
"Cha, sini duduk dekat Bunda," pinta Jovanka.
Marissa pun menuruti permintaan Jovanka.
Jovanka pun meraih tangan Marissa dan menggenggamnya erat.
"Cha, kamu selama ini tinggal dimana?? Bang Josie dan Jovan sudah keliling Jakarta juga Surabaya nyari kamu. Sampai akhirnya Jovan bikin film pendek tentang masa kecil kalian dan nulis buku itu, berharap kamu tiba-tiba muncul. Ga tahunya kamu memang benar-benar muncul, tapi Jovan ga sadar dan sepertinya kamu juga ga ingat masa kecil kamu," ucap Jovanka.
"Cha, jantung Bunda masih deg-degan lho. Sewaktu kamu berjalan kesini, Bunda sudah ngeliatin kamu aja, karena kamu mirip ibumu, Riska rahimahullah," lanjut Jovanka.
"Bun tenang dulu, Icha masih bingung tuh. Cha, inget Abang ga?? yang dulu ngajarin kamu naik sepeda kalau Jovan atau Josie ga ada," ucap Jordan.
"Eh, Bang Josie mana??" tanya Marissa tiba-tiba.
"Josie sudah meninggal, Cha. Dia tertabrak mobil sewaktu menyebrang," jawab Jordan.
"Innalillahi wa inna ilaihi rooji'uunn. Kapan Bang??" tanya Marissa.
"Sekitar 3 tahun yang lalu," jawab Jordan.
"Kok bisa??" tanya Marissa lagi.
"Hmm wait, do you recognise this pictures ?? " tanya Jordan sambil memperlihatkan beberapa foto terakhir Josie bersama rombongan Marissa dan temannya 3 tahun yang lalu.
"Wait, ini Abang yang nraktir rombongan aku makan dan ngajak naik MRT di Singapura !!" ucap Marissa.
"He is Josie, my little brother," ucap Jordan yang membuat badan Marissa tiba-tiba lemas.
"Wait, jadi Josie pernah ketemu kamu di Singapura??" tanya Jovanka.
"Kapan Cha??" tanya Jorrian.
"Waktu itu aku mewakili kampusku, untuk ikut kompetisi mahasiswa arsitektur di Nanyang, trus pas lagi jalan-jalan ada laki-laki nyapa kita, pakai bahasa Indonesia," jawab Marissa.
Marissa pun menceritakan pertemuannya dengan Josie hingga mereka berpisah di Bugis Junction.
"Aku kok ngerasa ada yang beda sama Bang Josie, sepertinya pernah kenal, akrab gitu, tapi ga ingat kapan. Bang Josie juga sepertinya agak-agak ingat, tapi masih ragu, soalnya dia ngeliatin aku terus, tapi diam aja ga ngomong apa-apa," tambah Marissa yang berusaha untuk tidak menangis setelah mengetahui kepergian Josie.
"Ah, tebakan kita benar Van!! Josie ngejar Icha!!" ucap Jordan kepada Jovan yang masih terdiam.
"Van?? Van??? are you here, Jovan Ahmad Chen??" ucap Jordan untuk 'mengembalikan' Jovan.
"Eh iya Bang?? kenapa??" tanya Jovan begitu menyadari jika Jordan berbicara kepadanya.
"Hmmm why ?? Kamu malah sibuk di dunia lain, hei this is your loves one, malah bengong!! wake up!!" jawab Jordan.
"I think Jovan is shocked," ucap Jorrian.
Jovanka dan Jordan pun tertawa melihat Jovan.
"Then your planning is going to be......," ucap Jordan yang segera dipotong oleh Jovan.
"Still, my plan is still, never gonna change!!" jawab Jovan.
"All right, take it easy, Van," ucap Jordan lagi.
"Eh, Icha bingung tuh," tambah Jordan yang melihat ekspresi tatapan kosong Marissa.
__ADS_1
"Cha, Josie meninggal setelah tertabrak kendaraan di Bugis Junction. Sepertinya Jovan melakukan penyelidikannya sendiri, just like in his book. Now he is shocked, karena perkiraannya dan feeling-nya pun benar," jelas Jovanka.
"Feeling apa, Bun??" tanya Marissa.
"Jovan sudah menceritakan awal pertemuan kalian sampai saat ini. Kamu membuat Jovan merasa telah selingkuh dari Icha," jawab Jovanka sambil tertawa.
"Dia pulang dan bilang, Bun I feel like selingkuh , do you know why, karena he's in love with Risa but he had Icha, ngerti kan maksudnya??" lanjut Jovanka.
"Oooh, my silly brothers!!" ucap Jordan yang gemas dengan kedua adiknya.
"Kamu kenapa Dan??" tanya Jorrian.
"Josie and Jovan, they like the same person from they were kids. End up, Josie had died cause chasing Icha, he was to late to realised that Risa was Icha. And now is Jovan, his feelings changed, at least he thought so, but actually he's in love with the same person. Now you have to put another chapter in your book," jelas Jordan.
Jorrian menatap Jovan dan Marissa, keduanya seperti masih belum tersadar akan apa yang barusan terjadi.
"Sepertinya kalian berdua masih roaming," canda Jovanka.
"But, orderan kita tadi sudah masuk belum??" lanjut Jovanka.
"Sudah, tuh waiter-nya," tunjuk Jordan kepada seorang pelayan yang membawa pesanan minuman untuk mereka.
"Cha, tadi kita sudah pesenin duluan yaa, semoga kamu suka," ucap Jovanka.
"Makasih, Bun," jawab Marissa.
Satu persatu hidangan pun disajikan di meja mereka.
Tawa dan canda mengisi disela-sela makan malam mereka.
Tetapi Jovan seperti kehilangan nafsu makannya. Ia hanya memainkan pisau dan garpunya, tanpa sedikitpun memakannya.
"Ga papa, Yah," jawab Jovan.
"Then, eat your food," ucap Jorrian.
"Iya," jawab Jovan tak semangat.
Jovan pun mulai mencoba menikmati makanan di depannya, tetapi ada sesuatu hal yang mengganjal.
"Cha, kamu kan sudah baca bukunya, kamu juga sudah nonton film pendeknya kan?? waktu itu kan aku diundang ke ITS, waktu itu kamu masih kuliah disana kan?? belum luluskan??" tanya Jovan tiba-tiba.
"Iya Bang, aku memang sudah baca, kan Abang ngasih tanda tangan waktu di pesawat, tapi jujur Bang, aku tuh ngerasa aku Mischa yang dicerita itu, tapi disisi lain aku menyangkalnya. Ga mungkin aku kenal sama Abang, apalagi satu sekolah, liburan bareng, boncengan sepeda, menurut aku itu ga mungkin terjadi di kehidupan aku," jawab Icha.
"Hmmm denial ," ucap Jordan.
"Lanjut, Cha," pinta Jovan.
"Aku ingat waktu Abang ke ITS, presentasi di sana, aku juga lihat filmnya," lanjut Marissa.
"Lalu??" tanya Jovan.
"Sewaktu pulang dari Singapura, aku kan sakit berulang kali di bagian dada, pokoknya sakit aja rasanya, bahkan sempat pingsan waktu di Singapura, tapi sewaktu diperiksa ke dokter, katanya ga ada masalah serius hanya kecapean aja. Nah, waktu Abang mulai ngomong di depan, sakitnya datang lagi, makanya aku keluar ruangan, ga dengerin Abang ngomong di depan sampai selesai, kata temenku aku pingsan lagi," jawab Marissa.
"Kok bisa??" tanya Jovan.
"Yaa katanya tekanan darahku rendah banget, makanya berulang kali pingsan," jawab Marissa.
__ADS_1
"Trus, sekarang kamu pingsan ga??" tanya Jovan dengan bercanda.
"Hmmm tunggu aku mikir dulu. Aku pingsan ga yaa?? Bang aku pingsan ga??" balas Marissa.
"Hmmm sepertinya sih ga pingsan, tapi sadar kan yaa??" canda Jovan lagi.
"Iya, sadar. Sadar diri, sadara-sadari sekalian," balas Marissa.
"Itu saudara-saudari !!" protes Jovan.
"Oh !!" ucap Marissa sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kalian mau sampai kapan ngelawak??" potong Jordan yang gemas melihat drama dari Jovan dan Marissa.
"Ssst Jordan, kamu ganggu tontonan ayah dan ibu aja deh. Ternyata mereka tetep lucu seperti dulu," protes Jovanka.
"Cha, kamu pulangnya ikut Bunda yaa, ke rumah Jovan," ajak Jovanka.
"Eh, kamu kan yang milih dan mendesain interiornya juga, kan ??" tanya Jovanka.
"Iya, tuh Bang Jovan nyuruh cari rumah yang aku suka, jadi yaaa maaf, rumahnya sesuai keinginan aku, semuaaaaanya!!" jawab Marissa penuh semangat.
"Good!! You'll be staying there anyways," ucap Jovan.
"Kok, kan itu rumah Abang, ngapain aku tinggal disana, lagian kejauhan dari kantor," ucap Marissa tidak mengerti.
"Kalau kamu tinggal disana, kamu ga perlu kerja lagi, cukup di rumah aja, yaa masak, bersih-bersih ... "
"Hoooo gitu, aku disuruh berhenti kerja di kantor trus jadi pembantu di rumah Abang ??!!" protes Marissa.
"Haadeee Chaaa, siapa bilang kamu jadi pembantu??" jawab Jovan.
"Itu tadi masak, bersih-bersih?? itu apa kalau bukan pembantu ??!!" protes Marissa.
Adegan drama ini pun membuat keluarga Chen semakin gemas dan menikmati tontonan ini dengan penuh senyuman.
"Makanya kalau orang ngomong jangan dipotong. Kamu cukup di rumah, masak, bersih-bersih semuanya pakai pembantu, kamu cukup ngelakuin hobby kamu aja," jawab Jovan.
"Kok, gitu?? trus aku bayar mereka pakai apa?? trus pengeluaran rumah itu siapa yang bayar ??" tanya Marissa yang masih tidak mengerti maksud Jovan.
"Semuanya akan selesai dengan ini," ucap Jovan sambil mengeluarkan kotak cincin yang telah ia siapkan beberapa hari sebelumnya.
"Open it !!" pinta Jovan.
Marissa membukanya perlahan.
"Maksudnya apa, Bang??" tanya Marissa yang masih belum mengerti maksud Jovan.
"I wanna be Mr. Marissa Shafeeya," jawab Jovan.
Jawaban Jovan sontak memecahkan suasana, tepukan tangan dan suara tawa pun tak terbendung lagi.
"Lamaran paling epic!!! bagus aku rekam semuanya!!" ucap Jordan yang puas akan kesigapannya dalam berfikir cepat.
Jorrian pun mengajak putra pertamanya itu bersalaman.
"Great job, Son!! "
__ADS_1
"Sure, Dad!!"