Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 66 Menaklukan si Kembar


__ADS_3

Setelah malam panjang yang menegangkan, keluarga Sofyan dan Chen kembali berkumpul untuk sarapan bersama dan menyaksikan berita penangkapan Winda.


Tetapi sebelum itu, Jovan meminta Marissa untuk mendadani Mariska, agar penampilannya tidak menjadi perhatian ketika berada di tengah-tengah Marissa dan Jovanka yang berhijab.


"Yang, tolong kamu dandani Ika, biar ga jadi pusat perhatian, lagian Abang risih lihat penampilannya. Memangnya dia ga paham ukuran badannya, masa' baju kekecilan di pakai?!"


Marissa pun tertawa mendengarnya.


"Kan baju kurang bahan itu ngetrend, Bang. Nanti aku pinjamin abaya, eh dia badannya lebih besar dari aku, yaaa harus beli deh," jawab Marissa.


"Iya memang harus beli. Eh minta orang hotel beliin aja," usul Jovan.


Marissa lalu menghubungi bagian resepsionis untuk membelikan 1 set pakaian yang menutup aurat untuk Mariska.


"Mbak, bagaimana kalau kami bawa ke atas saja pakaiannya, jadi Mbak Risa bisa langsung memilihnya," jawab bagian resepsionis, setelah Marissa mengatakan permintaannya.


"Bisa gitu? Boleh deh, aku tunggu ya Mbak," ujar Marissa.


Beberapa menit kemudian, bagian resepsionis pun mengantarkan beberapa pakaian pesanan Marissa.


Marissa dan Jovan segera memilih busana yang sesuai dengan karakter Mariska. Pilihan mereka pun jatuh pada blus berwarna putih, rok plisket berwarna kopi susu dan cardigan berwarna senada.


Lalu, Marissa berjalan sendiri menuju kamar Mario dengan membawa pakaian untuk Mariska, karena Jovan tidak ingin melihat penampilan Mariska yang hanya menggunakan t-shirt dan celana pendek ketat.


Sesampainya di kamar Mario, didapatinya Marendra dan Mariska masih tertidur pulas.


"Lah, masih tidur?"


"Masih, sudah 1 jam ayah coba bangunin, tapi ga bangun juga. Ada apa, Cha?" tanya Mario.


"Oh iya, ini aku bawain baju ganti untuk Ika. Bang Jovan risih lihat penampilan Ika," jawab Marissa sambil menunjukkan pakaian yang baru ia beli.


"Wah, Ika bakalan ngamuk kalau disuruh pakai baju tertutup seperti itu," ucap Mario sambil tertawa.


"Kok Ayah ga ajarin dia pakai pakaian tertutup?" tanya Marissa.


"Aaah, Ayah selama menikah dengan Winda, tidak bisa bersuara, ayah hanyalah suami diatas kertas, dia sama sekali tidak pernah menganggap ayah sebagai suaminya. Ayah sangat ingin menceraikannya, tetapi Ayah terikat perjanjian, bahwa tidak ada perceraian, jika salah satu menggugat cerai, dia harus membayarkan sebesar uang yang diberikan ayahnya untuk melunasi hutang perusahaan, beserta bunganya. Ntah mengapa dulu ayah menyetujuinya saja, tanpa memikirkan efeknya," sesal Mario.


"Endra dan Ika adalah PR besar ayah. Ayah akan memulainya dari awal, walaupun akan dipastikan tidak akan mudah," lanjut Mario.


Marissa pun mendekati dan memeluk Mario.


"PR kita semua, Yah. Aku akan bantu, mereka berdua adikku, walaupun dari rahim yang berbeda, but we have the same father. Don't worry Yah, aku ga akan membiarkan mereka tetap pada kebiasaannya, mereka mau tinggal disini, mereka harus ikuti peraturan disini," ucap Marissa.


"Lagian semalam, Bang Jovan sudah ngomong ke mereka berdua, kalau mereka harus mau ngikutin kebiasaan dan peraturan yang berlaku disini, ga pakai tapi," lanjut Marissa sambil tertawa kecil.


"Kok kamu ketawa, memangnya, ada yang lucu?" tanya Mario.


"Ekspresi Abang waktu ngadepin Endra sama Ika itu galak banget, ga ada senyum, serius banget. Aku jadi geli, soalnya ga pernah lihat Abang segitu seriusnya, ga taunya dia kesal lihat penampilan mereka berdua yang seperti remaja-remaja gaul yang suka clubbing," jawab Marissa.


"Yaa, ibunya aja suka clubbing, gimana anaknya ga suka?"

__ADS_1


"Serius Yah, tante Winda suka clubbing? Kan sudah tua? trus Endra sama Ika kan masih dibawah umur?" tanya Marissa.


"Winda punya kenalan, jadi dia bisa bebas masuk kapan saja, tapi dia pakai ruangan khusus, tidak berbaur dengan pengunjung lain," jelas Mario.


Mario lalu melihat ke arah jam tangannya.


"Sudah hampir jam 8, kamu bangunin adik kamu. Siram air kalau perlu!" ucap Mario kesal tetapi malah membuat Marissa tertawa.


Marissa pun bergegas membangunkan kedua adik kembarnya.


"Endra, Ika!! Bangun, sudah siang!!" ucap Marissa sambil menarik selimutnya.


Marendra dan Mariska hanya menggeliat kemudian melanjutkan tidurnya lagi.


"Kalau tidak bangun pada hitungan ketiga, aku siram kalian berdua!!" ancam Marissa.


Kedua adiknya pun tetap tidak memperdulikan ancaman Marissa, mereka tetap tidur dan menarik selimutnya kembali.


Melihat hal itu, Marissa segera mengambil 2 botol air mineral dari dalam kulkas lalu menumpahkan semua isinya diatas kepala Marendra dan Mariska.


Keduanya pun terkejut dan berteriak marah, tetapi bukan Marissa jika ia tidak dapat mengatasinya.


"DIAM!! Kalian punya waktu 15 menit untuk bersiap, setelah itu kita sarapan di bawah. Jika terlambat, maka tidak ada sarapan untuk kalian dan jangan coba-coba untuk memesan makanan melalui room service, ayah tidak akan membayarnya untuk kalian!!"


"Oh satu hal lagi, aku sudah menyita handphone kalian. Tidak akan aku berikan hingga kalian bersikap baik dan sopan!! Ingat itu!! Paham ??!!"


Marendra dan Mariska pun terdiam membeku, mereka tidak menyangka jika Marissa yang berbadan lebih kecil dari mereka mempunyai nyali untuk memarahi mereka berdua.


Kedua adiknya pun segera bersiap, tanpa menunggu lagi. Dengan gerakan kilat mereka bergantian menggunakan kamar mandi dan berganti pakaian.


Marissa pun asyik menatap handphonenya, sambil menghitung waktu yang tersisa. Sedangkan Mario tersenyum puas melihat ketegasan Marissa, menghadapi kedua adiknya.


"Ika, kamu pakai baju ini, kalau kamu tidak mau, kamu tidak boleh keluar. Aku ga rela melihat anggota keluargaku memamerkan auratnya," lanjut Marissa sambil memberikan tas berisi abaya.


Mariska pun segera membuka untuk melihat apa isinya. Sesaat itu pun ia ingin protes dan menolaknya, tetapi begitu ia melihat ekspresi wajah Marissa yang seolah-olah hendak mengunyahnya menjadi bubur, ia pun pasrah dan menerimanya dengan terpaksa.


"Bilang apa, kalau dikasih barang?" ketus Marissa.


"Trima kasih, Mbak," jawab Mariska lirih.


"Apa? Aku ga dengar, kalau ngomong tuh yang jelas !!" lanjut Marissa lagi.


"Terima kasih, Mbak Risa," jawab Mariska terpaksa.


"Good, you'ld better hurry. 10 more minutes!!"


Mariska pun menggedor pintu kamar mandi untuk meminta agar Marendra bersegera.


"Ndra!! Hurry up, come on hurry!! We'll be dead if you're not hurry!!" teriak panik Mariska.


Marissa pun duduk di kursi dengan menyilangkan kakinya, menikmati kepanikan Mariska yang ia anggap lucu.

__ADS_1


Mario pun menyaksikannya dengan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tak lupa ia juga merekamnya menggunakan handphonenya.


Setelah beberapa menit, Marendra telah rapi dengan pakaian yang Marissa pilihkan dari dalam kopernya.


Walau pun kesal akan pilihan dari Marissa, yaitu kemeja santai dan celana jins, ia pun tetap memakainya dengan terpaksa.


"Kenapa, itu kan baju kamu, kok ga suka?" tanya Marissa.


"Bukan gitu Mbak, tapi kita kan cuma mau sarapan, kok bajunya resmi banget, enakan juga pakai kaos sama celana pantai," jawab Marendra.


"Penampilanmu mencerminkan dirimu, penampilanmu adalah salah satu cara menghormati diri sendiri dan orang lain," jelas Marissa.


"Mbak, ngomong to the point aja deh, aku ga ngerti maksudnya," ucap Marendra.


"Ndra, penampilan itu adalah cerminan hati, maksudnya jika hati kita bersih, kita pasti akan berpenampilan baik, berpakaian yang baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Dari penampilan itu juga, kita menghormati dan menghargai diri kita sendiri, karena kita tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak berakhlaq, tidak tahu sopan santun. Dengan itu juga kita menghormati orang lain, kan kamu tidak pernah melihat presiden menyambut tamu negara dengan menggunakan celana pendek dan kaos oblong, karena mereka menghargai tamu mereka dan diri sendiri. Bayangkan jika seorang presiden, hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendek, pasti ia sudah dihujat dan dihina, ia sudah pasti kehilangan harga dirinya. Hargai orang lain dengan cara menghargai diri sendiri terlebih dahulu," jelas Marissa.


Marendra pun mengangguk, tanda memahami penjelasan Marissa.


Beberapa saat kemudian, Mariska pun telah siap dengan pakaian barunya.


"Nah kan cantik, anggun," puji Marissa sambil mengambilkan ciput dan pasmina untuk Mariska.


"Pakai ini, setelah itu kita turun sarapan," lanjut Marissa.


Mariska pun kembali menerimanya dengan terpaksa. Ia pun memakai hijabnya dengan dibantu Marissa


Mario pun terkesima dengan penampilan baru Mariska.


"MasyaAllah, you look so pretty," puji Mario sambil mencium kedua pipi Mariska.


"Apaan sih Ayah!!" protes Mariska sambil menggosok pipinya.


"Ayah suka penampilan kamu seperti ini, kita nanti belanja yaa. Ayah akan belikan kamu baju baru yang pantas," ucap Mario penuh semangat.


"Kok Ika aja, aku nggak?" protes Marendra.


"Siapa bilang Ika saja, kamu berdua akan ayah belikan baju baru, tetapi ada syaratnya," jawab Mario.


"Syaratnya apa, Yah ?" tanya keduanya.


"Syaratnya adalah Mbak Icha dan Bang Jovan yang akan memilihkan pakaiannya," jawab Mario dengan senyum dan lirikan ke arah Marissa.


Jawaban Mario pun berhasil membuat anak kembarnya kembali tidak bersemangat, tetapi mereka segera ingat kata-kata Marissa sebelumnya.


"Baik, Yah, terima kasih," ucap Marendra dan Mariska terpaksa.


Setelah itu mereka pun segera keluar dari kamar mereka.


"Eh Abang, baru mau aku samperin di kamar, sudah lama nunggunya?" tanya Marissa yang mendapati Jovan sedang menunggunya di depan kamar.


"Baru kok, paling 5 menit. Hmmm siapa nih, ada anak baru?" goda Jovan melihat penampilan Mariska yang tertutup.

__ADS_1


"Iya, baru diancam sama Mbak Risa!!" ketus Mariska.


__ADS_2