
Apakah yang terjadi ketika seorang pria yang tidak pernah membuat brownies, tiba-tiba memutuskan untuk membuatnya sendiri ?
"Yang, Jovan ngapain di dapur?" tanya Jorrian yang sedang bersantai di teras belakang sambil membaca koran.
"Bikin brownies buat Icha?"
"Memangnya dia kapan mau ke apartemen?"
"Ya nanti, setelah berhasil bikin browniesnya," jawab Jovanka santai.
"Kok nggak dibantuin?"
"Bantuinnya nanti, kalau memang dia nggak berhasil bikinnya. Sekarang biarkan dia usaha sendiri."
Jovan yang cukup perfeksionis dalam mengerjakan sesuatu, pun mulai menyusun bahan-bahan untuk membuat brownies sesuai dengan urutannya di atas meja dapur.
Satu-persatu langkah pembuatan brownies pun dilakukannya. Mencairkan butter dengan coklat blok, menimbang gula, tepung dan coklat bubuk, tak lupa ia juga menyiapkan loyang yang ia lapisi dengan kertas roti dan diolesi margarin.
Satu hal yang tak ia lewatkan adalah merekam semuanya didalam gawainya.
"Cha, I'm making this, just for you," ucap Jovan sebelum memulainya.
Setelah mempelajari langkah-langkah pembuatan brownies melalui internet, Jovan pun mulai mempraktekkannya.
Jovan memanaskan air di dalam panci, kemudian ia memotong coklat, lalu menimbangnya. Setelah dirasa beratnya sesuai dengan resep, ia pun mengetim coklatnya bersama dengan mentega.
Sambil menunggu coklat dan menteganya mencair, Jovan menimbang gula pasir, terigu dan coklat bubuk. Semua dilakukan Jovan secara presisi dan teratur, sambil mengingat-ingat cara yang biasa dilakukan oleh Jovanka ketika membuat brownies.
Bian yang sedari tadi merekam aksi Jovan hanya dapat melihatnya dengan kagum.
"Bang, sudah sering bikin brownies?" tanya Bian.
"Nggak sering, tapi pernah beberapa kali bantuin bunda, jadi masih ingatlah step by stepnya," jawab Jovan.
"Bang, apa sih yang nggak dikuasai sama Bang Jovan, kayaknya semuanya pasti jadi, semuanya pasti berhasil?" tanya Bian lagi.
__ADS_1
Jovan pun berfikir sesaat, sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bian.
"Apa ya, Bi? Hmm nerbangin pesawat, nyetir kapal, ahli IT...."
"Menyesal diriku bertanya," sahut Bian yang membuat Jovan tertawa.
"Bikinnya kok banyak banget, Bang? Ini kok sampai nyiapin tiga loyang?" tanya Bian lagi.
"Satu original, satu double chocolate oreo, satunya lagi rocky road," jawab Jovan sambil memasukkan marshmallow ke dalam odonan browniesnya.
"Bang, buka toko brownies deh, sekalian untuk mengenang ibunya mbak Risa."
Jovan pun menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Bian.
"Kamu memang manajer paling TOP!" ucap Jovan sambil memeluk Bian.
"Nanti nama merknya apa, Bi?" tanya Jovan kemudian.
"Brownies Cinta yang Hilang," jawab Bian sambil tertawa.
Sesaat kemudian Jovan mulai memanggang browniesnya di dalam oven.
"Oke, kita tunggu 25 menit, then icip-icip get started!"
Sementara menunggu browniesnya matang, Jovan menyiapkan kotak browniesnya.
"Beeuu, dapat dari mana kotaknya Bang, eksklusif banget?"
"Ini Bunda yang beli. Bunda selalu nyimpan kotak, biar cepat kalau mau ngasih atau ngirim makanan," jawab Jovan.
Belum cukup dengan brownies panggangnya, Jovan mulai meracik minuman yang juga akan dibawanya ke apartemen.
Bian pun semakin takjub dengan kemampuan Jovan, yang tak pernah ia sangka sebelumnya.
"Bang, nanti aku upload, the different side of Jovan the author" ucap Bian.
__ADS_1
"Jangan! Nanti fansku melenyot semua kalau ngeliat aku begini!"
"Ish, susah kalau ngomong sama orang narsis!"
"Sudah tahu aku narsis, ya jangan komplen."
Beberapa menit kemudian keenam brownies buatan Jovan telah matang. Aroma harum perpaduan coklat dan butter pun memenuhi ruangan, bahkan hingga lantai atas dan teras belakang.
Jovanka dan Jorrian pun penasaran akan brownies buatan putranya.
"Wangi banget! Eeeh, kamu bikinnya banyak banget?! Nggak salah, emangnya kamu mau jualan?" tanya Jovanka ketika melihat enam loyang brownies berjajar dengan rapi di atas cooling rack yang diletakkan di meja dapur.
"Hmm, maybe I'm gonna open a brownies store, but icipin dulu, Bun!"
"Ya nantilah, tunggu dingin."
"Kalau gitu, aku mandi dulu, mau dandan ganteng buat Icha!" ucap Jovan penuh semangat.
Jovan pun berjalan cepat menuju kamarnya. Lalu, ia membersihkan dirinya, lalu memakai kemeja terbaik yang ia miliki di dalam lemari pakaiannya dan tidak lupa menyemprotkan parfum kesukaan Marissa.
"Hmm perfect!" ucapnya sembari memandangi dirinya di depan cermin.
Lalu, Jovan berlari kecil menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan.
"So, gimana Bun, rasanya?" tanya Jovan kepada Jovanka yang sedang menikmati brownies buatannya.
"Perfecto! Kamu memang multi talenta! Brownies ini layak jual, bahkan ini lebih enak dari buatan Riska, good job, Son!"
"Alhamdulillah, kalau begitu PR-ku jadi banyak nih! Persiapan untuk kuliah, bikin brownies store, masih ada laporan menanti ke pak Rakesh. Nah, yang ini nggak tahu kapan bisanya. Yoweslah Bun, aku ke apartemen sekarang. Oiya aku nginap di sana."
"Nggak usah kamu ngomong, bunda juga tahu kamu pasti akan menginap di sana. Yowes hati-hati dan cepat program cucu buat bunda!"
"In syaa Allah secepatnya, Bun! Yowes aku berangkat. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1