Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 102


__ADS_3

Setelah 2 pekan berada dalam perawatan bagian psikiatri, akhirnya Jovan telah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Jovan kembali ke rumahnya bersama kedua orangtuanya dan juga Marissa.


Penjagaan terhadap Jovan dan Marissa pun masih tetap berjalan. Walaupun ingatan Jovan sedikit demi sedikit telah mengalami kemajuan, tetapi satu hal yang masih hilang dalam ingatannya, yaitu keberadaan Marissa sebagai istrinya.


Obsesi lamanya untuk menemukan Marissa, menjadi hilang tak bersisa. Hanya menyisakan sebuah nama yang dirasakan akrab di telinganya, tetapi rasa cinta dan sayang itu seolah tidak pernah hadir di dalam hatinya.


"Mbak Risa, saat ini mas Jovan sudah mulai mengingat anda, tetapi sepertinya dengan ingatan yang berbeda," ucap dr. Najla.


"Berbeda? Maksudnya bagaimana?' tanya Marissa.


"Ada yang dinamakan disorientasi memori akibat trauma psikologis yang terpendam. Dalam kasus Jovan, saat ini ia melihat Anda sebagai penyebab kematian dari Josie."


Dunia pun seakan runtuh untuk yang kesekian kalinya bagi Marissa setelah mendengar keterangan dr. Najla.


Bulir-bulir air mata pun jatuh membasahi pipinya. Bagaimana tidak? Pria yang begitu mencintai dan dicintainya saat ini berubah menjadi membencinya.


"Tetapi Anda jangan khawatir, kami akan terus berusaha mengembalikan ingatan mas Jovan. Seharusnya disorientasi memori ini tidak akan berlangsung lama, perlahan memorinya akan kembali normal dengan rangsangan-rangsangan yang tepat. Terlebih dengan adanya film, video dan foto pribadi yang akan membantu untuk memulihkan ingatannya. Maka dari itu, kita akan mulai kembali dari awal, melalui sesi hipnotis, agar kita juga mengetahui apa yang tersembunyi di dalam pikiran dan hatinya," jelas dr. Najla.


Marissa pun hanya dapat menggantungkan semua kesedihan itu kepada Sang Khaliq, di dalam sujudnya dan do'a-do'a yang ia panjatkan.


"Van, kamu kau istirahat di kamar atau...."


"Di belakang aja, Bun. Aku mau cari udara segar di halaman belakang. Pengap rasanya kalau di dalam ruangan terus," jawab Jovan sambil berjalan menuju halaman belakang yang asri.


Jovan berjalan melintasi taman dan kolam ikan yang bernuansa Zen. Suara gemericik air terdengar merdu dan menenangkan, membuat Jovan duduk berdiam memandangi lincahnya ikan-ikan yang meliuk-liukkan badannya, seolah menari mengikuti suara irama gemericik air.


Marissa yang telah berada di rumah Jovan beberapa jam sebelum kepulangan suaminya itu, asyik memperhatikan Jovan dari gazebo.


Jovan yang awalnya tidak menyadari kehadiran Marissa, akhirnya mulai menyadari ada seseorang yang memperhatikannya.


"Siapa?" tanya Jovan.


Marissa pun berjalan perlahan menghampiri Jovan.


"Kamu siapa?" tanya Jovan perlahan.


Marissa tidak dapat menjawab pertanyaan sederhana dari Jovan karena jantungnya berdegup dengan kencang yang membuatnya sangat gugup.


Jovan pun menjatuhkan kepalanya ke kiri sambil bertanya kembali, "Maaf, but who are you and what are you doing in here?"

__ADS_1


"Abang nggak ingat aku sama sekali, sedikit mungkin?" tanya balik Marissa dengan suara yang bergetar karena menahan air matanya.


Jovan pun menggelengkan kepalanya.


"I'm sorry, but I can't recall your face," lirih Jovan.


Air mata Marissa pun menetes tiada henti, mendengar jawaban pria yang ia cintai tanpa syarat itu.


Melihat wanita di depannya menangis, Jovan pun merasa serba salah. Rasa hati ingin memeluknya tetapi ketidaktahuan akan identitas Marissa, membuatnya hanya terdiam tak tahu harus berbuat apa.


"Abang nggak ingat kalau Abang telah mengucapkan janji suci, ijab-kabul di depan penghulu untuk menghalalkan kita?"


"Ijab-kabul, kita? Do you mean we are a husband and a wife? I'm your husband? Me?"


"Iya, Bang. I'm your wife, your childhood crushed, I'm Icha, your lost love!" jawab Marissa dengan berderai air mata.


"No, you can't be, it's impossible!" tolak Jovan dengan ketus.


"Tapi Bang... "


"No! Saya tidak punya childhood crush, istri, pacar atau wanita manapun di dalam hidup saya, kecuali bunda! Kamu jangan coba-coba meracuni pikiranku dengan intrikmu!"


Jovan pun menepis kedua tangan Marissa dari lengannya sambil berkata, "Don't you dare to touch me!"


Seketika itu pun dunia Marissa seakan runtuh dihadapannya, air mata membasahi kedua pipinya hingga kain jilbabnya. Badannya pun bergoncang hebat, hingga membuat Silla yang bersembunyi menghampiri untuk menenangkannya.


"Mas Jovan! Apa salah mbak Risa?!"


"Siapa lagi ini?! Saya baru keluar dari rumah sakit dan saya butuh ketenangan, bukan gangguan dari kalian!" ucap Jovan penuh dengan kekesalan seraya berjalan meninggalkan Marissa yang tersedu dipelukan Silla.


Adam yang menyaksikannya dari kejauhan segera melaporkannya kepada


Mario dan tentu saja hal ini membuatnya naik pitam.


"Siapkan tim psikolog dan psikiater terbaik, untuk mengembalikan Jovan, segera!"


Raka sang asisten, tanpa menunggu perintah lanjutan pun segera menghubungi ahli-ahli ilmu kejiwaan terbaik dari negara Paman Sam, dengan menggunakan referensi dari Clifford.


Sementara itu, Silla berusaha menenangkan Marissa yang masih syok dengan reaksi penolakan Jovan terhadap dirinya.

__ADS_1


"Mbak, Mbak Risa harus kuat, jangan lemah. Look, Allah memberikan semua masalah, persoalan hidup sesuai kadar keimanan seseorang, untuk mengujinya atau menaikkan derajatnya."


"Mbak, look at me. Jangan menangis lagi, jadikan tangisan ini, tangisan terakhir mbak Risa," ucap Silla penuh ketegasan yang akhirnya membuat Marissa menghentikan tangisannya.


"Ayo, sekarang kita ke kamar!" ajak Silla sambil menarik tangan Marissa.


Silla yang telah menahan kekesalannya terhadap keadaan yang kembali membuat Marissa terpuruk, akhirnya mengambil langkah untuk menyelamatkan Marissa dari kesedihan yang berlarut.


Sesampainya di kamar, Silla mengambil peralatan untuk memotong rambut Marissa.


"Mbak silahkan duduk," ucap Silla.


Tanpa bertanya, Marissa pun mengikuti perintah Silla. Setelah Marissa duduk, Silla pun mulai memotong rambut Marissa sedikit demi sedikit.


"Mbak, bisa motong rambut?"


"Kalau model yang simpel, bisa, tapi kalau model yg berlayer-layer belum bisa rapi," jawab Silla yang masih asyik memainkan guntingnya.


Lantai di sekitarnya pun telah dipenuhi dengan potongan-potongan rambut Marissa. Hingga beberapa menit kemudian, si lugu Marissa telah bertransformasi menjadi wanita dewasa.


"Waah, I look so different!"


"Ini belum selesai. Sekarang kita sortir pakaiannya!" ucap Silla sambil membuka lemari pakaian milik Marissa.


Silla mengeluarkan semua pakaian Marissa yang bernuansa pastel dan menyisakan semua yang gelap dan natural.


"Mbak Risa harus mau berubah. Untuk awal, merubah penampilan adalah hal yang paling dasar, setelah itu kita mulai dengan perubahan non fisik," ucap Silla.


"Non fisik?" tanya Marissa.


"Iya, kita harus upgrade inner beauty-nya."


"Mbak, saat ini mas Jovan membutuhkan sosok yang kuat dengan hati anti badai. Mbak Risa harus berubah menjadi sosok fighter sejati, yang tak terkalahkan," jawab Silla sambil memegang kedua pundak Marissa.


"Kita latihan fisik setiap pagi dan sore, nanti aku akan latih mbak Risa, ilmu-ilmu dasar beladiri dan kalau Pak Mario tidak keberatan, ditambah dengan latihan menembak."


"Mbak, you can do it," ucap Silla sambil memeluk Marissa.


"Mbak Silla, apa aku latihannya seperti tim pengawal ?" tanya Marissa.

__ADS_1


Sambil melepaskan pelukannya, Silla menjawab, "Hmm ya bisa dikatakan seperti itu, tetapi ini lebih untuk self defense. So, sekarang kita temui Pak Mario."


__ADS_2