
"I wanna be Mr. Marissa Shafeeya," ucap Jovan sambil memperlihatkan kotak cincin kepada Marissa yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Keheningan sesaat pun terjadi, menunggu jawaban dari Marissa.
Lalu dengan santainya, Marissa memberikan responnya.
"Kenapa Bang ?? bisa diulangi lagi??"
"Ga ada siaran ulangnya, Cha," jawab Jovan datar.
"Too bad. Sini cincinnya, ambilin dong !!" pinta Marissa.
"Ish, galak amat. Nih cincinnya !" jawab Jovan sambil mendorong kotak yang berisi cincin ke arah Marissa.
Marissa pun memakainya di jari manisnya.
"Lucu, tapi kegedean. Jariku kan imut, Bang," jawab Marissa santai.
"Besok dikecilin, kan Abang ga tahu ukuran jarinya."
Jorrian dan Jovanka kembali menggelengkan kepala mereka.
"Ini lamaran macam apa yaa??" tanya Jorrian.
"Macam anak bungsu kau buat lah!!" jawab Jovanka.
" Perfect!! sudah ku rekam semuanya. If I expose it tonight!! ... "
"Bang!!! don't you dare expose that!!" ucap Jovan kepada Jordan.
"Bang, kalau berani nyebarin videonya, lihat aja nanti!!" Marissa pun ikut mengancam.
"Lihat apa??" tanya Jordan.
"Yaa lihat aja nanti. Nanti kita lihat videonya bareng," jawab Marissa yang membuat Jovanka kembali memeluk dan mencium calon menantunya itu.
"Bang, kita bawa pulang Icha yaa. Cha, cuma kamu yang bisa ngelawan Jovan. Duh, kita tinggal disini aja deh, bareng Icha yaa. Akadnya kapan, Van??" tanya sang Bunda yang sudah tidak sabar.
"Bun, kita aja belum permisi ke keluarganya Icha, kan Bun ?"
"Speaking of keluarga, nanti wali kamu siapa Cha??" tanya Jorrian.
"Nah, aku juga ga tahu, Yah. Aku belum pernah ketemu sama ayah semenjak ibu meninggal," jawab Marissa.
"Keluarga dari ayah?? pakde, om??" tanya Jorrian lagi.
"Ga ada, mereka semua menghilang. Aku juga, ga tahu nama lengkap mereka, tahunya hanya nama panggilannya aja," jawab Marissa.
"Hmmm, trus pakai wali hakim??" tanya Jordan.
"Nanti aku minta Bian cari. WA nama lengkap ayah dan pekerjaannya, seingat kamu aja," pinta Jovan.
"Oke," jawab Marissa.
"Ada fotonya yang kamu simpan ga?" tanya Jovan lagi.
"Ga ada, Bang."
"Yowes, nanti sebisa mungkin Abang cari informasi tentang keberadaan ayah kamu," lanjut Jovan.
"Kirim datanya ke aku juga, aku punya kenalan polisi disini," ucap Jordan.
"Siapa Bang??" tanya Jovan.
"Teman SMA dulu."
"Sip, kalau begitu, kita mulai pencarian ayahnya Icha," ucap Jorrian.
__ADS_1
Setelah makan malam berakhir, keluarga Jovan dan Marissa menuju rumah Jovan di ujung Jakarta Timur.
"Besok kamu ga masuk kerja, kan??" tanya Jovan kepada Marissa.
"Iya Bang, besok off."
"Cha, malam ini kamu tidur sama Bunda yaa, Bunda masih kangen sama kamu," ajak Jovanka.
"Iya Bun, tapi Icha pulang dulu yaa, kan ga bawa baju ganti."
"Ga perlu, tadi Bian sudah beli pakaian buat kamu. Dimana, Bi?? "
"Di tas hitam depan kursi mbak Risa "
Marissa pun mengambil tas yang dimaksud dan mengeluarkan isinya.
Matanya pun terbelalak melihat isinya, yaitu satu set pakaian dalam, gamis kaos, bergo, celana panjang dan perlengkapan mandi.
"Mbak jangan su'udzon dulu, itu tadi Mila yang beli, aku kan ga mungkin tahu harus beli apa saja," jelas Bian sebelum Marissa bertanya.
"Oh, makasih ya Bi."
Jalan menuju daerah Cakung tampak padat merayap, walaupun waktu telah menunjukkan pukul 22.30.
Jessie telah tertidur bersama putrinya di kursi belakang.
Jovanka masih menggenggam erat tangan Marissa, ia tidak ingin kehilangan 'putrinya' untuk yang kedua kalinya.
"Cha, kamu ngantuk?? tidur aja, sini kepalanya ke bahu Bunda."
"Ga Bun, ga papa," jawab Marissa sungkan.
"Sudah, tidur aja. Kamu pasti capek setelah bekerja seharian, apalagi masih harus ketemu kami sampai jam segini," ucap Jovanka.
Marissa pun akhirnya tertidur di bahu Jovanka.
"Manjakan Icha sebisanya, selama kita disini. Nanti kita bicarakan lagi kedepannya bagaimana."
Satu jam kemudian, sampailah mereka di perumahan Royal Grande, Cakung.
Jovan pun memandangi rumahnya dari depan, yang tampak megah dengan halaman depan dan samping yang cukup luas.
"Nice Bro!!" ucap Jordan sambil menepuk pundak Jovan.
"Mbak, ini kuncinya," ucap Bian sambil memberikan kunci pintu rumah Jovan.
Marissa pun membuka pintu rumah Jovan yang tak berpagar.
"Assalamu'alaikum," salam Marissa.
"Wa'alaikumsalam," jawab seorang wanita dari dalam.
"Lho, ada siapa di dalam, Cha?" tanya Jovanka.
"Yuk Bun, masuk dulu," ajak Marissa.
Marissa pun memperkenalkan Bi Lastri, PRT yang akan membantu di rumah Jovan.
"Bun, ini Bi Lastri yang bantu-bantu di rumah ini," ucap Marissa.
"Bi, ini Bundanya Bang Jovan, yang punya rumah. Tuh, yang seperti bule itu," tunjuk Marissa ke arah Jovan.
"Ooiya, Neng. Ada yang perlu Bibi bawain ke dalam ga??"
"Maaf Bi, tolong buatkan teh panas aja yaa."
Beberapa saat kemudian, keluarga Jordan segera memasuki kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Jovan dan kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga, melihat ke sekeliling rumah yang tertata apik bagaikan rumah dalam majalah.
"Yah, Bunda silahkan diminum dulu tehnya. Bang, sekalian," ucap Marissa.
"Cha, kok kamu ga bilang ada ART di sini ??" tanya Jovan.
"Sebenarnya Bi Lastri belum pasti kerja disini, cuma sewaktu aku lagi ngeberesin rumah ini, ada yang nawarin ART, dia bilang bisa full atau setengah hari. Aku sih bilang, untuk sementara ini hanya butuh untuk beberapa hari aja. Paling ga, tes dulu," jawab Marissa
"Minta bayaran berapa??" tanya Jovan.
"2 juta, dia mau ngerjain semuanya, bersih-bersih, cuci baju sampai masak. Tapi aku bilang, tunggu keputusan dari Abang."
"Abang ga masalah sih. Rumah sebesar ini kalau diurus sendirian ga mungkin juga."
"Cha, ini kamu yang desain dalamnya?? semuanya??" tanya Jorrian.
"Iya, Yah," jawab Marissa.
"Ini semua?? lemari built-in??"
"Iya Yah, awalnya kan rumahnya kosong aja. Yaa lumayan ngebut bikinnya, kan cuma 2 pekan. Ini semuanya baru dipasang kemarin," jawab Marissa sambil tertawa.
"Lho?? baru kemarin?? trus yang kamu kirim foto itu??" tanya Jovan.
"Hihihi itu contoh desainnya aja, ngebut tuh tukangnya ngerjainnya. Alhamdulillah kekejar juga."
"Trus kamu kesini .... "
"Gunakan Bian sebagai mandor," jawab
Marissa sambil tertawa.
"Kasian Bian, dia mondar-mandir ngeberesin rumah," jelas Marissa.
"Pantesan dia sensi, bolak-balik bilang manajer rasa asisten, rasa mandor, ternyata ini penyebabnya," jawab Jovan.
"Yaa besok kamu bilang terima kasih, kasih bonus apalah," ucap Jorrian.
"Iya, Yah. Rencananya memang begitu."
"Yowes, hmmm kamar utama biar Bunda sama Icha yang pakai. Aku sama Ayah di kamar satunya," lanjut Jovan.
"Kalau begitu, kita ke atas sekarang," ajak Marissa.
Marissa pun menunjukkan kamar utamanya.
"Bun, ini kamarnya. Bang, mau lihat dulu ga?"
"Mau dong !!" jawab Jovan yang mengikuti Jovanka masuk ke dalam kamar utama.
"Ini tempat tidurnya sama seperti yang kamu kirim fotonya kan??" tanya Jovan.
" Iya lah Bang, ini matrasnya pokoknya mantab deh."
"Berapa harganya Cha ?" tanya Jovanka.
"50 juta, tapi aku beli pas diskon jadi cuma 25 juta, full bed set, bonus matras protector seharga 1,5 juta," jawab Marissa.
"Ini sudah termasuk bantal... "
"Iya Bang, semuanya."
"Aku kenal orang yang kerja di sana, jadi setiap ada promo besar-besaran, dia pasti kasih info ke aku," jelas Marissa setelah melihat wajah Jovan dan kedua orang tuanya keheranan.
"Makasih ya Cha, you did a great job!!" puji Jovan
"You're welcome, Bang."
__ADS_1
"Yowes, Bunda dan Icha silahkan istirahat. Bun, aku sama Ayah ke kamar satunya yaa, " ucap Jovan sambil menutup pintu kamarnya untuk privasi Marissa.