
Arini melihat dua kartu yang sekarang ada ditangannya. Kartu debit dan kredit yang Radit berikan setelah dua hari kepulangannya dari Bora-bora. Kehidupan yang sudah berubah seratus delapan luluh derajat dengan kehidupan yang sangat miris sewaktu dulu.
Dan tidak cukup sampai disitu, Radit pun memberikan kartu debit untuk Raka adiknya, membiayai semua kehidupan Raka hingga kebutuhan terkecilnya sekalipun. Dan tentunya tanpa sepengetahuan Mamah Nuri.
"Sudah sampai Nona."
Suara sopir membuat Arini terhenyak, tanpa dia duga mobilnya sudah sampai dipelataran parkir Rumah Sakit.
"Oh iya... Pak Dodo pulang duluan saja, biar nanti saya pulang naik taxi."
"Baik Nona."
"Saya titip belanjaannya ya Pak, tolong bilang sama Simbok buat beresin ini semua."
"Iya Nona."
Dengan membawa sebuah kantong berisi makanan, Arini keluar dari dalam mobil, mengayunkan langkahnya melewati setiap koridor Rumah Sakit tentunya dengan sapaan ramah dari setiap karyawan yang sudah menjadi hal biasa lagi untuknya sekarang ini.
Namun baru saja dia memasuki koridor ke tiga, ayunan kakinya terhenti. Senyuman bahagia seketika hilang saat melihat Radit berjalan dengan seorang wanita yang sepertinya seorang Dokter juga, karena memakai jas putih seperti yang Radit kenakan.
Dokter muda yang berpenampilan manis, yang untuk pertama kalinya Arini melihat Dokter itu di Rumah Sakit ini.
Mereka berjalan berdua keluar dari arah kantin, Radit terlihat berbincang akrab dengan Dokter itu, kadang obrolan mereka pun diselengi dengan tawaan dan curi-curi pandang yang dilakukan Dokter itu kepada Radit.
Dan yang paling membuat Arini kesal adalah saat Dokter itu menginjak sesuatu yang membuatnya terjatuh dan Radit spontan memegangi tangannya.
Dokter itu terlihat gugup saat bertemu pandang dengan Radit, hingga akhirnya Radit menuntunnya untuk duduk disebuah kursi besi yang tak jauh dari mereka.
Radit yang melihat seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari arah samping, ia pun mencoba menoleh dan seketika itu juga ia tersentak, kalau ternyata orang itu adalah Arini.
Aaarrrgghh.... Arini menghentakan kakinya, menggeram dalam hati. Lalu mengambil langkah seribu dengan cepat berlalu pergi tak mau melihatnya lebih lama lagi.
"Sayang...." Panggil Radit.
"Siapa Dok?" Tanya Dokter itu.
"Istri saya.... saya tinggal ya, nanti saya suruh perawat untuk mengobati kaki Dokter."
"Nggak usah Dok, ini tidak terlalu sakit kok."
"Ya sudah kalau begitu, saya duluan."
"Silahkan Dokter."
Radit buru-buru menyusul Arini yang sudah tak terlihat dari pandangan matanya. Yang Radit risaukan adalah Arini akan salah paham dengan apa yang dilihatnya tadi.
Keluar dari pintu lift, Radit melihat Arini sudah kembali menutup pintu ruangan kerjanya, hendak kembali pulang setelah menyimpan makan siang untuknya.
"Sayang kamu mau kemana?"
"Pulang." Jawab Arini dengan ketus.
"Bukannya kamu kesini nganterin makan siang buat aku?"
"Udah aku simpen dimeja."
"Kamu juga kan pasti belum makan siang, kita makan bareng ya?"
"Aku nggak laper."
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Kamu cemburu waktu aku sama Dokter Ema tadi?"
"Nggak."
Radit menangkup kedua pipi Arini," Sayang kalau ngomong liat aku dong, jangan liatin tembok gitu."
Arini langsung menepis tangan Radit," aku nggak mau ngomong sama kamu."
Radit menghela nafasnya," Kamu dengerin penjelasan aku dulu ya, tadi itu aku sama Dokter Ema...."
"Terserah Mas mau ngapain, aku mau pulang." Potong Arini dengan cepat dan mendorong Radit untuk tidak menghalangi jalannya.
Radit langsung menarik tangan Arini dan memeluknya," Sayang dengerin aku dulu dong."
"Mas lepasin,nanti ada yang liat."
"Kalau nggak mau ada yang liat, masuk dulu yuk... jangan buru- buru pulang gini."
__ADS_1
"Nggak mau, aku mau pulang sekarang." Arini melepaskan tangan Radit dan pergi meninggalkannya.
"Sayang tunggu...."
Saat Radit hendak menyusul Arini, tiba-tiba ponselnya berdering. Radit mendengus kesal dalam kondisi seperti ini nada dering khusus panggilan urgent memanggil-manggil di ponselnya.
"Ya...."
"Maaf Dokter menganggu jam istirahatnya, ada pasien darurat yang harus segera ditangani."
"Iya saya kesana sekarang."
"Terima kasih Dokter."
Radit memijit pelipisnya, untuk pertama kalinya Arini semarah itu kepadanya. Haaah....
Pasien yang tiba-tiba bertambah banyak membuat Radit terus menunda kepulangannya hingga menjelang malam. Raganya memang berada di Rumah Sakit, tapi pikirannya melayang jauh menemui Arini dirumah sana.
Pesan yang dikirimnya pun tak kunjung dibalas, membuatnya semakin stress menghadapi situasi seperti ini.
Tepat jam setengah delapan malam Radit tiba dirumah, sambutan mesra yang biasanya Arini berikan saat dia pulang sama sekali tidak dia dapatkan hari ini. Terasa sangat hampa.
"Ayaaahh..."Sapa Nuno dengan satu buku ditangannya.
"Halo sayang." Jawab Radit dengan mencium puncuk kepala Nuno.
"Kok pulangnya malam, Yah?"
"Iya, di Rumah Sakit pasiennya lagi banyak."
"Oooh..."
"Bunda mana?" Selidik Radit.
"Tadi sih sama Nuno, mungkin di kamar Yah."
"Oh ya udah, Ayah ke kamar dulu ya, pengen mandi, gerah."
"Iya Yah."
Radit menaiki tangga, dengan langkah yang lebar, melewati beberapa tangga karena tak sabar ingin segera menemui Arini dan menjelaskan semuanya.
Perlahan Radit membuka pintu, namun dia tidak mendapatkan Arini disana.
"Sayang...."
"Sayang.... kamu dimana?"
"Aku disini." Jawab Arini yang tiba-tiba muncul dari belakang punggung Radit dengan satu buah buku ditangannya.
"Sayang kamu dari mana?"
"Kamar Nuno, bawa buku pelajarannya." Jawab Arini dengan nada datar.
Radit berjalan menghampiri Arini, namun Arini langsung menghindar dengan menyimpan tas milik Radit yang semula di atas kasur dipindahkan ke atas meja.
"Betah ya di Rumah Sakit, ampe pulang semalam ini." Sindir Arini.
Radit menarik tangan Arini, kemudian mendekapnya dengan erat.
"Tadi pasien aku banyak sayang."
Arini hanya diam, tak menyaut sepatah katapun.
"Mana ciuman buat aku, biasanya kalau aku pulang aku selalu mendapatkannya. Aku kangen sama ciuman kamu."
Arini tetap diam, kekesalannya kepada Radit masih tetap bergumul dalam hatinya. Apalagi Radit pulang semalam ini, menambah kecurigaannya.
"Aku sama Dokter Ema itu nggak ada apa-apa, dia Dokter magang di Rumah Sakit kita. Saudaranya Dokter Wahyu, senior di Rumah Sakit, temennya Ibu juga."
Arini masih tidak bergeming, tetap dengan muka judes yang baru pertama ini Radit lihat.
"Kalau kamu nggak percaya, besok aku kenalin sama dia ya?"
"Nggak mau."
"Kenapa nggak mau, kan biar kamu nggak salah paham dan cemburu lagi."
Arini langsung melepaskan pelukan Radit," Siapa yang cemburu, jangan GR."
Radit tertawa," Kalau nggak cemburu, kenapa dong marah-marah?"
__ADS_1
"Tau ah." Arini membalikan badannya, membelakangi Radit.
"Sayang, jangan marah terus nanti cantiknya ilang loh. Sumpah tadi itu dia jatuh dan aku bantuin dia, itu aja nggak lebih."
Iya aku tahu.... tapi nggak ampe pegangan tangan juga kali, jerit Arini dalam hati.
Tiba-tiba Radit teringat dengan saran Dito, kalau perempuan sedang marah, tandanya dia ingin lebih diperhatikan, ingin dirayu dan ingin lebih dimengerti.
Radit memeluk Arini dari belakang," Sayang.... aku tuh kangen banget sama kamu, kangen sama ciuman kamu, pelukan kamu, senyuman kamu dan...."
"Dan apa?" Sela Arini.
"Dan desahan kamu." Seraya mencium cuping Arini.
"Jangan ngerayu, nggak bakalan mempan." Dengus Arini.
Radit menangkup kedua pipi Arini," Aku nggak lagi ngerayu, itu emang kenyataannya kok."
Kemudian Radit mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu memberikannya kepada Arini.
"Nih." Radit mengulurkan sebuah kartu undangan.
"Apa ini?"
"Dari Dokter Ema, dia ngundang kita untuk hadir ke acara pertunangannya besok lusa."
Arini sedikit berjinjit, tunangan.... jadi Dokter Ema udah punya calon??? Seketika wajah Arini memerah karena merasa malu karena sudah berburuk sangka kepada Dokter Ema.
Arini mengambil kartu undangan itu, kemudian membacanya.
"Sekarang kamu nggak cemburu lagi kan?"
Arini sedikit tergagap," Aku bilang aku nggak cemburu, aku cuma kesel doang. Ngapain juga Mas pegang-pegang tangan dia. emang nggak ada cara lain selain dengan begitu kalau cuma mau nolong?"
"Iya maaf sayang maaf... tadi itu spontan aja. Jadi sekarang udah nggak marah lagi kan?"
"Tergantung, gimana nanti aja. Udah ah aku siapin dulu makan malam."
Namun Radit menarik bahu Arini hingga mundur dan masuk dalam pelukannya.
"Sebelum pergi, sun nya dulu dong." Goda Radit.
"Nggak."
"Ya udah aku nggak bakalan lepasin."
"Mas lepasin." Ronta Arini.
"Nggak bakalan."
"Kalau nggak, aku marah lagi nih."
"Nggak bakalan."
"Maaaass...."
Akhirnya Radit melepaskan pelukannya," Tapi nanti malem nggak bakalan aku lepasin ya." Seraya membiarkan Arini pergi.
"Aku mau tidur dikamar Nuno aja." Jawab Arini sambil mendelikan matanya.
"Oh jadi pengen gitunya dikamar Nuno?"
"Ih ngomong apa sih."
"Biar desahan kamu kedengeran sama Nuno ya?"
"Mas ih."
"Biar Nuno tahu, kalau kita lagi bikin ade buatnya?"
"Ih Ngacooooo...."
Radit langsung tertawa ketika Arini langsung kabur menghindari semua kata-kata yang membuatnya menjadi salah tingkah.
............................................................
............................................................
........................................Bersambung....
Dua dulu ya Bonchapt nya....
__ADS_1
Nanti author bikin Bonchapt selanjutnya....😉😉😉