Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Sebuah Pertanda (BonChapt)


__ADS_3

Radit mendesah berulang kali, ponselnya tertinggal di kamar pribadinya di Rumah Sakit saat memilih ke kamar mandi sebelum ia pergi ke Hotel menghadiri rapat sekarang ini.


Bertopang dagu, konsentrasinya seakan buyar, dibuat fokus pun ia tidak bisa, pembicara di vodium yang sudah beberapa kali berganti pun sama sekali tidak menyita perhatiannya, blank.


Hatinya terasa gelisah, selalu teringat Arini, ia merasa sudah berdosa mengabaikannya tadi pagi.


Beberapa kali ia meneguk air didepannya, tidak sedikitpun membuat hatinya tenang.


Kalau saja arloji ditangannya bisa bicara, mungkin dia akan berteriak protes dengan tingkah Radit yang terus-menerus melihat kearahnya dan mengetuk-ngetuk dirinya agar bisa berputar lebih cepat, sakit bukan kepalang.


Akhirnya waktu yang seakan berjalan lambat sampai juga diangka empat tiga puluh. Ia bergegas, mengambil langkah seribu tanpa menyapa satupun rekan yang ia kenali disana.


Tujuannya sekarang adalah Rumah Sakit, mengambil ponsel dan kembali pulang. Namun ditengah perjalanan, Radit menghentikan mobilnya disebuah toko bunga. Mawar Merah, Arini menyukai bunga itu.


"Mbak saya mau satu buket mawar merah ukuran besar ya." Ujarnya pasa seorang perempuan yang sedang menata bunga yang sepertinya baru datang.


"Boleh Mas, sebentar ya."


Dengan duduk dikursi yang menghadap sebuah meja, penjual bunga itu mulai merangkai bunga mawar merah yang masih sangat terlihat segar.


"Buat pacarnya ya Mas?" Tanya penjual bunga yang sepertinya adalah pemilik dari toko bunga itu.


"Buat istri saya Mbak."


"Oh Mas udah nikah, maaf salah." Seraya menata kembali mawar itu dengan bentuk melingkar.


"Nggak sekalian sama coklatnya Mas, kebetulan hari ini toko saya perdana jual coklat, jadi masih promo... barangkali istri Mas suka juga sama coklat."


Radit tersenyum, ide yang bagus. Kebetulan Arini suka sekali dengan coklat.


"Boleh Mbak..."


"Mas bisa pilih bentuk dan juga warnanya disebelah sana." Menunjuk kedalam toko, dengan etalase didekat kasir.


Radit masuk menuju etalase kaca yang ditunjukan si Mbak tadi. Coklat dengan berbagai warna dan bentuk yang lucu terpampang disana.


Radit melihat satu persatu, ada yang berbentuk hati dengan tulisan love, sepasang merpati yang sedang mengepakan sayapnya, sepasang pria dan wanita yang sedang berciuman, dan banyak bentuk lain yang begitu sangat berbeda dari bentuk yang biasa ia temui.


Namun ada satu yang menarik perhatiannya, bentuk perempuan yang sedang mencium bayi dalam pangkuannya. Radit langsung mengambil coklat itu, tersenyum.... ia yakin Arini pasti menyukainya.


"Bunganya sudah jadi Mas." Ujar pemilik toko itu dengan masuk ke meja kasir.


"Sekalian sama yang ini ya Mbak." Radit mengulurkan coklat itu.


Mbak itu tersenyum," Udah punya baby ya Mas?" Tebaknya.


Radit balas tersenyum," Masih dalam kandungan Mbak."


"Oh... mudah-mudahan lancar sampai persalinan ya."


"Amin... makasih Mbak."


Setelah membayar dengan menggunakan debit cardnya, Radit kembali melanjutkan perjalanan.


Jam lima tiga puluh Radit sampai di Rumah Sakit, ia bergegas turun dan langsung ke tujuan awal, menuju ruangannya.

__ADS_1


Namun saat melewati ruangan Erika, Radit berpapasan dengannya yang baru saja keluar hendak menutup pintu.


"Radit... kamu baru kembali."


"Iya... aku duluan ya."


"Eh tunggu sebentar." Erika masuk lagi kedalam ruangannya, dan tak lama kembali keluar.


"Ini.... tadi Aruni kesini trus titipin ini sama aku. Tadinya dia mau nunggu kamu, tapi kamu pulangnya masih lama, jadi dia balik lagi."


Radit menerima bungkusan yang diberikan Erika, sedikit ia membukanya, dua boks makanan dan satu boks yang bertuliskan puding srikaya.


"Tadi Arini kesini jam berapa?"


Erika sedikit berpikir, mengingatnya kembali,"Emm... kira-kira jam tigaan lah. Katanya dia telepon kamu tapi sibuk terus."


Radit menghela nafasnya," Aku nggak bawa ponsel, ketinggalan diruanganku."


"Oh pantesan... kasian loh Aruni nungguin kamu. Eh gimana jadi nggak pertemuan sama semua staf hari ini?"


Radit berdecak, ia melupakan itu. Sebenarnya ini pertemuan yang sangat penting, pembahasan tentang teknisi pelebaran Rumah Sakit yang akan direalisasikan bulan depan yang hanya tinggal dua minggu lagi.


"Kamu kenapa, kayak yang gelisah gitu... apa terjadi sesuatu dengan Arini?"


Radit mengeryit," Maksud kamu dengan Arini?"


"Tadi aku lihat Arini seperti yang sakit, mukanya pucet, terus tangannya dingin banget, dia bilang perutnya keram. Aku ajak buat periksa, Arininya malah nolak, katanya udah biasa kayak gitu."


Degup jantung Radit semakin kencang. Kegelisahannya semakin menjadi. Ia mulai tidak enak hati setelah mendengar penuturan Erika.


"Eh...eeh... tapi kamu mau kemana, kok kesana?"


"Ngambil ponsel dulu, trus langsung pulang." Jawab Radit sedikit kencang.


"Ya udah tar aku sampein... kabari aku kalau ada apa-apa." Ujar Erika sedikit kencang karena Radit sudah berjalan semakin jauh.


Mudahan-mudahan Arini dan bayinya baik-baik saja


Radit membuka pintu ruangan dengan kencang, lalu masuk kedalam kamarnya. Dengan langkah lebar ia berjalan menuju meja dimana ponselnya masih tergeletak disana.


Radit menggeram.... ponselnya mati. Ia langsung menuju meja kebesarannya. Meraih gagang telepon melakukan panggilan, memencet beberapa nomor hingga tersambung ke ponsel Arini.


Tuuutt... tuuutt... tuuutt


Dua kali tersambung namun Arini tidak menjawab panggilannya. Radit kembali memencet nomor lain, menghubungi telepon rumah.


Tuuutt... tuuutt... tuuutt


Itupun sama, tidak ada yang menjawab panggilannya. Ia semakin tidak tenang. Radit pun langsung keluar dari ruangannya. Dengan berlari kecil menuju lift, memijit tombol dengan tidak sabaran.


Radit menghembuskan nafasnya kasar, untuk pertama kalinya ia merasa lift ini terbuk sangat sangatlah lambat.


Saat pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari dalam sana, menyapanya seperti biasa. Tapi ia hanya sekedar membalas dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Hingga mereka saling bersitatap, melihat sikap aneh Radit yang tidak seperti biasanya.


Hari mulai gelap, Radit kembali melihat arlojinya, menunjukan pukul enam tepat. Ia langsung berlari menuju parkiran mobil, tidak sabar untuk segera mengemudikannya.

__ADS_1


Masuk dan duduk dikursi kemudi, matanya langsung tertohok saat coklat yang ia simpan didalam paperbag kecil sudah jatuh dari atas jok mobil, sungguh mustahil.


Radit mengulurkan tangan, meraih coklat itu. dengan tangan bergetar Radit menatap nanar coklat yang kini sudah retak.


Arini....


Radit mengenyahkan segala pemikiran buruknya, mudah-mudahan ini bukan sebuah pertanda apa-apa.


Dengan kecepatan tinggi Radit menembus jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan.


******


David berjalan tergesa menuju lantai sepuluh, setelah sebelumnya beberapa kali bertanya kepada beberapa karyawan Rumah Sakit yang berpapasan dengannya.


Namun tidak disangka, saat keluar dari lift, ia bertemu dengan Erika.


"David.... sedang apa kamu disini?"


"Dimana ruangan Dokter Radit, saya ingin bertemu dengannya."


Bukannya menjawab, Erika malah diam terheran-heran.


"Kamu dengar aku tidak, dimana ruangan Dokter Radit?" Bentak David dengan menguncangkan bahu Erika.


" Lepasin dulu, sakit tahu..." Menepis tangan David.


"Ayo cepet dimana?" Tanya David yang seperti sangat terburu-buru.


"Radit baru aja pulang... memang ada apa kamu cari dia?"


Tidak banyak bicara lagi, David langsung kembali berbalik memijit lift untuk kembali turun ke lantai dasar.


"Hei kamu belum jawab... kenapa kamu cari Radit?" Tanya Erika dengan menarik lengan David.


"Nona Arini pendarahan."


Mulut Erika seketika menganga mendengar kabar yang sangat mengejutkan ini.


Triiiing...


Pintu lift terbuka, David langsung masuk dan memijit kembali pintu lift yang akan segera tertutup


"Aku ikut..."


...........................................................


...........................................................


..................................Bersambung........


Pasti masih penasaran kan...??? tunggu up selanjutnya hari ini ya...๐Ÿ˜—๐Ÿ˜—


Maaf kemarin nggak bisa up, ada sesuatu yang mengharuskan author menjalani sesuatu agar bisa kembali fit๐Ÿ’ช maklum lah ya, author kan bukan cat woman yang selalu tahan banting๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Jangan lupa like, coment&Votenya kalau boleh. gratis kok nggak perlu bayar, tinggal tekenin jempol doang๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†

__ADS_1


Thank U...I Love U All...๐Ÿ’‹โคโค


__ADS_2