Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 71 Just Another Day


__ADS_3

Keesokan paginya, setelah 'pertempuran' semalam, Jovan dan Marissa asyik bercengkerama di atas tempat tidurnya.


Marissa pun memandangi wajah Jovan yang teduh.


"Kenapa ngeliatin terus?" tanya Jovan.


"Nggak papa, aku cuma mengagumi karya ciptaan Allah, yang segitu sempurnanya. Kulitnya halus, mulus, nggak ada bekas jerawat. Hidung mancung, lancip. Matanya besar tapi lipatannya kecil jadi terkesan sipit. Bibirnya tidak tebal dan juga tidak tipis, merah alami bikin iri cewek-cewek. Alisnya tebal dan rapi, bulu matanya panjang dan lentik. Bagi ke aku sikit, napa Bang?" jawab Marissa panjang lebar.


Senyum lebar merekah sempurna dari bibir Jovan, setelah mendengar pujian Marissa. Ia lalu mengecup dahi dan ujung hidung Marissa.


"Ih Abang, hidungku...!" protes Marissa sambil menutup hidungnya dengan telapak tangannya.


"Kenapa ditutup, buka aja," sahut Jovan sambil mengangkat tangan Marissa agar tidak menutupi hidungnya.


"Hidungnya, imut...,"


"Bilang aja pesek, ga usah diperhalus," potong Marissa.


"Sssst dengerin dulu sampai selesai. Hidungnya imut, pipinya chubby, matanya bulat, bulu matanya tipis tapi panjang, alisnya juga rapi, alami. Bibirnya, hmmmm ga ah," canda Jovan yang membuat Marissa mengernyitkan dahinya.


"Apa kok nggak?" tanya Marissa.


"Ga ada obatnya, kalau ngomong ga bisa dilawan, tapi yang paling enak," goda Jovan lagi yang membuat Marissa memukuli dadanya.


Jovan pun tertawa dan memeluk Marissa lebih erat.


"Yang, Abang nyerah. PRnya nggak pakai selesai atau tidak selesai, dikumpulkan, yaa?"


"Hmmm sebentar, aku mikir dulu. Hmmm gimana yaa?? Ah nggak seru. Sudah ah, aku mau nyiapin sarapan dulu. Eh, Abang hari ini jadi ketemu Pak Rakesh?" tanya Marissa.


"In syaa Allah, nanti jam 11," jawab Jovan.


"Oiya Yang, sebulan ini Abang bakalan sibuk, selain untuk persiapan premier film juga untuk persiapan promosi novel ke-dua. Selain itu, Abang juga harus mempersiapkan kuliah S2. In syaa Allah mulai masuk, 2 bulan lagi, setelah promosi novel selesai."


"Yang, maaf ya, kerjaannya maraton, tapi Abang akan usahakan untuk punya special time hanya untuk Sayang. Tolong ingetin kalau Abang lupa, yaa?" pinta Jovan.


Marissa pun mengangguk.

__ADS_1


"Makasih, Yang. Jangan bosan ingetin Abang, yaa," pinta Jovan lagi.


"In syaa Allah. Yowes Bang, aku siapin sarapan dulu," ucap Marissa sebelum ia menuju ke dapur.


Marissa menyadari benar bahwa menikah dengan Jovan, artinya ia harus rela berbagi waktu dengan penggemar dan pekerjaan Jovan. Ia harus menekan rasa cemburunya, setiap ada penggemar yang memintanya berfoto atau sekedar tanda tangan.


Di sisi lain, Jovan tidak pernah melepaskan pandangan ataupun tangannya dari Marissa. Walaupun ia harus meladeni penggemar yang tiba-tiba meminta foto bersama atau tanda tangan, ia memastikan Marissa tetap berada di sisinya. Ia tidak ingin Marissa merasa disingkirkan ketika ia harus berhadapan dengan penggemarnya ataupun merasa dinomorsekiankan dari segala kesibukannya.


Sementara Marissa menyiapkan sarapan, Jovan pun bersiap untuk aktifitasnya hari itu. Notifikasi pesan di HP Jovan pun berbunyi.


"Bang, aku perlu ke rumah atau kita ketemu di kantor Pak Rakesh?" tanya Bian melalui pesan WA-nya.


"Langsung di kantor aja, kita ketemu jam 11, on time no karet!" jawab Jovan tegas.


"Iya, Bang," jawab Bian mengakhiri percakapannya.


Sementara itu, Marissa mulai sibuk menyiapkan sarapan pagi itu, dibantu oleh ART.


"Mbak, mau masak apa, biar saya bantu," Nining salah satu ARTnya menawarkan bantuan.


"Cuma nasi goreng aja, kok. Tolong uleg bawang merah, putih, sama rawit ya," pinta Marissa.


Kemudian Marissa memotong-motong bakso dan sosis, sebagai pelengkap nasi gorengnya.


Setelah itu, ia pun memanaskan wajan dan mulai memasak. Aroma wangi bumbu pun memenuhi seluruh ruangan, membuat si kembar mencari sumber aroma tersebut.


"Mbak, masak apa sih? Pagi-pagi bikin lapar," tanya Mariska.


"Nasi goreng. Eh kamu belum siap-siap untuk daftar sekolah?" Marissa pun balik bertanya karena melihat penampilan Mariska yang masih memakai piyama.


"Nanti, kan baru jam 7. Ayah bilang kita berangkat jam 8. Masih 1 jam lagi," jawab Mariska santai.


"Eh pakai bergohnya! sebentar lagi Bang Jovan keluar kamar lho," tegur Marissa.


"Oiya lupa, bentar aku ambil ini dulu," jawab Mariska yang dengan cepat mengambil sekotak susu dan semangkuk cereal, lalu berlari cepat ke kamarnya.


Tak lama kemudian, Jovan yang sudah wangi, berjalan menuju ruang keluarga untuk menemui Mario yang sedang asyik membaca koran.

__ADS_1


"Yah, siang ini aku ada urusan dengan Pak Rakesh, untuk membahas premier filmnya bersama sutradara, kemungkinan sampai sore. Setelah itu, mau sekalian membahas promo buku, in syaa Allah bulan ini sudah selesai cetak yang pertama."


"Oiya, ayah juga sudah dapat laporannya dari kantor. Novel kamu, paling lambat 3 pekan lagi sudah bisa mulai dipasarkan. Daftar agen toko buku sudah PO kita, totalnya sementara 1 juta eksemplar. Nanti setelah filmnya release, dipastikan akan bertambah. Good job. Oiya, Icha ikut nggak?"


"Enggak, Yah. Nanti yang hadir, apak-bapak semua, kasian nanti Icha bosan," jawab Jovan.


"Oiya, nanti pada saat kamu mulai promo untuk film dan novel, apakah Icha akan ikut?" tanya Mario.


"Maunya sih begitu, Yah. Tapi aku bingung juga, karena pasti akan banyak kamera, aku nggak mau Marissa jadi bahan kilatan kamera," jawab Jovan.


"Kenapa?" tanya Mario.


"Aku hanya ingin menjadi seseorang yang dapat menikmati kecantikannya, aku tidak rela berbagi dengan manusia di luar sana," jawab Jovan yang membuat Mario tertawa kecil.


"You're jealous," ucap Mario.


"Memangnya nggak boleh, Yah?"


"Boleh and it's cemburu yang diperbolehkan. But, you have to find a way....."


"A way, apa Yah?" tanya Marissa tiba-tiba yang muncul dari dapur.


"Sit down first," jawab Mario.


Marissa pun duduk di samping Jovan.


"Jadi, tadi ayah tanya ke Jovan akan kesibukannya nanti dengan berbagai macam promosi. Pastinya akan kesana kemari, untuk memenuhi undangan wawancara baik media cetak maupun elektronik. Ayah tanya, kamu akan diajak atau tidak, selama promosi," jelas Mario.


"Trus, Abang jawab apa?" tanya Marissa yang penasaran akan jawaban suaminya.


"He said, he doesn't want to share your beauty to the world, he wants to be the only one who can enjoy your beauty," jawab Mario.


"Ooouuu coooo cwiiiitt," sahut Marissa dengan wajah bersemu.


"Hmmm tapi nggak adil, wajah Abang bisa dinikmati seluruh kaum hawa diluar sana," protes Marissa.


Mariska yang menguping pembicaraannya dari depan kamarnya pun segera bergabung.

__ADS_1


"Why don't you wearing a mask, it's kind of popular around the famous people," sahut Mariska.


"Good idea!! Abang pakai masker, aku pakai cadar, kita aman!" timpal Marissa.


__ADS_2