
"Om Adam!" panggil Marissa.
"Iya Mbak," jawab Adam yang bergegas menghampiri Marissa.
"Om, kok Abang lama naik jet ski-nya?" tanya Marissa yang mulai khawatir.
"Terakhir saya lihat, Mas Jovan ngebut ke arah pulau-pulau kecil di sana, tapi tadi saya sudah konfirmasi sama penjaga pantai, kalau disekeliling resort ini aman, nggak pernah ada kejadian macam-macam, karena letaknya jauh dari pusat kota. Di resort ini benar-benar untuk berlibur dan bersenang-senang. Mungkin mas Jovan terlalu senang, karena sudah cukup lama terkurung, yaaa dikelilingi penjaga kan nggak bebas, Mbak. Jadi kami sudah konfirm ke mas Jovan, kalau kami disini juga ikut berlibur dan hanya mengawasi dari jauh, kami membebaskan mas Jovan mau kemana dan mau ngapain," jawab Adam.
"Yaaa tapi kan nggak bisa gitu juga dong, Om. Om feeling-ku nggak enak, nih! Cari Bang Jovan dong, udah setengah jam lebih lho!" ucap Marissa yang khawatir akan Jovan.
"Baik, Mbak. Saya koordinasikan dulu dengan penjaga pantai," jawab Adam yang bersegera menuju pos penjaga pantai.
Sambil berjalan menuju pos penjaga pantai, tak lupa ia juga memanggil Faisal.
"Kami mau melaporkan kemungkinan hilangnya atasan kami, yaitu Jovan Chen, usia 26 tahun yang terakhir terlihat menuju ke laut dengan menggunakan jet ski berwarna biru dan bernomor 25," lapor Adam kepada penjaga pantai.
"Kapan kontak terakhirnya?" tanya kepala penjaga pantai.
"Sekitar 1 jam yang lalu, sebelum menaiki jet ski," jawab Adam.
"Lokasi terakhir yang terlihat di area mana?" tanya kepala penjaga pantai.
"Tadi terakhir kami melihat di area 63," jawab salah satu penjaga pantai.
"Kita sisir area 63 dan sekitarnya. Kita bagi menjadi 4 tim. 2 tim ke area 63 sektor A dan sektor B, lalu 1 tim menyisir di area 60 dan sekitarnya, 1 tim memonitor di darat," perintah kapten penjaga pantai.
Adam pun berkomunikasi dengan Jafar untuk pencarian Jovan.
"Kami akan kerahkan helikopter untuk membantu pencarian Jovan. Dam, pastikan Risa dalam penjagaan Faisal dan Silla, jangan sampai kalian melakukan kesalahan lagi! Saya tunggu laporan tertulis kamu, segera!" tegas Jafar.
Jantung Adam pun bergemuruh hebat, setelah ia menyadari keteledorannya dalam menjaga Jovan. Ia pun bersiap dengan hukuman yang akan ia terima dari Mario.
Sementara itu, Marissa tak kunjung reda dari tangisnya, sehingga menyebabkan matanya bengkak dan wajahnya pun sembab.
__ADS_1
"Mbak Risa, makan dulu yuk, nanti malah sakit kalau begini terus," bujuk Silla.
"Gimana aku bisa makan, Mbak? Bang Jovan dimana? HP-nya nggak aktif, kalau Bang Jovan kenapa-napa, aku nggak tahu harus gimana, Mbak," jawab Marissa dengan tangisnya yang semakin jadi.
HP Marissa pun berdering.
"Mbak, ayah mbak Risa nelpon," ucap Silla sambil memberikan HP-nya.
"Assalamu'alaikum, Yah."
"Wa'alaikumsalam, Cha. Kamu dimana? Sudah makan?" tanya Mario penuh kekhawatiran.
"Aku di kamar, Yah. Aku belum makan, nggak nafsu," jawab Marissa.
"Cha, tapi kamu harus tetap makan, biar ada tenaga untuk menyambut kedatangan Jovan," ucap Mario untuk membesarkan hati putrinya.
"Datang kapan? Semuanya masih sibuk nyusun rencana! Kenapa nggak dibagi, ada yang langsung nyari ke tempat terakhir terlihatnya bang Jovan, kan lebih cepat?!" ucap Marissa penuh emosi dan air mata.
"Cha, ayah tahu apa yang kamu rasakan, ayah juga pernah dalam posisi yang sama denganmu, tapi kita tetap harus berfikir jernih. Mereka juga langsung mengkoordinasikan kepada polisi laut, ayah baru saja terima laporannya dari Jafar. Look Cha, you must be strong! Perbanyak istighfar, minta Allah untuk menjaga Jovan dan mempertemukan kembali dengan kita semua. Ayah dan ibunya Jovan juga sudah diberi tahu, kami akan segera ke Batam dengan penerbangan siang ini juga. Kamu tunggu di sana yaa, kamu harus tenang. Ingat, ada Allah yang senantiasa menjaga kita semua, ya Sayang?"
"In syaaAllah, ayah tadi sudah booking tiketnya. Kamu tenang saja, yaa," ucap Mario.
"Iya, Yah. Makasih, Yah."
Sementara itu pencarian Jovan telah dimulai dengan menyisir pulau-pulau sekitar Batam, dengan mengerahkan polisi air dan beberapa petugas penjaga pantai.
Mario juga segera memerintahkan Adam untuk menyewa helikopter guna membantu pencarian Jovan dari udara.
"Dam, kamu cari Jovan via udara. Kamu segera sewa helikopter dan koordinasikan ke Jafar."
"Baik, Pak."
Tidak jauh berbeda dari Marissa, Jovanka pun tidak dapat menghentikan tangisnya setelah mendengar berita hilangnya putra bungsunya.
__ADS_1
"Ya Allah, jangan Kau ambil putra bungsuku sekarang, jangan Ya Allah!" tangis histeris Jovanka memuncak tak kala teringat kembali saat ia harus kehilangan Josie.
"Yang, sabar Yang, istighfar, istighfar," ucap Jorrian yang berusaha untuk menenangkan istrinya.
"Bang, aku takut kehilangan lagi, cukup Josie, cukup dia, jangan ambil Jovanku!"
"Kita serahkan semua ke Allah, sekarang kita siap-siap, sebentar lagi Mario akan datang. Kita siapkan untuk pencarian Jovan di sana. Kita harus menguatkan Icha, dia juga sama sedihnya dengan kita," ucap Jorrian.
Siang itu, Mario dan pengawalnya pun segera bergerak menuju Batam, bersama dengan Jorrian dan Jovanka.
Sementara itu, di sebuah pulau kecil tak berpenghuni, Boris beserta anak buahnya asyik tertawa karena aksi mereka telah berhasil membawa Jovan ke tangan mereka.
Jovan yang duduk terikat dan mulut yang juga terikat, nampak tak sadarkan diri akibat pukulan benda tumpul di kepalanya.
Boris dan kawanannya berhasil membuat Jovan berhenti dari motor jet skinya dengan speedboat yang menghadang pergerakan Jovan.
"Siapa kalian?!" teriak Jovan.
"Nggak penting kami siapa, tapi yang penting adalah kamu sekarang tidak bisa kemana-mana," ucap Boris sambil menodongkan senjata apinya ke arah Jovan.
"Tangkap dia dan naikkan dia kesini!" perintah Boris kepada anak buahnya.
Jovan pun mencoba melarikan diri dengan jet skinya, tetapi sayangnya mesinnya tidak dapat dihidupkan kembali karena bahan bakarnya telah habis akibat pengejaran tadi.
"Hahaha, habis pulak bensin kau! Sudahlah, kau ikut saja dengan kami," lanjut Boris.
"Tangkap dia!!"
Anak buahnya pun menarik Jovan untuk menaiki speedboat, tentu saja Jovan melakukan perlawanan yang akhirnya membuat Bonar memukul kepala Jovan dengan kayu. Seketika itupun Jovan kehilangan kesadarannya dan dengan mudah Bonar menarik badan Jovan ke dalam speedboat.
"Tutup mulutnya dan ikat tangan dan kakinya!!" perintah Boris lagi.
Speedboat itu pun bergerak menuju pulau kecil yang telah mereka siapkan sebelumnya dan membiarkan motor jet ski di tengah laut begitu saja.
__ADS_1
"Bang, itu motor dibiarkan saja begitu? tidak kita bawa saja?" tanya Bonar.
"Biarkan saja, biar mereka lebih khawatir," jawab Boris.