Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 20 Kegalauan Jovan


__ADS_3

Sesi tanya jawab pun berakhir sudah, sesi penandatanganan pun telah dimulai. Antrian panjang membuat Jovan melemaskan otot-otot tangan dan lehernya.


Bian yang berdiri di belakang Jovan pun memberikan semangat.


"Fighting, Bang!! kamu pasti bisa!!" bisik Bian.


"Bisa pegel nih tangan," jawab Jovan dengan berbisik juga.


Satu persatu antrian bergerak maju, tidak hanya meminta tanda tangan, tetapi juga untuk foto bersama, membuat Bian harus rela, dirinya menjadi fotografer dadakan.


Salah satu panitia menghampiri Marissa yang duduk di belakang panggung sambil memainkan HPnya.


"Mbak, ga ikutan minta tanda tangan??"


"Bukuku sudah ditandatangani Abang, masa' minta lagi?? buat apa ?? lagi pula kalau aku mau, aku bisa minta kapan saja," tolak Marissa.


"Yaa buat seru-seruan aja, Mbak. Iseng aja," ucap panitia.


"Oiya, biar tangan Abang semakin pegel," ucap Marissa sambil tertawa.


"Yaaa tapi aku ga bawa novelnya, lah masa' harus beli dulu??!!" lanjut Marissa.


"Kami ada nih, Mbak !! ambil aja," ucap panitia sambil memberikan novel Jovan.


"Beneran nih?? bisa ngambil yang disini aja??" tanya Marissa.


"Iya, Mbak, ambil aja," jawab panitia.


"Makasiiiih," ucap Marissa sambil tersenyum.


Marissa pun mengambil novel karya Jovan kemudian ia ikut mengantri bersama dengan pengunjung yang lain.


"Yaaah paling belakang deh!! panjang lagi nih antriannya!!" gerutu Marissa ketika melihat panjangnya antrian di depannya.


Ia pun mengabadikan momen dirinya yang harus mengantri untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama Jovan.


Setelah cukup lama berdiri, Marissa kemudian memilih duduk sembari menunggu antrian panjang itu sepi.


Setelah hampir 2 jam, antrian pun mulai sepi sampai akhirnya hanya tersisa Marissa seorang, ia pun berjalan menuju ke atas panggung.


Bian yang melihatnya pun tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Jovan meletakkan kepalanya di meja sambil berpura-pura kesal.


"Aaah ga mau!! ga ada tanda tangan lagi!! pegel niii!!" canda Jovan.


"Yaaa author, jangan gitu dong, aku kan sudah antri lama, pegel nih!!" balas Marissa.


"Hmm pegel yaa, pegel duduk kelamaan nunggu??" ucap Jovan.


"Nah !! tuh author tahu," jawab Marissa sambil meletakkan novelnya di atas meja.


"Bang, tolong tulisin, buat adek kesayangan yang tersyantix terparipurna," pinta Marissa.


Bian pun tertawa mendengar permintaan Marissa.


"Harus begitu tulisannya?? ga bisa yang lain gitu?? yang lebih masuk diakal??" canda Jovan.


"Oooooh sungguh!! sungguh Abang tidak menghargai kecantikanku yang terparipurna ini?? ini adalah ciptaan Allah, Bang. Manusia diciptakan.... "


"Ya ya ya, Abang tanda tangan, nih Abang juga tulis yaa. Ceramahnya dilanjut kapan-kapan aja, oke??" potong Jovan karena ia tidak ingin mendengarkan kenarsisan Marissa.


"Oke Bang, makasih. Sekarang potoooo !!" ucap Marissa penuh semangat.


"Bi, sekalian kita bertiga fotonya !!" ajak Marissa.

__ADS_1


"Pakai HP saya aja," ucap Jovan.


Bian pun memberikan HP kepada Jovan, lalu salah satu panitia menawarkan dirinya untuk membantu mengambil gambar mereka bertiga.


Mereka bertiga pun berpose bersama sebelum akhirnya panitia berkumpul dan ikut foto bersama.


"Ayo semuanya, sekalian sebelum saya pulang !!" ucap Jovan memanggil panitia.


Setelah beberapa pose, akhirnya mereka pun mengakhiri keseluruhan acaranya.


"Terima kasih, semuanya!! Assalamu'alaikum," pamit Jovan.


"Terima kasih juga, Bang!! Wa'alaikumsalam."


Mereka bertiga pun berjalan menuju bagian luar atrium.


"Trus, kita mau ke mana??" tanya Jovan.


"Bang, aku mau beli majalah dulu di Books and Crafts yaa. Abang kalau mau pulang duluan aja," jawab Marissa.


"Yowes, kita ke Books and Crafts nanti saya antar kamu pulang," ucap Jovan.


"Yakin, Bang ?? ga capek?? aku ga papa kok sendirian, sudah biasa," tolak Marissa.


"Ga papa, Abang tunggu," tegas Jovan.


Seperti biasa, Jovan dan Bian akan berjalan di depan Marissa.


Sesampainya di Books and Crafts, Marissa menuju ke bagian majalah Arsitektur dan Interior, ia mengambil 2 majalah, 1 keluaran Jakarta dan 1 lagi keluaran UK.


Kemudian ia juga membeli beberapa perlengkapan menggambar dan stationery.


Kehadiran Jovan di dalam toko buku tersebut ternyata menarik banyak perhatian, tetapi Jovan tidak memperdulikan orang-orang yang melihatnya, ia lebih memilih mengawasi Marissa.


" Bi, kamu bayar semua yang Risa beli, jangan sampai kamu keduluan dia di kasir. Saya tunggu di luar," ucap Jovan sebelum beranjak keluar.


Setelah semua yang dibutuhkan Marissa masuk ke dalam tas belanja, Bian pun segera mengambil tas tersebut.


"Sini Mbak, aku yang bayar semuanya. Mbak tunggu di luar aja, Bang Jovan sudah menunggu di luar," ucap Bian sambil mengambil tas belanja yang dibawa Marissa.


"Eh, kok dibayarin?? aku kan sudah gajian, aku bisa bayar sendiri! tolak Marissa.


"Jangan Mbak, nanti saya dimarahin Bang Jovan. Mbak sudah ditunggu Bang Jovan di luar," jawab Bian.


"Beneran nih??" tanya Marissa.


"Iya Mbak, bener," jawab Bian.


"Oke deh, makasih yaa."


Marissa pun berjalan keluar dari toko buku, ia mendapati Jovan tengah duduk di salah satu sudut sambil memainkan gadgetnya.


"Bang!!" panggil Marissa sambil berjalan ke arah Jovan.


"Sudah selesai belanjanya??" tanya Jovan.


"Sudah, tapi kok dibayarin semua??? aku sudah gajian kok, makanya aku beli keperluanku," protes Marissa.


"Ga papa, uangnya kamu tabung aja. Duduk dulu, mau minum apa??" jawab Jovan santai.


"Ga kepingin minum. Eh Bang, setelah acara ini ngapain?? maksudnya kerjaan Abang setelah ini??" tanya Marissa.


"Yaaa kembali ke apartemen, nulis lanjutan novelnya. Pencarian Mischa," jawab Jovan.


"Bang, nama lengkap Mischa siapa??" tanya Marissa.

__ADS_1


"Jujur, Abang lupa nama lengkap Mischa, kalau Abang ingat ga terlalu sulit untuk menemukannya. But anyways, Mischa is not her real name, cuma namanya di novel aja," jawab Jovan.


"Kok bisa lupa kalau dulu dekat banget ?? trus kenapa namanya diganti ??" tanya Marissa lagi.


"Yaa mungkin karena dulu ga terlalu memperhatikan detail, yang penting tahu nama panggilannya sudah cukup. Namanya juga masih anak-anak, ga kepikiran macam-macam. Ternyata sekarang, nama lengkap itu penting. Namanya aku ganti yaa itu biasa lah untuk novel ataupun film, biasanya nama aslinya ga dipakai," jawab Jovan.


"Ooo, tapi kalau pakai nama asli bukannya lebih gampang nyarinya?? Oiya Bang, makasih yaaa."


"Makasih untuk apa??" tanya Jovan.


"Untuk jadi Abang buat aku. Hmmm rasanya seperti pernah punya kakak laki-laki, tapi aku juga ga ingat pasti sih," jawab Marissa.


"Kamu punya kakak laki-laki??" tanya Jovan.


"Hmm mungkin. Aaaah ga tahu. Bang tahu ga, rasanya terkadang tuh seperti dejavu, seperti pernah berada di moment ini, tapi ga tahu kapan. Trus, tiba-tiba seperti ada kenangan yang muncul tapi juga ga jelas kenangan apa. Kalau sudah begitu, kepalaku pasti sakit, trus jantungnya berdebar. Dulu waktu kuliah, aku sempat periksa ke temanku yang kuliah di kedokteran. Tapi katanya kecapean aja. Ini beda sama kecapean, ini tuh seperti apa yaa??"


"Memori yang hilang berusaha untuk muncul kembali," jawab Jovan lirih.


"Nah iya, seperti itu. Memangnya Abang juga pernah seperti itu??" tanya Marissa.


"Pernah, tapi Abang bawa tidur aja. Suatu saat kalau memang akan ingat, pasti akan teringat dengan sendirinya."


"Eh, tuh Bian sudah selesai," ucap Jovan ketika melihat Bian berjalan ke arah mereka.


Lalu Jovan dan Marissa pun berjalan ke arah Bian.


"Makasih, Bang," ucap Marissa.


"Iya, sama-sama."


"Sini Bi, tasnya," pinta Marissa.


"Aku bawain aja, Mbak. Berat lho," tolak Bian.


"Memang berat, yaaa gini deh perlengkapan arsitek, yaa berat-berat."


"Pantesan kamu pendek, kebanyakan bawa yang berat-berat yaa ??" canda Jovan.


"Ish, barusan baeeek banget, eeee tetiba ngejek. Biarin aku pendek, yang penting punya pengawal 2 ganteng and tinggi !!" jawab Marissa yang segera berlalu dan menuju musholla untuk shalat Ashar.


"Hmmm bocah ini memang!!" ucap Jovan sambil mengikutinya.


Setelah selesai sholat Ashar, mereka menuju ke parkiran mobil kemudian mengantar Marissa pulang sebelum Jovan kembali ke apartemennya.


Sesampainya di apartemen, Jovan meminta agar Bian segera pulang.


"Kamu pulang aja, saya mau istirahat. Tolong cancel semua jadwal saya untuk besok. Saya mau libur, istirahat dulu. Pesankan tiket ke Singapura untuk besok, kalau bisa pagi, kalau tidak ada yang pagi, yang penting besok," pinta Jovan.


"Bang Jovan mau pulang?? berapa lama??" tanya Bian.


"Iya, saya butuh istirahat pikiran dan badan. Saya ga tahu berapa lama. Saya usahakan, paling lama 2 pekan. Kamu atur ulang jadwal saya aja yaa," jawab Jovan.


"Baik, Bang. Nanti aku atur lagi, aku kirim ke e-mail atau WA??" tanya Bian.


"WA aja."


"Oke, Bang, kalau gitu saya permisi. Assalamu'alaikum," pamit Bian.


" Wa'alaikumsalam."


Jovan segera membersihkan dirinya sebelum merebahkan dirinya di tempat tidur.


Setelah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan seputar Marissa, dirinya pun merasa kelelahan secara fisik maupun psikis.


Terlebih dengan kehadiran Risa, yang membuat Jovan mulai menaruh hati padanya dan membuat perasaan Jovan semakin kacau.

__ADS_1


"Kok, aku merasa seperti selingkuh kalau berada di dekat Risa?? ah bocah itu kenapa bisa membuat perasaanku jadi seperti ini sih??!! aku ga boleh dekat-dekat Risa. Fokus Jov!! fokus ke Icha!!" ucap Jovan kepada dirinya sendiri.


__ADS_2