
Setelah hampir 1 jam menembus kepadatan jalanan ibukota, akhirnya Jovan dan Marissa tiba di pusat perbelanjaan di ujung Jakarta Timur.
Polisi menyamar yang telah sampai lebih dulu, segera bekerja sama dengan petugas keamanan setempat, untuk memperkuat pengamanan wilayahnya.
Sesampainya di sana, Jovan dan Marissa tetap di kawal oleh pengawal pribadinya segera menuju tempat yang diinginkan oleh Marissa.
Senyum Marissa tak lepas dari wajahnya, ia berjalan sambil mengayunkan tangannya, menunjukkan betapa bahagianya ia saat itu. Sesekali ia juga berjalan dengan melompat-lompat, sambil menarik tangan Jovan yang selalu menggenggamnya.
Jovan ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Marissa, ia pun tersenyum dan sesekali tertawa kecil melihat tingkah Marissa yang tiba-tiba seperti anak kecil.
"Bang, nanti kita jajan yaa," pinta Marissa.
"Mau jajan apa??" tanya Jovan.
"Ga tahu, tapi aku pingin jajan. Nanti kita kelilingin food court aja, yaa??" pinta Marissa.
"Siap, Tuan Putri, titah baginda akan hamba laksanakan," canda Jovan yang membuat Marissa tertawa.
"Uhuk uhuk, aku jadi Putri, berarti abang jadi Putra, dong??!!"
"Eh, kok Putra, yaa Pangeran dong??!!" protes Jovan.
"Laaa, kalau Putri yaa Putra dong, kan putra-putri," jawab Marissa sekenanya.
"Beda konsepnya ituuuuu, Chaaaaa!!" ucap Jovan gemas sambil mencubit lembut pipi Marissa, yang membuat Marissa kembali tertawa.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di toko buku yang dimaksud. Marissa pun mulai mencari majalah dan buku yang diinginkannya.
Jovan pun tetap berada di samping Marissa, sambil ikut membuka-buka majalah dan buku yang mungkin akan menarik minatnya untuk membeli.
Kehadiran Jovan di toko buku tersebut membuat banyak mata memandang ke arahnya, selain karena postur tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang tampan diatas rata-rata, tetapi juga karena wajahnya yang sudah tidak asing bagi para pembaca setia novelnya.
Banyak dari mereka pun mulai bertanya-tanya akan sosok wanita yang berada di samping Jovan.
Jovan yang merasa dirinya kembali menjadi pusat perhatian pun berusaha bersikap seperti biasa, ia tidak ambil perduli dengan semuanya perhatian yang ia dapatkan, ia hanya ingin tetap fokus pada keamanan dan keselamatan Marissa.
Setelah beberapa saat memilih-milih majalah dan buku, akhirnya Marissa memutuskan untuk membeli 2 majalah desain keluaran Singapura, 1 keluaran Inggris dan 2 keluaran Indonesia.
Jovan pun membantu Marissa dengan membawakannya ke kasir dan membayarnya. Sementara itu, pandangan pengunjung toko buku masih belum lepas dari Jovan dan Marissa.
Setelah selesai membayarnya, mereka segera berjalan keluar toko dan Jovan pun mulai memanasinya dengan menggandeng tangan dan tersenyum manis ke arah Marissa, yang membuat pipi Marissa merona.
Jovan pun tertawa kecil melihat reaksi Marissa yang selalu malu-malu dengannya, walaupun mereka telah menjadi pasangan halal. Ia lalu membelai kepala Marissa dan merangkulnya dari samping yang semakin membuat Marissa salah tingkah.
Para pengawal pribadi pun hanya menggelengkan kepalanya melihat drama yang ditampilkan oleh Jovan.
Kecemburuan pun tampak pada tatapan mata penggemar Jovan. Wajah sinis pun dilayangkan kepada Marissa.
Pengawal pribadi Marissa dan Jovan pun mulai berjaga lebih ketat, tetapi Jovan malah tampak santai dan tidak ambil peduli dengan reaksi penggemarnya.
Tiba-tiba sekumpulan gadis remaja mendekati Jovan dan Marissa, dengan wajah kesal dan penuh rasa cemburu.
Sebelum para pengawal dan Jovan bertanya, mereka segera mengeluarkan semua kecemburuan mereka.
"Bang!! siapa nih perempuan?? kok Abang main gandeng aja??!! trus gimana kalau Mischa tahu Abang ternyata sudah pindah ke lain hati!! jaga perasaan perempuan dong, Bang!! Ah kirain Bang Jovan beda sama cowok-cowok tukang gombal di luar sana, ternyata sama aja!!"
Jovan pun tertawa sambil mengangkat tangannya yang masih menggenggam tangan Marissa.
"Kenalin, ini Marissa istri Abang. Marissa ini adalah Mischa, jadi Abang ga pernah pindah ke lain hati, yaa. Ga percaya?? ini cincin nikahnya, mau bukti lagi?? ada kok foto dan video akadnya, jadi kami berdua sudah halal yaa, dek," jawab Jovan yang membuat gadis-gadis tersebut terkejut sambil menutup mulut mereka dengan kedua tangannya.
"Tunggu aja beritanya, paling sebentar lagi ada wartawan yang ngeluarin beritanya," lanjut Jovan.
"Sudah yaa, Abang mau lanjut jalan, permisi. Oiya,, makasih yaa atas perhatian kalian semua, jangan berubah menjadi haters yaa," ucap Jovan sambil melanjutkan berjalan dan melambaikan tangannya kepada para gadis tadi.
Faisal dan Adam pun kembali menggelengkan kepala mereka sambil berkata, "Ancaman pertama ternyata cuma beginian doang!!"
"Begini juga tetap ancaman, Om!!" canda Jovan.
"Eh sopan, kita dipanggil 'Om'!! sejak kapan saya nikah sama tantenya, Mas Jovan!! kenal juga enggak," balas Adam.
__ADS_1
"Lah, sekarang dia yang ngelawak!! eh buruan, pengawalnya ada yang di depan dong, kok di belakang semua," canda Jovan lagi.
"Iya, Mas. Permisi, saya jalan di depan, yaa!!" ucap Adam yang segera berjalan melewati Jovan dan Marissa.
"Kita mau kemana lagi??" tanya Adam.
"Jajan!! makan yuuuuk, harahetta!!" jawab Marissa.
"Hah, harahetta??" tanya Jovan.
"Iya, Bang. Harahetta, artinya saya lapar in Japanese," jawab Marissa.
"Sejak kapan bisa bahasa Jepang??" tanya Jovan heran.
"Ga bisa, kok. Cuma tahu sedikit dari anime," jawab Marissa.
"Haish, kamehameha dong!!" ucap Jovan.
"Kok, kamehameha??" tanya Marissa.
"Yaa, kan sama-sama dari anime," jawab Jovan santai yang membuat Marissa memasang mimik aneh sedangkan para pengawal mereka hanya bisa tertawa menyaksikannya.
Mereka kemudian melanjutkan berjalan menuju foodcourt, setelah mendapatkan meja mereka pun mulai memilih menu untuk makan siang mereka.
Kehadiran mereka di foodcourt, kembali mengundang perhatian, bahkan tak sedikit yang mengambil foto Jovan secara candid.
"Bang, mereka pada ngambil foto Abang tuh," ucap Marissa dengan wajah cemberut karena cemburu.
"Biarin aja, mereka dapat fotonya, kamu kan dapat aslinya, bisa dapat bonus banyak lagi," jawab Jovan sambil mengedipkan satu matanya ke arah Marissa.
"Oh nooo!! kecentilannya kembali menerjang!!! Om Adam!! diapain kek ini, kliennya," canda Marissa.
"Laaah Adam dipanggil 'Om' pulak??!!" protes Jovan.
"Emangnya boleh aku panggil, 'mas', pasti enggak kan, yowes 'Om' aja, ben aman tho," jawab Marissa dengan logat jawanya.
"Laaah ini kok, tiba-tiba menjawakan diri?? Cha, memangnya punya tombol on-off logat yaa??" tanya Jovan.
"Anggap aja, punya," jawab Marissa santai.
Jovan pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, sedangkan ketiga pengawal mereka hanya membatin, "when you married a child."
Sementara itu, suasana foodcourt di waktu makan siang tampak semakin ramai, pengawasan terhadap Marissa dan Jovan pun semakin diperketat.
__ADS_1
Pihak kepolisian pun mengawasi melalui kamera CCTV yang terpasang di beberapa titik pada area foodcourt, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Beberapa saat kemudian, mereka pun telah asyik dengan makan siang mereka.