
Sementara itu, Jovan sedang menikmati makan siangnya bersama dengan Rakesh dan Bian di sebuah restoran di Mall Mega Kuningan.
" Jo, saya ingin kamu mulai buku kedua kamu. Yaaa sinopsisnya dulu lah. "
" Pak, ga salah?? langsung lanjut buku kedua?? ga nunggu selesai produksi filmnya?? "
" Buat apa nunggu?? kalau ide sudah ada, yaa segera saja dituangkan saja. "
" Sekarang kamu istirahat dulu, siang ini kembali ke apartemen. Jadwal kamu kan sudah selesai untuk hari ini. Untuk syuting, kamu juga tidak harus hadir tiap hari. Kamu butuh istirahat, sekalian mencari inspirasi untuk novel keduanya. "
" Ke apartemen juga malas, Pak. Saya refresing sendiri saja, mobilnya saya bawa. Bian, siang ini aku sendiri, kamu boleh libur. "
" Kamu yakin mau sendiri, biar ditemani Bian, kamu bisa rileks ... "
" Ga papa, saya sendiri aja "
Jovan pun segera menyelesaikan makan siangnya.
" An, minta kunci mobilnya, " pinta Jovan.
Bian pun memberikan kunci mobilnya.
" Kamu mau kemana?? " tanya Rakesh.
" Ada lah. Saya duluan Pak!! makasih. "
Jovan segera berjalan cepat keluar restoran hingga melewati food court.
Kemudian, brug!!
Jovan tanpa sengaja menabrak seorang wanita berhijab, yang hampir saja membuat wanita itu terjatuh.
"'I'm sorry, " ucap Jovan meminta maaf.
" Maaf... maaf.... "
Lalu,
" Lho, Marissa?? "
" Pak Jovan?? "
" Kamu ngapain disini?? " tanya Jovan
" Makan siang sama teman kantor Pak "
" Eeeeh kok kamu manggil saya Pak ?? memangnya saya bapak-bapak ?? masih jomblo belum juga 30 tahun kok bapak??!! "
" Eh iya Mas, maaf. "
" Nah kan, maaf lagi. Oiya mumpung ingat, simpan nomor WA kamu " ucap Jovan sambil memberikan HPnya.
" Buat apa Mas?? "
" Buat ikut undian!!! " canda Jovan gemas dengan pertanyaan Marissa.
" Ris, aku minta nomor WA kamu, kok kamu tanya buat apa?? katanya kamu di Jakarta sendirian, yaaa kalau kamu butuh apa-apa, in syaa Allah aku bantu. "
Sementara itu rekan-rekan kerja Marissa hanya dapat menyaksikan momen tersebut dengan diam tetapi penuh tanya.
" Eh, teman-teman kamu kenapa tuh, kok ngeliatin saya segitu amat?? "
" Ooooh, biasa itu kalau ngeliat sesuatu... "
__ADS_1
" Yang indah?? " potong Jovan.
" Ih narsis!! tapi iya sih. Yowes kenalin dulu Mas."
" Ris, panggil aku Abang aja, aku lebih nyaman dipanggil Abang, lagi pula ini kan Jakarta, Abang aja!! "
" Baiklah, Bang "
Marissa pun memperkenalkan rekan kerjanya satu persatu.
Setelah itu, tanpa banyak basa-basi, Jovan kembali kepada Marissa.
" Nomornya sudah bener yaa, " ucap Jovan sembari menghubungi nomor Marissa.
" Iya, Bang, " jawab Marissa sambil mengangkat HPnya.
" Simpan nomornya. "
" Iya, Bang. "
" Eh sini, biar aku aja yang simpan, " ucap Jovan sambil mengambil HP Marissa.
Jovan pun memasukkan namanya ke dalam nomor kontak HP Marissa.
" Ga boleh di ganti, awas kalau diganti, nanti ga dapat tanda tangan lagi. "
" Idih, siapa juga yang mau minta tanda tangannya??!! "
Ketika Jovan selesai, ia segera mengembalikan HP Marissa.
" Eh, duluan yaa.. Assalamu'alaikum!! " ucap Jovan yang segera meninggalkan Marissa dengan sedikit terburu-buru.
" Wa'alaikumsalam "
Marissa kemudian membaca nama kontak yang diketik oleh Jovan.
Seketika itu Marissa hanya terdiam lalu,
" Iidiii!!!! narsiiiiiiis!!!!! " ucap Marissa kesal.
Rekan kerjanya pun mengecek nama apa yang ditulis Jovan dan mereka pun hanya berpandangan lalu tertawa terbahak-bahak.
" Wait !! kamu hutang cerita ke kita, kok bisa kenal sama cowok bule ganteng seperti itu?? " tanya Novi.
" Nanti ceritanya, kita kembali ke kantor dulu, " jawab Marissa.
Beberapa saat setelah sampai di kantor, Marissa didudukkan di kursi kerja di tengah ruangan dengan rekan kerjanya berdiri menghadap ke arah Marissa.
" Jadi gimana kok bisa kenal?? dia Jovan author Cinta yang Hilang, kan ?? " tanya Sasha.
" Iya, the author. Kemarin sewaktu dari Surabaya, kebetulan aku satu pesawat sama dia, tepatnya duduknya sebelahan. Yaa sebelumnya juga nunggu bareng di ruang tunggu, tapi kenalan lebihnya waktu di pesawat. Gitu aja kok. "
Marissa tidak ingin menceritakan detail perkenalannya dengan Jovan untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut.
" Ris, kamu ga silau waktu ketemu sama dia?? salting gitu pas kenalan?? "
" Yaaa jelas salting lah, cowok bening seperti itu kok ga bikin salting?? aku masih normal. "
" Trus, kamu ga minta tanda tangannya?? "
" Aku memang ga minta, karena dia sudah tanda tangani bukunya sebelum aku minta. "
" Iiiii curaaaaang!!! aku ga terima keberuntungan kamu yang beruntun!! " protes Sasha dengan nada bercanda.
__ADS_1
" Yaaa maaf kan bukan aku yang ngatur."
" Eh tapi tadi dia mau kemana yaa?? kok buru-buru amat ?? "
" Nyari Mischa kali?? " jawab Marissa sekenanya.
" Eh, minta nomor HPnya dong, Ris ?? " pinta Dina.
" Maaf, aku ga berani, aku harus tanya dulu, " jawab Marissa.
" Iya, tanyain dong!! please!! " pinta Dina.
Marissa pun mengirim pesan singkatnya.
" Assalamu'alaikum. Bang maaf, temanku minta nomor WA Abang, boleh ga?? "
Jovan yang sedang berada di tengah kemacetan Jakarta pun segera menjawab pesan Marissa.
' Wa'alaikumsalam. Ga boleh, nomornya cuma buat kamu saja. Karena aku percaya kamu ga macam-macam. Siapapun yang minta nomor ku, jangan dikasih yaa. Dah ya, aku masih nyetir, macet sih jadi bisa balas. Tapi udahan dulu yaa, met kerja. "
" Iya Bang, makasih. "
" Ga boleh katanya, " ucap Marissa sambil menunjukkan jawaban dari Jovan.
" Aaaaiii, lembut banget sih ngomongnya, kalau aku dapat WA romantis seperti ini, aku bakalan ga bisa tidur, " ucap Sasha.
Semua rekan kerjanya pun memandang Sasha dengan pandangan penuh tanya.
" Romantis dari mana?? lembut apanya??? ini cuma WA, Marimar!!! kamu over halu!! "
" Perempuan-perempuan seperti kalian ini memang aneh!! " ucap Michael yang tidak mengerti dengan percakapan rekan kerjanya itu.
" Makanya Mike, kamu gaulnya sama yang laki dong!! makan siang kok seringnya ngintilin kita yang cewek-cewek "
" Sssttt, back to work!! Ardan sudah datang!! " bisik Zahra.
Seketika itu juga, tim desain mulai kembali sibuk dengan komputernya masing-masing.
Sementara itu di tengah padatnya lalu lintas Jakarta, Jovan menyetir sambil mendengarkan murottal yang tersimpan di dalam HPnya.
" Just thinking you're in the middle of savana, green grass, blue sky, cool wind blows your hair and cooling your heart, " ucap Jovan memberikan sugesti pada dirinya sendiri yang masih terjebak kemacetan.
" Why am I suddenly happy like this?? " tanya Jovan dalam hatinya setelah menyadari dirinya tersenyum ditengah kemacetan yang biasanya membuat dirinya stres.
Tiba-tiba jantungnya pun berdebar kencang.
" Eh kenapa lagi nih?? kok jadi deg-degan begini?? "
Jovan pun membasahi lidahnya dengan dzikrullah untuk memenangkan dirinya.
Setelah hampir satu jam berada di kemacetan jalanan ibukota, Jovan akhirnya tiba di sebuah pemakaman.
Jovan berjalan mencari makam yang telah lama ia tidak kunjungi.
Sebelum memasuki area makam, ia melepaskan alas kakinya dan berjalan dengan bertelanjang kaki menyusuri rerumputan di sekitar makam.
Akhirnya ia sampai di makam yang ia tuju.
" Assalamu'alaikum, Tan. Ini Jovan, maaf sudah lama ga kesini. Tan, aku akan cari Icha sampai ketemu. Sampai kapan pun dan sejauh apa pun itu, aku akan temukan Icha dan membawanya ke sini "
Jovan pun membersihkan makam dengan mencabut rumput-rumput liar dan membuang dedaunan kering. Setelah selesai tak lupa ia berdoa kemudian ia melanjutkan perjalanannya.
" Sekarang kemana yaa?? Ichaaa, kamu kira-kira ada dimana sih?? "
__ADS_1
" Sekarang kamu pasti sudah lulus kuliah, kamu sudah bekerja atau belum?? kamu kerja dimana?? "
" I wished semua orang pakai papan nama yang memperlihatkan biodata dan foto kecil mereka, kan jadi gampang nyarinya. "