
Polisi menyamar masih mengintai kediaman orang tua Winda, hingga di malam hari, Bayu terlihat keluar sendiri dengan berjalan kaki.
2 orang polisi pun mengikutinya perlahan, sedangkan yang lain tetap berjaga di lokasi.
"Hmm mereka ngikutin, polisi kok ketahuan begini mainnya??!!" batin Bayu yang terus berjalan hanya untuk mengetahui jumlah polisi yang mengintai kediaman bos-nya.
Bayu pun mengira dia akan aman-aman saja, karena ia tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan, tetapi 3 orang polisi tiba-tiba mencegatnya dengan menodongkan senjata.
"Kamu, Bayu??" tanya salah satu polisi.
Bayu pun menganggukkan kepalanya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Kamu ikut kami, kalau kamu lari, timah panas akan meluncur mengenai kakimu!!"
"Baik, Pak," jawab Bayu gugup.
Bayu pun dibawa masuk ke dalam sebuah minivan pengintaian.
Di dalam minivan, Bayu pun diinterogasi oleh beberapa polisi dan hanya sekitar 30 menit, Bayu sudah kembali berada di dalam rumah orang tua Winda.
Keesokan paginya, aktivitas di rumah orang tua Winda tampak normal, tidak ada aktivitas yang mencurigakan, tetapi polisi masih tetap mengawasi selama Winda masih berada di sana.
Sementara itu, di kediaman Alex, 2 hari menjelang hari H, seluruh anggota keamanan telah siaga.
Koordinasi di lapangan akan dikepalai oleh Aiptu Adi, yang akan memonitor semua pergerakan dari kediaman Alex di Pondok Indah hingga hotel tempat diselenggarakannya pernikahan Marissa dan Jovan.
Sementara itu semenjak akad nikah, Marissa terlihat tidak tenang, karena kekhawatiran akan keselamatan ayahnya. Segala upaya telah Jovan lakukan untuk menenangkan Marissa, tetapi ia belum berhasil menenangkannya.
Hingga Jovan meminta izin untuk kembali ke rumahnya bersama Marissa.
"Yah, boleh tidak aku dan Icha menginap semalam di rumahku, mungkin dia bisa lebih tenang dengan tidak dikelilingi oleh tim pengawal berlapis. Aku tetap bawa pengawal pribadi, mereka semua ikut dan mereka akan memastikan rumahku aman, gimana Yah??"
"Kamu yakin bisa mengurangi ketegangan Icha??" tanya Mario.
"In syaa Allah, Yah. Minimal dia bisa beristirahat di tempat yang ia pahami seluk-beluknya, tempat yang sesuai dengan moodnya," jawab Jovan.
"Oiya, Icha yang mendesain rumah kamu, yaa??"
__ADS_1
"Iya, Yah. Semoga nanti di sana, Icha bisa lebih tenang, bisa nyoba masak lagi, yaa kegiatan harian normal yang biasa Icha kerjakan. In syaa Allah, pagi sebelum acara akad nikah di hotel, kami sudah kembali kesini," jelas Jovan.
"Baik, silahkan saja. Oiya, besok kalian langsung ke hotel saja kita langsung bertemu di sana, Faisal dan Adam sudah kamu beritahu??"
"Belum, Yah. Aku kan harus minta izin ke ayah dulu, setelah ini aku akan bilang ke mereka," jawab Jovan.
"Ayah saja yang beritahu mereka. Kamu panggil mereka masuk sekarang," perintah Mario.
"Baik, Yah," jawab Jovan yang segera keluar dari ruangan kerja Mario untuk memanggil pengawal pribadinya.
Adam, Faisal dan Silla pun memasuki ruangan kerja Mario.
"Jovan dan Icha akan menginap di rumah Jovan, hanya malam ini saja. Besok mereka langsung ke hotel. Kita tetap pada rencana, besok siang kita sudah standby di hotel. Ingat koordinasikan segala pergerakan kalian ke Jafar dan Aiptu Adi, agar ia dapat mengawasi kalian dari jauh," ucap Mario.
"Siap, laksanakan!!" jawab ketiganya dengan tegas.
Jovan yang menunggu ketiga di ruang keluarga, segera membahas rencananya.
"Malam ini kita akan menginap di rumah saya, tetapi saya ingin mampir ke Mall dulu, agar Icha bisa lebih rileks, bisa 'kan??"
"In syaa Allah bisa Mas, ke Mall mana, Mas??agar anggota kami bisa mengamankan terlebih dahulu," tanya Faisal.
Mereka pun segera berkoordinasi dengan Jafar dan Aiptu Adi mengenai rencana Jovan.
Setelah mendapat informasi dari Faisal, Aiptu Adi segera memerintahkan anak buahnya untuk mengamankan lokasi perumahan tempat tinggal Jovan dan mengirim anak buahnya untuk mengawal Jovan dan Marissa ke AEON Mall, Cakung.
"Pak, saya telah mengirimkan 5 polisi menyamar untuk mengawal putri Bapak," lapor Aiptu Adi kepada Mario.
"Terima kasih, tolong jangan sampai putri saya tahu kalau ia diikuti oleh polisi," lanjut Mario.
"In syaa Allah kami akan mengawal tanpa diketahui sedikitpun, mereka sudah biasa mengintai dengan baik," jawab Aiptu Adi.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih," ucap Mario sambil menutup sambungan teleponnya.
Rasa khawatir akan keselamatan putri dan menantunya mulai menghantui, walaupun ia tahu semua sudah ada yang mengatur, karena Allah adalah sebaik-baik sutradara. Untuk itu ia pun hanya dapat mengucapkan untaian do'a, berharap untuk keselamatan keluarga dan orang-orang disekitarnya.
Jovan dan Marissa telah siap dengan tasnya, mereka pun berpamitan terlebih dahulu kepada Mario.
__ADS_1
"Yah, Icha pergi dulu ya, Yah. Besok kita ketemu di hotel. Icha pingin cari udara segar dulu, sumpek rasanya di sini," ucap Marissa.
"Iya, Ayah paham, maafkan ayah yang menempatkanmu dalam posisi yang tidak nyaman, tetapi... ."
" Iya, aku tahu kok, Yah. Semua ini untuk keselamatan aku, aku ga papa, kok. Ayah tenang aja, aku cuma butuh refreshing aja. Hmmm beli gelato sama novel juga sudah bisa bikin aku happy," potong Marissa yang merasakan kekhawatiran ayahnya.
"Besok kita ketemu di hotel ya, Yah. Yah, besok aku mau makan steak yang paling enak," lanjut Marissa.
"Siaaap, ayah akan segera reservasi untuk makan malam terlezat khusus untuk Marissa putri ayah," ucap Mario sambil memeluk erat Marissa.
" Ehmm, aku ga, Yah??" canda Jovan.
Marissa pun melepaskan pelukan ayahnya dan memandang Jovan dengan pandangan penuh tanya.
"Aku kan juga mau ditraktir steak, kok Icha doang ?? aku kan sepaket sama Icha," canda Jovan dengan berpura-pura merengek.
"Waaaah ngeri. Yah, selamatkan aku dari laki-laki ini!! sejak kapan aku jadi paket?? jangan-jangan paket hemat lagi??!! waaah emangnya aku apaan??" balas Marissa yang membuat Mario tertawa hingga wajahnya memerah.
"Aaah, kalian berdua mau pergi tapi bikin ayah ga kepingin melihat kalian pergi. Sini peluk ayah, setelah itu silahkan bersenang-senang!!" ucap Mario sambil memeluk Marissa dan Jovan bersamaan.
Setelah beberapa saat, Jovan dan Marissa pun melepaskan pelukan mereka.
"Pergi dulu, Yah. Assalamu'alaikum," pamit keduanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario yang ikut mengantarkan hingga teras depan rumahnya.
Jovan dan Marissa pun segera menaiki kendaraan yang telah disiapkan.
"Sampai besok!! Ayah tunggu di hotel, yaa!!" ucap Mario.
"In syaa Allah, Yah!!" jawab keduanya sambil melambaikan tangannya dari jendela mobil.
Mobil SUV mewah keluaran Eropa itu pun mulai meluncur membelah kepadatan jalan ibukota.
Dari jauh, kendaraan dari kepolisian pun mulai mengikutinya.
Jafar telah memerintahkan anak buahnya untuk memasang alat pelacak di kendaraan yang ditumpangi Jovan dan Marissa, sehingga ia dapat memonitor pergerakannya dari rumah Alex.
__ADS_1
Selain mobil polisi menyamar yang mengikuti, Jafar juga tetap menugaskan anak buahnya untuk mengawal kendaraan yang ditumpangi Jovan dan Marissa.