Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
IGD (BonChapt)


__ADS_3

Aditya menekan bel untuk kesekian kalinya, dan ia masih harus menunggu karena belum ada sautan dari penghuni didalam sana.


Dengan berbekal amplop milik Arini yang tertinggal didalam mobil, ia ingin menemui Arini dan juga Radit untuk membawa Nuno bersamanya malam ini.


"Sebentar."


Pintu terbuka, seorang perempuan paruh baya muncul dibalik sana.


"Cari siapa ya Tuan?"


"Saya Papahnya Nuno, Tuan dan Nonanya ada... saya ingin bertemu dengan mereka." Jawab Aditya.


"Oh maaf saya belum tahu. Tuannya belum pulang, tapi kalau Nona ada di kamarnya, sedang istirahat."


"Kalau Nunonya ada?" Tanya Aditya lagi.


"Den Nuno ada, tadi habis mandi. Silahkan masuk Tuan."


"Iya, terima kasih."


Aditya melangkah masuk, menyusuri setiap bagian rumah yang begitu terasa nyaman untuk dia tapaki.


"Silahkan duduk Tuan, Simbok panggil Non Arini dulu."


"Iya Mbok."


Aditya duduk di sofa, matanya kembali menjelajah. Sebuah bingkai foto berukuran sangat besar, menyita perhatiannya.


Sepasang pegantin berpakaian putih, bertukar senyuman dengan tangan saling berpegangan erat. Dan satu bingkai lagi, Nuno duduk diantara pasangan pengantin yang tiada lain Arini dan Radit, tersenyum ceria, tampak sangat bahagia.


"Papaaah..."


Mata Aditya langsung teralihkan dengan suara Nuno yang memanggilnya.


"Nuno."


Aditya berdiri dengan merentangkan kedua tangannya menyambut Nuno dalam pelukannya. Nuno berlari dan balas memeluknya.


"Papah kangen banget sama Nuno."


"Nuno juga."


"Tuan...Tuan... tolooong.... Non Arini Tuan... tolong...." Teriak Simbok dengan melongokan kepalanya dari lantai atas.


Aditya dan Nuno terperanjat, dan langsung berlari menaiki tangga disusul Nuno dibelakangnya.


"Ada apa Mbok." Menyusul Simbok yang sudah berjalan mendahuluinya.


Simbok bersideku menopang kepala Arini dengan tangannya.


"Non Arini pendarahan Tuan, dia pingsan."


"Bundaaaa...." Teriak Nuno histeris.


Aditya langsung mengambil alih Arini dengan tangannya. Darah sudah mengalir di sepanjang kaki Arini.


"Rin....Rin... bangun Rin..." Aditya menepuk-nepuk pipi Arini, namun Arini tetap tidak sadarkan diri.


"Bunda kenapa Pah... Bunda bangun... ini Nuno Bun..." Nuno menangis terisak dengan menggoyang-goyangkan tangan Arini.


"Mbok Rumah Sakit yang paling dekat dari sini dimana?" Tanya Aditya yang tak kalah kalutnya dengan Simbok dan juga Nuno.


"Diperempatan jalan raya ada klinik bersalin Tuan... nanti Simbok suruh Pak Sopir untuk mengantar Tuan kesana."


"Iya cepetan Mbok... terus tolong Simbok telepon Radit sekarang juga."


"I...iya Tuan."


Simbok langsung berlari menuruni tangga untuk memberitahu Pak Sopir agar menyiapkan mobil sesegera mungkin.


"Rin... bangun... kamu harus kuat." Seraya mengangkat tubuh Arini yang sudah tergolek lemah.


Tangisan Nuno semakin menjadi," Pah...Bunda nggak bakalan apa-apa kan?"


"Iya sayang, Bunda pasti cepet sadar. Nuno tunggu dirumah, Papah bawa Bunda dulu ke klinik."


Saat Aditya menuruni tangga, Simbok berjalan tergopoh dengan menggenggam telepon ditangannya.


"Tuan... ponselnya Tuan Radit tidak aktif, sudah Simbok telepon beberapa kali tapi ndak tersambung juga." Ujar Simbok dengan gelisah.


"Ya sudah nanti dijalan saya hubungi dia lagi."


Pak sopir muncul diambang pintu," Tuan mobilnya sudah siap."


"Iya... Mbok tolong jagain Nuno."

__ADS_1


"Iya Tuan."


Simbok merangkul Nuno yang terus menerus menangis tidak mau berhenti.


Aditya langsung membawa Arini kedalam mobil dengan menyandarkan kepala Arini dipangkuannya.


"Klinik yang paling dekat Pak, cepet ya."


"Iya Tuan."


Ditengah perjalanan, Aditya mencoba menghubungi kembali Radit, benar saja ponselnya tidak aktif. Kemudian ia menghubungi David.


"Halo Pak.."


"David kamu dimana?"


"Saya dijalan menuju rumah."


"Sekarang kamu putar balik... kamu susul Radit ke Rumah Sakit, bilang kalau Arini pendarahan dan saya bawa dia ke klinik bersalin dijalan perempatan... cepat."


"Iya Pak."


Aditya memutus panggilannya. Kemudian beralih melihat wajah Arini yang sudah pucat pasi dengan kondisi badan yang sangat dingin.


Aditya menggenggam tangan Arini dan satu tangan lain mengusap rambutnya.


"Rin.... sadarlah... jangan buat aku khawatir." Gumam Aditya dengan suara terbata menahan air mata.


Hari mulai beranjak gelap, akhirnya mereka sampai diklinik bersalin dengan waktu yang sangat cepat.


Dengan bantuan perawat yang berjaga disana, Arini dipindahkan ke blangkar menuju IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Maaf Tuan, silahkan anda tunggu diluar."


Aditya menghentikan langkahnya saat Suster membawa Arini ke ruang tindakan.


"Tolong selamatkan Arini dan bayinya Suster."


"Kami akan berusaha sebaik mungkin."


Lalu Suster itu menutup pintu dengan disusul Dokter yang berjaga disana saat itu.


Aditya berjalan kesana kemari, ketakutan yang sama saat Papahnya masuk ke ruang ICU waktu dulu.


Ia kembali merogoh ponselnya, menghubungi Radit kembali. Tapi sial disaat genting seperti ini Radit sangat sulit untuk dihubungi. Kemana dia...???


Gerbang sudah terbuka lebar, satpam yang biasanya berjaga pun tidak ada pos nya. Radit memarkirkan mobil, dan segera turun dengan buket bunga dan coklat yang sudah retak ditangannya.


Rumah terasa sepi, sambutan hangat yang biasa ia dapat dari Arini, tidak ada untuk hari ini.


Ceklek....


Radit membuka pintu, masuk kedalam rumah. Nuno yang biasanya sedang menonton TV dijam seperti ini tidak nampak batang hidungnya.


Ia langsung berlari kecil menaiki tangga. Degup jantungnya semakin membuncah, saat ada ceceran darah diambang pintu masuk kamarnya.


Arini....


"Sayang.... sayang...."


Radit memasuki kamar dengan keadaan pintu yang sudah terbuka lebar.


"Say...."


Seketika Radit tidak meneruskan panggilannya, melihat banyak bercak darah dari atas tempat tidur hingga ke arah kamar mandi.


Tangan Radit bergetar hebat.... tak terelakan lagi, bunga dan coklat yang ia bawa pun jatuh terkulai menyentuh lantai.


"Rin... kamu dimana?" Teriak Radit.


Ia membuka kamar mandi, membuka pintu ruang wardrobe... tapi tidak bisa menemukannya.


"Tuan..."


Simbok datang dengan Nuno yang berada dipangkuannya.


"Ayaaah...."


Nuno turun dari pangkuan Simbok dan berlari menghampiri Radit.


"Sayang... mana Bunda?"


Nuno menangis histeris, memeluk Radit dengan sangat erat, seperti menyimpan ketakutan yang teramat sangat.


"Tuan.... Nona mengalami pendarahan dan jatuh pingsan. Sekarang Papahnya Den Nuno membawa Nona ke klinik bersalin. Dari tadi Simbok hubungi Tuan tadi ndak tersambung juga." Tutur Simbok dengan berurai air mata.

__ADS_1


"Arini....."


Air mata Radit langsung mengembang, segunung penyesalan membumbung dihatinya.


"Mbok tolong jaga Nuno, saya mau ke klinik sekarang."


"Nuno ikut, Yah..." Rengek Nuno.


Radit mengelus rambutnya," Sayang... Nuno tunggu sama Simbok disini, mendingan Nuno doain Bunda biar cepet sembuh ya?"


"Tapi Nuno takut Bunda kenapa-napa." Nuno kembali terisak.


Radit ikut meneteskan air matanya," Bunda pasti baik-baik saja." Berusaha menegarkan hati Nuno padahal ia sendiri pun sama takutnya.


"Mbok tolong jaga Nuno."


"Iya Tuan... hati-hati."


Radit langsung berlari menuruni tangga, secepat kilat menaiki mobil dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.


Radit membunyikan klakson tidak sabaran, malam libur seperti ini membuat jalanan semakin ramai bila dimalam hari. Mobil pun sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.


Radit menepikan mobil, memilih keluar dan berlari menuju klinik yang hanya tinggal dua lampu merah lagi. Beberapa kali ia berhenti, berharap ada tukang ojeg yang bisa mengantarkannya kesana.


Namun sayang, karena Radit tidak berhati-hati sebuah motor yang hendak melintas menubruknya dari arah samping.


Bruuuukk....


Radit terpelanting hingga keningnya menyentuh aspal. Untung saja motor itu berjalan dengan kecepatan sedang. Si pengendara langsung turun dan membantu Radit untuk berdiri.


"Mas nggak papa?"


Si pengendara motor membawa Radit ke tepi trotoar dengan kerumunan orang yang hendak melihat kondisinya.


"Nggak papa Mas, cuma lecet aja."


Kening Radit mengucurkan darah, baju dibagian lengan yang dipakai untuk menumpu badan pun sobek dan juga lecet.


"Kita ke Rumah Sakit Mas, biar langsung diobati."


"Nggak usah, istri saya sudah menunggu, saya harus segera menemuinya." Seraya berdiri dengan meringis karena ternyata kakinya pun terasa perih. Tapi Radit tak mengindahkannya.


"Kalau gitu saya antar... Mas mau kemana?"


"Ah kebetulan sekali, saya mau ke klinik bersalin di perempatan sana." Jawab Radit dengan mata berbinar.


Dengan menggunakan sepeda motor, hanya kurang dari sepuluh menit saja akhirnya Radit sampai diklinik bersalin itu.


"Makasih Mas tumpangannya."


"Iya sama-sama.... lukanya diobati ya Mas, sekali lagi saya minta maaf."


"Iya nggak papa, saya yang harusnya minta maaf."


Setelah pamit undur diri, dengan kaki pincang dan darah yang masih basah dikeningnya, Radit berderap masuk kedalam klinik.


"Dokter Radit...." Sapa seorang Suster yang ternyata sudah mengenal Radit.


"Suster Rini...." Radit balas menyapa.


"Dokter kenapa, mari saya obati."


"Ah tidak... saya kesini mau mencari istri saya, mungkin satu jam lalu dia masuk sini, dia mengalami pendarahan."


"Nama istri Dokter siapa?"


"Arini."


" Oh Ibu Arini... tadi kondisinya sangat kritis sekali. Jadi kami membawanya ke IGD, langsung ke ruang tindakan Dok."


Seketika jantung Radit berdesir, tak pernah ia merasakan ketakutan sebesar ini.


"Terima kasih Sus..." Jawabnya dengan langsung berlalu pergi.


"Dok... Dokter....obati dulu lukanya." Seru Suster yang bernama Rini itu.


Radit tak menghiraukannya, ia langsung mencari ruang IGD. Dan tidak butuh waktu lama, ia bisa menemukan ruangan itu.


Namun tangannya langsung berpegang ke tiang peyangga, berdiri lemas saat ruang IGD itu terbuka lebar.


Dua orang suster mendorong blankar dengan pasien yang tertutup penuh kain putih, Deg...


...........................................................


...........................................................

__ADS_1


......................................Bersambung....


__ADS_2