
Mario dan Aryo berjalan berdampingan layaknya sahabat lama yang terpisah dan akhirnya bertemu kembali.
Pada awalnya, hubungan Mario dengan Aryo sebenarnya sangat baik, bahkan Aryo adalah orang yang meyakinkan kedua orang tuanya, jika Mario adalah calon suami yang tepat untuk Riska, adiknya.
Kemarahannya pun tak terelakkan ketika mengetahui Mario meninggalkan Riska, sehingga ia menutup semua akses untuk berhubungan dengan Mario.
Ini adalah kali pertamanya mereka berbicara untuk meluruskan masalah yang ada, setelah hampir 18 tahun Aryo menutup akses untuk berkomunikasi dengan Mario.
Keduanya pun kembali seperti semula, dengan Aryo yang mengesampingkan kemarahannya untuk kebahagiaan keponakan tercintanya.
Keluarga Sofyan dan Chen pun berkumpul kembali di acara makan malam bersama, dimana Mario menyewa ruangan khusus untuk acara tersebut.
Sesuai janjinya, Jordan dan keluarganya pun turut menghadiri acara istimewa adiknya.
Senyum merekah dari bibir Marissa melihat kebersamaan keluarga besarnya yang lama ia rindukan.
Rasa haru itu pun membuat Marissa menitikkan air mata bahagianya. Bibir Jovan melengkung ke atas membuat senyuman, ia pun menggenggam tangan Marissa erat, karena ia dapat merasakan kebahagiaan yang Marissa rasakan.
Sementara itu, Alex telah memerintahkan kepada Raka untuk merekam momen kebersamaan itu. Begitu juga dengan Jovan, yang meminta Adam untuk mengambil foto kebersamaan dalam acara tersebut secara candid.
"Van, nih steak yang Ayah janjikan ke kamu, it's the best steak in this hotel. Well, everyone also get the same, enjoy," ucap Mario sesaat setelah menu hidangan steak daging wagyu disajikan.
Jovan segera memotong-motong daging steak yang berada di hadapannya, ia memotong sebesar asupan ke dalam mulut. Ia memotongnya semua, tanpa satu suap pun ia nikmati. Hal itu membuat Marissa bertanya-tanya.
"Bang, kok ga dimakan??"
Jovan hanya menjawab dengan senyuman. Mendapatkan reaksi tanpa jawaban dari Jovan, membuat Marissa bersikap acuh dan kembali menikmati steaknya.
Setelah Jovan selesai memotongnya, ia pun menuangkan saos BBQ di atas daging steaknya.
Lalu, ia menukar piringnya dengan piring Marissa, yang kembali membuat Marissa memandanginya.
"Kenapa, Cha?? Abang berkilau yaa, ada sparkling something gitu yaa??" canda Jovan yang memecahkan suasana.
"Makan yang ini aja, ga pakai ribet. Yang ini, Abang makan, yaa," lanjut Jovan yang mulai menikmati makan malamnya.
"Waaaa, aku serasa berasa di sebuah adegan drakor!!! Abang pun sudah cucok marucok jadi aktor Korea," ucap Marissa yang masih tetap memandangi Jovan.
"Eeeiiit tapi jangan, ga boleh!! Baru jadi author novel aja, fansnya sudah kek snake, nambah terus!! Gimana kalau jadi aktor??!!" sahut Marissa meralat ucapan sebelumnya yang kembali memecahkan suasana.
__ADS_1
"Ahhh Ayah, jadi kembali teringat masa kecil kalian berdua, yang selalu bertengkar jika bermain bersama," ucap Jorrian yang diikuti anggukan kepala oleh Jovanka dan Jordan.
"Well, benci tapi rindu, yaa Cha??" canda Jordan sambil mengedipkan satu matanya.
"Ish, centil!!" protes Marissa sambil memanyunkan bibirnya, sehingga membuat Jordan tertawa.
"Nah, sekarang Ayah mau tanya, diantara 3 abang, mana yang paling kamu kangenin??Dulu ya Cha, bukan sekarang," tanya Jorrian.
Semua mata pun tertuju ke arah Marissa, sambil menunggu jawaban apa yang akan ia berikan.
Marissa pun tidak langsung menjawabnya, ia memainkan bola matanya dengan melirik ke atas sambil mengernyitkan dahinya.
Jovan yang tak sabar menunggu pun memberikan jawabannya dengan ekspresi centil sambil menaikturunkan alisnya.
"Akulah!! Jovan, Abang tengil yang sukanya ngerjain dan bikin Icha marah !! iyaa kaaan Chaaa?? Ngaku aja, bikin Abang GR, Cha," ucap Jovan sambil menarik dagu Marissa.
Ekspresi Marissa pun menjadi sinis, tetapi bukanlah Marissa jika tidak bisa membalas segala keisengan Jovan.
Ia pun menghadapkan badannya ke arah Jovan.
"Bang, hadap sini," pinta Marissa.
Tetapi, tiba-tiba Marissa berdiri dan meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Jovan dengan kasar, seakan-akan ia menampar Jovan.
Aksinya pun berlanjut, dengan menahan kedua telapak tangannya di pipi Jovan, kemudian ia pun mengarahkannya ke kanan dan ke kiri sambil memberikan tekanannya, kemudian berkata, "Abang ganteng memang paling memahami Icha tersayang, jawaban Abang sangat benar dan sangat NARSIS!! But it's true. It's the ugly truth."
"Handsome truth, my dear," sahut Jovan lagi.
"Bang Jordan!!! Adeknya minta dideportasi nih, Bang!!!" ucap Marissa kesal sambil mendorong kepala Jovan ke belakang.
Jovan pun kembali mencandai Marissa dengan menahan kepalanya di belakang.
"Eeee, Cha!! Ga balik nih!! Balikin dong, tanggung jawab atas perbuatanmu!!"
Marissa pun melirik tajam ke arah Jovan, lalu dengan santainya ia menjawab, "I will. Your head is under arrest!!!"
Seketika itu pun seluruh ruangan kembali penuh dengan tawa, bahkan Jordan memberikan standing applaus kepada Marissa yang dilanjutkan dengan mengangkat gelas minumannya dan berkata, "Salut!" sontak suara tawa pun semakin bergemuruh.
Para pengawal pribadi yang berusaha untuk tidak mengeluarkan emosinya pun tidak dapat menahan tawa mereka lagi.
__ADS_1
Makan malam panjang yang diisi dengan canda tawa ini pun harus berakhir, ketika waktu telah menunjukkan pukul 10.30.
Mereka semua pun kembali ke kamar mereka masing-masing dengan wajah ceria, setelah canda tawa tadi.
Sesaat setelah Jovan memasuki kamarnya, ekspresi wajahnya pun berubah menjadi serius seolah memikirkan sesuatu.
"Kenapa, Bang?" tanya Marissa sambil melepaskan jilbabnya.
"Ga papa, cuma tiba-tiba feelingnya ga enak aja," jawab Jovan sedikit cemas.
"Khawatir buat besok yaa, Bang?" tanya Marissa sambil duduk dipangkuan Jovan dan mengalungkan lengannya di leher suaminya itu.
Jovan menganggukkan kepalanya dan matanya menatap Marissa dengan tatapan yang sendu.
Ia lalu membelai kepala Marissa dan mengecup keningnya.
"I love you and always will," ucapnya sambil kemudian memeluk dan meletakkan kepalanya di bahu Marissa.
"Yang, hopefully besok tidak terjadi apa-apa, semoga semua kekhawatiran kita tidak terjadi. Acara kita sukses and everyone is happy," lanjut Jovan.
"Aaamiiinn," jawab Marissa.
Marissa mengecup kening Jovan, lalu membelai lembut pipinya.
"Bang, apa pun yang terjadi besok, Abang tetap di samping Icha, kan?"
"I will and I always do," jawab Jovan sambil mendekatkan wajah mereka berdua.
"Hidung Abang keterlaluan," ucap Marissa yang kembali membuat Jovan tersenyum dan tertawa kecil.
"Lanjut," balas Jovan.
"Mancungnya keterlaluan, kalau kita perang hidung, aku pasti kalah," canda Marissa yang membuat Jovan tertawa dan memeluk Marissa lebih erat.
"Yuk, kita perang hidung," ucap Jovan sambil menyentuhkan hidungnya ke hidung Marissa, lalu ia mulai menggerakkan kepalanya sehingga membuat Marissa tertawa.
"Perang hidung macam apa ini!!" ucapnya sambil terus tertawa.
"Yowes kalau gitu, kita perang yang lain, yaa," sahut Jovan sambil mengedipkan satu matanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lagi, mereka pun mulai beraksi.