
Sesampainya di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Jovan segera mendapatkan perawatan intensif. Dokter dan perawat nampak memonitor aktivitas otak Jovan memakai mesin EEG, lalu mereka juga melakukan serangkaian tes fisik untuk mendiagnosa kondisi Jovan. Beberapa saat kemudian, dokter menemui Jorrian dan Mario, untuk memberikan informasi terkait kondisi Jovan.
"Saya dr. Arshad yang menangani Jovan."
"Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Jorrian.
"Hasil monitor kami pada otak putra Bapak tampak normal, tetapi di kepala memang terdapat bekas pukulan benda tumpul yang cukup keras. Inilah yang menyebabkan turunnya kesadaran pada saudara Jovan. Untuk reaksi terhadap rangsangan juga cukup baik, untuk itu kondisi yang dialami oleh putra Bapak disebut dengan semi-koma, karena walaupun tidak sadar tetapi reaksi terhadap rangsangan cukup baik," jelas dokter.
"Maksudnya?" tanya Jorrian.
"Jadi kondisi putra Bapak dalam dunia medis, disebut semi-koma, karena ia masih bereaksi terhadap rangsangan seperti ketika kami berikan sensasi pada kulitnya, ada sedikit gerakan pada kaki atau tangannya, untuk itulah kondisinya disebut semi-koma, karena kalau ia berada pada state koma, ia tidak akan bereaksi terhadap rangsangan apapun," jelas dr. Arshad.
"Lalu, pengobatannya bagaimana Dok?" tanya Jorrian.
"Saat ini kita hanya dapat menunggu kapan ia bangun, itu saja yang dapat dilakukan. Tentu saja dengan dibantu oleh pendampingan keluarga setiap saat, itu juga sangat berpengaruh pada kondisi pasien. Diperdengarkan murottal, cerita-cerita tentang memori masa lalu, apa saja yang mempunyai efek yang cukup besar pada pasien, akan sangat berpengaruh pada kondisinya. Tetapi, untuk kapan ia akan sadar, tidak ada 1 pun dokter yang dapat menjawabnya. Semua itu ditangan Allah," jelas dr. Arshad.
Sementara itu, Marissa dan Jovanka, menjenguk Jovan yang ditempatkan di perawatan ICU, secara bergantian.
Isak tangis keduanya tidak terbendung lagi, ketika melihat orang yang mereka sayangi terbaring lemah di tempat tidur dengan selang infus yang terpasang pada lengannya.
__ADS_1
"Jo, bangun. Bangun Jo, bunda disini, Icha juga nungguin kamu. Bangun Jovan Sayangnya Bunda, bangunlah Nak. Bunda ingin lihat senyum nakalmu lagi, Bunda ingin dengar teriakan protesmu lagi, Bunda kangen sama canda-tawamu yang selalu kamu tampilkan dalam keadaan apapun. Bangun Sayang," tangis Jovanka sambil mengelus-elus pipi putra bungsunya.
"Kamu mimpi apa sih, kok sampai-sampai nggak mau bangun? kalau mimpi yang indah, kok Bunda nggak diajak? Jooo, bangun!" isak tangis Jovanka pun tak terbendung lagi.
Jordan yang menyaksikannya dari luar ruangan, akhirnya masuk untuk menenangkan sang Bunda.
"Bun, kita diluar dulu yaa. Biarkan Icha yang nemenin Jovan."
Jovanka pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti putra sulungnya menuju ruang tunggu keluarga.
Sesampainya di ruang tunggu, Jordan mengambilkan teh hangat untuk Jovanka.
"Bun, minum dulu."
"Dan, saat ini yang terbayang dalam pikiran Bunda adalah Josie. Melihat Jovan seperti itu, yang terlintas dipikiran Bunda hanya Josie. Ya, Allah, jangan Kau ambil putraku lagi, jangan sekarang, Ya Allah," ucap Jovanka yang kembali diikuti dengan isak tangisnya.
Jordan pun segera memeluk sang Bunda untuk menenangkannya.
"Bun, Jovan masih disini, dia cuma sedang mimpi berjalan-jalan di pantai, bermain ditengah deburan ombak, dia sedang menikmati masa liburannya," ucap Jordan dengan suara bergetar karena menahan tangis.
__ADS_1
Bayangan akan kematian Josie beberapa tahun yang lalu pun mulai menghantui keduanya. Mempersiapkan hati untuk kemungkinan terburuk adalah yang paling dapat mereka lakukan saat ini.
Sementara itu di ruang ICU, Marissa memandangi wajah Jovan, sambil mengelus-elus rambut dan pipi suaminya itu tanpa suara.
Dipandanginya wajah tampan suaminya yang saat ini tampak tertidur pulas.
"Alisnya rapi dan tebal. Hidungnya mancung dan lancip. Bibirnya merah dan tipis. Rambutnya yang hitam dan lurus. Tangannya yang panjang dan sering memelukku di saat ku tidur. Dadanya yang bidang, menjadi sering tempat untuk aku bersembunyi," lirih Marissa.
Marissa lalu terdiam, memandang lekat wajah Jovan. Lalu mengecup hidung dan bibir pria yang sangat dicintainya itu dengan harapan kecupannya itu dapat membangunkan Jovan.
"Abang nggak bangun juga. Memang tidak ada dongeng pangeran tidur, tapi Abang adalah pangeranku. Abang sayang, Abang cintaku, Abang yang selalu menghiasi mimpi-mimpi indahku. Sekarang Abang yang sedang bermimpi, ya? Mimpi apa sih, Bang? Bawa aku ke dalam mimpimu, Bang."
"Bang, I miss you. I miss your smile, your jokes, your laugh, your... everything about you, I miss it. Now, I let you sleep for a while, but don't be too long, I'll be mad if you're sleeping too long. Just remember, I always be waiting for you my love," lirih Marissa di telinga Jovan.
Sesaat itu pun, air mata menetes dari mata Jovan, yang tentu saja membuat Marissa terkesiap. Ia pun menyeka air mata pria yang dicintainya, lalu ia menggenggam erat dan mencium tangan Jovan dan meletakkannya di pipinya.
"Don't cry my love, don't be sad. I always here, waiting for you, always. I won't leave you alone. I'll always stay here beside you, 'till our time has come," lanjut Marissa.
Air mata Marissa pun terus mengalir, hingga akhirnya Marissa memutuskan untuk melantunkan surat Al-Mulk, yang merupakan surat ke-67 dalam Al-Qur'an dan terdiri dari 30 ayat. Surat yang mengagungkan kebesaran Allah dan mempunyai inti, salah satunya adalah hidup dan mati merupakan ujian bagi setiap manusia.
__ADS_1
Setelah membaca surat Al-Mulk, Marissa pun tertidur dengan tangannya memeluk tangan Jovan. Mario menyaksikan kesedihan yang dialami putri tercintanya dengan rasa yang sama. Rasa kemarahannya ingin ia lampiaskan kepada sesuatu, tetapi di saat itu ia juga menyadari, bahwasannya semua itu tidak ada gunanya dan hanya membuang energinya percuma.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah wa atubu ilaih," lirih Mario.