Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 24 Trip to Manado


__ADS_3

Setelah makan malam bersama, Marissa pun pulang ke kostannya.


Tak lama setelah membersihkan badannya dan shalat isya, Marissa yang sudah mulai mengantuk pun terganggu dengan suara panggilan yang masuk di HPnya.


" Assalamu'alaikum, Bang. Ada apa lagi?? " jawabnya dengan malas.


" Wa'alaikumsalam. Kamu kenapa?? "


" Ga papa, lagi istirahat aja, ngantuk "


" Ris, in syaa Allah hari Senin pagi Abang ke Jakarta, kita lunch bareng yaa. My treat "


" Senin pagi aku ke Manado sama orang kantor, jadi ga bisa "


" Pulangnya kapan?? "


" Hari itu juga, ga nginap kok, diusahain sih malam sudah sampai Jakarta lagi "


" Pakai pesawat apa?? "


Marissa pun mengirim jadwal penerbangannya kepada Jovan.


" Ok "


" Ris, don't mad at me like that again yaa "


" Iya, maaf sudah marah ke Abang. Bang, mataku sudah 5 watt "


" Ok, go get some sleep. Sweet dream, good night "


Tidak terdengar jawaban dari Marissa, hanya terdengar suara nafasnya yang berat.


" Kamu capek banget ya, sampai ketiduran lagi ditelpon "


Jovan pun menutup sambungan teleponnya. Lalu ia segera mencari tiket ke Jakarta dan Manado yang sama dengan penerbangan Marissa.


Tak lengkap rasanya jika bepergian tanpa manager rasa asisten, Bian. Untuk itu, Jovan pun menghubungi Bian.


" Bi, Ahad malam saya ke Jakarta. Saya sudah booking tiket PP Jakarta-Manado untuk hari Senin. Kita ke Manado "


Bian yang sudah menduga hal ini terjadi pun, menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.


" Kenapa?? kamu kesal?? " tanya Jovan.


" Yup, I am. Why diriku harus in the middle of this weird relationship. Trus nanti kita disana mau ngapain. Mbak Risa kan kerja, Bang. Dia pergi sama atasannya "


" They are all men "


" Laaa emang kita bukan, Bang?? kita bukan saudaranya, jadi ga ngaruh juga Bang!! "


" Kamu punya adik atau saudara perempuan ga?? "


" Ada adik saya perempuan, kenapa Bang "


" Ajak sekalian "


" Ya Allah, kita mau liburan ?? Bang!!! nyebut Bang!! "


" Nyebut " jawab Jovan.


" Ga gitu juga Bang!!! "


" Pokoknya pesan tiket untuk adik kamu, sesuai dengan yang saya kirim barusan, kita ketemu di bandara senin pagi "


Dengan pasrah, Bian pun segera mengerjakan perintah Jovan.


" Mil, kita ke Manado, Senin pagi, ga nginap, sore langsung balik Jakarta. Ga boleh nolak, ini hukumnya wajib, kudu, it's a must!! "


" Yeeeiii, jalan-jalan gratis!!! tak mungkin ku tolak!! I'm in!! "


Memesan tiket pesawat untuk 3 orang secara mendadak memang membuat pusing, termasuk Bian. Ia pun mencari tiket secara online tetapi tidak berhasil, akhirnya ia menghubungi kenalannya yang bekerja di maskapai penerbangan yang dimaksud di bagian tiketing.


" Lex, gw pesan tiket Jakarta-Manado, senin pagi penerbangan pertama untuk 3 orang "


" Ga bisa lebih mepet lagi pesannya, Senin itu 3 hari lagi lho "


" Please, tolongin gw. Kalau lo masih pingin lihat gw hidup, Lex "


" Hidup dan mati lo ada di tiket ini yaa "


" Bingo!! so please, help me!! "


" All right, gw cariin, ntar gw langsung hubungi kalau ada. Eh data penumpangnya, langsung kirim ke gw "


" Sip, thanks "


Setelah beberapa saat, notifikasi di HP Bian pun berbunyi.


" Alhamdulillah, nyawa masih selamat "


Bian pun mengirim WA kepada Jovan.

__ADS_1


" Tiket ✅ "


Jovan pun tersenyum.


3 hari kemudian, menjelang tengah malam, Jovan telah sampai di Jakarta. Ia pun segera menuju hotel transit bandara untuk beristirahat.


Pukul 5 pagi di check-in penerbangan domestik, mulai terlihat ramai. Penumpang yang didominasi oleh pekerja ini tampak mengantri tak terkecuali Marissa dan keempat pria lainnya.


Jovan yang telah menunggu kedatangan Marissa pun mendekat, begitu ia melihat Marissa datang bersama 4 rekannya.


" Assalamu'alaikum " sapa Jovan.


" Wa'alaikumsalam, Abang??!!! Bang kok disini, ngapain?? " tanya Marissa terkejut dengan kemunculan Jovan.


" Nemenin kamu ke Manado " jawab Jovan dengan suara yang sengaja dikeraskan.


" Hah, aku kerja Bang, ngapain ditemenin?? "


" Mereka laki semua "


" Abang emangnya bukan?? "


" Tuh, ada Mila adiknya Bian, dia duduk di samping kamu nanti "


" Eh mana bisa?? kan nomor seatnya sudah diatur?? "


" Bisa, kamu di 15 F kan ?? Mila di 15 E, Bian di D "


" Kok bisa?? "


" Bian knows someone " jawab singkat Jovan.


Sementara itu, Michael yang melihat kedatangan Jovan pun merasa tidak suka, gagal sudah rencananya untuk mendekati Marissa selama perjalanan ini.


Jovan pun memperkenalkan dirinya kepada rekan kerja Marissa.


" Saya Jovan, Risa's guardian "


" Waaaa, Abang... since when??? "


" Since today and forever!! no argue!! "


Bian hanya bisa mengurut dadanya sambil berusaha untuk tidak berkomentar.


Sedangkan rekan kerja Marissa, tidak ambil peduli dengan kehadiran Jovan, kecuali Michael yang memperlihatkan wajah masamnya kepada Jovan.


Selama di ruang tunggu, Mila adik Bian pun mengajak Marissa berkenalan, keduanya pun asyik bercakap-cakap.


Jiwa protektif Jovan pun tidak dapat ditahannya, ia memberikan pandangan tajam ke arah Michael, seolah-olah berkata,


" Jangan coba dekati Risa, kalau kamu mau selamat!! "


Panggilan untuk penerbangan menuju Manado pun berkumandang, dengan sigap Jovan mengambil tas Marissa.


" Abang yang bawa, ini berat " ucap Jovan sebelum sempat Marissa berucap.


Seperti biasa, Jovan akan berjalan di depan Marissa. Setelah menemukan tempat duduknya, ia pun mempersilahkan Marissa untuk segera duduk.


Marissa yang pada awalnya tidak menyukai kedatangan Jovan, mulai bersikap santai dan menikmati perlakuan Jovan yang selalu memudahkannya.


Selama penerbangan yang ditempuh selama 3,5 jam non-stop itu, digunakan Marissa untuk beristirahat. Sedangkan Jovan, kembali asyik dengan penulisan novelnya.


" Meyakinkan Risa untuk menerima ku sebagai calon imamnya bukan perkara yang mudah. Membuatnya melihatku sebagai seseorang yang mencintainya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada jarak yang cukup jauh di antara kami berdua. Ntah apa yang dipikirkannya, mengapa ia seolah-olah menjadi Icha yang sangat cemburu jika aku tidak memperhatikannya. Ada apa dengan kami berdua?? Aku juga tidak tahu. Yang ku tahu, aku akan selalu berusaha menjaga dan melindungi cintaku padanya "


Pukul 10.30 waktu Manado, pesawat yang mereka tumpangi pun telah mendarat sempurna.


" Supir hotel sudah menunggu, kita langsung saja " ucap Ardan.


" Maaf, Pak Jovan apa akan ikut kami ke hotel atau bagaimana "


" Just like I said before, I'm her guardian, so saya ikut kemana pun dia pergi "


" Ok, no problem. But its working situation "


" I know, saya ga akan mengganggu pekerjaan kalian, selama kalian bekerja saya akan menunggu "


Jovan pun dipersilahkan untuk masuk ke dalam mobil jemputan hotel bersama dengan rombongan Marissa.


Sesampainya di hotel, Marissa dan rekan kerjanya segera menuju ruang rapat, sedangkan Jovan memilih bersantai di lobby sambil melanjutkan menulis novelnya.


" Bian, kamu ajak adik kamu jalan-jalan aja. Pakai kartu saya untuk belanja. My treat, use it wisely "


" Siap Bos!!! "


Sementara itu, Marissa dan rekan-rekannya setelah rapat singkat dengan manajemen Hotel, mereka melanjutkan pekerjaannya dengan mendata ruangan yang akan di renovasi.


Hingga menjelang makan siang Marissa masih sibuk mendata dan membuat sketsa di ruang rapat hotel.


" Ris, Jovan itu beneran Abang kamu?? " tanya Ardan.


" Bukan Bang, dia ngaku-ngaku aja. Ga tahu tuh maksudnya apa?? " jawab Marissa pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


" Dia suka sama kamu, Ris, " lanjut Ardan.


" Duh Bang, jangan mengarang indah deh. Dia sudah punya perempuan yang dia suka dan cinta, tapi dia ga mau bilang siapa. Yaa bukan urusan aku juga dan pastinya bukan aku juga yang dia suka, " elak Marissa.


" Kamu tahu darimana kalau bukan kamu yang dia suka?? apa dia pernah bilang, kalau bukan kamu?? "


" Hmmm pernah bilang sih, tapi aku ga mau jadi orang ketiga "


" Ris, kamu terlalu polos. Umur kamu berapa sih?? urusan seperti ini kok ga peka!! " ucap Michael dengan nada kesal.


" Eh kok kamu sewot, Mike?? "


" Karena Michael juga suka sama kamu, makanya dia kesal waktu Jovan datang. Rencana Michael buyar semua, right??!! " ucap Ardan.


" You are so right, Dan!! " jawab Michael.


" Ternyata kerja begini ga enak yaa, aku keluar dulu!! sumpek di dalam " gerutu Marissa sambil berjalan keluar ruangan.


" Laki tapi kok ngebahas urusan cewek!! mending ngemil dulu. "


Marissa pun berjalan menuju bakery di lobby hotel.


Setelah membeli sepotong roti dan cake, ia pun menuju lobby.


Dilihatnya Jovan masih asyik di depan laptopnya, ia pun berjalan menghampiri.


" Roti atau cake?? " tanya Marissa.


" Roti atau cake?? " tanyanya lagi karena Jovan tidak meresponnya.


" Bang, roti atau cake?? " tanyanya sekali lagi.


Jovan pun menjawab tanpa melihat ke arah Marissa.


" Roti."


Marissa pun memberikan roti yang ia beli kepada Jovan.


" Thanks. "


" Welcome. "


Marissa menarik kursi di depan Jovan.


" Bang, istirahat bentar dong. "


Jovan pun menghentikan ketikannya.


" What's wrong ?? "


" Nothing's wrong, but Bang Ardan bilang kalau Abang suka sama aku, it's that true?? "


Jovan pun tertawa, ia tidak menyangka ia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu dari seseorang yang ia sukai.


" Kok ketawa?? "


" I'm sorry, but kamu polos banget sih. "


" Just answer the question!! "


" All right, all right. Yes I do like you. Just like I said before, I don't know why but I do like you, that's why I'm here. "


" But don't worry, I won't ask you to accept me right away. I want to marry you. Yes I'm proposing right now. But I tidak menuntut jawaban dari kamu saat ini juga, just take your time "


" Why?? why me?? jadi yang kemarin Abang maksud itu, beneran aku?? aku perempuan yang Abang suka?? "


" Yes, she is you "


" Why?? "


" I don't know. Ris, you make my heart beat so fast, even now "


" Abang ga keliatan seperti itu "


" I pretend not to. It's part of acting and it's hard to do "


" What about Mischa then?? "


Jovan pun membuang kasar nafasnya.


" She's part of my memory. She's my past. I don't even know how to find her. Tough, jika suatu saat aku ketemu Mischa, I don't think we're the same person as we're used to. Look, bunda told me something, she said that I should grab something that in front of me, don't chase something that's feels unreal. Mischa is my past, she's my little sister that I miss a lot. But, you are something real, you're here. I'm still looking for her, but is it wrong if I like you?? "


Marissa hanya diam mendengar kata-kata Jovan.


" Rencana Abang gimana?? "


" Abang mau beli rumah di Jakarta, nanti kamu yang desain dalamnya. "


" Abang mau pindah ke Jakarta?? "


" Maybe."

__ADS_1


__ADS_2