Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 51 Tidak Nyaman


__ADS_3

Setelah malam panjang yang menegangkan dan penuh kejutan, keluarga Sofyan, Chen dan bapak-bapak dari tim pengacara serta kepolisian kembali duduk bersama untuk sarapan pagi.


Marissa terlihat tidak nyaman dengan banyaknya pria-pria asing yang berjaga di sekitarnya, hingga ia hanya terdiam tak banyak bicara. Ia juga tampak salah tingkah dan malu-malu ketika bertemu dengan keluarga barunya, sehingga membuat Jorrian dan Jovanka tertawa melihatnya.


Senyum kebahagiaan Mario pun tak lepas dari wajahnya. Begitu juga dengan Alex dan Alisa, tetapi hal ini malah semakin membuat Marissa malu.


"Bang, Timbuktu itu dimana?? aku pingin kabur ke sana!!" bisik Marissa kepada Jovan yang membuatnya tertawa terpingkal.


"Ih serius nanya, dikira ngelawak!!" bisik Marissa lagi, tetapi kali ini cukup keras terdengar sehingga membuat yang lain pun ikut tertawa.


"Ada apa, sih?? Kok sampai mau kabur ke Timbuktu??" tanya Jovanka.


"Biasanya ada Donal tapi ga pakai Trumph," jawab Marissa sekedarnya.


"Sepertinya pagi ini ada yang tiba-tiba kambuh," tambah Jovan sambil membelai kepala Marissa.


"Sudah, ayo segera selesaikan sarapannya. Setelah ini, kita harus mempersiapkan penjelasan untuk mas Aryo," ucap Mario sambil melanjutkan sarapannya.


Marissa mempercepat sarapannya agar ia bisa segera 'menghilang', untuk menutupi rasa malunya.


"Makannya pelan-pelan aja, jangan buru-buru," tegur Jovan.


Tetapi Marissa seolah tidak mendengarkan ucapan Jovan, ia tetap saja makan dengan cepat.


"Aku sudah selesai, permisi dulu," ucap Marissa yang segera keluar menuju halaman belakang.


Jovan pun segera berdiri untuk mengikutinya, tetapi Jovanka mencegahnya.


"Biarkan dia sendiri dulu, jangan langsung di kejar. Tunggu saja, saat ini pikirannya pasti sedang tidak karuan," ucap Jovanka.


Jovan pun menuruti ucapan ibundanya dan kembali duduk.


Sementara itu, Marissa memilih berjalan-jalan di halaman belakang untuk menenangkan pikirannya. Langkahnya pun terhenti di pinggir kolam ikan.

__ADS_1


Melihat keindahan kolam ikan yang jernih dan ikan yang berenang berirama juga ditemani dengan suara gemericik air, membuat hati yang memandangnya terasa tenang dan nyaman, begitu juga dengan Marissa yang tampak lebih tenang.


Silla pun menghampiri Marissa yang sedang duduk di pinggir kolam, sambil membawa pakan ikan.


"Mau ngasih makan ikan, Mbak??" tanya Silla.


"Boleh," jawab Marissa yang kemudian mengambilnya dengan tangannya dan melemparkannya ke arah kerumunan ikan-ikan.


Ikan-ikan itu pun melahapnya dengan cepat, Marissa pun kembali melemparkan pakan ikan dengan tangannya.


"Pakai ini aja, Mbak. Dapatnya bisa banyak," ucap Silla sambil memberikan mangkok plastik kepada Marissa.


Marissa pun mengisi mangkoknya hingga penuh dan melemparkan isinya ke kolam. Ikan-ikan pun kembali berkerumun menikmati sarapan pagi mereka.


Setelah pakan ikan yang dibawa Silla habis, Marissa tetap duduk dipinggir kolam. Ia pun memandangi langit pagi yang cerah tanpa awan.


"Serunya kalau bisa terbang, menjelajahi angkasa tanpa batas, kesana kemari tanpa penghalang," ucap Marissa.


"Mbak Silla, pernah ga sih punya keinginan untuk pergi sejauh-jauhnya, kabur gitu, ke tempat yang asing, tidak ada yang dikenal sama sekali, hanya sendiri??" tanya Marissa.


Silla pun ikut memandang langit, ia memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan dari Marissa.


Setelah beberapa saat berfikir, Silla pun menjawabnya,


"Ga pernah, Mbak. Aku ga pernah kepikiran untuk kabur. Walaupun stres sama kerjaan, bosan dengan rutinitas, tidak dianggap dan dihargai oleh sekitar, tapi kalau aku kabur sama saja lari dari kenyataan dan tanggung jawab. Aku punya orang tua dan saudara yang akan mencari. Belum lagi Mas Faisal yang bakalan stres dan sedih luar biasa kalau aku hilang, soalnya kalau aku ngilang ke kamar mandi aja dicariin, gimana mau kabur yang jauh-jauh??"


"Mbak Silla sudah berapa lama nikahnya?? hmm kenalnya berapa lama??" tanya Marissa lagi.


"Alhamdulillah, saya sudah menikah selama 5,5 tahun. Ga lama sebelum diberikan tugas untuk mengawasi dan mengawal Mbak Risa. Kami sudah saling mengenal dari pelatihan pengawal pribadi selama 6 bulan, kemudian kami menikah. Selesai dari pelatihan, kami langsung mendapatkan tugas mengawasi Mbak Risa. Yaaa Anda adalah tugas pertama kami, hingga saat ini," jawab Silla.


"Mbak Silla punya anak??" tanya Marissa.


"Ada 1, laki-laki, saat ini baru 3 tahun," jawab Silla.

__ADS_1


"Tinggal dimana dan sama siapa?? perasaan mbak Silla selalu di rumah ini??" tanya Marissa.


"Sama kakak saya, tinggal di Lebak Bulus, ga jauh dari sini. Tiap hari saya usahakan tetap bertemu, minimal video call," jawab Silla.


"Pasti berat ya, Mbak. Harus bekerja meninggalkan anak di rumah??" tanya Marissa.


"Sudah resiko pekerjaan, sedari awal saya sudah paham akan resiko ini. Yaaa, nikmatin aja. Lagipula di hari-hari libur, saya masih bisa nginap bareng, itu sudah cukup menghibur untuk kami bertiga, Mbak," jawab Silla.


"Kapan-kapan dibawa aja, Mbak. Kan saya bakalan sering di rumah. Lagipula kalau sama Bang Jovan, dia juga ada pengawal sendiri. Ih!! heran yaa, sepenting dan seberbahaya apa sih?? iya, aku tahu, si nenek sihir itu sudah membunuh ibuku lalu mencoba membunuh ayah, tapi..... aarghh ga tahu!!! aku pingin santai seperti dulu, ga mikir perusahaan, ga mikir keamanan inilah itulah. Hanya menjalani hari demi hari seperti biasa, normal aja. Bangun pagi, kerja, pulang ke kostan, istirahat, nonton drakor, weekend santai di kostan, belanja printilan, pesan makan online, just a normal day!! Sekarang?? gerak dibatasi, ga usah dibatasi juga aku sudah takut sendiri, gara-gara ada kemungkinan penyerangan. Capek otak!! aku pingin refreshing," ucap Marissa yang mengutarakan isi hatinya panjang lebar.


"Setiap orang punya masalahnya masing-masing, punya beban hidup yang berbeda, sesuai kapasitasnya dan kemampuannya. Allah tidak akan membebani hamba-Nya diluar batas kemampuannya. Allah menempatkan mbak Risa di posisi ini, artinya mbak Risa mampu dan kuat untuk menghadapinya. Tidak ada beban hidup yang terlalu berat, yang ada hanya kurangnya iman untuk menghadapinya," ucap Silla.


"Semua permasalahan akan beres jika kita berserah diri, biarkan Allah menyelesaikan semua masalah kita. Tugas manusia hanya berdo'a dan berusaha untuk menjalaninya sebaik mungkin, sisanya biarkan Allah yang menentukan," lanjut Silla.


"Semua usaha, semua do'a tidak ada yang sia-sia. Jika Allah tidak mengabulkannya saat ini atau di dunia, mungkin karena Allah punya rencana yang lebih baik untuk kita. Intinya sih Mbak, berserah diri kepada Allah. Biarkan Allah yang menyelesaikan urusan kita dengan caraNya," tambah Silla.


Marissa pun merenungi kata-kata Silla, ia lalu tersenyum dan memeluk Silla.


"Makasih, Mbak. You're like my sister, I never have. Kenapa sih, mbak Silla ga dari dulu ndeketin aku, kan kita bisa berteman. Aku sering kesepian, Mbak," ucap Marissa.


"Maaf Mbak, sebenarnya sedari dulu, sedari awal, saya ingin langsung mendekati Mbak Risa, agar kita dapat berteman dan akrab, tetapi ada SOP yang harus saya patuhi, sehingga saya tidak dapat melakukannya. Tapi sekarang, kapan saja mbak Risa butuh teman bicara atau sekedar bercerita hal-hal yang tidak penting sekalipun, silahkan panggil saya, Mbak," ucap Silla.


"Ouuuh makasih, aku happy!!"


"Eh Mbak, sampai kapan sih mas-mas baju hitam itu ada di sini??" tanya Marissa.


Silla pun menjawabnya sambil tertawa.


"Sampai Pak Mario memberi perintah untuk pergi. Mereka juga sama dengan saya, hanya menjalankan tugas yang diberikan. Kalau bisa memilih, mungkin mereka juga ingin segera pulang ke rumah, berlibur, santai dengan keluarga, tetapi mereka mempunyai tanggung jawab sebagai security, karena nyawa seseorang akan menjadi taruhan kelalaian mereka," jawab Silla.


"Kami juga tidak nyaman untuk terus menerus berada di sekitar keluarga Pak Mario, karena telah membuat mereka kehilangan sebagian privasinya, tetapi hal ini tetap harus dilakukan demi keamanan dan keselamatan anggota keluarga Mbak Risa," lanjut Silla.


"Mbak, anggap kami tidak ada, kami tidak perlu di sapa ataupun diajak ngobrol, abaikan saja kami, karena kami dapat bekerja dengan baik jika tidak mempunyai keakraban dengan klien kami. Kami memang telah disetting seperti ini" tambah Silla.

__ADS_1


__ADS_2