Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Ia Masih Ada (BonChapt)


__ADS_3

...........................................................


...........................................................


...........................................................


Kaki sudah tak mampu menopang berat badannya saat ini, tenggorokan yang semakin tercekat, penglihatan yang semakin buram tak lepas dari blankar yang tertutup kain putih itu.


Radit menegarkan hati, dia yakin itu bukan Arini, itu bukan dia, Arini tidak akan pernah meninggalkannya, tidak akan pernah, jerit hati Radit yang menganga lebar terasa perih.


"Tuan..."


Panggilan seseorang membuatnya sadar dari dunia khayal yang membawanya larut dalam kesedihan.


Dengan air mata bercucuran Radit menoleh, ternyata Pak Satpam dirumahnya.


"Tuan sudah datang."


Radit langsung menguncang bahu Pak Satpam," Mana Arini... mana dia?"


Pak Satpam diam, ia seakan sulit untuk berkata-kata.


"Katakan dimana dia?" Sentak Radit yang membuat Pak Satpam berjinjit karena untuk pertama kalinya ia mendapat bentakan dari Radit.


"Non Arini... beliau sudah..."


"Sudah...sudah apa?" Potong Radit yang semakin berkecamuk ketakutan.


"Sudah dipindahkan ke ruang perawatan... Nona masih belum sadarkan diri Tuan." Tuturnya tanpa berani melihat wajah Radit yang seperti akan menelannya hidup-hidup.


Radit merosot hingga terduduk dibawah lantai, menangis tergugu karena ternyata Arini masih ada menunggu dirinya.


"Tuan... tuan baik-baik saja?"


Pak Satpam berjongkok," Tuan kenapa bisa luka-luka seperti ini, apa yang terjadi dengan Tuan?"


Radit menggelengkan kepalanya, kemudian Pak Satpam membantu Radit berdiri.


"Saya baru mengantarkan baju ganti untuk Non Arini." Ujarnya lagi.


"Bawa saya keruangan Arini, Pak." Ucapnya dengan nada sedikit lebih tenang.


"Iya Tuan."


Sakit di kaki abai dia rasakan, terus berjalan tertatih menuju kamar dimana sekarang Arini berada.


Dari kejauhan Radit melihat Aditya sedang berbicara dengan seorang Dokter yang baru keluar dari sebuah ruangan, dan pastinya itu adalah kamarnya Arini.


"Dokter bagaimana dengan Arini, apa bayinya bisa diselamatkan, dia baik-baik saja kan?"


"Mas suaminya Ibu Arini?" Tanya Dokter itu.


"Saya...." Belum selesai Aditya menjawab, Radit langsung berseru dengan semakin mempercepat langkahnya walau harus terpincang-pincang menahan sakit dikakinya.


"Saya suaminya Dokter.... bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Radit tanpa basa-basi setelah hendak sampai didekat mereka.


Aditya dan Dokter itu menoleh, terperangah melihat keadaan Radit yang sangat berantakan dengan kondisi luka dan baju yang sobek dan juga kotor.

__ADS_1


"Dokter Radit.... kenapa anda ada disini?" Tanya Dokter itu yang ternyata sangat mengenal Radit.


Radit mengabaikan pertanyaan Dokter itu, dan malah kembali mengulangi pertanyaannya.


"Bagaimana keadaan istri saya?"


"Jadi Ibu Arini itu istri anda... saya kira..." Dokter itu melihat Aditya yang ada didepannya, hingga Raditpun melihat kearahnya.


"Iya, Arini istri saya...," Ucap Radit lagi,"... bagaimana dia, apakah istri saya baik-baik saja... bagaimana dengan kandungannya... mereka baik-baik saja kan, Dok?"


Dokter itu menghela nafas?" Keadaan istri Dokter masih sangat lemah, tapi untungnya janin dalam kandungannya masih dapat diselamatkan. Tapi saya tidak bisa jamin itu seratus persen, nanti kita bisa lihat perkembangannya dua sampai tiga hari. Kalau misalkan janinnya tidak bisa berkembang, maka terpaksa Ibu Arini harus menjalani Curet."


"Sebaiknya Ibu Arini dipindahkan ke Rumah Sakit, karena pengobatan diklinik ini sangatlah terbatas. Ibu Arini memerlukan fasilitas dan obat-obatan yang lebih baik, agar ia bisa kembali pulih." Tuturnya lagi.


Radit tidak bisa berkata-kata, ini seperti pukulan terberat dalam sejarah hidupnya. Anak yang selama ini dia nantikan, masih dalam tanda tanya besar, apa ia bisa bertahan atau malah sebaliknya.


"Dokter Radit yang sabar, banyaklah berdoa, semoga istri Dokter bisa kuat mempertahankan kandungannya. Sekarang Ibu Arini membutuhkan dukungan moril dari anda. Mudah-mudahan dengan kehadiran Dokter sekarang, Ibu Arini dapat segera sadar."


Radit mengangguk paham," Saya ingin menemuinya sekarang."


"Silahkan Dokter.... kalau begitu saya pamit undur diri."


Dokter itu pergi meninggalkan mereka. Radit dan Aditya saling melempar pandangan, mata keduanya saling tersirat api kecemasan.


Radit melihat kemeja putih Aditya yang terkena banyak noda darah, dan Aditya melihat luka dikening Radit yang sudah mulai mengering dengan luka lebam disekelilingnya.


"Terima kasih sudah menolong Arini." Ucap Radit.


Aditya menganggukan kepalanya, tak bicara sepatah katapun untuk menjawab ucapan terima kasih dari Radit.


Radit memegang handle pintu untuk membukanya, namun ia kembali menoleh.


Aditya yang semula menunduk, kembali menarik wajahnya.


"Tidak.... saya disini saja, dia lebih membutuhkanmu."


Radit kembali membuka pintu dengan lebar, sekarang ia bisa melihat Arini dengan selang oksigen yang menempel dihidung dan juga selang infus ditangannya.


Dengan langkah pelan ia masuk. Air matanya kembali menetes. Berjalan mendekati blankar dimana Arini sedang tergolek tak berdaya.


Menahan sesak didada, Radit mencium kening Arini sangat lama. Kemudian ia duduk dengan meraih tangan Arini dalam genggamannya.


Tangan yang selalu hangat membelainya, kini sangat dingin terkulai lemah. Wajah yang selalu merona, kini sudah pucat pasi tak berdarah. Matanya yang selalu berbinar penuh cinta, kini rapat terpejam. Dan bibir yang selalu tersenyum dan menyapanya dengan mesra, kini mengatup dan membungkam.


"Maafkan aku... ini semua salahku."


Bahunya berguncang seiring menangis tergugu, Radit tak bisa menahan gejolak kesedihan melihat keadaan Arini seperti ini.


"Aku akan membawamu ke Rumah Sakit kita... kamu wanita kuat, aku yakin kamu dan bayi kita akan selamat, kita akan membesarkannya bersama-sama." Ujarnya dengan suara parau.


Radit menciumi tangan Arini, menyentuh perut Arini yang tertutup selimut.


"Sayang....bantu Bunda agar tetap kuat, jangan buat Bunda kesakitan lagi." Bisik Radit seraya mengelus perut Arini.


Radit menempelkan tangan Arini dipipinya, berharap Arini bisa segera siuman dan mengatakan kalau dia baik-baik saja.


Selang beberapa menit, tangan Arini bergerak dipipinya. Radit tersentak, ia langsung berdiri menjangkau wajah Arini agar lebih dekat lagi.

__ADS_1


"Sayang..." Radit membelai rambut Arini dengan mata berkaca-kaca.


Arini mengerjapkan matanya perlahan. Menyesuaikan sinar lampu dengan matanya yang sudah lama terpejam.


"Sayang ini aku...." Ucap Radit pelan.


Arini membuka matanya lebar, masih sedikit buram. Ia kembali menutup matanya kemudian membukanya lagi.


"Mas...." Dengan suara lemah yang hampir tak terdengar Arini berucap.


Radit langsung menciumi semua bagian wajah Arini, senang bercampur haru, Arini bisa cepat sadar dan mengingatnya.


"Aku dimana?"


"Di klinik.... tadi kamu pendarahan dan pingsan."


Arini diam, mengingat kejadian tadi saat ia merasakan sakit yang sangat hebat diperutnya, dan setelah itu ia lupa segalanya.


"Bayi kita?"


"Dia baik-baik saja... aku minta maaf, kamu harus merasakan kesakitan ini sendirian."


Arini mencoba tersenyum sebagai tanda kalau aku baik-baik saja saat ini.


Dengan perlahan Arini mengumpulkan tenaga untuk menyentuh kening Radit," Mas kenapa?"


Radit menarik tangan Arini kembali dalam genggamannya," Aku tidak apa-apa hanya terjatuh saja." Kilahnya.


"Kamu istirahat lagi, jangan terlalu banyak bicara. Aku panggilkan Dokter untuk kembali memeriksamu."


Radit beranjak, ia harus menguatkan kakinya agar biasa berjalan seperti biasa, tidak ingin membuat Arini khawatir dengan keadaannya.


Namun tak urung, Arini bisa melihat semuanya," Mas..." Panggil Arini sangat pelan.


Radit kembali menoleh," Ya sayang?"


"Apa yang terjadi denganmu?" Arini berusaha menggapai tangan Radit.


Radit berbalik dan kembali duduk," Ini hanya luka kecil, sakit ini tak sebanding dengan sakit yang kamu rasakan saat ini."


Arini meneteskan air matanya," Maafkan aku... aku tidak bisa menjaga perasaanmu."


"Hei... aku tidak mau melihatmu menangis." Radit menghapus air mata Arini.


"Aku yang harusnya minta maaf, aku yang sudah membuatmu seperti ini..." Radit menjeda kata-katanya,".... aku terlalu takut kehilanganmu saat melihatmu berdua dengannya."


Air mata Radit ikut menetes,"... tapi rasa takut itu tak sebanding dengan rasa takutku saat ini... aku takut kehilanganmu dan bayi kita."


"Aku akan kuat untukmu dan bayi kita.... aku tidak akan meninggalkanmu."


Radit menyatukan keningnya dengan kening Arini," Aku sangat mencintaimu."


"Aku juga."


Keduanya tersenyum dengan berderai air mata. Radit menyentuh bibir Arini dengan bibirnya, menyecapnya dengan lembut, sedikit memberikan ******* kecil. Melepaskn kerinduan dan kelegaan hati yang selama dua hari ini menghujam jiwanya.


...........................................................

__ADS_1


...........................................................


..................................Bersambung.........


__ADS_2