
" Eh diputusin!! "
Jovan berusaha menghubungi Marissa kembali tetapi panggilannya ditolak.
" Waah gawat, dia beneran marah."
" Kenapa marah sih, kok aneh??? "
Jovan pun segera menghubungi Bian.
" Bian, tolong kamu pantau kesehatan Risa yaa, kalau bisa hari ini juga kirim dokter ke kostannya. Saya tunggu kabarnya nanti "
Bian yang sedang menikmati makan siangnya itu pun nyaris tersedak mendengar perintah Jovan.
" Perasaan gw manajernya deh, kenapa jadi rasa asisten, disuruh-suruh terus, mana perintahnya sering aneh-aneh lagi!! " ucap Bian dalam hati.
" Bian!! kamu denger ga??!! " tanya Jovan yang tidak mendengar jawaban dari Bian.
" Eh, iya denger. Setelah selesai makan siang, aku panggil dokter ke kostan mbak Risa "
" Good, I'll be waiting "
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Bian menghubungi dokter langganan Jovan untuk memeriksa kesehatan Marissa.
" Bukannya Jovan sudah pulang ke Singapura?? trus saya harus meriksa siapa?? " tanya dokter Arsyil.
" Adiknya Bang Jovan, jangan tanya adik darimana, dari ribet sampai ribet lagi pokoknya. "
" Laki atau perempuan?? kalau perempuan saya ga berani, kamu kan tahu Jovan protektif banget sama orang-orang yang disayanginya. "
" Oiya, perempuan, Dok. Siapa deh yang bisa meriksa?? bantuin saya, Dok "
" Ada teman saya, dokter Shinta, dokter umum "
" Boleh deh "
Setelah menghubungi dokter Shinta, Bian pun menjemputnya untuk menuju kostan Marissa.
" Mbak, tolong dibukain pintunya, ada dokter yang mau meriksa, " pesan WA Bian ke Marissa.
" Ngapain, aku sudah enakan kok. "
" Mbak, dokternya sudah di depan kamarnya Mbak Risa. "
Dengan sedikit kesal, Marissa pun membukakan pintu kamarnya.
" Assalamu'alaikum ." sapa dr. Shinta.
" Wa'alaikumsalam, masuk Dok. "
" Kata Bian, saya disuruh meriksa kamu. "
" Haadee ini pasti perintah Bang Jovan!! " gerutu Marissa.
" Saya periksa, yaa."
Marissa menganggukkan kepalanya.
Setelah melakukan pemeriksaan,
" Tekanan darahnya agak rendah, cuma 100/55, pusing ga?? "
" Tekanan darah saya memang selalu rendah, segitu itu normal, Dok. Sekarang sih ga pusing, tadi pagi pusingnya. Sekarang cuma pegelnya aja sih Dok, sama tenggorokan masih agak sakit untuk nelan. "
__ADS_1
" Agak merah sih tenggorokannya. Tapi overall, oke kok. Suplemennya tadi dikasih apa aja?? "
Marissa menunjukkan botol-botol suplemen yang dikirim Bian.
" Ok, sudah cukup semua. Tidak perlu tambahan apa-apa kok, cuma butuh istirahat saja. "
" Iya, Dok. "
" Yowes, maaf ngeganggu istirahatnya. Oiya, mbak Risa, saya iri sama Mbak."
Sebelum dr. Shinta menyelesaikan kalimatnya, Marissa sudah dapat menebak apa kalimat selanjutnya, yang pasti berhubungan dengan Jovan.
" Silahkan semua orang menganggap saya beruntung, tapi saya biasa aja. Malah saya lagi kesal sama Abang!! waaa emosi jiwa yang membara dalam dada!! ingin ku jambak-jambak rambutnya!! don't ask why!! " ucap Marissa penuh emosi.
Dr. Shinta pun tertawa.
" Sudah tertebak yaa kenapanya " ucap dr. Shinta.
" Yowes Mbak, saya pamit. Mbak cuma butuh istirahat aja kok dan jangan emosi Mbak. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam, makasih Dok. "
Dr. Shinta lalu melaporkan hasil pemeriksaan terhadap Marissa ke Bian.
" Hasilnya bagus semua kok, mbak Risa hanya butuh istirahat saja."
" Jadi, mbak Risa beneran ga papa, Dok?? "
" Iya, hanya sedikit merah tenggorokannya dan demam, tapi overall oke. "
" Lapor deh ke bos mu yang di Singapura itu dan bilang juga kalau Mbak Risa marah banget, tapi aku ga tahu kenapa. "
" Makasih Dok, nanti saya lapor ke Bang Jovan. "
Setelah mengantarkan dr. Shinta pulang, Bian segera menghubungi Jovan melalui pesan suara, karena ia malas mendengar kecemasan Jovan yang berlebihan.
Setelah membuka pesan suara Bian, Jovan segera menghubungi Bian.
" Aaaiiih nelpon kan??!! kurang jelas apa sih?? "
Dengan malas, Bian pun menjawab.
" Assalamu'alaikum, Bang. "
" Wa'alaikumsalam, jadi bener ya tadi Risa sudah diperiksa?? "
" Sudah Bang, mau ku kirim bukti pembayarannya?? "
" Ga perlu, makasih. Trus tadi Marissa gimana keadaannya?? "
" Yaa mana saya tahu, Bang. Kan, yang masuk cuma dr. Shinta. Ini kan kostan putri, laki dilarang masuk, bolehnya cuma sampai teras aja. "
" Kamu ga minta fotonya?? "
" Ga lah, ngapain?? Bang, video call aja gih, daripada ganggu aku terus!! "
" Telpon saya direject terus. "
Bian pun tertawa mendengar jawaban Jovan.
" Eh ga sopan!! kamu ngetawain saya?? "
" Bang, Abang sih overprotective makanya mbak Risa kesal, santai aja dong. "
__ADS_1
" Bian, saya sudah pernah kehilangan seseorang yang aku sayangi, sekarang saya ga mau kejadian itu terulang pada Risa. "
" Maaf Bang, tapi sedikit aja dikurangi kekhawatirannya, biar mbak Risa bisa lebih tenang istirahatnya."
Jovan memang menyadari dirinya selalu overprotective terhadap orang yang ia sayangi dan cintai, tetapi ia tidak dapat menahan emosinya untuk tidak bersikap seperti itu.
Tetapi kali ini ia akan diam dan bersikap tenang, ia tidak ingin membuat Marissa semakin emosi yang berpengaruh kepada kesehatannya.
Keesokan harinya, Marissa telah pulih kembali dan sedang bersiap untuk berangkat ke kantor.
" Assalamu'alaikum, Mbak gimana hari ini?? "
Pesan WA dari Bian diterimanya ketika hendak bersiap berangkat ke kantor.
" Wa'alaikumsalam, otw ke kantor. "
" Tunggu 10 menit, aku antar. "
Bian pun melajukan kendaraannya menuju kostan Marissa.
" Haadeeee, bosnya ga ada, manajernya mulai. Kenapa sih mereka semua?? " gerutu Marissa.
Sesuai perkataannya, Bian tiba di depan kost Marissa 10 menit kemudian.
" Assalamu'alaikum, ayo mbak, aku antar!!"
" Wa'alaikumsalam, makasih Bian "
" Gimana Mbak?? sudah benar sehat?? "
" Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. "
" Mbak, sebelumnya aku minta maaf, yaa. "
" Minta maaf buat apa?? "
" Yaa mewakili Bang Jovan. Bang Jovan itu memang selalu overprotective ke orang-orang yang ia sayangi, yaaa karena trauma kehilangannya itu. Apalagi sekarang dia punya mbak Risa. "
" Eh, maksudnya apa?? punya saya?? "
" Maksud saya, mbak Risa tuh orang yang paling dipedulikan, hmmm ga gitu bahasanya."
" Kamu ngomong apa sih?? Bian, ga usah ngomongin tentang Abang, aku beneran lagi kesel sama dia "
" Kenapa sih, Mbak?? Salahnya Bang Jovan apa?? "
" Ga papa, " jawab Marissa datar.
" Hmmm kalau seperti ini memang marah beneran. Mbak, please ngomong dong, bilang ke aku, nanti aku bantu."
Marissa yang telah memendam kekesalannya kepada Jovan pun menumpahkan segalanya kepada Bian.
" Bi, Abang nulis buku buat apa??? bikin film buat apa?? "
" Nyari Mischa. " jawab Bian.
" Nah, nyari Mischa. Artinya, Abang suka dan sayang sama Mischa, walaupun sudah ga bertemu lebih dari 10 tahun, iya kan?? "
" Iya, Mbak. "
" Nah terus, kenapa tiba-tiba Abang bilang kalau Abang suka sama aku?? trus segala usaha dan biaya yang dikeluarkan untuk nyari Mischa jadi ga ada gunanya dong?? setelah lebih dari 10 tahun setia menunggu dan mencari, trus tiba-tiba itu ga ada gunanya karena orang ketiga!! aku ga mau jadi orang ketiga, Bi!! "
Bian menarik nafas panjangnya, kekhawatirannya pun menjadi kenyataan. Di saat itu, ingin semua kata-kata yang ada di hatinya dikeluarkannya, tetapi tentu saja itu tidak mungkin.
__ADS_1
" Mbak, bukannya Bang Jovan ga setia menunggu Mischa, tapi lebih memilih realistis. Mischa tidak diketahui berada dimana, seperti apa dan masih banyak lagi pertanyaan tentang Mischa yang ga akan ada habisnya. But, intinya Mischa saat ini tidak ada dan ga tahu sampai kapan. Sedangkan mbak Risa selalu ada di depan mata Bang Jovan, mbak Risa nyata keberadaannya, ada disini, bisa ngobrol, bisa interaksi yang nyata. So, yaa Bang Jovan juga ga bisa melawan rasa yang ada di hatinya, kan?? "
"'Mbak, pertemuan dan perkenalan yang terjadi, bukan tanpa sebab, pasti Allah punya rencana untuk mbak. Yaaa mungkin Bang Jovan adalah rencana Allah, untuk Mbak Risa "