Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 55 Home Sweet Home and The Story Behind


__ADS_3

Menjelang sore hari, Jovan dan Marissa akhirnya tiba di rumah dan segera disambut oleh Jovanka dan Jorrian, yang telah menginap di sana guna persiapan pernikahan putra bungsunya.


"Welcome home," sambut Jovanka sambil memberikan pelukan hangat kepada Marissa.


"It's good to be back!! Waaaa aku kangen dapurnya!! dapurnya masih disitu'kan, Bun??" tanya Marissa yang membuat Jovan segera meletakkan telapak tangannya di dahi Marissa.


"Oh pantesan error, agak anget," ucap Jovan datar sambil berjalan ke ruang keluarga, sedangkan Marissa hanya dapat melayangkan pukulan di udara, setelah mendengar ucapan Jovan.


Jovanka pun tertawa mendengar percakapan khas Jovan dan Marissa, ia lalu mengajak Marissa dan para pengawalnya untuk masuk.


Marissa pun segera menuju ke ruang keluarga dan memberi salam kepada Jorrian yang tengah menonton berita di TV.


"Assalamu'alaikum, Yah," salam Marissa.


"Wa'alaikumsalam, duduk sini Cha," jawab Jorrian.


"Nanti, Yah. Icha mau ke kamar dulu. Eh Bang Jovan kemana??"


Jovan yang sedang di lantai atas, sayup-sayup mendengar pertanyaan Marissa.


"Kenapa, Cha?? Abang lagi mau ke kamar, naro tas."


"Ikuuuut, tungguin!!" seru Marissa yang segera berlari menyusul Jovan.


"Eeeeh ngapain lari-lari, emangnya mau ditinggal kemana, sih??" protes Jovan.


"Ke hatimuuu," jawab Marissa sambil memberikan cium jauh kepada Jovan.


"Aaaahhh, hatiku," ucap Jovan sambil memegang dadanya.


"Heeeiii!! dilarang beradegan mesra di depan orang!!" tegur Jorrian.


"Yowes, ntar aku cari hantu buat jadi pemirsaku," canda Marissa yang membuat Jovan segera mengangkat badan Marissa dari belakang dan menutupi mulutnya dengan tangannya.


"Jangan kambuh sekarang, tuh lihat Adam, Faisal sama Silla jadi salting," bisik Jovan di telinga Marissa sambil menggendongnya hingga ke dalam kamar.


Jovan pun melepaskan tangannya dan menurunkan Marissa di tempat tidur.


"Silahkan kalau mau mandi duluan," ucap Jovan sambil melepaskan kemejanya dan menyisakan singlet putih yang memperlihatkan otot-otot lengannya.


Marissa pun menutupi wajahnya dengan bantal yang membuat Jovan kembali menggodanya.


"Kenapa mukanya ditutupin bantal?? kemarin kan sudah lihat lebih dari ini," ucap Jovan sambil mendekati Marissa dan duduk di sampingnya.


"Apaan sih, Abang!!" protes Marissa untuk menutupi rasa malunya, tetapi wajahnya malah semakin bersemu merah hingga membuat Jovan tertawa geli.


"'Cu amat sih istri Abang!! gemeeeesh!!" ucap Jovan sambil mencubit pipi Marissa.


"Saaaakiiiiiit, Abaaaaang!!!" protes Marissa yang hanya berpura-pura kesakitan.


"Aduuuh kasian, sakit yaaa. Maaf yaa, sini Abang obatin," ucap Jovan sambil mencium kedua pipi Marissa.


"Ish udah, ah!!" ucap Marissa sambil mendorong badan Jovan.


"Oke, sekarang sudah dulu, tapi nanti malam, siap-siap yaa," goda Jovan yang segera menghilang ke kamar mandi untuk menghindari amukan Marissa seperti saat mereka masih kanak-kanak.


"Waaaah, Abang!! mainannya kabur muluk, nih!! kapan yaa, Abang bisa stay still, ga kemana-mana kalau habis gangguin aku??!!" teriak Marissa.


Jovan pun membuka pintu kamar mandi dan mengeluarkan sedikit kepalanya.


"Kapan-kapan, Cintaaaa," goda Jovan lagi yang segera menutup pintunya dengan cepat dan tak lupa menguncinya.

__ADS_1


Mendengar panggilan, 'cinta' dari Jovan untuknya, membuat jantung Marissa berdebar dengan kencang, wajahnya pun memerah. Ia pun kembali menyembunyikan badannya dibawah selimut karena salah tingkah.


Sementara Jovan membersihkan dirinya, Marissa memilih untuk tetap berbaring di atas tempat tidurnya, untuk mengistirahatkan kakinya setelah berkeliling Mall seharian.


"Cha, tolong dong??" panggil Jovan yang kembali hanya menunjukkan kepalanya dari kamar mandi.


Marissa pun membuka selimutnya dan bertanya, "Kenapa, Bang??"


"Tolong ambilin handuk di lemari, sekalian sama bajunya, yaa. Terserah yang mana aja, tolong yaa, Cintaa," pinta Jovan dengan lembut dan segera menutup pintunya kembali.


"Ish, sok-sokan mesra, pakai Cinta lagi?!! gayanya centil padahal cuma minta tolong ambilin handuk, doang!!" ucap Marissa lirih.


Marissa pun mengambil handuk dan pakaian Jovan di lemari.


"Ini handuknya, Bang," ucap Marissa di depan pintu kamar mandi.


Jovan pun membuka pintunya dan mengeluarkan tangannya, untuk menerima handuk dan pakaian dari Marissa.


Tetapi, bukan Jovan jika tidak bercanda. Ia pun membuka pintunya lebih lebar dan menarik tangan Marissa hingga masuk ke dalam kamar mandi, lalu menutupnya kembali.


Marissa pun terkejut dan berteriak.


"Sssstt ngapain teriak, sih?? itu kenapa merem?? buka aja matanya, kan ada pemandangan indah yang khusus teramat spesial untuk Icha seorang, cintanya Abang," goda Jovan yang kemudian mengambil handuk dari tangan Marissa dan menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Bang, aku mau keluar," ucap Marissa datar sambil tetap menutup matanya.


"Ga mandi dulu?? Mandi sekalian aja," goda Jovan lagi.


"Eh buka matanya!! ngapain pakai merem segala, sih!!" protes Jovan.


"Sudah aman. Abang juga ga se-PD itu, Cha," lanjut Jovan.


"Oooo baru tahu, kalau seorang Jovan Chen itu bisa ga PD juga," goda Marissa.


"Bisa 'lah!! apalagi di depan cintanya Abang ini, kepercayaan diri Abang bisa tiba-tiba menghilang," ucap Jovan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Marissa.


Jawaban Jovan pun kembali membuat Marissa tersipu, hingga wajahnya memerah yang kembali membuat Jovan gemas melihatnya.


"Aduuuh Chaaa, begitu aja sudah merah pipinya," ucap Jovan sambil mencubit dengan lembut kedua pipi Marissa.


"Ish!! Abang senengnya nyubit muluk!!" protes Marissa.


"Hmm kalau gitu, ganti cium aja yaa," ucap Jovan yang segera mencium bibir Marissa.


Marissa pun terkejut, tetapi ia pun membalasnya dan mereka berdua pun menikmatinya.


Setelah beberapa saat, mereka pun saling melepaskan ciuman mereka dan menyisakan nafas yang terengah-engah.


"To be continue, ya. Be ready for tonight!!" ucap Jovan yang membuat jantung Marissa berdegup kencang.


Jovan pun tertawa kecil, melihat reaksi Marissa yang tiba-tiba membeku. Ia lalu mengecup kening Marissa, sebelum dirinya keluar dari kamar mandi.


Tetapi sesaat kemudian Jovan kembali ke kamar mandi.


"Eh, kok masih bengong, buruan mandi, sebentar lagi Maghrib. Abang permisi sebentar yaa, mau wudhu dulu," ucap Jovan sambil membuka kran air dan mulai berwudhu.


Marissa pun kembali keluar kamar mandi dan menuju lemari untuk mengambil handuk, kemudian mengambil pakaiannya di dalam tas sambil menunggu Jovan keluar.


Sesaat kemudian,


"Abang nunggu Maghrib sekalian jalan ke Masjid, yaa," ucap Jovan.

__ADS_1


"Eh iya, Bang."


"Segera mandi, trus shalat yaa. Abang ke Masjid dulu. Assalamu'alaikum," pamit Jovan.


"Wa'alaikumsalam."


Selepas shalat berjama'ah di Masjid, Jovan dan Jorrian beserta para pengawalnya tidak segera pulang, tetapi mereka mengikuti kajian hingga waktu Isya tiba.


Sementara itu di rumah Jovan, selepas Isya para wanita mulai menyiapkan makan malam.


Marissa menemui Jovanka yang tengah menyiapkan makan malam dengan dibantu oleh Narsih, salah satu ART yang dipekerjakan Jovan di rumahnya.


"Bunda masak apa??" tanya Marissa.


"Iga panggang BBQ sama krim sup. Cha, tolong kamu atur meja makannya saja, sekalian siapkan piring sajinya," pinta Jovanka.


"Siap, laksanakan!!" jawab Marissa dengan bergaya layaknya tentara.


Silla pun ikut membantu Marissa mengatur meja dan piring.


Tak lama berselang, para pria telah kembali dari shalat Isya berjama'ah di Masjid.


"Ayo, semuanya langsung makan aja, mumpung masih hangat," ajak Jovanka yang sudah duduk di kursi makan.


Jovan dan Jorrian pun menarik kursi makannya, diikuti oleh Adam dan Faisal.


"Ayo Cha, sekalian, kok diam aja," ajak Jorrian.


"Hmmm, ntar aku kok tiba-tiba kepikiran sesuatu," jawab Marissa.


"Kepikiran apa??" tanya Jovan.


Marissa pun menarik kursinya di samping Jovan. Lalu dengan wajah serius, ia memandang ke arah Silla dan Faisal.


"Bang Fai, katanya kan sudah ngikutin aku selama 5 tahun, berarti waktu aku ke Singapura, ikut juga dong??" tanya Marissa.


"Iya, Mbak. Kami berdua menaiki penerbangan yang sama dengan Mbak Risa," jawab Faisal.


"Berarti waktu aku ketemu Bang Josie, tahu juga??"


"Iya, Mbak. Kami selalu mengikuti kemana pun Mbak Risa pergi," jawab Silla.


Marissa pun terdiam, seperti memikirkan sesuatu, lalu ia pun kembali bertanya.


"Sewaktu Bang Josie tertabrak, kalian tahu??" tanya Marissa yang membuat Jovan terkejut dan suasana pun menjadi hening, hanya terdengar suara Faisal yang menjelaskan kronologi kecelakaan.


"Iya, Mbak. Saya yang memanggil ambulan dan polisi, sedangkan Silla tetap mengikuti Mbak Risa sampai ke penginapan. Saya berada tidak jauh di belakang Mas Josie, saya hampir meraih tangannya saat kejadian, tetapi saya terlambat," ucap Faisal penuh penyesalan.


"Saat itu saya segera memeriksa keadaan Mas Josie, sambil memanggil ambulan. Saya juga menghubungi Silla, kalau saya akan menunggui Mas Josie sampai dibawa ke rumah sakit," lanjut Faisal.


"Kok, Bang Faisal bisa dibelakang Bang Josie??" tanya Marissa dengan suara bergetar dan jantung yang berdegup kencang.


"Feeling saya ga enak, Mbak. Sepertinya ada yang sesuatu sama Mas Josie. Untuk itu saya minta Silla tetap ikutin Mbak Risa dan saya mengikuti Mas Josie dari belakang. Sebenarnya saya ingin berdiri di samping Mas Josie di saat menunggu lampu merah, tetapi saya ingat ada peraturan untuk menjadi jarak sedikitnya 5 meter di belakang, sehingga saya tetap berada di belakang Mas Josie," jelas Faisal.


"Ketika Mas Josie tertabrak, saya sangat marah kepada diri saya sendiri, kenapa saya terlalu kaku mengikuti peraturan yang akhirnya membuat saya terlambat menyelamatkan Mas Josie," tambah Faisal dengan nada penuh penyesalan.


"Bang Faisal menyalahkan dirinya sendiri setelah kejadian itu, Mbak. Sampai-sampai harus dipanggil kembali ke pusat pelatihan, untuk diberikan konseling dan terapi dengan psikolog," tambah Silla yang membuat suasana kian hening.


Jovan hanya terdiam, tidak dapat berkata apa-apa. Ia pun kembali mengingat peristiwa dimana ia harus kehilangan Josie untuk selama-lamanya, dimana hatinya terasa sangat sakit saat itu, karena harus berpisah dengan kakak sekaligus sahabat dan rivalnya.


Marissa pun merasakan apa yang dirasakan oleh Jovan, ia menggenggam erat tangan Jovan dan mencium punggung tangannya.

__ADS_1


__ADS_2