Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Bora-Bora Surganya Bulan Madu


__ADS_3

Tahiti Internasional Airport....


Pesawat Air New Zealand berhasil mendarat di Prancis setelah menempuh jarak lebih dari sepuluh ribu kilometer dari Bandara Juanda Surabaya.


Setelah transit kurang dari setengah jam, mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan Air Tahiti menuju Bora-Bora.


Didalam pesawat Anggun tak henti-hentinya mengembangkan senyuman, senang bukan kepalang karena bisa mengunjungi Bora-Bora yang merupakan destinasi wisata yang selama ini ia mimpi-mimpikan.


Bora-Bora merupakan pulau kecil yang berada disebelah selatan samudera pasifik, tepatnya di Kepulauan Tahiti. Secara administratif pulau ini masuk kedalam Negara Prancis. Pulai ini terkenal dengan keindahan lautnya dan menjadi pilihan favorit liburan para artis dunia.


"Jadi kita mau ke Bora-Bora Mas?" Tanya Arini, setelah pesawat yang mereka tumpangi lepas landas.


Radit langsung menganggukan kepalanya," aku tahu kamu suka laut, jadi aku pilih tempat ini untuk bulan madu kita."


Arini langsung tersenyum lebar. Walaupun tidak tahu pasti, Arini pernah mendengar Bora-bora memiliki laut yang tenang dan berair jernih, juga kaya akan kehidupan laut, sehingga Bora-bora dijadikan sebagai pulau tercantik, surganya bulan madu.


Arini mendaratkan ciuman di pipi Radit," Makasih ya Mas."


"Ko cuma dipipi, ini nya nggak?" Seraya menunjuk bibirnya.


"Ih nggak." Arini memutar badannya, kembali menikmati keindahan laut Bora-bora yang mulai tampak dari cabin pesawat.


Radit langsung mengalungkan tangannya di dada Arini," Tapi nanti di Resort, nggak bakalan bisa bilang nggak." Mencium bagian sisi kepala Arini.


Seketika pipi Arini memanas, kalau saja Radit bisa melihat wajahnya dari depan. Ia pastikan, Radit bisa melihat perubahan warna di pipinya yang memerah seperti buah tomat.


****(((


Sampai di Pulau Bora-bora.... sambutan yang pertama mereka lihat adalah laguna super cantik berwarna biru toska.




Anggun langsung menarik tangan Arini, untuk bisa melihatnya lebih dekat lagi.


"Wah cantik banget ya.... belum apa-apa udah bikin betah."


"Iya Mbak bagus banget."


"Nggak nyangka Radit seleranya tinggi juga."


Radit dan Dito berjalan mendekat dan menghampiri sisi pasangan mereka masing-masing.


"Kita harus berterima kasih buat best friend yang udah mau ngajak kita kesini. Thanks banget ya bro..."


"Iya Radit.... makasih banget loh, kamu memang kuar biasa." Tambah Anggun.


Radit melengkungkan bibirnya, tersenyum," Ini nggak seberapa dengan apa yang udah kalian lakuin buat aku. Kalian memang teman terbaik yang udah membawa Arini dalam kehidupan aku." Seraya mengelus puncak kepala Arini, hingga membuatnya tersenyum simpul.


Dito dan Radit menyatukan kepalan tinju tangan mereka.


"Semoga kalian selalu bahagia ya." Ucap Anggun.

__ADS_1


"Makasih Mbak, begitu juga dengan Mbak dan Mas Dito semoga langgeng terus."


Puas menikmati keindahan laut, mereka berjalan beriringan menuju Resort yang dibuat menyerupai rumah-rumah lokal masyarakat Polinesia, Prancis. Yang terlihat dari atap penginapan yang terbuat dari daun Palem.



Mereka bersay good bye menuju Resort mereka masing-masing yang jaraknya tidak terlalu berjauhan.


Setelah pelayan membawakan barang bawaan dan menyimpannya didalam Resort. Arini berjalan memasuki ruangan, menyusuri semuanya satu persatu.


Mulutnya tak berhenti berdecak kagum sekaligus takjub dengan segala fasilatas yang disediakan Resort ini.


Kamar yang menghadap ke lautan, tempat berenang yang menyatu dengan bibir pantai. Dan yang lebih membuatnya histeris adalah kamar mandi berupa bath tube yang membujur ke lautan lepas dengan bagian dasar berbahan kaca hingga batu karang dan ikan hias bisa terlihat jelas disana. Sulit untuk dibayangkan.





Radit memeluk Arini dari arah belakang," Kamu suka?"


Arini memutar badannya, mengalungkan tangannya dileher Radit," Suka banget, ini bener-bener bagus Mas."


Radit mengeratkan tangannya dipinggang Arini, seakan tak rela walau satu senti saja menjadikan jarak diantara mereka.


"Aku ingin buat kamu selalu bahagia didekatku." Ucap Radit dengan menyatukan keningnya dengan kening Arini.


"Aku mencintaimu Mas."


Kemudian beralih menyentuh bibir Arini. Bibir yang sedari tadi terus menggoda dan memanggil-manggil dirinya meminta untuk disentuh.


Radit mendorong tubuh Arini untuk bersandar di tembok, mengukung tubuh mungil Arini diantara kedua tangan kekarnya.


Perlahan ia sematkan kecupan sekilas dibibir merah itu, lagi dan sekali lagi. Tatapan mereka bertemu, Arini menyelami mata teduh milik Radit, mata yang selalu melihatnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mata yang selalu berhasil membuatnya merasa nyaman dan merasa dilindungi.


"Boleh aku jujur?" Bisik Radit.


"Apa?" Tanya Arini dengan menyimpan kedua tangannya di dada Radit.


"Aku merindukan tubuhmu." Ucap Radit dengan tatapan mesranya.


Wuuussshh....Udara serasa panas menerpa wajah Arini. Malu.... ya itu kata pertama yang muncul dalam hatinya.


Arini menundukan wajah, yang langsung disangga Radit dengan menahan jari tangannya di dagu Arini.


Radit menciumi semua wajah Arini, kening, alis, mata, pipi, hidung, dagu dan berakhir di bibir. Sedikit menggigit bagian bawah bibir Arini, mencecapnya dengan lembut tanpa nafsu yang berlebihan, namun lebih ke pelampiasan rindu untuk meneguk dan merasakan manisnya bibir tipis itu.


Setelah persekian detik Radit puas menikmatinya, ia tersenyum dan meraih tengkuk Arini dengan mengelus pipi Arini dengan Ibu jarinya," Maaf.... seharusnya aku biarkan kamu istirahat, kamu pasti sangat capek."


Nyesss.... hati Arini menghangat. Ini lah salah satu yang membuat Arini semakin mencintai Radit, ia selalu mengesampingkan keinginannya walau ia begitu sangat ingin.


Arini meraih tangan Radit dan menyimpannya didepan dada," Aku janji akan membahagiakanmu."

__ADS_1


Radit mengelus kepala Arini," Aku tunggu buktinya nanti malam."


Arini mengerutkan keningnya, mengulang kembali kata-kata Radit," Nanti malam?"


Radit mencubit pipi Arini dengan gemas," Bersiaplah."


Arini menutup mulutnya, sepertinya dia sudah salah bicara, membangunkan singa yang sedang tertidur dan kelaparan.


Arini mengambil langkah seribu menuju kamar, menghindari tatapan Radit yang semakin membuatnya salah tingkah. Padahal ini bukan yang pertama untuknya, tapi tetap saja kata-kata Radit mampu mengoyak dan mendobrak rasa malunya yang semakin menggunung.


Arini mengeluarkan satu persatu pakaian dan barang bawaan mereka. Memindahkannya kedalam lemari kosong yang sudah tersedia disana.


"Sayang.... kita pesan makanan layanan kamar aja ya?" Seru Radit dari arah luar.


"Iya gimana Mas aja."


Radit tidak bertanya lagi, Arini hanya mendengar Radit berbicara dalam Bahasa Inggris yang sepertinya sedang memesan makanan seperti apa yang ia bilang.


Arini melihat Paper bag yang belum dia sentuh teronggok diatas meja lampu.


Ia berjalan, membuka perlahan, penasaran dengan apa yang Anggun berikan kepadanya.


Lipatan kain tipis berwarna merah dan hitam, Arini memberenggut. Apa ini???


Arini merentangkan salah satu kain tipis yang berwarna hitam dengan kedua tangannya. Seketika ia membelalakan matannya.... mengingat kembali kata-kata Anggun saat di Bandara Juanda tadi.


Ini pasti berguna banget, Mbak jamin seratus persen


Arini menakup wajahnya dengan lingirie itu, tidak mungkin ia harus memakai pakaian seminim ini, itu pasti akan sangat memalukan.


Diambang pintu Radit mengamati gerak-gerik Arini yang sedang membuka paper bag yang Anggun berikan, dan Radit baru mengerti maksud dari pesan yang Anggun kirimkan barusan.


Pastikan Arini memakai hadiah yang aku berikan, dijamin kamu bakalan suka


Radit berjalan mendekat, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Radit memeluk pinggang Arini, membuat Arini berjinjit dengan menyembunyikan lingirie itu dengan kedua telapak tangannya.


" Kamu pegang apa?" Tanya Radit pura-pura tidak tahu.


"Ah ini.... ini cuma...." Arini tidak bisa menjawab, pikirannya seketika menjadi dangkal, tidak bisa berpikir.


"Aku suka warna hitam." Bisik Radit seraya mengelus perut Arini dan berlalu meninggalkannya ke kamar mandi.


Arini terperangah, bertanya-tanya dalam hati, bagaimana Radit bisa mengetahui apa yang sedang dipegangnya, padahal ia sudah menyembunyikannya.


Ia langsung terduduk lemas di atas tempat tidur, memangdang lingirie hitam yang masih dia pegang.


Jantungnya langsung berdegup kencang, membayangkan apa jadinya kalau nanti malam ia memakai baju kurang bahan seperti ini.


*Mbak Angguuuuunn....


...........................................................


...........................................................

__ADS_1


.....................................Bersambung*.....


__ADS_2