
Sepekan sudah Jovan menjalani terapi untuk mengembalikan memorinya dan di saat yang bersamaan, penggemblengan karakter dan pelatihan beladiri yang Marissa lakukan dibawah Silla juga berlangsung secara intens.
Mario yang tanpa bertanya lebih lanjut, segera menyetujui permintaan Silla untuk melatih Marissa dan ia berharap, Marissa akan menjadi wanita yang lebih kuat baik secara mental maupun fisik. Mario juga mengamati dari jauh melalui kamera CCTV, latihan yang dilakukan putri pertamanya itu, ia pun tersenyum bahagia melihat kegigihan Marissaa, dalam melakukan hal yang di luar dari kebiasaannya.
"Yah, mbak Icha ngapain sih?" tanya Mariska.
"Menurut kamu, dia ngapain?"
"Hmm balas dendam! Dia mau jadi cewek garang macam Kak Ros!"
Mario pun tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban putri bungsunya ini.
"Laaa ayah malah ketawa?"
"Habis, kamu ngelawak sih! Tapi memang bener, mbak Icha harus berubah, dia harus kuat mentally and physically. Perubahan karakter yang dialami Jovan menuntut Icha untuk menjadi wanita yang berbeda dari yang dulu. Nah, kamu mau ikut latihannya nggak?"
__ADS_1
"Iiih ogah! Ntar badanku berotot trus kulit putihku ...., nggak mau!"
Mario pun kembali tertawa mendengarkan jawaban Mariska.
"Ya kalau gitu, kamu do'akan mbak Icha dan bang Jovan agar mereka segera kembali bersama."
"Itu sih sudah pasti, Yah. Setiap habis shalat, aku selalu mendo'akan mbak Icha sama bang Jovan, agar mereka cepat balikan. Trus,... hmm cepet kasih aku keponakan yang lucu bin nggemesin!"
"Atau ayah cari istri baru, biar kita punya adik," celutuk Marendra yang tiba-tiba muncul di antara ayah dan saudara kembarnya.
"Biarin!"
"Ndra, emangnya kamu mau punya adik? Nggak cukup berdua sama Ika?"
"Ika lebih banyak ngeselinnya daripada nyenengin, mendingan cari adik baru. Yah, kenapa sih nggak nikah, cari istri baru yang cantik, kayak ibunya mbak Icha."
__ADS_1
"Lho kok seperti ibunya mbak Icha, bukan seperti Mama?" tanya Mario.
"Karena Mama kan nggak ngurusin kita, beda sama ibunya mbak Icha, yang sering bikinin kue, masakin makanan yang enak-enak. Trus dari ceritanya mbak Icha, ibu itu sabar banget, pintar cerita, ... kan aku jadi pingin punya ibu kayak ibunya mbak Icha."
"Hmmm kenapa kamu tiba-tiba jadi melo begini, Ndra? Sepertinya ini efek nggak digalakin sama Icha berminggu-minggu," sahut Mario sambil tertawa kecil.
"Hmm walaupun mbak Icha ngeselin, tapi dia baik. Bang Jovan juga sama, ngeselin tapi baik. Ngeselin tapi perhatian. Mereka berdua memang manusia langka!" celetuk Mariska.
Mario pun memeluk keduanya bersamaan, "Maafkan ayah yaa, karena beberapa pekan terakhir ayah kurang memperhatikan kalian berdua."
"Ih Ayah tetiba melo juga. Yah, kami berdua paham kok, saat ini mbak Icha sama bang Jovan yang lebih membutuhkan perhatian. Yah, aku sama Ika bisa bantu apa?"
"Kalian hibur mbak Icha, itu sudah cukup. Beri ia kejutan dengan nilai-nilai sekolah kalian yang meningkat. Kan sudah lama, mbak Icha nggak meriksa tugas sekolah kalian. Buatkan minuman hangat sebelum tidur, masakin sarapan spesial di akhir pekan, pasti mbak Icha akan bangga sama kalian berdua," jawab Mario.
Di malam hari, Mario pun merenungi permintaan kedua putra dan putri kembarnya, "Apa iya, aku menikah lagi, sedangkan aku sudah tidak muda lagi dan lebih pantas memiliki cucu ketimbang anak?"
__ADS_1