Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Tak Sengaja Bertemu (BonChapt)


__ADS_3

Radit tak berhenti memegangi tangan Arini, tersenyum bahagia saat jabang bayi yang dilihatnya dilayar komputer USG masih terlihat buram, hanya berbentuk bulatan hitam dan sebuah titik hitam saja.


"Perkembangannya baik.... usia kandungannya baru masuk minggu ke tujuh." Tutur Dokter Reva yang merupakan Dokter kandungan di Rumah Sakit Pelita Medika.


"Selamat ya Dokter Radit,sebentar lagi anda akan menjadi Ayah."


"Terima kasih Dokter." Seraya membantu Arini untuk bangun dari tidurnya.


"Ibu Arini tidak merasakan mual atau pusing?"


Arini memandang Radit, kemudian kembali melihat Dokter Reva," Tidak Dokter."


"Tapi saya yang mual dan pusing Dok." Tambah Radit.


Dokter Reva langsung tertawa kecil," Oh jadi sekarang Dokter Radit sedang ngidam rupanya.... pantesan akhir-akhir ini Dokter terlihat pucat."


"Ya begitulah... terlalu sayang istri mungkin ya Dok." Canda Radit.


Dokter Reva dan Arini jadi tertawa dibuatnya.


"Saya hanya berikan vitamin dan penguat kandungan saja, karena usia muda seperti ini masih sangat rawan....," Seraya memberikan selembar kertas yang sudah ditulisnya,".... diminum yang teratur ya Bu, jangan sampai stress atau kelelahan."


"Iya Dokter."


"Kalau begitu kami permisi Dokter, terima kasih sebelumnya." Ucap Radit kemudian.


"Sama-sama Dokter."


Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Radit dan Arini berjalan bergandengan tangan dengan senyuman yang terus mengembang dari kedua bibir mereka.


"Mas.... pulang dari sini, aku mau ketemuan sama Gea. Temen kuliah yang aku ceritain sama kamu semalem, boleh kan?"


"Pulang dulu atau langsung?"


"Langsung aja, biar nggak bolak-balik. Lagian tempatnya nggak jauh dari sini."


"Aku anterin ya?"


"Nggak usah Mas, aku naik taxi aja. Lagian kan Mas masih kerja, aku nggak mau ganggu."


"Beneran nggak papa sendiri?"


"Iya nggak papa."


"Ya udah kalau gitu, jangan sampai kecapean ya, jaga bayi kita."


"Iya sayang."


Radit mengantarkan Arini hingga taxi online yang dipesannya datang.


Radit membungkukan badannya, mengelus perut Arini dan berbicara kepadanya.


"Jaga Bunda ya... jangan bikin Bunda kesusahan." Lalu menciumnya dan beralih mencium kening Arini.


Arini jadi tersenyum dibuatnya," Aku pergi ya Mas." Seraya mencium punggung tangan Arini.


"Iya sayang... nanti kabari aku lagi ya."


"Iya."


Semua gerak-gerik mereka tak luput dari pandangan Erika yang sedari tadi ada didalam mobilnya. Tersenyum miris.... pasangan serasi, pasangan romantis, pasangan bahagia, semuanya mereka miliki.


Fixs.... Erika membulatkan tekadnya, mulai hari ini dia harus move on, lupakan Radit, hilangkan semua perasaan untuknya, dan enyahkan semua kenangan bersamanya.


Aku pasti bisa....


Yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar ia bisa menghubungi si cowok datar yang tiada lain David, untuk bisa mengajaknya makan malam besok lusa dirumahnya.


Dia sudah stress menghadapi Papahnya yang terus menerus memaksanya untuk membawa David kerumah.


Aaaaaa..... teriak Erika, memukul-mukulkan kening ke bantalan setir.


*****


"Rin...." Gea melambaikan tangan saat melihat Arini baru saja melangkahkan kakinya masuk kedalam cafe.


Dengan membalas lambaian tangan Gea, Arini tersenyum dan berjalan mendekat.

__ADS_1


"Maaf ya aku telat, tadi habis dari Rumah Sakit dulu." Sambil menarik kursi didekat Gea.


"Siapa yang sakit?"


Arini memanyunkan bibirnya," Emang kalau ke Rumah Sakit harus ada yang sakit ya?"


"Biasanya kan gitu."


"Aku habis dari Dokter kandungan.... nih hasilnya." Memberikan amplop putih berukuran sedang.


Gea mengambil amplop itu dan membukanya,"Jadi kamu hamil?" Tanya Gea dengan mata berbinar


"Iya.... baru jalan tujuh minggu."


Gea langsung memeluk Arini," Bentar lagi ponakan aku tambah satu nih... selamet ya Rin."


Gea mengurai pelukannya," Nih aku udah pesenin minuman kesukaan kamu, mudah-mudahan masih tetep sama kayak dulu."


"Masih inget aja kamu.... thanks ya." Arini menyeruput juice avocado yang berbalut krim kental, bertabur meses dan susu coklat.


"Aku kan udah mau punya anak dua, truz kamu kapan dong nyusul aku?"


"Nyusul apa nih... nyusul hamil... ya nggak mungkin dong, punya laki aja belum."


Arini terkekeh," Maksudnya nyusul nikah, kalau hamil itu urusan belakangan."


Gea terkikik," Gimana mau nikah, calon juga nggak punya... nggak ada yang mau sama aku."


"Nggak ada yang mau atau kamunya yang nggak mau?"


Gea tertawa," Bisa aja kamu.... yang suka sih ada, tapi yang mau serius yang nggak ada.... susah lah nyari kriteria cowok idaman aku, jadinya nggak nemu-nemu deh."


"Emang kamu nyari yang kayak gimana sih?"


"Emmmh yang kayak gimana yah... pokoknya kayak...."


....Dia


Lanjut Gea dalam hati, saat melihat David berjalan masuk kedalam cafe.


"Pak David...." Gumam Gea dengan sangat pelan.


Gea langsung cengengesan," Ah bukan.... maksudnya itu, ada Pak David partner bisnis perusahaan aku."


"Pak David siapa?" Arini menengok kebelakang punggungnya.


David yang melihat kearah mereka menganggukan kepala dan tersenyum, kemudian berjalan menghampiri mereka.


"Pak David apa kabar.... lama ya tidak bertemu." Tanya Gea dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.


"Baik Nona...," Kemudian David melihat Arini,"... Nona Arini, senang bisa bertemu dengan anda disini."


"Iya kebetulan sekali ya Pak David." Jawab Arini.


"Jadi kalian sudah pada kenal?" Tanya Gea dengan melihat mereka bergantian.


"Sudah." Jawab Arini.


Jawaban Arini membuat Gea berkesimpulan, kalau selama ini Arini sudah bertemu dengan Aditya. Dan kelanjutan seterusnya dia akan menanyakannya nanti. Yang jadi pusat perhatiannya sekarang adalah David.


"Silahkan duduk Pak, gabung aja sama kita. Pak David mau minum apa, air putih, teh, kopi, juice atau minuman bersoda mungkin?"


Kening Arini berkerut, sesuatu yang aneh telah terjadi pada sahabatnya ini. Gea sangat antusia dan juga bersemangat hingga perkataannya pun tanpa jeda, tidak ada titik maupun koma.


"Tidak usah Nona Gea, saya sedang menunggu Pak Aditya dulu.... Nah itu Pak Aditya baru datang."


Arini dan Gea saling bersitatap, kemudian menoleh kearah pintu, yang mana Aditya baru saja muncul disana.


Seketika Aditya memperlambat langkahnya, melihat Arini yang sedang duduk dan melihat kearahnya.


Arini langsung membuang pandangannya, meraih gelas avocado dan meminumnya.


Gea melihat Arini, matanya seolah bertanya, kamu nggak papa???


Arini pun melihat Gea, tersenyum dan sedikit menganggukan kepalanya, menenangkan kegusaran Gea dengan pertemuan yang tidak disengaja ini.


Aditya berjalan semakin mendekat.

__ADS_1


"Halo semuanya.... kebetulan sekali kita bisa bertemu disini."


Gea dan Arini tersenyum menyambut kedatangan Aditya.


"Apa kabar Dit?" Tanya Arini dengan mengulurkan tangannya kepada Aditya, begitu juga dengan Gea.


"Baik... ternyata kalian sudah bertemu?" Tanya Aditya kepada Arini dan juga Gea.


"Iya kita nggak sengaja bertemu di apotek kemarin." Jawab Gea.


"Duduk Dit..." Lanjut Gea lagi.


Aditya melihat Arini, seperti meminta persetujuan agar memperbolehkannya ikut bergabung bersama dengannya.


"Iya Dit ayo duduk... Pak David..." Tambah Arini yang juga melihat dan mengajak David yang sedari tadi hanya berdiri saja.


"Iya terima kasih."


Aditya dan David pun duduk satu meja dengan mereka. Yang kemudian memesan dua cangkir kopi, espresso dan Ristretto.


Sejenak Aditya memperhatikan Arini yang sedang sibuk mengaduk-ngaduk minumannya. Sekarang Arini terlihat lebih cantik, badannya sedikit berisi, tidak kurus seperti saat pertama kali dia bertemu dengannya.


Ada perasaan tenang dalam hatinya, itu tandanya Arini bahagia dengan kehidupannya yang sekarang. Keputusannya sudah benar, merelakan Arini dengan pria seperti Radit, pria yang mampu membahagiakan Arini dan juga anaknya.


Gea yang tak sengaja melihat Aditya yang sedang memperhatikan Arini, segera memutuskan pandangan Aditya.


"Dit kasih selamat dong sama Arini, sebentar lagi dia mau punya debay loh."


Aditya terhenyak," Jadi kamu sedang hamil... berapa bulan?" Tanya Aditya dengan nada yang dibuat senormal mungkin, padahal perasaannya pun tidak menentu, apa dia harus senang atau sedih, diapun tidak tahu.


"Iya Dit... baru jalan tujuh minggu."


"Pasti Nuno dan Radit senang sekali ya tahu kamu lagi mengandung."


Arini tersenyum," Iya.... apalgi Nuno, dia pengen banget punya ade."


"Selamat ya, aku ikut senang."


"Makasih Dit."


Gea ikut tersenyum, ternyata Aditya dan Arini masih baik-baik saja walau mereka tidak bisa bersama. Setidaknya mereka masih bisa berteman, karena ada Nuno diantara mereka. Dan aku.... Gea melihat David yang juga sedang mengucapkan selamat kepada Arini.


Mereka berbincang kesana kemari hampir satu jam lamanya. Pembicaraan yang lebih didominasi Aditya dan Gea, sedangkan Arini dan David hanya sebagai bahan tambahannya saja.


Arini melihat jam dipergelangan tangannya, hari sudah menjelang sore, dia harus pulang sebelum Radit pulang terlebih dahulu.


"Ge... aku pulang duluan ya, ini udah mau sore, sebentar lagi Mas Radit pulang, aku juga nggak bisa hubungi dia, baterai ponselku lowbatt."


"Aku juga mau pulang kok, kamu naik taxi atau sama sopir?"


"Aku naik taxi."


"Sama kalau gitu... kita nunggu taxi bareng aja."


"Kalian pulang ke daerah mana?" Sela Aditya.


"Arini ke Juanda, kalau aku ke Sudirman." Jawab Gea.


"Kalu gitu aku antar kamu pulang ya Rin, kebetulan kita searah. Biar Gea diantar pulang sama David. Lagian kita bawa mobil masing-masing."


Gea langsung bersorak dalam hati," Ah ya udah kalau gitu, makasih ya Pak David sudah mau mengantar saya pulang."


David pun terpaksa tersenyum, padahal diapun belum mengatakan iya, mau mengantarkannya pulang.


Sejenak Arini berpikir, dia pun tidak enak jika menolak niat baik Aditya karena memang jalan mereka searah.


Dan dia juga tidak bisa meminta izin dulu kepada Radit karena baterai ponselnya pun sudah habis.


Seperti mengetahui kekhawatiran Arini, Aditya pun berkata,"Nanti aku akan bilang sama Radit, kalau aku yang mengantarmu pulang."


Arini tersenyum canggung, ketahuan apa yang sedang dipikirkannya.


"Gimana Rin, kamu mau kan?" Tanya Aditya lagi.


"Ya udah."


...........................................................

__ADS_1


...........................................................


....................................Bersambung.......


__ADS_2