
Hai...hai....Arini dan Radit kembali menyapa, kangen nggak sih sama mereka....😍😍
Yuk lanjut aja ke Bonchapt yang pertama, jangan lupa like, coment&votenya juga ya😆
❤❤❤
Dua bulan Kemudian.....
"Sayang...." Arini menusuk-nusuk pipi Radit dengan telunjuknya.
Radit mengerjap dan mengubah posisi tidurnya hingga terlentang.
"Sayang.... ayo bangun." Arini mengusap lengan Radit perlahan.
"Lima menit lagi." Menjawab dengan mata yang masih terpejam.
Arini menghela nafasnya, kemudian membiarkan Radit memejamkan matanya untuk beberapa menit lagi.
Niat yang tadinya akan beranjak meninggalkan Radit, tubuhnya malah terjerambat dengan tarikan di pergelangan tangannya.
"Mas lepasin." Mengerak-gerakan bahunya agar Radit melepaskan pelukannya.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Radit dengan menyerukan kepala di leher Arini
"Aku mau siapin baju buat Mas."
"Nanti aja."
Radit mengukung Arini untuk masuk kedalam selimut bersama dengan tubuhnya yang masih telanjang setelah pertempuran mereka tadi malam.
"Mas mau ngapain ih."
"Aku mau kamu." Sambil menciumi leher Arini.
Arini menjauhkan lehernya," Kan tadi malem udah."
"Itu tadi malam sekarang kan udah pagi."
"Ih tadi malam kan udah dua kali."
"Itu baru dua, kamu masih punya hutang lima kali lagi."
Arini mengerutkan keningnya," Gimana ceritanya bisa jadi hutang?"
"Datang bulan yang dua minggu kemarin kan belum dibayar, jadi aku mau tagih itu sekarang." Jawab Radit dengan tersenyum.
"Ih itu kan diluar kuasa aku Mas, kalau mau protes ya....ummm..."
Radit langsung membungkam mulut Arini dengan bibirnya, menyibak bagian bawah rok dan menarik paksa segitiga pengaman yang menghalanginya.
Kini jari tangannya pun bisa bebas menari-nari dibawah gundukan berawa dan berhutan lebat milik Arini. Hingga desahan dari bibir Arini pun tidak bisa terelakan lagi. Feroplay yang diberikan Radit disetiap inci tubuhnya, selalu berhasil membuat tubuhnya bergelinjang.
Pergumulan hebat dua puluh menit dipagi hari, membuat tubuh Arini lelah hingga meringkuk degan belitan tangan Radit diperutnya. Radit mengusap-ngusap perut Arini dengan lembut. Lalu mencium punggung Arini yang basah dengan keringat yang sudah bercampur dengannya.
"Sayang...."
"Heemm....?" Jawab Arini dengan mata terpejam.
"Kamu capek?"
Arini menganggukan kepalanya, lalu memutar badannya menghadap Radit.
"Mas...,"Arini menyimpan tangannya di pipi Radit,".... Kok aku nggak ada tanda-tanda mau hamil ya?"
Radit tersenyum seraya menyeka kening Arini yang basah," Memangnya kenapa?"
"Nggak papa, cuma tanya aja."
__ADS_1
"Itu tandanya kita harus lebih usaha lagi, apalagi di pagi hari kayak gini, itu lagi bagus dan kuat-kuatnya loh."
"Ih mulai deh keluar mesumnya." Jawab Arini dengan memukul dada Radit.
"Mesum sama Istri sendiri kan nggak papa."
"Genit."
"Ih beneran sayang, kok nggak percaya sih. Kamu lupa kalau suami mu ini Dokter?"
Arini menengadahkan wajahnya," Emang bener kayak gitu?"
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama Ibu, kalau nanti berkunjung lagi kesini."
"Ya malu lah, masa tanya begituan sama Ibu." Dengus Arini.
Radit terkikik, jangankan Arini dia yang anaknya sendiri aja nggak bakalan berani tanya hal seperti itu kepada Ibunya.
Arini bangun dengan menarik selimut hingga batas dadanya.
"Mau kemana?" Tanya Radit.
"Mau mandi."
Radit ikut bangun dan tanpa rasa malu berdiri lebih dulu dengan tidak memakai apapun ditubuhnya.
"Mas mau ngapain?" Tanya arini yang baru berdiri membelitkan selimut ditubuhnya.
"Mau mandi sama kamu." dengan tangan langsung memangku Arini dengan posisi kepala berada dibawah, hingga Arini memekik ketakutan.
"Mas lepasin, aku takut jatuh."
"Tenang aja,kamu nggak bakalan jatuh sayang." Jawab Radit dengan santainya.
Acara mandi bersama yang diselingi drama penuh percintaan kembali lagi terjadi di kamar mandi, seakan tak pernah ada habisnya.
******
Mereka berjalan menuruni tangga dengan tangan yang terus berpegangan, selalu saja romantis.
"Pagi jagoan Ayah." Sapa Radit setelah tiba di meja makan, menyapa Nuno yang sedang asyik menyantap sarapannya.
"Pagi juga Yah..."
"Mas mau sarapan apa, nasi goreng atau roti tawar?" Tanya Arini.
"Nasi goreng aja kayak Nuno."
"Bunda mandi lagi ya?" Tanya Nuno tiba-tiba karena melihat rambut Arini yang kembali basah.
Simbok yang sedang membantu menuangkan air, sedikit tersenyum karena mendengar pertanyaan polos dari Nuno.
Arini melihat Radit, dan hanya mendapat sebuah senyuman darinya," Iya sayang."
"Emang kenapa mandi lagi, emang Bunda habis ngapain?"
Arini tergagap, memutar otak untuk menjawab pertanyaan Nuno.
"Bunda habis olahraga pagi." Sambar Radit seraya mengedipkan sebelah matanya kepada Arini.
"Bareng sama Ayah juga?" Tanya Nuno lagi, karena rambut Radit pun sama basahnya.
Lagi-lagi Simbok tersenyum, kemudian buru-buru undur diri sebelum membuat Nona mudanya bertambah malu.
"Iya dong, kalau nggak sama Ayah Bunda mana bisa.... aduh." Yang seketika itu juga Radit mengaduh karena mendapat cubitan dipinggangnya.
"Mas...." Arini memelototkan matanya.
"Kenapa Bunda marahin Ayah, emang Ayah salah ya?"
"Nanti telat sayang, jangan ngobrol terus, ayo cepet makan."
__ADS_1
"Bentar Bun satu lagi."
"Apa lagi?"
"Emang di kamar Bunda kayak di Rumah Sakit....jadi banyak nyamuk. Soalnya sekarang leher Bunda sering merah-merah gitu."
"Haah.... ah... ini...," Arini meraba lehernya,"... Iya sayang, nyamuknya jahat-jahat suka ngisep darah kayak drakula." Sambil melirikan matanya kearah Radit.
Radit membelalakan matanya, sekarang dirinya tak ubahnya Drakula seperti yang diperumpakan Arini.
"Ih serem... untung kamar Nuno nggak ada nyamuk kayak drakula."
"Nyamuk drakulanya cuma ada dikamar Ayah sama Bunda aja sayang, kalau kamar Nuno dijamin aman." Radit menimpali.
"Kok bisa gitu yah?"
"Itu karena nyamuknya suka sama bunda, betah kalau deket-deket sama Bunda."
"Emang ada nyamuk kayak gitu, kok aneh ya?"
"Ayah juga aneh, kenapa itu nyamuk suka banget deket-deket sama Bunda, mungkin karena Bunda cantik kali ya?" Jawab Radit dengan serius, seakan jawabannya itu memang benar adanya.
Seketika Nuno diam, meragukan jawaban Radit, namun tak lama berselang Nuno mengangguk-anggukan kepalanya," Ayah emang pinter.... itu emang karena Bundanya cantik."
Mereka berdua melakukan tos, meyakini penelitian tentang nyamuk ini memang benar seperti itu.
Arini menggelengkan kepalanya, dua pria didepannya ini selalu saja membuatnya tertawa.
"Udah ngebahas nyamuknya.... sekarang cepet habisin sarapannya, nanti terlambat."
"Siap Mom." Jawab Nuno dan Radit, selalu saja kompak kalau sudah seperti ini.
"Aa...." Radit menyendokan nasi kemulut Arini. Kebiasan baru Radit yang tidak pernah terlewatkan. Mengawali makan dengan memberikan suapan pertamanya untuk Arini dan selalu seperti itu.
"Sayang kamu nggak sarapan?" Tanya Radit karena Arini hanya meminum segelas air putih saja.
"Nanti aja Mas, belum laper."
"Atau kamu mau makan sesuatu, biar nanti pulang aku bawain."
"Nggak Mas, aku nggak mau apa-apa."
"Kalau mau makan sesuatu kabarin aja ya, nanti aku bawain."
"Iya sayang."
"Nuno udah selesai sarapannya?" Tanya Radit.
"Udah Yah."
"Kita berangkat sekarang?"
"Yuk." Meraih tas gendong dan berjalan keluar lebih dulu untuk memakai sepatunya.
"Mas nanti aku mau belanja bulanan, Mas mau dibawain makan siang apa, biar nanti aku bawain sekalian mampir."
"Aku mau makan kamu aja." Sambil mencium pipi Arini.
"Ih serius Mas, kok malah bercanda."
Radit tertawa," Apa aja aku suka, yang penting kamu yang bawain."
Arini tersenyum, kata-kata Radit selalu saja membuatnya berbunga-bunga.
Arini mengantarkan Radit hingga kedepan halaman, mencium punggung tangan Radit dengan tak lupa sebuah kecupan mendarat dikeningnya. Sweet moment yang selalu dia dapatkan setiap pagi.
............................................................
............................................................
.....................................Bersambung.......
__ADS_1