
Aaaarrggghh....
Marah, kesal, benci, tapi ia sangat membutuhkannya. Erika menghentak-hentakan kaki saat untuk kedua kalinya David mematikan ponsel seenak jidatnya.
Kalau bukan karena kemauan Papahnya, enggan rasanya ia jauh-jauh datang ke kantor David, menanyakan nomor ponsel dengan berbagai alasan yang masuk akal agar receptionist itu mau memberikan nomor David kepadanya.
Tapi sekarang, malah dengan angkuh dan sok jual mahal dia mematikan ponselnya begitu saja. Ingin rasanya ia ulek-ulek dan cincang habis cowok datar itu.
Namun matanya membelalak sempurna, cacian dan umpatan ikut raib terseret arus perhatian yang tertuju dengan pemandangan didepannya sekarang. Sosok makhluk datar yang sangat ingin dia temui, David... berdua.... dengan seorang wanita, siapa dia?
Dari dalam mobilnya, Erika memperhatikan David dengan wanita yang entah itu siapa. David membukakan pintu mobil untuk wanita itu, ciiihhh.... sok romantis, cebik Erika dalam hati.
Tanpa sadar Erika mengepalkan tangannya. Menggeram dalam hati. Jadi sibuk yang dimaksud David tadi adalah ini, sibuk dengan wanita di toko kue.
Spontan Erika menunduk, saat David melihat kearah mobilnya.
Mudah-mudahan dia tidak melihat dan mengenali mobilku.
Beberapa menit dirasanya sudah aman. Erika mengintip, ah lega.... mobil David sudah pergi meninggalkan parkiran toko kue itu.
Hati yang sudah tak sejalan dengan pikiran, memaksa Erika untuk ikut pergi meninggalkan toko kue itu juga. Ia pun memutar kunci mobilnya, mengurungkan niat untuk membelikan kue kesukaan Papahnya.
Sesampainya dirumah, Erika membanting pintu mobilnya dengan keras. Menyambar tas selempangnya dengan kasar, mode kesal yang tak kunjung juga hilang.
Diruang santai, Erika menghentikan langkahnya, melihat sang Papah yang sedang membaca sebuah buku. Pak Toni yang menyadari kehadiran Erika langsung menyambutnya dengan hangat.
"Sayang kamu baru pulang?"
"Iya Pah." Erika berjalan menghampiri Papahnya yang sedang duduk sembari memegang buku tebal ditangannya.
"Tumben Papah ada dirumah jam segini, lagi free ya Pah?"
Pak Toni melepaskan kacamatanya," Iya... sengaja Papah bereskan urusan kantor dari kemarin... Papah ingin bersiap untuk menyambut kedatangan menantu Papah besok malam."
Erika melan salivanya, menantu.... menantu gadungan itu Pah, jeritnya.
"Kamu kenapa sayang, ada masalah?"
"Nggak ada kok Pah."
"Kok mukanya lesu gitu, ada masalah dengan Pak David?"
Erika tersenyum getir, mengingat kembali David yang sedang jalan berdua dengan seorang wanita muda.
"Kita baik-baik aja kok Pah.... cuma tadi pasien di Rumah Sakit banyak banget."
"Oh.... jadi gimana dengan Pak David, dia bisa datang kan?"
"Mudah-mudahan Pah."
"Kok mudah-mudahan, memang kamu belum menghubungi Pak David?"
"Udah Pah, cuma kan Papah tahu sendiri, David itu kegiatannya padet banget. Jadi kadang-kadang jadwalnya itu nggak bisa ditebak, bisa berubah-ubah." Mulai memainkan dramanya.
"Tapi kalau demi cinta, Papah yakin dia pasti akan datang.... betul kan?"
__ADS_1
Erika meringis, itulah yang jadi pokok permasalahannya. Tiada ada cinta diantara mereka, yang ada hanya kemarahan, kebencian dan dendam kesumat.
Apalagi tadi.... haaah.... ternyata David sudah punya teman dekat, wanita yang lumayan cantik, dan terlihat masih muda.
"Kok malah ngelamun... kamu kenapa?" Tanya Pak Toni yang mendapati Erika seperti yang sedang memikirkan sesuatu.
"Pah...."
"Ada apa... cerita dong sama Papah."
"Sebenernya...."
Pak Toni memandang lekat putri tunggalnya itu, menunggu kelanjutan perkataan Erika yang dibiarkannya menggantung.
"Sebenarnya...?" Tanya Pak Toni.
Erika tak tega menjelaskannya. Apalagi dia kembali ingat tentang niatan Pak Toni untuk memperkenalkannya dengan kolega bisnisnya.
"Sebenernya... Erika deg-degan David mau kerumah." Kilahnya.
Pak Toni tertawa," Kamu ini ada-ada saja."
Pak Toni menyimpan buku dan kacamatanya dimeja, kemudian kembali melihat Erika.
"Oh iya sayang.... terima kasih kamu sudah mau memenuhi keinginan Papah."
"Keinginan Papah yang mana?" Tanya Erika tidak mengerti.
Pak Toni tersenyum," Sebenarnya kolega yang ingin Papah kenalkan itu adalah Pak David."
Arika terkejut bukan main, jadi selama ini... oh tidak...
"Kamu tidak salah memilih Pak David sebagai pasangan kamu. Dia itu pria yang sangat bertanggung jawab, kamu akan bahagia bila menikah dengannya."
Menikah...gawat...
"Pak David itu tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, menurut kabar angin dia itu sulit untuk didekati. Dan ternyata putri Papah yang cantik ini yang sudah berhasil mendapatkan hatinya.... Papah sangat lega, kamu tidak salah memilih seorang pria."
Mendengar penuturan Papahnya, Erika seperti mendapatkan kesempatan untuk mengulik sedikit kehidupan pribadi David, termasuk dengan wanita yang bersamanya tadi, membuat dia penasaran.
"Papah yakin baru aku aja yang deket sama David?"
"Iya Papah yakin... selama Papah di Jakarta, David tidak pernah membawa wanita ke acara pesta manapun."
"Sama sekali?"
"Ya sama sekali belum pernah.... waktunya seperti habis untuk urusan pekerjaan."
Erika mengulas senyuman, mulai berfikir positif bahwa wanita yang tadi bersama David itu hanyalah rekan kerja biasa.
Tapi.... perasaan Erika kembali mengganjal, saat mendengar suara wanita yang memanggil David dengan panggilan abang.
"David punya saudara...seperti adik atau sepupu nggak Pah?"
"Kok malah tanya sama Papah, bukannya kalian sudah menjalin hubungan, jadi setidaknya kamu pasti lebih banyak tahu tentang David ketimbang Papah."
__ADS_1
Erika menggaruk tengkuknya," Aku kan baru-baru ini deket sama David Pah."Kilahnya.
"Tapi setidaknya kan sebelum kamu menjalin hubungan dengan dia, Pak David pasti pernah bercerita tentang keluarganya dong."
"Emmm.... itu masalahnya Pah, seperti yang Papah bilang tadi, David itu orangnya sedikit tertutup, nggak terlalu banyak bicara, dia itu lebih banyak diam."
Pak Toni tertawa," Sedikit bicara banyak bekerja maksudnya?"
"Ih Papah apaan sih."
"Awal mula kamu ketemu sama Pak David itu seperti apa sih, Papah pengen tahu."
Matilah.... pertemuan yang buruk harus dia ceritakan, itu sangatlah tidak mungkin.
Erika memutar otaknya, ia harus bisa mengarang bebas dalam waktu yang sangat singkat.
"Kita ketemu di parkiran Rumah Sakit Pah, mobil kita benturan gitu.... ya dari kita jadi saling kenal."
"Sesudah itu?" Tanya Pak Toni yang semakin antusias dengan kelanjutan cerita Erika.
"Ya terus kita nggak sengaja ketemu lagi di pesta nikahannya Radit, ya dari sanalah kita jadi semakin dekat."
"Terus?"
"Kok terus-terus mulu.... udah ah aku mau ke kamar dulu. Aku pengen mandi dulu Pah, panas banget."
Erika berdiri dengan menyampirkan tas selempangnya dipundak, ingin segera kabur dari pertanyaan Pak Toni yang mungkin akan bertanya lebih jauh lagi.
Pak Toni terkekeh," Ya udah sana, jangan lupa besok suruh bibi buatkan masakan enak dan spesial untuk Pak David."
"Iya Pah..." Seru Erika yang sudah berjalan menjauh.
Erika mempercepat langkahnya, berjalan menuju kamarnya dilantai atas.
Sampai dikamar, Erika mengambil kembali ponselnya didalam tas. Dia harus pastikan David akan datang besok malam. Kalau tidak semuanya akan kacau dan Papahnya akan marah besar karena tahu dia sudah membohonginya.
Erika menekan tulisan Cowok Datar diponselnya.... melakukan panggilan keluar.
Tuuuutt....Tuuuttt....Tuuuttt
Tidak ada jawaban. Kedua kalinya Erika mencobanya lagi, masih tetap sama.
Pasti masih bersama wanita itu...awas kamu David...
Erika mengetik sebuah pesan.
Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus datang besok malam, kalau tidak aku akan adukan kepada Aditya
Pesan terkirim.
..........................................................
..........................................................
...................................Bersambung......
__ADS_1