Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 50 Bian


__ADS_3

Alarm berbunyi sesaat sebelum adzan Subuh, Marissa pun terbangun dan segera mematikan suara alarmnya.


Dilihatnya Jovan masih terlelap, ia pun membangunkannya.


"Bang, bangun, sudah Subuh."


Jovan pun berusaha membuka matanya yang masih terasa berat.


"Bang, sudah hampir Subuh," ucap Marissa sambil menepuk-nepuk lengan Jovan.


Mata Jovan akhirnya terbuka perlahan.


"Subuh, Bang," ucap Marissa sekali lagi.


"Iya," jawab Jovan sambil berusaha bangun dari tidurnya.


Setelah beberapa saat, akhirnya Jovan bersiap untuk shalat Subuh di masjid sedangkan Marissa tetap melaksanakan shalat Subuh di dalam kamarnya.


Sementara itu, Bian dikejutkan oleh pesan dari Jovan.


"Serius, sudah akad??!!" gumam Bian.


"Ini gimana ceritanya?? Ah tau' dah, mending buruan ke Istana Ratu, daripada tiba-tiba kepala jadi taruhannya," gumam Bian lagi sambil bersiap menuju kediaman Alex.


Setelah mengambil semua barang yang dibutuhkan oleh Jovan, Bian pun segera menuju ke kediaman Alex di Pondok Indah.


Sesampainya di depan rumah Alex, Bian cukup terkejut karena mobilnya harus diperiksa seperti memasuki area perbelanjaan atau perkantoran.


"Kok diperiksa?? ada apa, sih??" gumamnya.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Bian disambut oleh pria-pria berbadan besar dan berpakaian hitam-hitam sama seperti pria yang memeriksa kendaraannya tadi.


"Anda Bapak Bian??"


"Iya, Pak," jawab Bian.


"Silahkan, Anda telah ditunggu Pak Jovan," ucap pria tersebut sambil mengajaknya masuk ke ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu, Jovan terlihat tengah menunggu kedatangan Bian.

__ADS_1


"Ini, Bang bajunya," ucap Bian sambil memberikan tas berisi pakaian dan perlengkapan lainnya.


"Makasih, Bi. Tunggu yaa, aku naik dulu. Ceritanya nanti!!" ucap Jovan.


Jovan pun segera kembali ke kamar Marissa, meninggalkan Bian sendiri di ruang tamu yang cukup besar.


Bian pun duduk sendiri memandang sekeliling ruangan, lalu Faisal menghampirinya.


"Assalamu'alaikum, Mas Bian. Perkenalkan saya Faisal Putra, pengawal pribadi Mbak Marissa," ucap Faisal sambil menjabat tangan Bian.


"Wa'alaikumsalam, kok tahu nama saya Bian??"


"Saya tahu semua orang yang berada di sekitar Mbak Marissa, saya wajib tahu, Mas. Kalau tidak, saya bisa digorok Pak Mario!!" canda Faisal yang membuat Bian bergidik.


"Siapa yang saya gorok??!!" ucap Mario yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Siap, Pak!! Maaf, Pak. Saya tadi cuma bercanda, Pak!!" jawab Faisal yang cukup panik.


"Santai, Sal. So, ini Bian, sang manajer rasa asisten, yaa?? Kenalkan, saya Mario Sofyan, ayahnya Icha. Terima kasih banyak, selama ini kamu sudah banyak membantu Icha. Oiya, nanti saya akan bicara dengan kamu dan Jovan. Bilang ke Jovan, saya tunggu di ruang kerja," ucap Mario yang kemudian meninggalkan Bian dan Faisal di ruang tamu.


Awal pertemuan yang membuat Bian kebingungan, ia pun duduk kembali sambil berfikir ada apa sebenarnya.


Tak lama, Jovan pun kembali menemui Bian.


"Bang, ini ada apa sih??" tanya Bian.


"Nanti aku jelasin," jawab Jovan.


"Oiya, tadi kata Ayahnya Mbak Risa kita ditunggu di ruang kerjanya," ucap Bian.


"Tadi ayah sudah kesini?? Yowes, yuk kita ke sana," jawab Jovan yang segera berjalan menuju ruang kerja Mario.


Bian pun mengikuti Jovan, dengan seribu pertanyaan dalam benaknya.


Jovan kemudian mengetuk pintu ruang kerja Mario.


"Masuk," ucap Mario dari dalam.


Jovan dan Bian pun memasuki ruang kerja Mario, yang tertata rapi.

__ADS_1


"Duduk," ucap Mario mempersilahkan Jovan dan Bian duduk di sofa.


"Bian, kamu pasti bingung dengan apa yang terjadi. Saya tidak akan menjelaskannya, biar Jovan saja nanti. Saya sekarang ingin bicara mengenai Icha dan Jovan. Jovan, dalam waktu 2 bulan, kamu sudah memulai studi magister manajemen, jadi Ayah minta kamu untuk dapat membagi waktu dengan baik, antara pekerjaan di kantor, kuliah dan Icha. Icha adalah ratu di rumah ini, jadi dia adalah prioritas utama."


"Adam, masuk!!" panggil Mario melalui intercom.


Lalu seorang pria berperawakan tinggi besar dan tegap, seperti Faisal memasuki ruangan.


"Mulai saat ini, kamu akan ditemani Adam kemana pun kamu pergi. Dia supir sekaligus pengawalmu. Bian, kamu tetap bekerja sebagai manajer Jovan untuk urusan novel dan filmnya. Setelah urusan film selesai, kamu bisa tetap bekerja sebagai manajernya, hmmm maksud saya sebagai asisten Jovan di kantor nanti, yang artinya banyak pekerjaan yang berhubungan dengan manajerial perusahaan atau kamu cukup sampai urusan buku dan film selesai, itu pilihan kamu, sebaiknya segera dipikirkan."


"Kalau kamu tetap melanjutkan bekerja sebagai asisten Jovan, kamu akan dibayar sesuai ketentuan perusahaan, yang artinya kamu masuk ke dalam keluarga besar Sofyan Corporation. Nanti bagian HRD yang akan mengurus kontrak kerjanya. Saya tunggu keputusan kamu secepatnya," jelas Mario.


Bian yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi pun hanya terdiam.


Jovan yang menyadari hal tersebut pun berusaha menjelaskan dengan cepat kepada Bian.


"Bi, wake-up!! Listen, ini Pak Mario, ayahnya Icha, iyes he's alive. He's been hiding for years to trick he's wife. But the point is, kita semua masuk ke dalam perusahaan besar Sofyan Corporation milik ayah dan pamannya Icha. Icha adalah putri mahkota Sofyan Corporation dan aku adalah suami yang akan mewakili Icha di perusahaan. Lebih jelasnya nanti setelah ini aku jelasin lagi, but intinya kamu mau lanjut kerja sama aku atau tidak, it's your decision," jelas Jovan singkat.


Bian yang masih belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Bi, kamu ngangguk tanda ngerti atau whatever deh??" tanya Jovan.


"Whatever, Bro!! ga mudeng, ini ngomongin apa sih?? Perusahaan apa?? Ini dari penulis novel trus mendadak jadi pengusaha??" Bian yang belum memahami sepenuhnya pun balik bertanya.


"Bian, seperti yang saya katakan tadi, saya adalah Mario, ayah kandung dari Marissa. Saya dan Alex, adalah pemilik dari Sofyan Corporation, yang memiliki bisnis percetakan, arsitektural dan desain, kemudian yang terakhir adalah kuliner."


"Jovan akan mewakili Marissa di dalam Sofyan Corporation, untuk itu ia membutuhkan asisten yang akan membantunya menjalankan tugas dan kewajibannya, terlebih Jovan akan kembali kuliah untuk menunjang posisinya. Jadi, apakah kamu tertarik untuk bekerja bersama kami. Saya akan tawarkan 3 juta/bulan diluar tunjangan, bagaimana apakah kamu tertarik??"


"Bi, posisiku di sini sebagai asisten supervisor dan kamu adalah asistenku," Jovan pun menambahkan.


"Hold a second!! ini judulnya apa sih?? asisten manajer membutuhkan asisten?? aku adalah asisten dari seorang asisten manajer??" tanya Bian yang semakin tidak mengerti.


"Hmmm you can say that. Yah, bukannya aneh yaa, aku asisten yang memiliki asisten??" Jovan pun ikut bertanya yang membuat Mario tertawa.


"Well not exactly an assistant, pada saat nanti kamu masuk, selama 2 tahun itu kamu berada di posisi asisten supervisor, setelah kamu menyelesaikan S2, kamu akan diangkat menjadi supervisor tentu saja dengan catatan kinerja kamu. Intinya, suatu saat nanti kamu akan menjadi salah satu jajaran top manajemen Sofyan Corporation," jelas Mario.


"Sedangkan Bian, dia akan menjadi hmmm kamu lulusan apa, Bi??" tanya Mario.


"Saya D3 manajemen bisnis," jawab Bian.

__ADS_1


"Nah that's perfect!! Kamu saya tempatkan di bagian staff development," ucap Mario.


__ADS_2