
Menjelang dzuhur, Marissa dengan dibantu oleh ARTnya, telah menyelesaikan hidangan untuk makan siang bersama keluarga Aryo.
Jovan pun mempersiapkan dirinya untuk bertemu Aryo, pria yang telah membesarkan Marissa sejak kematian Riska.
Pria yang telah berhasil membesarkan Marissa menjadi seorang wanita yang kuat dan tangguh dalam menghadapi kehidupannya yang keras.
Sesaat setelah Dzuhur, Marissa memerintahkan supir pribadinya untuk menjemput Aryo dan keluarganya di hotel.
Kegugupannya terlihat jelas, ketika menunggu kedatangan Aryo. Jovan pun tak tinggal diam begitu saja, ia pun mengajak Marissa untuk bersantai sejenak dengan berjalan-jalan mengitari halaman belakang rumahnya.
"Yang, Pakde Aryo itu orangnya seperti apa sih?? trus ada berapa jumlah anggota keluarganya??" tanya Jovan.
"Hmmm Pakde itu orangnya tegas, karakternya ga jauh berbeda dari ayah. Cuma kalau ayah lebih keras sedangkan pakde lebih lembut, merangkul dan mengayomi. Waktu aku datang ke rumah pakde, jumlah anggota keluarganya cuma 3 orang, pakde Aryo, bude Ainun sama mbak Ana. Setelah 3 tahun aku disana, akhirnya bude Ainun hamil dan melahirkan bayi laki-laki, namanya Azka, jaraknya lumayan jauh dari mbak Ana, kalau ga salah sekitar 16 tahun," jawab Marissa.
"Berarti Sayang punya kakak sepupu yang usianya jauh lebih muda??" tanya Jovan.
"Iya, mas Azka sama aku terpaut 13 tahun," jawab Marissa.
"Mbak Ana menikah 3 tahun yang lalu, sedangkan sekarang mas Azka baru kelas 5 SD," lanjut Marissa.
Jovan pun mendelikkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kenapa kaget?? Abang sama Bang Jordan, usianya juga terpaut jauh, hmmm berapa tahun sih Bang??" tanya Marissa.
"7 tahun, Bang Jordan sekarang 34 tahun," jawab Jovan.
"Masih normal, karena sebelum Abang ada Bang Josie. Bang Josie 4 tahun lebih tua dari Abang," lanjut Jovan.
Jovan lalu berpindah posisi menghadap ke arah Marissa, kemudian melingkarkan kedua tangan Marissa ke lehernya, yang tentu saja membuat dirinya harus sedikit membungkukkan badannya.
"Yang, nanti pada saat bertemu dengan Pakde ceritakan semua yang Sayang bisa, pelan-pelan saja. Jika Pakde tiba-tiba emosi, itu wajar. Kita berdua sudah melihat bagaimana reaksi ayah ketika mengetahui ayah Sayang masih hidup, Abang rasa reaksi Pakde juga tidak akan jauh berbeda. Coba kita bayangkan saja, selama ini cerita yang kita ketahui adalah A tetapi pada kenyataannya yang terjadi ternyata Z, otomatis akan terjadi kesalahpahaman, jika tidak diceritakan dengan benar. Jadi jangan terpancing emosi ketika Pakde meragukan, Sayang. In syaa Allah Abang akan selalu di sisi Sayang, oke??" ucap Jovan yang disambut dengan anggukan kepala Marissa.
"It's great to be halal," lanjut Jovan sambil mengedipkan satu matanya
__ADS_1
Marissa pun menjawab dengan menganggukkan kepalanya dan memberikan kecupan hangat di bibir suaminya itu.
"Bang, Abang jangan terlalu maju," ucap Marissa yang kembali membuat Jovan bingung.
"Another random sentence from Icha??" tanya Jovan.
"Iya, Abang jangan terlalu maju, nanti gantengnya kelewatan," canda Marissa yang membuat dirinya tertawa.
Jovan pun tanpa menunggu lagi, kembali melanjutkan aksinya pada bibir Marissa.
Faisal dan Adam yang tetap mengawasi Jovan dan Marissa dari kejauhan pun memalingkan wajah mereka berulang kali disebabkan aksi Jovan tersebut.
Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 12.30 siang, meja makan telah tertata rapi dengan aneka hidangan yang menggugah selera.
Para pengawal pribadi tetap siaga dengan penjagaan mereka, sambil menunggu kedatangan keluarga Aryo.
Tak lama, mobil SUV buatan Jepang berwarna hitam berhenti di depan rumah Jovan.
Jovan pun mengajak Marissa untuk menyambut kedatangan keluarga Aryo di teras depan rumahnya.
Marissa pun memberikan sambutan terhangatnya kepada keluarga yang telah merawat dan membesarkannya selama belasan tahun.
Pelukan hangat dari Ainun dan Ana, membasahi rasa yang ada.
"Ya Allah, Bude kangen karo koe, nduk," ucap Ainun kepada Marissa.
"Nunsewu, Bude. Aku lama ga pulang," jawab Marissa.
"Ga papa, sing penting kamu sehat. Bude sama pakde paham, kok. Kesibukan kamu pasti sangat menyita waktumu," ucap Ainun.
"Iki??" tanya Ainun akan Jovan yang berdiri mendampingi Marissa.
"Kita masuk dulu, yuk," ucap Marissa tanpa menjawab pertanyaan dari Ainun.
__ADS_1
Marissa kemudian mengajak keluarga Aryo menuju ruang keluarga.
Keluarga Aryo pun takjub dengan desain rumah Jovan, yang simple tetapi tidak menghilangkan kesan mewah pada interiornya.
"Monggo Pakde, Bude," ucap Marissa dengan gesture mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Nunsewu, saya langsung saja, nggih. Pakde, Bude, ini Bang Jovan, suami Icha dan ini orang tua Bang Jovan, ayah Jorrian dan bunda Jovanka," ucap Marissa yang tentu saja mendapat tanggapan tidak percaya dari keluarga Aryo.
"Suami?? suami sejak kapan?? laa wong diundangannya saja baru besok akad nikahnya, kok suami??!!" ucap Aryo sedikit emosi.
"Nunsewu Pakde, tapi Icha sudah akad nikah dengan Bang Jovan, beberapa hari yang lalu, karena ada sesuatu hal yang membuat akadnya dipercepat. Nunsewu, Pakde dan Bude, bisa mrisani video ini," jawab Marissa sambil memperlihatkan video akad nikahnya.
Sesaat kemudian, Aryo kembali emosi setelah melihat Mario pada video tersebut.
Marissa yang telah mempersiapkan kemungkinan hal ini terjadi, segera meminta Jovan menutar video rekaman dimana tim pengacara Mario menjelaskan permasalahannya.
"Pakde, tolong tenang dulu, aku juga baru tahu kalau ayah masih hidup 3 hari yang lalu. Di hari yang sama dengan kejadian tadi dan di malam itu juga kami menikah, " jelas Marissa.
"Maaf Pakde, saya coba membantu Icha untuk menjelaskannya, seperti yang kita baru lihat bersama, baik dari tim pengacara maupun kepolisian telah menjelaskan alasan dibalik menghilangnya ayah. Jujur saja, pada malam itu pikiran saya tidak karuan, saya bingung, tetapi ada satu hal yang pasti, saya ingin melindungi dan menjaga Icha, terlebih dengan adanya ancaman ini. Maka dari itu saya memutuskan untuk mempercepat akad yang kami sepakati diadakan pada malam itu juga," ucap Jovan.
"Aku tahu, Pakde pasti marah, tapi aku tidak punya pilihan. Walaupun aku dijaga dengan pengawalan berlapis, tapi aku merasa tetap sendirian, jadi aku menyetujui saran itu," tambah Marissa.
Aryo sebenarnya tidak mempermasalahkan akad antara Marissa dan Jovan yang dilangsungkan beberapa hari sebelum jadwal yang tertera pada undangan, tetapi mengapa Mario membuat adiknya, sengsara sedangkan ia sendiri juga tidak bahagia.
"Pakde mau bicara empat mata dengan ayahmu, tolong kamu atur. Terserah dimana tempatnya, tapi pakde ingin bicara," ucap Aryo.
Marissa pun segera menghubungi Mario yang saat itu masih berada di rumahnya.
"Yah, pakde mau bicara empat mata dengan Ayah. Kapan Ayah bisa ketemu Pakde??" tanya Marissa.
"Sore nanti di hotel, di kamar yang sudah kita booking, ayah tunggu kedatangan kalian siang ini," jawab singkat Mario.
Setelah menutup sambungan teleponnya, Marissa segera memberitahukannya kepada Aryo.
__ADS_1
"Pakde, siang ini kami semua akan check-in di hotel. Ayah bilang, sore nanti ayah akan tunggu Pakde di kamar president suite," ucap Marissa.