Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 84 Harry's Resort Batam


__ADS_3

Selepas menghabiskan waktu selama 4 hari di Kuala Lumpur dan Genting, Jovan dan Marissa memisahkan diri dari rombongan. Sesuai dengan rencana yang telah susun sebelumnya, mereka bertolak kembali menuju Singapura, lalu dengan fasilitas penjemputan dari resorts, mereka menaiki speed boat menuju resorts bertaraf internasional di pinggir pantai Pulau Batam.


Sesampainya di resort, Jovan dan Marissa serta the bodyguards mendapatkan penyambutan langsung di pinggir pantai oleh front officers resort dengan mengalungkan rangkaian bunga di leher dan memberikan fruit punch mocktail yang segar sebagai welcome drink.


"Welcome to Harry's Resort Batam."


"Thank you," jawab keduanya.


Lalu mereka berdua pun diarahkan menuju hotel dengan melewati beberapa kolam renang dengan berbagai kedalaman dan bentuk.


"Bang, mau berenang?" tanya Marissa.


"Sayang, mau berenang?" Jovan pun balik bertanya.


"Eh, mana bisa? Kecuali ada private pool," jawab Marissa.


"Nanti Abang tanya deh," ucap Jovan.


"Nggak usah deh, Bang. Palingan juga nggak ada, ntar malah diketawain," tolak Marissa.


Mereka pun berjalan beriringan menuju lobby.


Marissa terpukau ketika memasuki lobby hotel Hary's yang bergaya modern minimalis. Desain hotel yang didominasi dengan warna putih, ditambah dengan warna jingga dan hijau sebagai aksen, membuat suasana terasa segar dan tenang.


Dari lobby pada lantai dasar, dapat terlihat atap hotel yang tengahnya menggunakan kaca, sehingga pencahayaan alami dari matahari dapat menerangi interior hotel.


Marissa pun tak melewatkan momen tersebut untuk diabadikan dalam kameranya.


"Mas, biar saya check-in kan. Mas Jovan dan Mbak Risa, silahkan menunggu disini," ucap Adam.


Jovan pun memilih untuk duduk bersantai di lobby, sambil memperhatikan Marissa yang asyik bermain dengan kamera handphonenya.


Setelah puas mengambil foto interior hotel, Marissa beralih ke pria tampan yang sedari tadi tersenyum manis sambil memandanginya.


Marissa pun dengan asyiknya mengambil foto pria tersebut.


"Yang, segitunya kah cintamu padaku sehingga tidak bosannya engkau mengambil fotoku," ucap Jovan yang membuat Marissa menurunkan handphonenya.


"Bang, beliin aku black forest aja deh, daripada siang-siang begini ngigau nggak jelas," balas Marissa.


"Only black forest? Setokonya juga bisa Abang beli, Yang," jawab Jovan.


"Sombongnya disimpan aja dulu," ucap Marissa sambil berpindah tempat duduk ke samping Jovan.

__ADS_1


"Bang, kayaknya back to masker mode on, deh," bisik Marissa.


"Kenapa?" tanya Jovan.


"People staring at you," jawab Marissa kesal.


"Ouuh my baby is jealous. Hon, let them staring at me, as long as I'm only looking at you, it doesn't matter. You always in here, always," ucap Jovan sambil meletakkan tangan Marissa ke dadanya.


Marissa pun menatap wajah tampan Jovan sambil merasakan degupan jantungnya yang cepat.


"Bang, kok deg-degan? Kok cepet? Abang nggak papa kan?" tanya Marissa khawatir yang membuat Jovan tersenyum dan memeluk Marissa.


"It's always like this, when I'm with you, Hon," bisik Jovan di telinga Marissa yang membuat Marissa tersipu dan menyembunyikan wajahnya di dada Jovan.


Melihat kedua anak manusia yang sedang dimabuk kepayang itu, Faisal dan Silla dengan sigap, menutupi momen mesra Jovan dan Marissa dengan badan dan blazer mereka. Keduanya pun memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.


Jovan pun tertawa kecil melihat kedua pengawalnya salah tingkah.


"Bang Fai, malah jadi menarik perhatian kalau Abang nutupin kayak gitu," ucap Jovan dan membuat Faisal dan Silla memakai kembali blazer mereka.


Marissa pun segera menyadari, ia pun menarik tubuhnya dari Jovan.


"Kenapa?" tanya Jovan.


"Hmmm, nanti di kamar, ya," ucap Jovan dengan menaik-turunkan kedua alisnya ditambah dengan senyum nakalnya.


Marissa pun segera berdiri dan berjalan menjauh sambil menundukkan wajahnya karena malu, yang membuat Jovan semakin gemas dan mengejarnya.


"Mau kemana, tunggu disini aja," panggil Jovan sambil menahan tangan Marissa.


"Jajan, aku laper," jawab Marissa.


Jovan pun melihat ke arah jam yang terpasang di tangannya.


"Oh pantesan, sudah lewat jam 11. Alarm usus Miss ngunyah sudah berbunyi," ucap Jovan.


"Yuk, Abang anterin," lanjut Jovan sambil menggandeng tangan Marissa menuju restoran resort yang sudah mulai ramai.


Restoran resort ini terletak di belakang bangunan dengan pemandangan pantai dan juga kolam renang. Dining areanya pun terbagi menjadi dua, indoor dan outdoor. Jovan pun memilih bagian outdoor.


"Anginnya adem, mataharinya juga bersahabat, mendingan di luar," ucap Jovan sambil tetap menggandeng tangan Marissa dan menuntunnya ke sebuah meja bundar, dengan 2 kursi, yang berbatasan langsung dengan area pantai.


Keduanya pun duduk berhadapan.

__ADS_1


"Bang, jadi ingat waktu ke Danau Toba, yang kita main jetski," ucap Marissa ketika ia melihat motor jetski yang terparkir rapi di pinggir pantai resort.


"Nanti sore kita main jetski, ya," ajak Jovan.


Marissa pun menjawabnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


"Buffet or ala carte?" tanya Jovan kepada Marissa.


"Aku lihat menunya dulu," jawab Marissa sambil membuka satu persatu lembaran buku menu di depannya.


Berbeda dengan Marissa, Jovan melihat menu pada meja buffet yang penuh dengan hidangan yang menggiurkan. Melihat banyaknya jenis makanan yang tersedia, Jovan pun kembali menghampiri Marissa.


"Yang, mendingan lihat buffetnya deh. Pasti tambah laper kalau nggak segera ngambil, serius ini, Yang! It looks super delicious, come on!" ajak Jovan.


Marissa pun mengikuti Jovan menuju meja buffet.


"See, look at that shrimps, bbq chicken, peking duck and chicken, beef Wellington steak, fish and chips, all kind of pastas, all kind of rice..."


Belum selesai Jovan bicara, Marissa sudah asyik mengisi piringnya dengan semua makanan favoritnya.


"Bang, ayok!" ucap Marissa dengan 2 tangannya yang memegang piring berisi penuh dengan aneka makanan.


Jovan pun keheranan dengan kecepatan Marissa dalam mengisi piringnya.


"Yang, itu yang 1untuk Abang, kan?"


"Nggak, ini punyaku semua, buruan aku laper. Bang, tolong ambilin cream soupnya yaa, tanganku nggak cukup," pinta Marissa sambil berjalan menuju mejanya.


Jovan hanya termenung memandang tampak belakang Marissa yang berjalan menjauhinya.


"Perempuan kalau lapar, memang bisa bergerak dengan cepat tanpa diketahui," bisik Faisal yang menyadarkan Jovan untuk kembali ke alam nyata.


"Bang, perempuan itu aneh yaa? Lihat tuh Icha, badannya kan kecil, nggak berat juga, tapi makannya bisa banyak seperti itu, kok bisa ya?" tanya Jovan.


"Itulah misterinya perempuan yang tidak pernah dapat dijelaskan. Belum ketemu dengan kata terserah, kan? Hati-hati kalau mbak Icha sampai jawab dengan kata terserah, karena terserah itu berarti sejuta kemungkinan yang tidak bisa ditebak. Jawabannya itu semua tergantung sama moodnya," jawab Faisal.


Sambil melanjutkan perbincangannya, Jovan dan Faisal mulai mengisi piring mereka dengan aneka makanan yang tersaji.


"Mbak Sila juga gitu, nggak Bang?" tanya Jovan.


"Sama, Mas. Sila malah lebih ngeri. Kalau lagi kambuh, jangan dideketin. Kalau salah ngomong, itu tangan sudah seperti pedang! Sakit banget kalau mukul!! Makanya pernah tuh, Sila lagi kesel, eh ada ibu-ibu teriak, karena motornya dibawa kabur orang. Sila langsung ambil sepatunya, trus dilempar ke maling motornya. Itu maling langsung jatuh, Mas. Dia sampai merintih kesakitan karena kena lemparan sepatu di punggungnya. Waktu diperiksa, punggungnya sampai merah kena cap sepatunya Sila!"


Jovan pun tertawa mendengar cerita Faisal.

__ADS_1


"Makanya Mas, nanti kalau punya anak perempuan, nggak usah diajarin bela diri deh, ngeri! Serius!" lanjut Faisal yang membuat tawa Jovan semakin kencang dan wajahnya pun memerah.


__ADS_2