Cinta Yang Hilang

Cinta Yang Hilang
Episode 88 Mobil Gowes


__ADS_3

Munculnya foto-foto Jovan dan Marissa dalam media sosial, mengundang banyak perhatian warga Batam dan sekitarnya. Termasuk sekumpulan pria yang menginginkan kekayaan secara instan.


"Eh Bang, sudah kau tengokkan berita hari ini?" tanya Boris kepada ketua ganknya, Bonar.


"Berita apa? Tak ada yang bisa buat kita kaya. Malas aku tengok," jawab Bonar.


"Eh Bang, tengok kejaplah. Tengoklah dulu, ada yang bisa bikin kita kaya, Bang," paksa Boris dengan menyodorkan HP-nya yang terdapat berita akan kedatangan Jovan dan Marissa.


"Eh siapa pulak mereka? Tak kenal pun!" ucap Bonar tak tertarik.


Boris pun mencarikan perihal Jovan dan Marissa dalam laman pencarian.


"Nih Bang, tengoklah," ucap Boris.


Bonar pun membaca artikel tentang Jovan dan Marissa yang memuat tentang seberapa besar kekayaan yang mereka berdua miliki.


"Eh mantap kali beritanya ini! Bisa kita apakan mereka?" sahut Bonar setelah membaca artikel tersebut.


"Kita culik saja, Bang. Nanti kita minta tebusan!" usul Boris.


"Ah idemu jadul kali lah! Jangan kek gitu!" sanggah Bonar.


"Trus kek mana? Kita apakan mereka?" tanya Boris.


Bonar pun tidak segera menjawab pertanyaannya, ia berfikir sesaat.


"Eh kita ikuti saja mereka dulu, kita tengokkan mereka kemana," sahut Boris.


"Eh macam mana? Ikuti mereka? Apa pulak maksud kau? Eh kejap, kau tengokkan film ini, kita buat macam itu," jawab Bonar yang saat itu sambil mencari ide di internet.


Boris pun tersenyum tanda setuju, setelah melihat cuplikan adegan film yang diberikan Bonar.


Sementara itu, Jovan dan Marissa sedang asyik menikmati keramaian taman di pusat kota Batam.


"Bang, naik itu yuk!" tunjuk Marissa pada sebuah permainan mobil-mobilan yang dikayuh layaknya sepeda.


"Apa?" tanya Jovan.


"Itu lho, mobil kayuh," jawab Marissa.


"Okey!"


"Om Adam, mau ikut nggak? Sekalian bantuin ngayuh," ajak Jovan.

__ADS_1


"Mas Jovan bareng Faisal sama Silla aja, saya yang videoin," jawab Adam.


"Lah, kan kita ntar keliling-keliling, om Adam ntar capek ngikutin kita lho," ucap Jovan.


"Saya ngikutin pakai itu, Mas," tunjuk Adam pada tempat penyewaan roller blade.


"Wuiidiiii, manteb!!"


"Mas, kita naik yang biru itu, tadi saya sudah bayar untuk 30 menit," tunjuk Faisal pada mobil kayuh biru bernomor 31.


"Eh gercep juga si Abang," sahut Marissa sambil menarik lengan Jovan dan segera menaiki mobil kayuh yang dimaksud.


"Abang sama Bang Faisal duduk di depan, Sayang sama Mbak Silla di belakang, ya."


"Siap Bos!" jawab Marissa penuh semangat.


Mereka ber-empat pun segera menaiki mobil kayuh dan mulai berkeliling di kawasan sekitar Masjid Raya Batam Center.


Adam pun dengan lihai merekam keempatnya mengayuh dengan berseluncur di atas roller blade-nya.


Aksi Adam ternyata mengundang banyak perhatian para pengunjung Taman Engku Putri, sehingga mereka pun merekam aksi Adam ke dalam handphone mereka. Jovan dan Faisal yang sedang asyik mengayuh juga tak luput dari perhatian.


"Eh Abang yang di mobil biru itu, keknya kenal gitu."


"Ih ganteng kali lah, bagi kita 1 yang kek gitu, napa?"


"Tak payah nak bagi pun, mereka nggak minat sama korang, dilepehkannya korang nanti."


"Tengoklah dua bidadari dibelakang mereka, walaupun ditutup wajahnya, tak mungkin tak cantik. Kita kalah level lah sama mereka."


"Eh aku tahulah mereka itu siapa, korang ada baca Cinta yang Hilang tak? Itulah dia yang nulis, Abang Jovan itu!"


"Eh iya lho, Bang Jovan rupanya. Iya, mereka berlibur di sini, tengoklah di berita, mereka kemarin sampai di sini."


Setelah mereka menyadari kehadiran Jovan, kamera handphone pun tak lepas mengabadikannya dan mereka pun menyebarluaskan foto-foto yang mereka tangkap di akun medsos mereka.


Nun jauh di Jakarta, Mario tetap mengawasi putri tunggalnya dari monitor.


"Jafar, sepertinya kamu harus menambahkan pengamanan untuk Jovan dan Marissa. Terlalu banyak orang yang mengetahui keberadaan mereka di sana, kita harus tetap waspada," ucap Mario yang mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan Marissa dan Jovan.


"Saya telah berkoordinasi dengan kepolisian setempat, untuk mengawasi mbak Marissa dan mas Jovan dari jauh, Pak," jawab Jafar.


"Pastikan mereka memberikan laporan setiap jam," perintah Mario.

__ADS_1


"Baik Pak!"


Tidak jauh berbeda dengan Mario, Jovanka juga mengkhawatirkan keamanan putra bungsu dan menantunya.


"Bang, feeling-ku kok nggak enak ya?"


"Kenapa, Yang?" tanya Jorrian.


"Nggak tahu Bang, tapi kok rasanya nggak enak, kayak ada yang ngganggu, tapi nggak tahu apa," jawab Jovanka.


"Apa mungkin kamu kangen anak-anak? Coba telfon Icha," saran Jorrian.


Jovanka pun segera menghubungi Marissa yang saat itu sudah menyelesaikan putaran mobil gowesnya bersama Jovan.


"Assalamu'alaikum, Bundaa," salam Marissa saat mengangkat telfon dari Jovanka.


"Wa'alaikumsalam, kamu dimana, kok rame banget?"


"Lagi di Taman Engku Putri, di Batam Center, Bun. Tadi aku naik mobil Flintsone versi kayuh, kayak sepeda gitu, Bun," jawab Marissa penuh semangat.


"Mobil Flintsone? Dikayuh ?" tanya Jovanka yang tidak mengerti akan maksud Marissa.


"Bentar, Bun."


"Bang, kirimin video kita tadi ke Bunda, sekarang ya," pinta Marissa ke Jovan.


"Okey dokey !" jawab Jovan.


"Cha, kamu disana baik-baik yaa, jangan mencar-mencar, harus bareng-bareng sama Jovan," pesan Jovanka.


"Siap Bunda Sayang, aku bakalan nempel kayak perangko!" canda Marissa yang membuat Jovanka tertawa.


"Cha Icha, kamu memang selalu bikin Bunda happy. Yowes happy holiday, jangan lupa nanti telfon Bunda!"


"Ashiiiyaaap Bunda tersayang, mmmmuuuaacchh!" jawab Marissa dengan kiss bye-nya untuk Jovanka.


"Bunda nelfon?" tanya Jovan.


"Iya."


"Kok nggak ngomong sama Abang?" tanya Jovan lagi.


"Hmmm mungkin sudah cukup diwakilkan oleh diriku saja," jawab Merah sambil bergelayut manja.

__ADS_1


"Yang kayak gini, yang bikin Abang gumuuhss!" ucap Jovan sambil mencium kedua pipi Marissa berulang-ulang hingga membuat Marissa tertawa kegelian.


__ADS_2