
Tibalah di hari Jum'at, hari terakhir Marissa bekerja di Chokusen. Sepertinya yang telah direncanakan sebelumnya, mereka akan mengadakan farewell party di Grand Via.
Dengan mengendarai kendaraan pribadi masing-masing, staff desain Chokusen menuju Hotel Grand Melia, Kuningan.
Marissa yang sampai terlebih dahulu pun segera menuju Grand Via.
" Reservasi atas nama Marissa Shafeeya, dari Chokusen, " ucapnya kepada pelayan yang berjaga di front desk.
" Reservasi untuk 50 orang ya, Mbak?? "
" Iya."
" Mari, silahkan. " salah satu waiter kemudian mengantarkan Marissa ke meja yang telah disiapkan.
" Terima kasih, Mbak. "
" Silahkan bisa langsung ambil makanannya. "
" Terima kasih, Mbak. "
" Yuk, silahkan langsung serbu aja ", ucap Marissa mempersilahkan rekan-rekannya untuk mengambil makanan yang dikehendaki.
" Langsung ya Ris??!! "
" Iya, langsung aja."
Rekan-rekan kerja Marissa tanpa menunggu lagi, segera mengambil aneka makanan yang mereka kehendaki. Marissa sendiri cukup bingung memilih makan malamnya, karena banyaknya pilihan aneka hidangan Asia, Eropa dan Amerika yang berjajar dengan rapi dan sangat menggugah selera.
Di tempat yang sama, Jovan bersama dengan kedua orang tuanya dan Rakesh juga Bian sedang menikmati makan malam bersama.
Jovanka yang sedang menikmati makanannya tiba-tiba melihat Marissa yang tengah berkeliling memilih makanan.
" Van, itu kayaknya Icha deh. " tunjuk Jovanka.
Jovan pun meletakkan sendoknya, matanya mencari keberadaan Marissa di tengah pengunjung restoran. Akhirnya Jovan pun melihat Marissa yang sedang berkeliling memilih menu makan malamnya.
" Bun, aku kesana dulu yaa. "
Jovan pun menghampiri Marissa yang terlihat seperti kebingungan.
" Kenapa?? Bingung mau makan apa?? ," tanya Jovan yang mengagetkan Marissa.
" Ya Allah, Abang!! Kaget aku!! Eh Bang disini juga, sendiri?? "
" Ga, tuh sama bunda, ayah juga. Lagi ngobrol sama Pak Rakesh. Kamu ngapain?? "
" Farewell party, it's my last day in Chokusen!! "
" Oiya, today's your last day. So, kamu nraktir berapa orang?? " tanya Jovan lagi.
" 50."
" MasyaAllah, that's a huge amount of money. "
" Rekeningku masih utuh Bang, om Alex nanyain terus, sudah dipakai atau belum. Aku kan bingung mau dipakai buat apa, yowes aku traktir aja tim desain Chokusen. "
" Nice!! " puji Jovan.
" Eh Bang, makan apa?? " tanya Marissa.
" Steak, salad, cream soup, Peking duck, nasi goreng. "
__ADS_1
" Waaaa, muat yaa di perut??"
" Kan porsi minimalis semua, muat lah. Sini, Abang yang ambilin makanannya, kamu duduk aja."
" Hehehe Abang tahu aja, makasih Bang!! "
" Iya, dah sana duduk aja. "
" Siaaap!! "
Dengan senyum merekah, Marissa kembali ke mejanya dan menunggu Jovan membawakan makan malamnya, tetapi tak lupa ia menyapa Jorrian dan Jovanka terlebih dahulu.
" Assalamu'alaikum, Bunda, Ayah. "
" Wa'alaikumsalam. Eh Icha, ayo sini kita makan bareng," ajak Jovanka dan Jorrian.
" Ga Bun, aku bareng teman kantor, farewell party," jawab Marissa.
" Oiya, ini hari terakhir kamu masuk kerja, yaa?" tanya Jovanka.
" Iya, Bun. Yowes deh, aku permisi ntar dikira ngilang kemana," canda Marissa.
" Iya, silahkan," ucap Jovanka.
Marissa pun kembali menuju mejanya, tetapi sebelum sampai, Jovan mencegatnya.
"Duduk dimana??" tanya Jovan.
"Tuh disana yang rame banget," jawab Marissa sambil menunjukkan tempatnya.
"Abang bawain sekalian. Cha, kamu ambil minumnya sekalian aja, biar ga bolak-balik."
"Oiya, aku ambil dulu ya Bang."
"Heii, Van!! kamu disini juga?? kapan sampainya??" tanya Ardan begitu melihat kedatangan Jovan.
"Kebetulan aja ketemu, saya lagi makan malam bareng ortu," jawab Jovan.
" Ooh kirain ikutan acara Risa. Anyway, kapan novel barunya release nih??" tanya Ardan lagi.
" Pekan ini baru diserahkan ke editor, masih lama, mungkin dua bulanan lagi, kita lihat aja nanti," jawab Jovan.
" Ingat yaa, saya pesan 50 kopi yang bertanda tangan," pinta Ardan.
" Tenang aja, InsyaAllah nanti disiapkan khusus untuk Chokusen. "
" Eh Bang Ardan, tadi pesan novel atau kopi??," canda Marissa.
"O o, sepertinya sudah harus menyingkir dari sini. See you, Dan," pamit Jovan.
Ardan pun menjawabnya dengan tertawa,
"See you too."
"Cha, kamu pakai supir kan??" tanya Jovan sebelum kembali ke mejanya.
"Iya Bang, tuh Pak Agung juga ikutan makan," tunjuk Marissa.
" Oo ya sudah. Abang lanjut makan dulu yaa."
" Iya Bang, makasih."
__ADS_1
"Nanti kalau butuh apa-apa, bilang aja."
" Siippp, no problemo!! "
Setelah Jovan kembali ke mejanya, rekan kerja Marissa kembali bertanya akan hubungan Marissa dan Jovan.
"Ris, gimana ceritanya kamu bisa akrab sama Jovan sih ??" tanya Fitri.
" Hmmm yaa akrab aja, maksudnya apa nih??"
"Iya, kok kamu bisa akrab sama Jovan, perasaan selama dia mengadakan jumpa fans, kamu ga pernah kelihatan ??"
"Iya, gimana kenalannya?? kok bisa kenal??" Novi pun ikut bertanya.
Marissa pun tidak tahu harus menjawab apa, karena ia tidak ingin identitasnya menjadi bocoran untuk novel Jovan selanjutnya.
Ardan yang mendengarkan pun membantu Marissa dengan memberikan jawaban yang tidak akan didebat oleh anak buahnya.
"Apa pun hubungan antara Risa dan Jovan, kan tidak ada sangkut pautnya dengan kalian, kenapa harus repot ?? mereka dekat atau tidak, juga tidak akan memengaruhi kehidupan kalian. Bagaimana mereka kenal juga tidak penting, saya kenal Jovan juga, kok kalian ga nanya-nanya ?? Penasaran ?? yaa, biarkan saja dia hadir hingga menjadi arwah."
Keheningan sesaat pun terjadi.
"Dan, jokesnya gelap banget!!!" sindir Michael kesal yang membuat Ardan dan Marissa tertawa.
"Kalian berdua juga ada apa sih?? Lama-lama kok seperti abang-adik," tanya Bagas.
"Because she's just like Amira, my late little sister, mirip banget gayanya dengan Amira," jawab Ardan.
"Aku mirip sama adiknya Bang Ardan??" tanya Marissa yang cukup terkejut dengan pernyataan Ardan.
" Yup, gaya berbicara, berbusana kamu mirip sekali dengan Amira. Dia meninggal 3 tahun yang lalu, beberapa saat setelah melahirkan anak pertamanya," jawab Ardan.
" Makanya sewaktu kamu masuk Chokusen, saya seperti melihat Amira kembali dalam versi yang lebih muda,"lanjut Ardan.
"Terima kasih ya, Bang. Abang sudah menjadi manajer paling top yang pernah ada, sabar dan telaten membimbing aku yang masih junior ini. Bang Ardan, sosok manajer rasa kakak idaman buat aku, terima kasih sekali atas semua ilmunya dan kesabarannya," ucap Marissa yang membuat suasana berubah menjadi haru.
" Yaaa jadi melo, kan!!" ucap Novi dengan wajah sendunya.
"Ris, nanti walaupun kamu sudah ga kerja disini lagi, jangan lupain kita yaa. Sering-sering main ke Chokusen, syukur-syukur bawain kita makanan juga," ucap Bagas sambil mengedipkan satu matanya.
" Yeeeeee, Bagas!!! " protes rekan-rekannya kompak.
"Tenang, Bang. In syaa Allah, aku bakalan rajin main ke Chokusen, because it's my dream untuk bekerja dengan atmosfer yang menyenangkan seperti ini. Aku pasti akan kangen sama suasana kerja kita dan pastinya acara makan-makannya," jawab Marissa dengan tawa kecilnya.
"Naaah, itu yang paling seru, kan Ris!!" seru Michael.
"Pastinya, Bang!!" jawab Marissa.
Acara makan malam bersama pun dilanjutkan dengan senda gurau dan berfoto bersama. Keakraban yang terjalin diantara mereka selama beberapa bulan itu pun telah membuat Marissa merasakan kehangatan sebuah keluarga.
Senyum merekah, tawa dan rasa haru bercampur menjadi satu. Air matanya pun menetes karena ia harus meninggalkan 'keluarga' keduanya, yang sangat ia cintai.
"Yaaa Risa mewek nih, jangan dong. Aku jadi ikutan sedih, kan," ucap Fitri sambil memeluk Marissa.
Keduanya pun berpelukan cukup lama, sambil saling mengelus-elus punggungnya.
"If you need a sister, you can call me, anytime. Pokok kita tetap one big family, jangan lepas kontak yaa," ucap Fitri.
"Iya, Mbak. Terima kasih atas bimbingannya selama ini," jawab Marissa.
Fitri pun melepaskan pelukannya.
__ADS_1
" Sama-sama ya, Ris. Apapun alasan resign kamu, sepanjang itu adalah pilihan terbaik untuk kamu, kami disini akan selalu mendo'akan yang terbaik. Keep fighting!!" ucap Novi.
" Terima kasih, semuanya. Love you all!! "