
Di hari-hari selanjutnya, Marissa mulai disibukkan dengan berbagai macam pelatihan.
"Cha, bahasa Inggris kamu di level apa??" tanya Alex.
"Hmmm, I know what do you mean and I hope you know what I mean," jawab Marissa santai.
"Well, okay then. Bahasa Inggris sepertinya tidak ada masalah. Jadwal kamu yang pertama adalah mempelajari tentang attitude, perilaku sebagai seorang suksesor. Tata bahasa, body language, greetings, kamu akan berlatih untuk memunculkan aura kepemimpinan kamu. Nanti juga akan ada kursus singkat tentang ilmu manajemen perusahaan. Jadi kamu akan belajar langsung dari para pemimpin-pemimpin perusahaan besar di Indonesia, yaa minimal Jakarta dulu," lanjut Alex lagi yang membuat Marissa cukup terbebani.
"Om, gimana caranya belajar langsung dari mereka??" tanya Marissa.
"Nanti akan saya buatkan janjinya, kamu ikuti saja. Tenang, itu tidak sekarang. Yang sekarang harus kamu pelajari adalah etiket dan attitude sebagai seorang leader. But, Om tidak akan membebani kamu dengan tugas kamu sebagai pemegang saham perusahaan. Tapi paling tidak kamu tahu apa yang terjadi di dalam perusahaan, berapa keuntungan perbulan, persemester dan pertahun. Kamu mengerti atau paham akan kontrak-kontrak yang berjalan dan yang akan berjalan. Sehingga mereka tidak meremehkan kamu, sebagai ahli waris yang hanya mengandalkan darah, tetapi kamu harus menunjukkan bahwa dirimu memang kompeten dan layak sebagai pemegang saham terbesar Sofyan Corporate," Alex menjelaskan.
"Pekan ini, kamu cukup mempelajari tentang sejarah berdirinya perusahaan ini, jatuh bangunnya, kendala yang sering dihadapi, dengan segala kesulitannya. Lalu bagaimana bangkit dari keterpurukan, lalu memulai kembali dan mempertahankannya. Saat ini Sofyan Corporation dalam tahap perluasan dan pengembangan bisnis. Semua itu akan kamu pelajari perlahan," tambah Alex.
"Baiklah, Om berangkat kerja dulu. Assalamu'alaikum," salam Alex sebelum berangkat menuju kantornya di Lebak Bulus.
Dalam perjalanan menuju kantornya, Alex menghubungi Jovan.
"Van, bisa ke kantor pagi ini?? jam 10, bisa??" tanya Alex.
"In syaa Allah bisa, Om. Ada apa, Om??" jawab Jovan sambil balik bertanya.
"Kamu datang saja, nanti saya bicara langsung, tidak di telepon."
"Baik Om, in syaa Allah jam 10 saya sudah sampai," ucap Jovan mengakhiri percakapannya.
Jovan yang sedang menulis kelanjutan kisahnya dengan Marissa pun menghentikannya dan segera bersiap untuk menemui Alex.
__ADS_1
"Bun, jam 10 nanti, aku mau ketemu Om Alex di kantornya," izin Jovan.
"Ada apa??" tanya Jovanka.
"Ga tahu. Tapi nanti sore aku tetap anterin Bunda ke bandara kok," jawab Jovan.
Hari itu Jorrian dan Jovanka memang berencana untuk kembali ke Singapura, dengan menggunakan penerbangan di sore hari.
"Aku siap-siap sekarang aja, takutnya macet. Kalau lihat google map, jalannya sedikit tersendat sebelum masuk tol," tambah Jovan lagi.
Setelah sarapan, Jovan segera melajukan kendaraannya menuju kantor Alex. Sesuai dengan petunjuk google map, awal perjalanannya sempat tersendat sebelum memasuki tol JOR.
Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya Jovan tiba di kantor Alex dan segera menuju ke ruangannya.
"Assalamu'alaikum, Om," sapa Jovan.
Jovan pun menarik kursi di depan Alex.
"Ada apa, Om??" tanya Jovan.
"Background pendidikan kamu apa??" tanya Alex tanpa basa-basi.
"Media Communications Study," jawab Jovan.
"Kenapa ya, Om??" tanya Jovan.
"I want you to become the Vice President of Sofyan Corporation," jawab Alex yang mengagetkan Jovan.
__ADS_1
"Om?? Om ga salah?? me?? become the VP of this big company??" tanya Jovan tidak percaya.
"Seperti yang kamu ketahui, perusahaan ini bergerak di bidang media, kami menjalankan bisnis percetakan, periklanan dan desain. We need your talent, here. Look, Icha is the owner of this corporation, but since you're gonna be her husband, then I want you to become her representative," jelas Alex.
"You can work together. Suatu saat saya akan pensiun, I need someone to take over this job and I want you to take it. Untuk itu, kamu bekerjalah disini, kamu pelajari bisnis ini, karena suatu saat kamu dan Icha yang akan menjalankannya," tambah Alex.
"Look, Om tidak minta kamu segera menjadi VP, itu tidak mungkin. Kamu pelajari dulu sistemnya, apa saja proyek yang kami kerjakan, siapa saja klien kami, kontrak-kontrak kerja yang telah, sedang dan akan dikerjakan dan masih banyak lagi," lanjut Alex lagi.
"But I want you to work with us. Your short film, shows your quality. You have that talent. So, finish your book, then start working in here. What do you think??" tanya Alex.
"I can't give you the answer right now, I need time to think," jawab Jovan yang masih sedikit bingung.
"Iya, kamu memang harus memikirkan hal ini baik-baik. Pada akhirnya, kita semua akan berkumpul menjadi sebuah keluarga besar, dalam artian sesungguhnya dan bisnis. Biarkan Marissa bekerja di balik layar, itu lebih mudah untuknya dan kamu yang akan mewakili dirinya, untuk perkembangan perusahaan ini," tambah Alex.
"Baik Om, saya akan berusaha sebaik mungkin," jawab Jovan diplomatis.
"Oiya, mungkin kamu juga patut mempertimbangkan untuk mengambil Magister Management, you need this for your qualification. Mau kuliah dimana pun tidak masalah, saya juga tidak minta kamu untuk kembali kuliah saat ini juga. But, yaa mungkin dalam jangka 2 tahun, kamu bisa mempertimbangkannya," saran Alex.
"In syaaAllah, saya akan mempertimbangkannya," jawab Jovan.
"Kamu kok ga nanya, berapa gaji kamu nantinya??" goda Alex yang membuat Jovan salah tingkah.
"Santai, Van. Jadi, nanti kamu masuk disini di level asisten supervisor, yaa untuk standar gajinya sekitar 10 juta. Sedangkan Icha sebagai owner, ia akan menerima sekitar 25 juta setiap bulannya dan untuk pembagian profit pertahun, Icha akan mendapatkan sekitar 3-5 miliar," jelas Alex yang membuat Jovan membelalakkan matanya.
"Perusahaan ini sudah berjalan puluhan tahun, Van. Semenjak Icha belum lahir, sekitar 25 tahun lamanya. Ayah Icha seorang fighter ulung, ia sukses membangun sendiri bisnis ini hingga besar seperti sekarang karena ia dapat melihat peluang-peluang yang ada. Kepandaiannya dalam bernegosiasi juga sangat menentukan berapa keuntungan yang akan didapatkan. Sebenarnya, Icha bisa mendapatkan lebih dari yang kemarin ia peroleh. Tetapi ayahnya sempat mengatakan ini ke Om, 'jangan berikan semuanya sekaligus, berikan bertahap dan tetap awasi pemakaiannya, agar Icha tidak terkejut ataupun menjadi sombong," jelas Alex.
"Jadi Marissa masih mempunyai sekitar 20 miliar yang masih berada di rekening Om," tambah Alex lagi yang membuat Jovan kembali membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Iya Van, kamu ga salah dengar. Nanti Om akan berikan kamu surat-surat yang mencantumkan jumlah kekayaan keluarga Sofyan. Bisnis apa saja yang kami miliki selain penerbitan, percetakan, desain dan properti. Kamu persiapkan mental kamu untuk menjadi salah satu pemiliknya.