiap," jawab Alex.
"Aaagh, rasanya seperti mau menghadapi serbuan pukulan dan tendangan dari pasukan penjaga Icha," ucap Mario sambil memegangi dadanya.
"Kok gitu, memangnya kenapa, Yah??" tanya Marissa.
"Mereka pasti akan sangat marah, pasti!! Mereka adalah orang terdekat ibumu selain Mas Aryo. Aaarggh, ayah juga harus menghadapi pakdemu!! Lex, sembunyikan aku lagi deh!!" ucap Mario yang membuat Alex dan Marissa menggelengkan kepalanya.
"Ayah ternyata pengecut, menghadapi pakde Aryo saja tidak berani. Yah, berani berbuat harus berani bertanggungjawab, take your risk and responsibility of what you've done, that's a gentleman!!" ucap Marissa berapi-api.
Mario pun kembali memeluk putrinya itu dengan penuh rasa haru dan bangga.
"I'm proud of you, ternyata kamu telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cerdas. Don't you worry, Ayah akan menemui pakde Aryo dan keluarga Jovan. Oiya, kapan pakde Aryo akan datang??" tanya Mario.
"In syaa Allah, sehari sebelum akad, Yah," jawab Marissa.
"Kamu minta agar pakdemu datang lebih awal, karena ayah harus bertemu lebih dulu. Butuh waktu untuk menjelaskan semua masalah kepada pakdemu," ucap Mario.
"Iya, Yah. InsyaaAllah aku akan segera hubungi pakde," jawab Marissa.
Keduanya pun mulai bertukar cerita akan kehidupan mereka. Mario pun menjelaskan detail permasalahan yang membuat dirinya harus bersembunyi selama 5 tahun.
"Yah, perempuan itu bisa dipenjarakan lho, Yah!! " ucap Marissa penuh emosi.
"Betul, tetapi sayangnya supir angkot itu tidak pernah mengakui jika ia adalah suruhan ibu tirimu dan tidak ada bukti fisik jika ia telah menerima imbalan dari kejahatannya. Cara kerjanya sangatlah rapi," jelas Mario.
"Lalu, bagaimana Ayah bisa memalsukan kematian Ayah?? bagaimana dengan para investor?? jika tiba-tiba Ayah muncul, bukannya akan merusak kredibilitas dari Sofyan Corporation??" tanya Marissa lagi.
"Lex, kamu dengar?? putriku ternyata sangat cerdas, ia sangat pandai sehingga dapat berfikir taktis," ucap Mario bangga.
"Nanti ayahmu akan didampingi oleh pengacara dan dikuatkan dengan surat dari kepolisian, atas ancaman pembunuhan berencana," jelas Alex.
"Tenang, Cha. Ayah dan Om Alex telah menyusun rencana untuk kemunculan Ayah, setelah 5 tahun diberitakan meninggal dunia," tambah Mario.
"Di hari pernikahanmu nanti, akan dijaga oleh beberapa polisi menyamar, yang akan menjamin keamanan Ayahmu, walaupun kemungkinan akan terjadinya penyerangan terang-terangan sangat kecil. Tetapi bisa saja terjadi, jika ibu tirimu tiba-tiba mengetahui ayahmu masih hidup," jelas Alex.
__ADS_1
"Dia punya masalah apa sama Ayah sih?? kan dia yang salah, kok dia yang jahat??"
"Yaa, karena cemburu, dia cemburu akan ibumu, karena memang Ayah tidak pernah mencintainya, Ayah menikahinya dengan terpaksa. Selama menikah, ia banyak merendahkan dan menghina Ayah, bagaimana mungkin Ayah bisa mencintai wanita yang tidak berakhlaq seperti itu?? Itulah kesalahan terbesar Ayah, yang dibutakan oleh dunia dengan menyingkirkan surga yang sesungguhnya," jawab Mario.