Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 87 Jelajah Batam


__ADS_3

Keesokan harinya, tidak seperti biasanya, Jovan masih belum terbangun dari tidurnya, sedangkan waktu telah menunjukkan pukul 9. Hal ini membuat Marissa khawatir, karena tidak seperti biasanya Jovan bangun siang.


"Tumben banget sih, habis Shubuh langsung blek tidur lagi," gumam Marissa.


Marissa pun membangunkan Jovan dengan perlahan.


"Bang, Abang Jo, bangun Bang sudah jam 10," lirih Marissa di telinga Jovan sambil membelai lembut pipi suami tercintanya ini.


"Hmmm kok nggak bangun-bangun? Bang, Abang sayang ganteng shalih bangun dong, temenin aku jalan-jalan," ucap Marissa sambil terus memandangi wajah Jovan dan membelai pipinya.


Mata Jovan membuka perlahan, senyum cerah terlihat di bibirnya, ketika ia melihat wanita yang ia cintai di depannya. Lalu, ia menarik badan Marissa hingga terjatuh di atas badannya.


"Abang !!" pekik Marissa yang terkejut.


Kemudian Jovan merubah posisinya dengan cepat, dengan memiringkan badannya hingga membuat Marissa berada di bawahnya.


"Abaaaaang!!" protes Marissa lagi.


Jovan hanya tersenyum sambil memandangi wajah Marissa yang tampak segar setelah mandi.


"Cantik," lirih Jovan sambil mengelus pipi Marissa.


"Aku memang cantik," ucap Marissa yang membuat Jovan tertawa dan kemudian memeluk erat Marissa.


"Yang, ngelawak is the best suplemen for our mind, lanjut !" ucap Jovan yang membuat Marissa memicingkan matanya.


"Bang, bisa nggak kita romantis seperti yang di film-film Hollywood atau drama Korea gitu? Bisa nggak yaa,?" tanya Marissa.


"Hmm biarkan mereka yang romantis, kita cukup narsis," jawab Jovan santai.


"Ih nggak nyambung! Udah Bang, buruan yok, aku pingin jalan-jalan," pinta Marissa.


"Oke, tunggu Abang mandi sebentar yaa, setelah itu kita langsung jalan," ucap Jovan sebelum dirinya masuk ke kamar mandi.


Marissa segera menghubungi Silla akan rencananya untuk berjalan-jalan di pusat kota Batam.


"Mbak, setengah jam lagi, aku sama Bang Jovan mau jalan-jalan, ya," ucap Marissa.


"Baik, Mbak. Akan saya siapkan kendaraannya," jawab Silla.


Silla segera berkoordinasi dengan Faisal dan Adam, lalu mereka mulai mempersiapkan kendaraan dan rute-rute yang nantinya akan dilewati.


Walaupun tidak terdapat adanya ancaman akan keselamatan Jovan dan Marissa, tetapi tidak berarti ke-tiga pengawal pribadi mereka mengurangi kewaspadaan dan pengawalannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Jovan dan Marissa telah siap untuk menjelajahi kota Batam dengan penjagaan ke-tiga pengawal mereka.


"Google maps, ready. Sekarang Bang Jovan mau kemana?" tanya Adam.


"Kita keliling kota Batam dulu. Ke Batam Center, pusat kotanya. Hari ini kita full eksplore kota Batam, besok full pantai!! jawab Jovan.


"Siap, Batam Center we're coming!" ucap Adam sambil melajukan kendaraannya.


Dalam perjalanan menuju pusat kota Batam, mereka melewati daerah-daerah yang masih sepi atau pun perkampungan-perkampungan dari penduduk asli Batam, yang terpinggirkan oleh kedatangan para pencari rezeki dari daerah-daerah lain baik sekitar Sumatera atau bahkan hingga Indonesia bagian timur, tak terkecuali para pekerja dari Tiongkok yang juga mencari peruntungannya di pulau kecil ini.


Setelah hampir 1 jam, akhirnya mereka sampai di wilayah Batam Center, yang tampilannya jauh lebih modern dibandingkan dengan daerah sekitar resort tempat mereka menginap.


Masjid Raya yang merupakan masjid terbesar di pulau ini pun terlihat megah dengan dikelilingi oleh gedung-gedung pemerintahan daerah serta pusat perbelanjaan yang tersambung dengan terminal ferry yang menuju Singapura dan Malaysia.


"MasyaAllah, beda banget tampilan sekitar resort sama yang disini," ucap Marissa.


"Namanya juga daerah pusat pemerintahan, ya harus terlihat modern," sahut Jovan.


"Bang, bukit Welcome to Batam, itu dimana? Katanya di Batam Center, kok nggak kelihatan," tanya Marissa.


"Sebentar Mbak, saya belok dulu," jawab Adam sebelum Jovan menjawab.


Hanya beberapa ratus meter kemudian, terlihat bukit yang bertuliskan 'Welcom to Batam' yang menjadi icon pulau ini.


"Cha, jangan ngajak foto disitu! Abang nggak mau. Itu khusus untuk turis," ucap Jovan tiba-tiba yang membuat Marissa mengernyitkan dahinya.


"Iya, tahu. Pokoknya abang nggak mau foto disitu," jawab Jovan.


"Lah ini lagi, nggak ada yang minta, yang maksa juga nggak ada. Aneh oh aneh, kena virus apa sih Bang?" tanya Marissa yang membuat ketiga pengawalnya tertawa.


"But anyway, kita mau kemana? Ke Mall atau lanjut jalan-jalan aja," tanya Adam.


"It almost lunch time, kita cari makan aja, trus nanti kita shalat dzuhur di Masjid Agung," jawab Jovan.


"Kita makan di resto khas Batam aja, yaa. Ada nih restoran seafood yang enak tapi tempatnya arah ke Bandara," lanjut Jovan.


"Jauh, Bang?" tanya Marissa.


"Mungkin sekitar 20 menit dari sini," jawab Jovan sambil menunjukkan restoran yang ia maksud melalui handphonenya.


"Ke Nongsa aja Om," lanjut Jovan yang kemudian mengarahkan dibantu dengan google map.


Marissa yang penasaran dengan letak restoran yang dimaksud Jovan, segera mencarinya di google map di dalam hpnya. Matanya pun terbelalak ketika melihat lokasi dan berapa jauh dari resort tempat mereka menginap.

__ADS_1


"Bang, kita ini perjalanan dari ujung ke ujung?" tanya Marissa.


"Yup, dari ujung selatan Batam ke ujung utaranya," jawab Jovan.


"Berarti Batam itu kecil banget ya?" tanya Marissa.


"Sama seperti Singapore, kecil juga," jawab Jovan.


"Abang juga sering kesini?" tanya Marissa.


"Lumayan, kalau ada promosi belanja di Batam, pasti borong," jawab Jovan.


"Kok bisa tahu ada promosi?"


"Internet and radio, honey," jawab Jovan.


Setelah melewati jalan utama pulau Batam, Adam mulai berbelok ke jalan yang lebih kecil atau biasa disebut jalan kampung yang di kanan dan kirinya masih rimbun dengan pepohonan.


"Nah, itu restonya!" seru Jovan setelah melihat tanda panah menuju restoran yang ia maksud.


Adam pun memperlambat laju kendaraannya dan mengikuti tanda panah itu mengarah. Tak seberapa lama, mereka pun tiba di sebuah rumah makan seafood dengan pemandangan lepas pantai, dengan air yang jernih.


"MasyaAllah!! Bagus banget, airnya jernih banget!!" ucap Marissa sesaat setelah turun dari kendaraannya dan segera berlari menuju bibir pantai yang didampingi oleh Silla.


"Yang, jangan jauh-jauh, disini pantainya batu-batuan bukan pasir," seru Jovan.


"Iya Bang!" jawab Marissa yang asyik mengabadikan keindahannya dalam ponselnya.


"Mbak, jangan lama-lama. Feeling saya kok nggak enak," ucap Silla yang tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dalam dadanya.


"Hmm kenapa, Mbak?" tanya Marissa.


"Nggak tahu, tapi mendingan kita nyusul ke restorannya aja," jawab Silla sambil terus mewaspadai lokasi di sekitarnya.


Sementara itu, Jovan telah memilih menu makan siang dan juga memilih langsung ikan serta kepiting untuk diolah oleh chef restoran tersebut.


Setelah Marissa dan Silla duduk bersama, beberapa pengunjung restoran pun mulai menyadari siapa sosok pria tampan yang berada di tengah-tengah mereka. Mengambil gambar Jovan secara candid lalu mengunggahnya di dalam sosial media pun kerap dilakukan oleh para penggemar Jovan, tak terkecuali saat ini.


Adam dan Faisal pun segera memeriksa unggahan foto Jovan dan Marissa di beberapa media sosial.


"Mas, mereka gercep banget. Nih, foto-foto yang baru di posting," tunjuk Adam kepada Jovan.


Tetapi Jovan bersikap santai dan tidak memperdulikan foto-foto dirinya dan Marissa yang sedang menikmati makan siang.

__ADS_1


"Biarin aja, Om. Santai aja, kita selesaikan makannya aja. Terus kita lanjut jalan-jalan lagi," jawab Jovan.


Adam dan Faisal pun mengikuti kata-kata Jovan, untuk bersikap santai, tetapi mereka tetap waspada akan segala kemungkinan yang dapat membahayakan keselamatan Jovan dan Marissa.


__ADS_2