Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 69 The Penthouse


__ADS_3

Hari pertama bersama si kembar pun dihabiskan dengan berbelanja berbagai keperluan mereka berdua. Pakaian yang menutup aurat, perlengkapan ibadah dan sekolah juga tidak ketinggalan.


Mario pun mempercayakan seluruh urusan tersebut kepada Marissa dan Jovan, yang terbukti dapat bersikap tegas kepada kedua adik kembarnya. Sementara ia mengurus masalah tuntutan hukum yang menjerat Winda.


Setelah itu, Mario juga telah meminta agar Marendra dan Mariska tinggal bersamanya di apartemen yang telah ia tinggalkan beberapa bulan belakangan.


Selepas makan siang dan berbelanja, Jordan dan keluarganya pun harus berpamitan untuk kembali ke Singapura.


"Abang balik ya, call me anytime. Maaf ga mampir ke rumah, maybe next time."


"Nggak papa, Bang. Sesempatnya aja, oiya ini buat olahraga mulut," ucap Jovan sambil memberikan kotak berisi aneka jajanan pasar dan roti.


"Jazakumullah khair, sempat aja belinya," jawab Jordan.


"Sempat lah, untuk Abang tersayang," goda Jovan sambil mengedipkan satu matanya.


"Ish, minta ditonjok nih bocah!!" jawab Jordan sambil menarik leher Jovan kemudian mengacak-acak rambutnya.


"Bang!! Nanti hilang ketampananku yang maksimal ini!!!" protes Jovan yang membuat Marissa memanasi Jordan.


"Bang, lanjutin aja, kalau perlu jambak sekalian!!"


"Eh Yang, bukannya ngebantuin malah manas-manasin!" protes Jovan.


"Lagian, narsis dipiara!" jawab ketus Marissa.


Sementara itu Marendra dan Mariska hanya tertawa melihat tingkah laku Jovan yang terkadang terlihat cool tetapi terkadang seperti anak kecil.


"Untung ganteng, kalau ga sudah ku lempar ke Timbuktu!!" sahut Marissa lagi.


"Astaghfirullah, Yang! Tega nian dirimu ingin melemparkan diriku hingga Timbuktu," protes Jovan dengan nada memelas.


"Kalau katanya Donal, Timbuktu itu cuma 2 km doang kok!" jawab Marissa santai.


"Yoweslah, untuk mengakhiri pertikaian unfaedah kalian berdua, Abang pamit. Bun, Yah, aku pamit ya, assalamu'alaikum," ucap Jordan sambil berpamitan dengan kedua orang tuanya.


Setelah Jordan dan keluarganya menaiki taksi untuk menuju ke bandara, Jovan kembali menemui Marissa.


"Yang, masih ada yang perlu dibeli nggak?"


"Kayaknya sih enggak, sudah lengkap semua. Baju, tas, sepatu sama perlengkapan sekolah sudah semuanya," jawab Marissa.


"Yowes, kita pulang juga?" tanya Jovan.


"Yuk, Ayah palingan sudah nunggu di apartemen," jawab Marissa.


Mereka pun segera kembali memecah kemacetan ibukota di sore hari, menuju ke apartemen milik Mario di wilayah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.


"Mbak, nanti Mbak Icha sama Bang Jovan juga nginap di apartemen ayah?" tanya Mariska.


"Enggak, kita cuma anterin kalian aja. Besok ayah yang akan mendaftarkan kalian ke sekolah, karena Abang besok ada rapat untuk premier filmnya," jawab Marissa.


"Memangnya kapan premier-nya, Bang?" tanya Marendra.


"In syaa Allah, 2 pekan lagi. Nanti Bang Jordan juga bakalan datang," jawab Jovan.

__ADS_1


Sesaat kemudian keheningan pun terjadi. Jovan yang telah hafal kebiasaan Marissa, telah menyiapkan makanan ringan yang cukup untuk menghadapi kemacetan dan benar saja, di saat yang lain sibuk dengan gadgetnya, Marissa sibuk dengan mulutnya yang asyik mengunyah.


Jovan kemudian menurunkan sandaran kursinya, tak lama ia pun terlelap.


Bukan hanya Jovan, Marendra dan Mariska pun akhirnya ikut berada di negeri mimpi.


Akhirnya setelah 1 jam lebih, mereka pun tiba di apartemen mewah milik Mario yang terletak di lantai paling atas atau pada bagian penthouse.


"Ndra, itu kamar kamu yang di atas. Ka, kamar kamu di ujung," ucap Mario sambil menunjukkan kamar untuk kedua anaknya.


"Cha, kamar kamu di atas di hook," lanjut Mario lagi.


"Yang itu, Yah??" tunjuk Marissa pada sebuah pintu kamar di lantai atas.


"Iya, kamu lihatlah kamarmu. Sempatkan kapan kamu nginap disini," ucap Mario.


"In syaa Allah. Yah, aku ke kamar yaa," ucap Marissa.


"Iya," jawab Mario sambil mempersilahkan Jorrian dan Jovanka untuk menikmati suguhannya.


"Bang, Kak, silahkan minum dulu."


"Berapa luasnya?" tanya Jorrian.


"Sekitar 450 m2, 4 kamar + 1 kamar pembantu," jawab Mario.


"Berapa harganya?" tanya Jorrian lagi.


"20 M, full furnished sesuai brosur," jawab Mario.


"Jujur, saya juga nggak tahu pasti, tapi yang jelas ini jumlah yang ada di rekening saya saat ini," jawab Mario sambil menunjukkan saldo di salah satu rekening e-bankingnya.


Jorrian dan Jovanka pun membelalakkan matanya ketika membaca jumlah angka yang tertera.


"Pendapatanmu perbulan mencapai berapa M? Bersih?" tanya Jorrian.


"Bersihnya sekitar 8-9 M, tapi pajaknya juga ga sedikit, Bang. Yaa, biarkan akuntan yang ngurus, saya terima laporannya saja," jawab Mario santai sambil menyeruput teh hangatnya.


"Yaa, pendapatan saya sebesar itu juga baru 5 tahun belakangan ini, sebelumnya masih di angka 500-an juta per bulan," lanjut Mario.


"Makanya, saya sangat menyesalinya apa yang terjadi, kehidupan mewah tapi hampa tanpa istri dan anak yang saya cintai. Tetapi penyesalan tidak akan membawa apa-apa jika hanya berdiam diri, penyesalan itu saya ubah menjadi pecutan untuk saya agar bekerja lebih keras. Alhamdulillah, saya diberi titipan harta yang berlimpah. Walaupun saya takut akan hisab di akhirat nanti, pasti akan lama," tambahnya.


"Jika kamu yakin, harta yang kamu dapatkan itu halal dan thoyib, serta kamu gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, itu akan menjadi tabungan pahala besar untukmu," ucap Jorrian.


"Entahlah Bang, harta tidak akan dibawa mati. Saya berencana akan menghibahkan semuanya, sebelum saya meninggal. Saya sudah menuliskan di surat wasiat saya," jawab Mario.


Sementara itu di lantai atas, Marissa dan Jovan sedang memandangi kamar mereka dengan takjub.


Marissa pun melompat-lompat girang, sambil memeluk Jovan yang terdiam melihat reaksi istrinya.


"Yang, anteng. Eh berhenti loncatnya, kita lihat pemandangannya yuk," ajak Jovan menuju sudut kamar mereka.


Jovan pun membuka sedikit tirai kamarnya, keduanya pun terdiam melihat pemandangan kota Jakarta yang penuh dengan kerlipan cahaya lampu bagaikan bintang yang menerangi setiap sudut kota.


Lalu Marissa membuka tirai di sisi yang lainya, dilihatnya teras yang luas dengan beberapa kursi dan meja.

__ADS_1


"Bang, ini seperti di film-film. Bang, ini seperti di majalah!!!" pekik Marissa.


"Jadi ga pingin pulang yaa?" goda Jovan sambil membuka salah satu pintu.


"Hiks hiks, galau, tapi tetap harus pulang. Lagian baju gantinya ga ada," jawab Marissa.


"Siapa bilang nggak ada, nih bajunya ada, banyak lagi," ucap Jovan sambil membuka pintu walk-in closet dengan lebar.


Marissa pun tak percaya dengan penglihatannya, sebuah walk-in closet bergaya shabby chic yang telah dipenuhi dengan aneka pakaian bermerk.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari kamar Mariska.


Marissa dan Jovan pun segera berlari keluar menuruni tangga menuju kamar adiknya yang tak tertutup.


"Ada apa, Ka?" tanya Marissa.


"Mbak, look at that!!! I have my own exclusive boutique!! Look, the bags, the shoes, the dresses !! It's every girl dreams and I have it!!" jawab Mariska sambil berlari keluar menuju ruang tengah dan segera memeluk Mario.


"Thanks, Yah. You are the best father in the world, ever!!" ucapnya sambil mencium kedua pipi ayahnya.


"Kamu kenapa, kamu nggak sakit kan?" canda Mario.


"Ih Ayah! Yah, is it all the things in that walk-in closet is for me ?" tanya Mariska.


"Yes, my dear," jawab Mario sambil mencubit hidung putri bungsunya.


"Yah, kenapa ga dari dulu sih, pakai pura-pura mati lagi!! Eh tapi ga papa sih, it's better to late than never," ucap Mariska sambil kembali berlari ke kamarnya.


Marendra pun tak kalah takjub dengan kemewahannya, ia pun berlari menuruni tangga untuk melihat kamar Mariska.


"Ka, wait for me!"


"Hurry!!"


Sesampainya di bawah, Marendra pun merangkul Mariska.


"What you've got?" tanya Marendra.


"Just see your self," jawab Mariska sambil mempersilahkan Marendra untuk masuk ke dalam kamarnya.


Marendra lalu menuju walk-in closet milik saudara kembarnya itu.


"Nice!!" ucapnya sambil mengajak Mariska tos di udara.


"It's way more luxury than in Aussie," lanjutnya dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Mariska.


"Have you try the bed?" tanya Marendra.


Keduanya pun saling berpandangan dan tersenyum, lalu dengan kecepatan maksimum mereka berdua segera berlari dan naik ke atas tempat tidur lalu melompat-lompat sambil berpegangan tangan dengan girang.


Jovan dan Marissa pun kembali melenguh melihat perilaku adiknya itu.


"Mbak, ayok!!" teriak Mariska.


"Tapi Abang ga boleh, you are to big!! You are a giant!! Bisa gempa kalau Abang ikutan lompat, trus gedungnya langsung colapse, I don't want that to happen," goda Mariska yang mendapat sambutan hangat dari Marendra, "nice".

__ADS_1


__ADS_2